
Vallery langsung menghampiri Nhea yang tengah sekarat itu. Sudah berhari-hari lamanya gadis ini jiwanya berkeliaran entah kemana. Wanita itu segera memeluk anak kandung semata wayangnya itu. Terakhir kali Vallery melilhat Nhea sebelum ia menitipkannya kepada Ga Eun, masih sangat kecil ldan lucu. Kini paras imut yang dimiliki anak perempuan itu, telah menjelma menjadi sesosok putri dengan kecantikan alami yang terpancar dari dalam dirinya. Nhea terlihat sangat cantik saat sedang tertidur pulas di atas hamparan bunga lili yang nyaris layu itu.
Vallery tak bisa membendung kesedihannya yang telah mendalam. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang sudah hampir berkerut. Sesekali ia mengecup singkat pipi gadis di hadapannya terseebut. Namun tak begitu dengan Wilson yang terlalu sulit untuk menggambarkan emosinya. Pria itu tak begitu baik dalam mengekspresikan perasaannya, wajahnya sering kali terlihat datar dan tak berekspresi sedikitpun. Namun meskipun begitu, Wilson tetaplah seorang manusia yang memiliki rasa prikemanusiaan dan hati nurani. Tunggu dulu aku lupa jika ia bukan sekedar manusia biasa, tapi manusia setengah penyihir dan memang berasal dari keluarga penyihir.
“Sayang… Sudah lama ibu tidak melihatmu seperti ini. Kau tumbuh menjadi seorang anak perempuan yang sangat cantik nak,” bisik wanita tersebut dengan suara paraunya.
“Stay where you are my angle, stay where you are my love. Promise it a promise, truth don’t breakable…..”
Song by: Vivian Loh- Last Goodbye.
Vallery membisikkan senandung tersebut di telinga Nhea, berharap gadis itu bisa mendengar semuanya. Wanita itu menyanyikan sebait lagu tersebut yang ditujukan kepada Nhea. Sebuah lirik lagu tak biasa yang membuatnya begitu tersayat, hatinya tergugu memilu dam kemudian membiru. Karena pada kenyataannya, semua kata-kata yang terkandung di dalam kalimat itu mampu mewakili setiap isi hatinya.
Tanpa berlama-lama lagi, Vallery segera mengusap jejak air matanya tersebut. Menghapus setiap kesedihannya saat itu. Vallery bangkit dari posisinya saat itu dan kembali menegakkan badannya. Dengan wajah yang berusaha tetap tersenyum, walaupun hatinya tengah teriris karena melihat kondisi anaknya tersebut. Berusaha tetap terlihat kuat, meski pada dasarnya ia tak bisa setegar itu.
Sesaat kemudian, ia mulai terlihat memejamkan matanya dan memusatkan seluruh pikirannya hanya pada satu titik. Yang berada di pikirannya saat ini hanya satu, yaitu anak perempuan itu. Setelah benar-benar yakin jika konsentrasinya telah terpusat, dan tak ada satu hal pun yang mampu memecah konsentrasinya saat ini.
Sedetik kemudian, Vallery mulai merapalkan beberapa bait mantra yang ia kuasai selama ini. Mungkin ia punya salah satu mantra yang ampuh dan bisa membantu putrinya tersebut. Mantra berbahasa latin yang terkesan sulit untuk diucapkan oleh lidah para penyihir pemula. Jika salah satu pengucapan kata di dalam mantra sampai salah, maka tak akan berdampak apa-apa kepada sasaran. Namun bisa jadi malah berbalik menjadi sebuah hal buruk yang tak bisa mereka duga.
Sedikit kesalahan saja, bisa membuat semuanya menjadi kacau. Pengucapan semua kata-kata itu harus benar-benar tepat dan tidak boleh salah sedikitpun. Harus sempurna jika tak ingin terjadi suatu masalah yang tak kaku inginkan.
