Mooneta High School

Mooneta High School
Desas Desus


__ADS_3

Dari awal  memang sudah ditetapkan jika pemilik mahkota tersebut


adalah Nhea. Dan seharusnya yang diangkat menjadi pemimpin akademi ini benar


adalah Nhea, bukan malah Eun Ji Hae. Gadis itu tidak berhak atas apa pun di


sini. Karena mau bagaimana pun juga, ia memang tidak memiliki wewenang sama


sekali.


Terserah mau apa yang terjadi


dengan gadis itu. Tidak masalah sama sekali jika Eun Ji Hae akan merasa sakit


hati nantinya. Cepat atau lambat, Eun Ji Hae tetap harus tahu kebenarannya. Terlepas


dari ia mau menerimanya atau tidak. Nhea sama sekali tidak bisa menyembunyikan


rahasia yang satu ini.


Ternyata benar apa kata


orang-orang di luar sana. Kenyataan serta kebenaran memang selalu berakhir


menyakitkan. Sebagian besar hal benar memang selalu menyakiti. Hanya satu atau


dua yang sebaliknya. Mereka memang tidak bisa dipungkiri. Pasalnya, seumu


hidupnya Nhea selalu menjumpai situasi tersebut.


Mungkin ini bukan pertama kalinya


Eun Ji Hae menerima fakta yang terasa begitu menyakitkan. Tapi, mau bagaimana


lagi. Eun Ji Hae memang harus tahu dimana posisinya. Dia tidak bisa memaksa


untuk tetap mempertahankan eksistensinya. Sementara yang sedang ia pijaki saat


ini adalah posisi orang lain.


“Apa semua orang sudah berkumpul


di dalam sini?” tanya Bibi Ga Eun.


Suara tersebut muncul secara


tiba-tiba, memecah keriuhan suasana. Semua orang langsung bungkam. Perhatiannya


hanya tertuju kepada wanita itu yang tengah berdiri di atas podium. Mereka rela


menghentikan kegiatannya untuk sesaat. Tidak terkecuali dengan Nhea.


“Sepertinya aku yakin jika tidak


ada lagi yang sedang berkeliaran di luar sana,” tutur Bibi Ga Eun setelahnya.


Wanita itu mendengarkan


pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Menyisir setiap isi ruangan. Entah


bagaimana Bibi Ga Eun bisa menarik kesimpulan seperti itu. Padahal ia belum


memeriksa kenyataan di lapangan. Bagaimana jika ternyata tebakannya itu salah. Sama


sekali tidak sesuai dengan apa yang ia bicarakan sebelumnya.


Bibi Ga Eun bisa saja


dipermalukan di hadapan umum karena hal tersebut. Siapa pun bisa melawannya


jika posisinya cukup kuat. Tapi, tidak hanya sampai di situ saja. Ia juga harus


punya data yang cukup akurat untuk mempertahankan posisinya, jika sewaktu-waktu


Bibi Ga Eun malah berusaha untuk menyerangnya balik. Hal itu mungkin saja


terjadi. Sebab setiap manusia pasti memiliki insting alami untuk mempertahankan

__ADS_1


dirinya sendiri. Lebih tepatnya insting bertahan hidup. Mereka akan melakukan


apa saja, termasuk pembelaan untuk dirinya sendiri.


Orang-orang akan terus berusaha


untuk terlihat benar, meski posisi mereka sebenarnya bersalah. Terkadang memang


jauh lebih mudah untuk menilai serta mencari kesalahan orang lain, daripada


harus menilai diri kita sendiri.


“Kalau begitu, tutup saja


pintunya!” perintah Bibi Ga Eun kepada beberapa orang di dekat pintu masuk.


Wanita itu telah menugaskan


beberapa orang dari jajaran staff untuk berjaga di daerah sekitar pintu. Meskipun


pangkatnya jauh lebih tinggi daripada siswa biasa, jangan salah dulu. Mereka akan


melakukan apa saja. Tidak peduli apakah perintah tersebut masuk akal atau


tidak. Selama Bibi Ga Eun, Vallery serta Wilson yang memberikan perintah, pasti


akan dilaksanakan.


