
Dari awal memang sudah ditetapkan jika pemilik mahkota tersebut
adalah Nhea. Dan seharusnya yang diangkat menjadi pemimpin akademi ini benar
adalah Nhea, bukan malah Eun Ji Hae. Gadis itu tidak berhak atas apa pun di
sini. Karena mau bagaimana pun juga, ia memang tidak memiliki wewenang sama
sekali.
Terserah mau apa yang terjadi
dengan gadis itu. Tidak masalah sama sekali jika Eun Ji Hae akan merasa sakit
hati nantinya. Cepat atau lambat, Eun Ji Hae tetap harus tahu kebenarannya. Terlepas
dari ia mau menerimanya atau tidak. Nhea sama sekali tidak bisa menyembunyikan
rahasia yang satu ini.
Ternyata benar apa kata
orang-orang di luar sana. Kenyataan serta kebenaran memang selalu berakhir
menyakitkan. Sebagian besar hal benar memang selalu menyakiti. Hanya satu atau
dua yang sebaliknya. Mereka memang tidak bisa dipungkiri. Pasalnya, seumu
hidupnya Nhea selalu menjumpai situasi tersebut.
Mungkin ini bukan pertama kalinya
Eun Ji Hae menerima fakta yang terasa begitu menyakitkan. Tapi, mau bagaimana
lagi. Eun Ji Hae memang harus tahu dimana posisinya. Dia tidak bisa memaksa
untuk tetap mempertahankan eksistensinya. Sementara yang sedang ia pijaki saat
ini adalah posisi orang lain.
“Apa semua orang sudah berkumpul
di dalam sini?” tanya Bibi Ga Eun.
Suara tersebut muncul secara
tiba-tiba, memecah keriuhan suasana. Semua orang langsung bungkam. Perhatiannya
hanya tertuju kepada wanita itu yang tengah berdiri di atas podium. Mereka rela
menghentikan kegiatannya untuk sesaat. Tidak terkecuali dengan Nhea.
“Sepertinya aku yakin jika tidak
ada lagi yang sedang berkeliaran di luar sana,” tutur Bibi Ga Eun setelahnya.
Wanita itu mendengarkan
pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Menyisir setiap isi ruangan. Entah
bagaimana Bibi Ga Eun bisa menarik kesimpulan seperti itu. Padahal ia belum
memeriksa kenyataan di lapangan. Bagaimana jika ternyata tebakannya itu salah. Sama
sekali tidak sesuai dengan apa yang ia bicarakan sebelumnya.
Bibi Ga Eun bisa saja
dipermalukan di hadapan umum karena hal tersebut. Siapa pun bisa melawannya
jika posisinya cukup kuat. Tapi, tidak hanya sampai di situ saja. Ia juga harus
punya data yang cukup akurat untuk mempertahankan posisinya, jika sewaktu-waktu
Bibi Ga Eun malah berusaha untuk menyerangnya balik. Hal itu mungkin saja
terjadi. Sebab setiap manusia pasti memiliki insting alami untuk mempertahankan
__ADS_1
dirinya sendiri. Lebih tepatnya insting bertahan hidup. Mereka akan melakukan
apa saja, termasuk pembelaan untuk dirinya sendiri.
Orang-orang akan terus berusaha
untuk terlihat benar, meski posisi mereka sebenarnya bersalah. Terkadang memang
jauh lebih mudah untuk menilai serta mencari kesalahan orang lain, daripada
harus menilai diri kita sendiri.
“Kalau begitu, tutup saja
pintunya!” perintah Bibi Ga Eun kepada beberapa orang di dekat pintu masuk.
Wanita itu telah menugaskan
beberapa orang dari jajaran staff untuk berjaga di daerah sekitar pintu. Meskipun
pangkatnya jauh lebih tinggi daripada siswa biasa, jangan salah dulu. Mereka akan
melakukan apa saja. Tidak peduli apakah perintah tersebut masuk akal atau
tidak. Selama Bibi Ga Eun, Vallery serta Wilson yang memberikan perintah, pasti
akan dilaksanakan.