Setelah mantra tersebut berhasil diucapkan tanpa ada kesalahan sedikitpun, barulah terlihat keajaibannya. Sebuah sisi lain dari mantra yang penuh kejutan di dalamnya. Bagian ******* dari kalimat tersebut yang menjadi bagiain terindahnya juga, atau bisa jadi juga menjadi bagian paling buruknya. Tergantung jenis mantra apa itu dan untuk tujuan apa ia diucapkan oleh si penyihir itu.
Perlahan namun pasti, kini bunga-bunga lili yang hampir layu itu melayang ke udara begitu saja. Tentu saja dengan bantuan kekuatan sihir yang mereka miliki tentunya, lebih tepatnya Vallery. Eun Ji Hae dan semua orang di situ tercengang hebat, tak terkecuali dengan Jong Dae yang tak ada apa-apanya disbanding mereka semua.
Sementara Jong Dae pergi ke sini untuk sementara waktu , Oliver sedang mengurus siswa-siswa lainnya yang tengah berrkeliaran itu. Gadis itu mempunyai tanggung jawab yang besar sebagai ketua asrama. Saat ini ia harus membereskan kekacauan besar yang sedang terjadi di luar ini, di bantu oleh beberapa guru juga. Oliver harus menertibkan semua siswa yang mulai penasaran dengan urusan pribadi keluarga penyihir ini dan berusaha mencari tahu lebih banyak tentang hal itu dengan cara apapun. Oliver terpaksa mengunci mereka satu-persatu di dalam asramanya masing-masing. Meskipun sebenarnya ia sangat kerepotan dibuat hal ini, namun Oliver harus tetap melaksanakan tugasnya yang satu ini. Bagaimanapun juga hal ini adalah sebuah impian yang tak pernah berani untuk ia impikan sebelumnya, meski pada akhirnya akan menjadi sebuah kenyataan yang tak pernah ia duga. Ia suka dengan pekerjaannya yang satu ini, meskipun selalu tak mudah untuk dilakukan.
***
Sementara itu Jong Dae, Ga Eun, Eun Ji Hae, Vallery dan Wilson masih tetap berada di ruangan tersebut. Dengan penuh harap yang terus bertambah seiring waktu, berharap agar segera tersemogakan. Tak banyak cara yang bisa membantu untuk kesembuhan Nhea sekarang ini.
Perlahan namun pasti semua harapan itu mulai menjelma menjadi sebuah kebetulan yang ternjadi dengan sangat nyata. Hanya perlu menunggu beberapa saat sampai butiran sihir tak terlihat ini bereaksi. Karena seperti itulah cara sihir bekerja. Diam-diam melaksanakan tugasnya di dalam ketenangan.
__ADS_1
Kini harapan yang sempat mati itu kembali bangkit lagi. Tumbuh dan terus bertumbuh besar seiring dengan datangnya sebuah pertanda baik. Itu artinya ada beberapa hal yang mengelai kemajuan, sehingga besar harapannya jika Nhea akan kembali pulih atau minimal sadarkan diri saja sudah lebih dari cukup. Setidaknya usaha yang mereka lakukan ini tak berakhir sia-sia. Setidaknya jeri payah Eun Ji Hae selama ini telah sepadan dengan kerja kerasnya.
Vallery mundur beberapa langkah ke belakang, sehingga yang lainnya juga ikut sedikit menjauh dari tempat tersebut. Sihir itu perlu sedikit ruang agar bisa bekerja dengan baik. Sama seperti reaksi percobaan kimia yang juga memerlukan sedikit ruang dan membiarkannya bekerja dengan sendirinya. Ada saatnya sihir tak perlu campur tangan kita, campur tangan manusia hanya membantunya di awal. Setelah itu semuanya kembali kepada mantranya. Tak semua hal di dunia sihir ini selalu berada di bawah kendali mereka, measkipun mereka adalah para penyihir hebat sekalipun.
“Sihirnya mulai bereaksi,” ujar Wilson dengan nada bicara sangat pelan, nyaris seprti sedang berbisik.
“Aku tak pernah melihat sihir seperti ini sebelumnya, ini benar-benar sihir terhebat yang pernah ku lihat seumur hidupku,” jelas Jong Dae yang menunjukkan rasa kagumnya kepada sesuatu yang terngah terjadi tepat di hadapannya itu.
