
Sementara Oliver terlelap, Nhea malah sebaliknya. Ia masih
tetap terjaga sampai detik ini. Gadis itu sama sekali tidak mengantuk. Ia
bahkan hanya tidur selama kurang lebih dua puluh menit saat jeda antar kelas
tadi. Bukan waktu yang cukup bagi seorang manusiauntuk beristirahat. Mereka
normalnya akan tertidur selama lebih dari empat jam atau bahkan sampai enam jam
dalam sehari. Idealnya memang begitu.
Tidak bisa dipungkiri memang jika akhir-akhir ini ia sering
mengalami masalah kesulitan tidur. Mungkin sudah lebih dari seminggu ia sering
terjaga hingga larut malam. Atau bahkan terbangun di tengah malam dan tidak
bisa tidur kembali hingga fajar datang. Bukan sesuatu yang mengejutkan lagi
baginya. Hal ini sudah cukup sering terjadi, tak perlu merasa terkejut lagi.
Tidak peduli seberapa lelah dirinya hari itu. Kedua bola
matanya selalu saja menolak untuk terlelap. Entah kenapa bisa terjadi demikian.
Tidak ada yang tahu apa alasan pastinya. Ia mengakui jika memang kebiasaan baru
yang tidak disengaja olehnya ini cukup mengganggu. Pasalnya, untuk tidur saja
ia harus bekerja keras terlebih dahulu. Terkadang, itu pun tak sesuai dengan
ekspektasi.
Malam ini sama seperti biasanya. Ia kembali terbangun di
tengah malam. Padahal tadi Nhea sudah sempat tertidur pulas selama beberapa jam
di awal. Ia tidak mengalami mimpi buruk atau pengalaman mengerikan semacamnya.
Tidak ada yang terjadi. Nhea terbangun begitu saja tanpa alasan yang jelas. Rasa
kantuknya mendadak hilang seketika. Tidak ada yang suka jika begini caranya.
Nhea duduk di tepi kasur sambil menatap lurus ke depan. Ia
sama sekali tidak tahu harus melakukan apa agar tertidur kembali. Bahkan melamun
pun tak cukup kuat untuk membuatnya kembali mengantuk. Sekarang masih pukul dua
dini hari. Bahkan Oliver saja masih terlelap. Terkadang ia merasa iri dengan
gadis itu. Oliver tampak sangat damai ketika tidur. Tidak ada yang bisa
mengusiknya sedikit pun.
“Hoamm!!!”
Nhea menguap singkat. Bagaimana bisa ia tetap menormalisasi
hal seperti ini. Bisa-bisa lingkaran hitam di bawah matanya semakin menebal
jika ia terus-terusan tidak tidur.
“Apa yang harus ku lakukan sekarang?” gumamnya.
Mungkin beberapa orang akan turun ke dapur untuk mencari
sesuatu yang bisa dikonsumsi. Akan jauh lebih baik lagi jika makanan atau
__ADS_1
minuman tersebut bisa membuat mereka terlelap. Tapi sayangnya, mereka tidak
bisa melakukan hal demikian di sini. Seluruh penghuni akademi sihir Mooneta
hanya bisa mendapatkan makanan di saat mereka sudah memasuki jadwal untuk
makan. Di luar dari itu, tidak bisa sama sekali. Staff dapur sudah membagi
makanan dengan jatah yang sama rata ke setiap anak. Semua telah dipertimbangkan
dan diperhitungkan dengan sedemikian rupa. Sehingga tidak ada makanan berlebih.
Mereka tak bisa meminta makanan atau minuman ekstra.
Di satu sisi, hal tersebut berhasil membuat Nhea sebal.
Pasalnya, kehidupan di sini berbeda jauh dengan kehidupan di dunia nyata. Ia
lebih suka dengan segala hal yang sempat ia rasakan selama tinggal di rumah tua
itu bersama Bibi Ga Eun. Daripada harus tinggal di sini dengan banyak orang.
“Ayolah! Bagaimana bisa kau mendapatkana makanan ekstra,”
gerutu Nhea berusaha untuk mengingatkan dirinya sendiri.
“Kau bahkan sudah tinggal di tempat yang berbeda!” tegasnya
sekali lagi.