Tidak akan ada yang berani


membantah. Mereka bertiga adalah pemegang posisi tertinggi pada akademi sihir


Mooneta. Semua keputusan terkait sistem kepengurusan akademi serta hal-hal lain


berada di tangan mereka bertiga. Oleh sebab itu, jangan pernah main-main. Bibi


Ga Eun, Vallery dan Wilson bukan orang yang tepat untuk diajak bercanda.


“Jangan biarkan mereka yang


terlambat untuk masuk lagi!” tegasnya sekali lagi..


segera melakukan perintah dari Bibi Ga Eun. Lagipula memang tidak ada alasan


untuk menolaknya.


Setelah semua pintu masuk


berhasil di tutup, suasana kembali hening. Bukan keheningan yang membuat


perasaan menjadi tenang seperti biasanya. Ini malah kebalikannya. Nyaris


seluruh dari mereka merasa tegang. Ini adalah kesunyian yang mencekam.


Semua orang tampak begitu serius.


Termasuk Eun Ji Hae dan semua orang yang berada di depan sana. Karena mereka


bersikap begitu, semua orang lantas berpikir jika acara ini cukup formal. Jadi,


mau tak mau mereka harus menjaga sikap. Nhea pun sampai ikut terbawa suasana. Padahal


ia ingin bersikap normal saja.


“Baiklah, karena acara akan segera


dimulai, kami himbau kepada semua orang untuk duduk di tempatnya masing-masing,”


ujar Bibi Ga Eun lagi.


“Terima kasih!” finalnya.


Mereka bahkan tidak menjelasakan


acara apa sebenarnya ini. Secara mendadak mereka mengundang semua orang untuk


datang ke aula utama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kemudian mendapatkan

__ADS_1


pemberitahuan jika acara akan segera dimulai. Tidak ada satu pun dari mereka


yang tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Terkecuali dengan Nhea dan


teman-temannya.


Sebenarnya tidak salah jika


mereka buka suara untuk sekedar bertanya. Bibi Ga Eun tidak akan langsung


menendangnya keluar dari akademi. Tapi, tidak semua orang memiliki keberanian


yang sama. Apalagi untuk berbicara di depan publik seperti itu. Chanwo saja


belum tentu berani melakukannya.


“Ada acara apa ini?”


“Kenapa kita tidak mendapatkan


pemberitahuan?


“Kenapa ketua asrama tidak ada


menyampaikan hal apa pun kepada kita?


Belum ada satu menit sejak Nhea


memikirkan hal tersebut, suara desas-desus sudah sampai ke dengan telinga gadis


itu. Tak bisa berbuat banya, Nhea hanya mengalihkan pandangannya sekilas saja.


Sebenarnya mereka tidak bisa


menyalahkan siapa pun di sini kecuali mereka yang berada di atas sana. Seperti


yang mreka ketahui bersama, jika arus informasi di tempat ini sangat terbatas. Hanya


mereka yang memiliki kewenangan khusus yang bisa mengetahu segala informasi


masuk.


Berbeda dengan para siswa. Mereka


hanya siswa biasa, tidak memiliki hak lebih. Jadi mau tidak mau mereka harus


tetap tunduk kepada peraturan yang berlaku.


Sejauh ini para ketua asrama


belum menerima informasi apa pun terkait acara yang satu ini. Mungkin jika


semalam Oliver tidak pergi ke gedung utama, mungkin ia juga tidak akan tahu


apa-apa. Terkadang keberuntungan juga sering memihak kepadanya dalam beberapa


hal.


“Andai aku bisa membungkam mulut


mereka sekarang juga!” geram Oliver.


Nhea yang duduk tepat di


sebelahnya berhasil menangkap pesan tersirat dari ekspresinya kala itu. Dapat


disimpulkan jika pada kenyataannya Oliver juga mendengarkan hal yang sama.


Semua orang terus membicarakan dirinya. Bukan tentang hal baik, melainkan hanya


sebatas menyalahkan.


Orang-orang


sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang tidak terlihat,


belum tentu tidak terjadi. Beberapa orang memang sering anggap sepele dengan resiko

__ADS_1


jangka panjang. Oliver juga tidak tahu harus berbuat apa jika situasinya sudah


seperti ini. Tidak ada solusi yang tepat ia rasa.


__ADS_2