“Tentu saja begitu, anak payah seperti mu mana bisa melakukan hal semacam ini,” sindir Eun Ji Hae dengan tajam.
“Aku akan membuktikannya suatu saat nanti Kakak Ji, akan ku bungkam mulutmu dengan kemampuanku,” batin Jong Dae dalam hati.
Pria ini telah berjanji kepada dirinya sendiri, jika suatu saat nanti ia akan bisa mengimbangi kekuatan keluarga penyihir ini. Tak ada yang tak mungkin jika kau terus-menerus berusaha. Hasil yang akan kau dapatkan nantinya, pastilah sudah setimpal dengan usaha yang kau lakukan. Karena pada dasarnya memang seperti itulah hukum yang berlaku.
Tapi baginya Nhea adalah sosok yang memiliki kepribadian yang sangat jauh berbeda dengan keluarganya. Gadis itu sama sekali tak memiliki sifat sombong seperti anggota keluarganya yang lain. Meskipun Nhea adalah keturunan keluarga ini secara langsung dan mewarisi kekuatan yang sangat besar sejak lahir, namun ia tetaplah gadis yang baik dan ramah. Terlebih lagi ia suka menolong dan tidak pililh-pilih teman saat bergaul.
Hal itu membuat Jong Dae sangat yakin jika Nhea bukan lah ditakdirkan untuk menjadi seperti keluarganya. Nhea memang mewarisi segala kekuatan sihir tingkat tinggi dari orang tuanya, bahkan sebelum ia tahu apa itu yang disebut dengan sihir dan bagaimana bentuknya. Namun ada satu yang tak Nhea warisi dari mereka, yaitu sifat sombong yang bisa menjatuhkan dirinya suatu saat nanti.
“Oh tidak!” ucap Wilson dengan sangat ketakutan.
Bunga-bunga lili yang kembali memutih itu, malah membentuk asap tebal yang justru menyelimuti tubuh gadis itu. Harusnya kumpulan bunga lili itu terurai dan kemudian membentuk serbuk putih halus yang berkilauan di angkasa, lalu menghujani gadis tersebut. Serbuk bunga lili itu akan masuk melalui setiap celah pori-pori Nhea. Membuat kulitnya seputih hamparan salju nantinya. Harusnya begitu cara kerjanya jika sihir yang dilakukan Vallery ini berhasil. Namun sekarang semuanya malah terjadi sebaliknya.
Asap tebal yang mereka maksud saat itu adalah kabut salju musim dingin. Kabut itu sangat berbahaya untuk kondisi gadis itu saat ini. Organ pernapasannya tak akan bisa bekerja dengan baik sebagai mana mestinya. Kumpulan asap tebal ini justru hanya akan membuat Nhea membeku di dalam sana. Dan pada akhirnya itu lah konsekuensi terburuk yang harus mereka terima.
Bukan hanya manusia biasa saja yang bisa melakukan kesalahan atau kecerobohan yang tak terduga sebelumnya seperti ini. Ternyata para pernyihir juga bisa melakukan hal yang sama, atau bahkan jauh lebih buruk dari yang dilakukan oleh manusia biasa. Tapi sebenarnya para penyihir ini juga hanyalah manusia biasa, sama seperti yang lainnya. Hanya saja para penyihir punya beberapa hal istimewa yang tak bisa dimiliki oleh para manusia biasa pada umumnya. Sebenarnya orang dari kalangan yang bukan berlatar belakang seorang penyihir juga bisa menjadi seorang penyihir jika mereka mau. Seperti Jong Dae dan Oliver contohnya, atau mungkin beberapa murid lain di sekolah ini. Semuanya tergantung kepada keinginan mereka masing-masing untuk memilih jalan hidupnya yang mana.