Tidak akan ada yang berani
membantah. Mereka bertiga adalah pemegang posisi tertinggi pada akademi sihir
Mooneta. Semua keputusan terkait sistem kepengurusan akademi serta hal-hal lain
berada di tangan mereka bertiga. Oleh sebab itu, jangan pernah main-main. Bibi
Ga Eun, Vallery dan Wilson bukan orang yang tepat untuk diajak bercanda.
“Jangan biarkan mereka yang
terlambat untuk masuk lagi!” tegasnya sekali lagi..
segera melakukan perintah dari Bibi Ga Eun. Lagipula memang tidak ada alasan
untuk menolaknya.
Setelah semua pintu masuk
berhasil di tutup, suasana kembali hening. Bukan keheningan yang membuat
perasaan menjadi tenang seperti biasanya. Ini malah kebalikannya. Nyaris
seluruh dari mereka merasa tegang. Ini adalah kesunyian yang mencekam.
Semua orang tampak begitu serius.
Termasuk Eun Ji Hae dan semua orang yang berada di depan sana. Karena mereka
bersikap begitu, semua orang lantas berpikir jika acara ini cukup formal. Jadi,
mau tak mau mereka harus menjaga sikap. Nhea pun sampai ikut terbawa suasana. Padahal
ia ingin bersikap normal saja.
“Baiklah, karena acara akan segera
dimulai, kami himbau kepada semua orang untuk duduk di tempatnya masing-masing,”
ujar Bibi Ga Eun lagi.
“Terima kasih!” finalnya.
Mereka bahkan tidak menjelasakan
acara apa sebenarnya ini. Secara mendadak mereka mengundang semua orang untuk
datang ke aula utama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kemudian mendapatkan
__ADS_1
pemberitahuan jika acara akan segera dimulai. Tidak ada satu pun dari mereka
yang tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Terkecuali dengan Nhea dan
teman-temannya.
Sebenarnya tidak salah jika
mereka buka suara untuk sekedar bertanya. Bibi Ga Eun tidak akan langsung
menendangnya keluar dari akademi. Tapi, tidak semua orang memiliki keberanian
yang sama. Apalagi untuk berbicara di depan publik seperti itu. Chanwo saja
belum tentu berani melakukannya.
“Ada acara apa ini?”
“Kenapa kita tidak mendapatkan
pemberitahuan?
“Kenapa ketua asrama tidak ada
menyampaikan hal apa pun kepada kita?
Belum ada satu menit sejak Nhea
memikirkan hal tersebut, suara desas-desus sudah sampai ke dengan telinga gadis
itu. Tak bisa berbuat banya, Nhea hanya mengalihkan pandangannya sekilas saja.
Sebenarnya mereka tidak bisa
menyalahkan siapa pun di sini kecuali mereka yang berada di atas sana. Seperti
yang mreka ketahui bersama, jika arus informasi di tempat ini sangat terbatas. Hanya
mereka yang memiliki kewenangan khusus yang bisa mengetahu segala informasi
masuk.
Berbeda dengan para siswa. Mereka
hanya siswa biasa, tidak memiliki hak lebih. Jadi mau tidak mau mereka harus
tetap tunduk kepada peraturan yang berlaku.
Sejauh ini para ketua asrama
belum menerima informasi apa pun terkait acara yang satu ini. Mungkin jika
semalam Oliver tidak pergi ke gedung utama, mungkin ia juga tidak akan tahu
apa-apa. Terkadang keberuntungan juga sering memihak kepadanya dalam beberapa
hal.
“Andai aku bisa membungkam mulut
mereka sekarang juga!” geram Oliver.
Nhea yang duduk tepat di
sebelahnya berhasil menangkap pesan tersirat dari ekspresinya kala itu. Dapat
disimpulkan jika pada kenyataannya Oliver juga mendengarkan hal yang sama.
Semua orang terus membicarakan dirinya. Bukan tentang hal baik, melainkan hanya
sebatas menyalahkan.
Orang-orang
sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang tidak terlihat,
belum tentu tidak terjadi. Beberapa orang memang sering anggap sepele dengan resiko
__ADS_1
jangka panjang. Oliver juga tidak tahu harus berbuat apa jika situasinya sudah
seperti ini. Tidak ada solusi yang tepat ia rasa.