Mooneta High School

Mooneta High School
Stay Up


__ADS_3

Sementara Oliver terlelap, Nhea malah sebaliknya. Ia masih


tetap terjaga sampai detik ini. Gadis itu sama sekali tidak mengantuk. Ia


bahkan hanya tidur selama kurang lebih dua puluh menit saat jeda antar kelas


tadi. Bukan waktu yang cukup bagi seorang manusiauntuk beristirahat. Mereka


normalnya akan tertidur selama lebih dari empat jam atau bahkan sampai enam jam


dalam sehari. Idealnya memang begitu.


Tidak bisa dipungkiri memang jika akhir-akhir ini ia sering


mengalami masalah kesulitan tidur. Mungkin sudah lebih dari seminggu ia sering


terjaga hingga larut malam. Atau bahkan terbangun di tengah malam dan tidak


bisa tidur kembali hingga fajar datang. Bukan sesuatu yang mengejutkan lagi


baginya. Hal ini sudah cukup sering terjadi, tak perlu merasa terkejut lagi.


Tidak peduli seberapa lelah dirinya hari itu. Kedua bola


matanya selalu saja menolak untuk terlelap. Entah kenapa bisa terjadi demikian.


Tidak ada yang tahu apa alasan pastinya. Ia mengakui jika memang kebiasaan baru


yang tidak disengaja olehnya ini cukup mengganggu. Pasalnya, untuk tidur saja


ia harus bekerja keras terlebih dahulu. Terkadang, itu pun tak sesuai dengan


ekspektasi.


Malam ini sama seperti biasanya. Ia kembali terbangun di


tengah malam. Padahal tadi Nhea sudah sempat tertidur pulas selama beberapa jam


di awal. Ia tidak mengalami mimpi buruk atau pengalaman mengerikan semacamnya.


Tidak ada yang terjadi. Nhea terbangun begitu saja tanpa alasan yang jelas. Rasa


kantuknya mendadak hilang seketika. Tidak ada yang suka jika begini caranya.


Nhea duduk di tepi kasur sambil menatap lurus ke depan. Ia


sama sekali tidak tahu harus melakukan apa agar tertidur kembali. Bahkan melamun


pun tak cukup kuat untuk membuatnya kembali mengantuk. Sekarang masih pukul dua


dini hari. Bahkan Oliver saja masih terlelap. Terkadang ia merasa iri dengan


gadis itu. Oliver tampak sangat damai ketika tidur. Tidak ada yang bisa


mengusiknya sedikit pun.


“Hoamm!!!”


Nhea menguap singkat. Bagaimana bisa ia tetap menormalisasi


hal seperti ini. Bisa-bisa lingkaran hitam di bawah matanya semakin menebal


jika ia terus-terusan tidak tidur.


“Apa yang harus ku lakukan sekarang?” gumamnya.


Mungkin beberapa orang akan turun ke dapur untuk mencari


sesuatu yang bisa dikonsumsi. Akan jauh lebih baik lagi jika makanan atau

__ADS_1


minuman tersebut bisa membuat mereka terlelap. Tapi sayangnya, mereka tidak


bisa melakukan hal demikian di sini. Seluruh penghuni akademi sihir Mooneta


hanya bisa mendapatkan makanan di saat mereka sudah memasuki jadwal untuk


makan. Di luar dari itu, tidak bisa sama sekali. Staff dapur sudah membagi


makanan dengan jatah yang sama rata ke setiap anak. Semua telah dipertimbangkan


dan diperhitungkan dengan sedemikian rupa. Sehingga tidak ada makanan berlebih.


Mereka tak bisa meminta makanan atau minuman ekstra.


Di satu sisi, hal tersebut berhasil membuat Nhea sebal.


Pasalnya, kehidupan di sini berbeda jauh dengan kehidupan di dunia nyata. Ia


lebih suka dengan segala hal yang sempat ia rasakan selama tinggal di rumah tua


itu bersama Bibi Ga Eun. Daripada harus tinggal di sini dengan banyak orang.


“Ayolah! Bagaimana bisa kau mendapatkana makanan ekstra,”


gerutu Nhea berusaha untuk mengingatkan dirinya sendiri.


“Kau bahkan sudah tinggal di tempat yang berbeda!” tegasnya


sekali lagi.