Suasana mendadak menjadi kacau dan begitu menegangkan. Semua oran tengah dilanda oleh kepanikan yang semakin menjadi. Sebuah hal buruk yang tak pernah meeka tahu bagaimana jalan keluarnya. Semua ini kesalahan Vallery, karena sepertinya aia sudah tak sering melatih sihirnya lagi. Oleh sebab itu terjadi kecelakaan kerja fatal yang berawal dari kerobohan biasa, yang sering mereka anggap sepele. Kini semua orang di ruangan tersebut sedang mencoba untuk berpikir keras, mereka terus memutar otaknya untuk mendapatkan solusi dari masalah ini dengan segera.
Chanwo yang sedari tadi masih terus bersembunyi di balik tubuh Eun Ji Hae dan menyatu dengan bayangannya, mendengar semua percakapan tentang keluarga ini. Meskipun Chanwo sama sekali tak mengerti apa itu yang disebut dengan sihir dan bagaiman acara menggunakannya, tapi ia ingin sekali rasanya untuk membantu. Tak ada yang salah memang jika pangeran vampir ini ingin membantu. Beberapa kebaikan lagi akan segera membantunya untuk keluar dari kutukan ini. Namun ia tak tahu harus membantu gadis kecil ini dengan cara apa. Chanwo hanyalah seorang pria vampir yang seumur hidupnya hanya menghabiskan waktunya di hutan itu. Dan ini adalah perjalannya yang pertama kali untuk keluar dari hutan itu, meski ia tahu dengan jelas jika dunia luar akan terlalu berbahaya baginya.
“Sebaiknya kita beri sedikit ruang untuknya terlebih dahulu,” ucap Wilson sambil mencoba memberikan pengertian kepada semuanya.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama lagi, mereka semua tunduk dan mengikuti perintah Wilson. Perintah darinya memang tak pernah bisa untuk dibantah. Semua orang segera beranjak dari ruangan itu untuk meninggalkan Nhea sendirian di dalamnya. Mereka semua perlu memikirkan sebuah jalan keluar dengan kepala dingin, tak boleh memakai emosi sama sekali. Akan sulit bagi mereka menemukan jalan keluarnya jika semua orang ini sedang dikuasai oleh ketakutannya. Namun ada sebuah pengecualian bagi satu orang di ruangan ini.
Chanwo memilih untuk melepaskan dirinya dari tempat persembunyiannya selama ini. Di saat yang lain sedang bersdiskusi di luar ruangan, maka pria itu tetap tinggal di sini untuk memanfaatkan setiap detik. Jika gadis ini memiliki peluang untuk sembuh, maka pria itu mampu menghitung seberapa besar peluangnya untuk kembali selamat.
Setelah merasa situasi telah benar-benar aman, Chanwo mengunci pintu dengan sangat perlahan. Bahkan nyaris tak mengeluarkan suara berisik sama sekali, dan hal itu pada umumnya sangat mustahil unutk dilakukan di tempat ini. Setiap benda logam di sini kecuali senjata, mereka semua sudah berkarat. Jadi pasti selalu berderit setiap bergesekan satu sama lain. Namun hal itu tak berlaku bagi Chanwo. Baginya itu adalah sebuah pengecualian yang tak berarti baginya.
Chanwo mulai meraih tangna gadis itu, kini kulitnya sangat putih seperti salju musim ini. Pria itu menariknya keluar dari dalam balutan asap tebal yang menyelimutinya tersebut. Nhea terlihat semakin pucat, kondisinya semakin memburuk dari yang sebelumnya. Mata Chanwo membulat dengan sempurna saat melihat sosok gadis di hadapannya ini. Ia seperti taka sing lagi dengan wajahnya yang satu ini.
Chanwo tak ingin mengambil keputusan begitu saja, ia tak boleh terlalu gegabah sebagai seorang pemimpin. Untuk memastikan jika perasaanya tentang gadis ini memang benar, Chanwo menempelkan salah satu tangannya di atas dahi Nhea. Dengan kemampuan yang ia miliki, Chanwo mencoba menjelajahi isi pikiran gadis ini. Teryata dugaannya selama ini benar, ia tak salah lagi. benar ini gadis yang di lihatnya waktu itu.
“K-kk-kau….” ucap Chanwo dengan kalimat yang terbata-bata.