Gadis itu menghela napas dengan kasar, kemudian
menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Kini kedua bola matanya beralih menatap
langit-langit ruangan. Beberapa lentera sudah dipadamkan. Memang sengaja
kelas selesai. Mereka akan langsung kembali ke kamarnya masing-masing begitu
kelas dibubarkan.
Karena menyadari kalau ia tidak bisa mendapatkan makanan apa
pun di sini, gadis itu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi saja. Mungkin
buang air bisa membantunya untuk kembali tidur. Ringkasnya, anggap saja jika ia
bangun karena ada desakan untuk buang air. Padahal sebenarnya, Nhea tidak
terlalu yakin dengan hal tersebut.
Hanya ada satu kamar mandi untuk satu asrama. Bukan satu
ruangan. Lebih tepatnya satu tempat khusus yang cukup lebar di lantai bawah.
Daripada menganggur, tempat itu dialih fungsikan menjadi kamar mandi setelah
melalui proses renovasi terlebih dahulu.
‘TAP! TAP! TAP!’
Suara langkah kaki gadis itu terdengar begitu jelas.
Menggema di sepanjang lorong. Ia tetap melangkah untuk melanjutkan
perjalanannya sambiil harap-harap cemas. Mudah-mudahan saja para penghuni
asrama tidak terbangun karenanya. Mungkin orang seperti Oliver tidak akan
masalah dengan kebisingan seperti ini. Mereka tidak akan terbangun hanya karena
__ADS_1
hal tersebut. Tapi, bagaimana jika ada yang sebaliknya? Seperti yang kita tahu
jika semua orang tidak selalu sama.
Nhea melangkah dengan hati-hati. Ia berusaha keras untuk
meredam suara telapak sepatu yang menghantam permukaan lantai. Awalnya, Nhea
sempat ingin membuka sepatunya saja. Sepertinya itu adalah satu-satunya cara
yang paling ampuh untuk menghilangkan masalah kebisingan. Tapi pada faktanya,
ia tidak bisa melakukan hal tersebut. Lantai bangunan ini jauh lebih dingin
dari apa yang pernah ia bayangkan. Padahal sekarang sudah bukan musim dingin
lagi.
Jarak antara kamar tempat ia tinggal dengan kamar mandi bisa
dibilang cukup jauh. Ia harus turun dari lantai tiga ke lantai dasar melalui
dua tangga penghubung. Bukan pekara yang mudah untuk naik turun tangga seperti
itu. Pasti akan melelahkan.
Seperti biasanya, tempat ini memang selalu berubah menjadi begitu
sepi ketika sudah lewat tengah malam. Berjalan
di tengah kegelapan bukan lagi menjadi sesuatu yang menakutkan baginya. Bahkan kesunyian
malam yang mencekam, kini berubah menjadi biasa saja. Nhea sudah mulai bisa
berdaptasi dengan lingkungannya. Dia tidak sekaku itu lagi.
Meskipun diam-diam ia masih merindukan kehidupan masa
lalunya. Dimana ia masih menjalani kehidupan sama seperti manusia normal pada
umumnya. Sekarang semua hal tersebut sudah berbeda. Berbanding terbalik seratus
delapan puluh derajat.
Bisa bertahan hidup sampai hari ini saja adalah sebuah
pencapaian besar baginya. Jangan pikir jika mereka tidak berkompetisi. Bahkan,
dalam kehidupan sehari-hari saja persaingannya sangat ketat. Hal tersebut sudah
biasa terjadi pada sekolah-sekolah unggulan. Akademi sihir Mooneta merupakan
salah satu akademi terbaik yang berada di negeri ini. Wajar saja jika siswa
yang ada di dalamnya bukan orang sembarangan. Untuk bisa masuk ke akademi ini
saja tidak mudah. Mereka pasti memang sudah bersungguh-sungguh sejak awal.
“Fiuh!”
Akhirnya setelah menjalani dua deretan panjang anak tangga,
Nhea sampai ke kamar mandi yang berada di pojok ruangan lantai pertama. Di tempat
sebesar itu, mereka bisa memuat sampai lebih dari dua puluh bilik kamar
mandi. Bisa dibayangkan seberapa luas
tempat ini.
__ADS_1