Gadis itu menghela napas dengan kasar, kemudian


menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Kini kedua bola matanya beralih menatap


langit-langit ruangan. Beberapa lentera sudah dipadamkan. Memang sengaja


kelas selesai. Mereka akan langsung kembali ke kamarnya masing-masing begitu


kelas dibubarkan.


Karena menyadari kalau ia tidak bisa mendapatkan makanan apa


pun di sini, gadis itu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi saja. Mungkin


buang air bisa membantunya untuk kembali tidur. Ringkasnya, anggap saja jika ia


bangun karena ada desakan untuk buang air. Padahal sebenarnya, Nhea tidak


terlalu yakin dengan hal tersebut.


Hanya ada satu kamar mandi untuk satu asrama. Bukan satu


ruangan. Lebih tepatnya satu tempat khusus yang cukup lebar di lantai bawah.


Daripada menganggur, tempat itu dialih fungsikan menjadi kamar mandi setelah


melalui proses renovasi terlebih dahulu.


‘TAP! TAP! TAP!’


Suara langkah kaki gadis itu terdengar begitu jelas.


Menggema di sepanjang lorong. Ia tetap melangkah untuk melanjutkan


perjalanannya sambiil harap-harap cemas. Mudah-mudahan saja para penghuni


asrama tidak terbangun karenanya. Mungkin orang seperti Oliver tidak akan


masalah dengan kebisingan seperti ini. Mereka tidak akan terbangun hanya karena

__ADS_1


hal tersebut. Tapi, bagaimana jika ada yang sebaliknya? Seperti yang kita tahu


jika semua orang tidak selalu sama.


Nhea melangkah dengan hati-hati. Ia berusaha keras untuk


meredam suara telapak sepatu yang menghantam permukaan lantai. Awalnya, Nhea


sempat ingin membuka sepatunya saja. Sepertinya itu adalah satu-satunya cara


yang paling ampuh untuk menghilangkan masalah kebisingan. Tapi pada faktanya,


ia tidak bisa melakukan hal tersebut. Lantai bangunan ini jauh lebih dingin


dari apa yang pernah ia bayangkan. Padahal sekarang sudah bukan musim dingin


lagi.


Jarak antara kamar tempat ia tinggal dengan kamar mandi bisa


dibilang cukup jauh. Ia harus turun dari lantai tiga ke lantai dasar melalui


dua tangga penghubung. Bukan pekara yang mudah untuk naik turun tangga seperti


itu. Pasti akan melelahkan.


Seperti biasanya, tempat ini memang selalu berubah menjadi begitu


sepi  ketika sudah lewat tengah malam. Berjalan


di tengah kegelapan bukan lagi menjadi sesuatu yang menakutkan baginya. Bahkan kesunyian


malam yang mencekam, kini berubah menjadi biasa saja. Nhea sudah mulai bisa


berdaptasi dengan lingkungannya. Dia tidak sekaku itu lagi.


Meskipun diam-diam ia masih merindukan kehidupan masa


lalunya. Dimana ia masih menjalani kehidupan sama seperti manusia normal pada


umumnya. Sekarang semua hal tersebut sudah berbeda. Berbanding terbalik seratus


delapan puluh derajat.


Bisa bertahan hidup sampai hari ini saja adalah sebuah


pencapaian besar baginya. Jangan pikir jika mereka tidak berkompetisi. Bahkan,


dalam kehidupan sehari-hari saja persaingannya sangat ketat. Hal tersebut sudah


biasa terjadi pada sekolah-sekolah unggulan. Akademi sihir Mooneta merupakan


salah satu akademi terbaik yang berada di negeri ini. Wajar saja jika siswa


yang ada di dalamnya bukan orang sembarangan. Untuk bisa masuk ke akademi ini


saja tidak mudah. Mereka pasti memang sudah bersungguh-sungguh sejak awal.


“Fiuh!”


Akhirnya setelah menjalani dua deretan panjang anak tangga,


Nhea sampai ke kamar mandi yang berada di pojok ruangan lantai pertama. Di tempat


sebesar itu, mereka bisa memuat sampai lebih dari dua puluh bilik kamar


mandi.  Bisa dibayangkan seberapa luas


tempat ini.

__ADS_1


__ADS_2