“Tolong aku…” lirih seseorang dari dalam sana, yang tak lain adalah pemilik jiwa tersebut.
Jiwa Nhea sedang terjebak di dalam dirinya sendiri. Ia perlu seseorang yang bisa membebaskannya dari sini. Jika tidak maka jiwanya mungkin tak akan pernah kembali, dalam artian mungkin ia akan tertidur untuk selamanya.
Chanwo segera menyelesaikan perjalanan supranaturalnya. Pria itu tampak begitu kelelahan seperti habis berlari dengan jarak yang teramat jauh. Jantungnya yang baru mulai berdetak itu, kini tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Organ mati yang kembali hidup itu semakin berdegup kencang. Keringat membasahi paras tampan pria ini. Chanwo berusaha mengatur nafasnya yang tengak memburu ini.
Sedetik kemudian Chanwo menepikan beberapa rambut yang menutupi wajah gadis ini. Sekarang Chanwo bisa mengingat dengan jelas siapa seorang gadis yang tengan tertidur di hadapannya ini. Nhearsya Clastisia begitu orang menyebut namanya. Nama belakangnya di ambil dari salah satu nama ratu kerajaan kaum kegelapan. Clastisia Revannara adalah nama seorang ratu yang pertma kali di ujuk untuk memimpin kaum kegelapan ini.
Chanwo membaca setiap garis tangan gadis ini dengan begitu seksama. Pria ini tahu persis jika gadis ini akan di takdirkan untuk menjadi pemimpin nantinya. Ia juga akan menyelamatkan sekolah ini dari gangguan Ify untuk selama-lamanya.
“Ternyata kau telah tumbuh besar,” bisik Chanwo kepada gadis itu.
“Ini semua bukan salah ibu mu. Kau tak terlalu kuat untuk menerima kekuatannya, jantungmu masih terlalu lemah,” ujar pria tersebut sambil menghirup aroma tangan Nhea.
Kejadian terjadi kira-kira lima belas tahun yang lalu. Ada satu hal yang tak mereka ketahui tentang keluarga penyihir ini. Kisah tentang Wilson sebenarnya tak seperti apa yang mereka ketahui sekarang ini. Percaya atau tidak, Wilson adalah orang pertama yang memutuskan kelular dari kerajaan vampir yang terletak di dalam hutan kegelapan itu.
Wilson adalah seorang pria dari keturunan klan bayangan yang juga menghuni hutan gelap itu. Ia memutuskan kabur dari sana setelah keluarganya terpisah karena di adu domba oleh bibinya sendiri. Entah bagaimana caranya agar Wilson bisa bertahan selama ini di luar hutan itu tanpa sedikitpun. Mungkin dengan bantuan sihir yang telah ia kuasai selama bertahun-tahun ini.
Wilson pernah membawa Nhea kabur ke tempat ini saat bayi itu masih berumur kurang lebih satu hari. Pria itu pergi saat tengah-tengah malam sambil membawa buah hatinya. Ia tak ingin daln belum siap jika keluarga penyihir itu harus mengetahui tentang kebenarannya. Wilson tak ingin jika anaknya malah menjadi bahan ejekan karena cacat saat lahir.
__ADS_1
Nhea terlahir dengan warna kulit yang memiliki bercak-bercak hitam. Itulah salah satu konsekuensinya jika berani melanggar aturan di hutan ini. Setiap anggota klan tidak bpleh saling jatuh cinta, apalagi dengan manusia dari luar hutan ini.
Wilson meninggalkan Nhea yang masih bayi begitu saja di tepi hutan kegelapan tersebut. Namun siapa sangka jika Chanwo yang masih berusia delapan tahun pada waktu itu akan datang untuk menghampirinya. Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Chanwo memakan setengah bagian dari jantung bayi itu yang tak akan pernaha kembali utuh hingga ia dewasa. Chanwo tahu jika saat itu ia bersalah dan pria itu sangat menyesal hingga saat ini. Darah bayi itu masih sangat segar dan manis waktu itu, dan hal itulah yang membuatnya begitu tergoda.