
Sejak berhari-hari yang lalu, Eun
Ji Hae sudah begitu mendambakan hari ini. Malam ini semua mimpi-mimpinya akan
segera terealisasikan dengan segera. Eun Ji Hae sama sekali tidak pernah
membayangkan jika dirinya akan sebagaia ini. Terlepas dari semua masalah yang
penah ia alami sebelumnya. Entah kenapa perasaannya bisa berubah-ubah dengan
begitu cepat akhir-akhir ini.
Suasana berubah menjadi khidmat. Semua
orang tampak begitu menghayati jalannya acara. Meski sebenarnya dari sini kita
sudah bisa mengetahui kalau sebenarnya hampir seluruh peserta tidak ada yang
benar-benar megnikuti jalannya acara. Diam bukan berarti mereka akan merasa
khidmad. Tidak ada ketenangan yang terjadi sesungguhnya di dalam sini.
Asal Eun Ji Hae tahu saja jika ia
sebenarnya ada begitu banyak orang yang tengah menyumpahi dirinya. Sebagian kecil
di antaranya mendumal tak karuan. Entah kenapa mereka bersikap begitu marak
ketika Eun Ji Hae dinyatakan sebagai pimpinan asrama.
Sebenarnya bukan hanya mereka
saja satu-satunya orang yang merasa tiddak terima di sini. Tapi, Nhea dan
teman-temannya yang lain juga merasakan hal serupa. Bagaimana bisa ia tetap
bersikap tenang. Sementara haknya hampir direbut oleh orang lain. Jelas-jelas
jika ia tidak akan terima. Nhea telah menolak keputusan Vallery yang satu itu
secara mentah-mentah. Ia tidak akan menyerahkan mahkota itu kepada siapa pun. Termasuk
Eun Ji Hae.
‘TAP! TAP! TAP!’
Suara telapak sepatu Eun Ji Hae
yang menghantam permukaan lantai, mengakibatkan suara ketukan yang ttidak
terlalu besar. Namun, sepertinya semua orang yang berada di dalam akademi ini
bisa mendengarkan suara langkah kaki Eun Ji Hae dengan begitu jelas.
Nhea sendiri sudah mulai merasa
malas. Ia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Jika saja ia bisa menyerang
gadis itu jauh lebih cepat dari pada biasanya, maka Eun Ji Hae mungkin tidak
akan merasakan bahagia itu lagi sekarang.
Chanwo meminta Nhea untuk
bersabar lebih dulu. Sekarang belum waktu yang tepat. Akan ada saatnya bagi
mereka untuk melancarkan serangan terhadap gadis itu. Chanwo dan Nhea akan
memastikan jika Eun Ji Hae akan mendapatkan balasan yang setimpal. Eun Ji Hae tidak akan pergi begitu saja tanpa
menerima sesuatu dari Nhea dan Chanwo. Anggap saja itu sebagai ucapan selamat
dari mereka berdua.
Entah apa yang akan dilakukan
oleh mereka berdua, yang jelas Eun Ji Hae harus bersiap saja. Gadis itu harus
siap dengan segala kemungkinan yang mungkin saja terjadi.
Sejak tadi, Nhea terus
memperhatikan gadis itu. Menyorotinya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan
sedikit pun. Yang jelas, Nhea tampak begitu tak sabaran. Ia sedang menunggu
__ADS_1
waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran kepada gadis itu. Bagaimanapun
juga, Eun Ji Hae perlu tahu jika pada dasarnya hukum karma tetap akan berjalan.
Pada prinsipnya, semesta memang
selalu berputar. Kau tidak akan berada di atas selamanya. Sesekali Eun Ji Hae perlu
sadar. Jika pada kenyataannya, ia tidak akan berada di atas selamanya. Akan ada
saatnya bagi Eun Ji Hae untuk berada di posisi paling bawah dalam hidupnya. Dan
kemungkinan besar jika waktu itu adalah sekarang.
“Tungguh dulu!” seru Nhea dengan
lantang.
Sontak semua mata langsung
tertuju ke arahnya. Termasuk Eun Ji Hae. Gadis itu bahkan sampai menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Bersamaan
dengan terlontarnya kalimat dari gadis itu.
“Nhea! Apa-apaan kau ini?!” tegur
Bibi Ga Eun dengan setengah berbisik. Tapi, Nhea bahkan tidak menghiraukannya
sama sekali.
Ia hanya menoleh sekilas ke arah
Bibi Ga Eun. Kemudian, buru-buru memalingkan pandangannya kembali. Lama-lama ia
bisa muak melihat situasi seperti ini. Kehidupannya tidak pernah berjalan
dengan baik-baik saja semenjak Bibi Ga Eun mengajaknya untuk pindah kemari. Seharusnya
sejak awal ia sudah menolak ajakan tersebut. Karena, mau bagaimana pun juga ini
bukan tempat yang tepat untuk manusia seperti dirinya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
tanya Eun Ji Hae dengan penuh penekanan.
tepat setelah mendengar kalimat tersebut.
“Bukankah seharusnya aku yang
bertanya seperti itu kepadamu?” tanya gadis itu balik.
Eun Ji Hae lantas bungkam. Ia tidak
tahu apa yang sedang terjadi di sini. Semua hal terjadi dalam waktu yang begitu
singkat. Sehingga ia sama sekali tidak bisa mencerna apa pun di dalam
kepalanya.
“Seharusnya aku yang berada di
sana. Bukannya kau!” sarkas Nhea.
“Nhea! Jaga sikapmu!” seru
Vallery.
Kali ini tampaknya wanita itu
juga sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Vallery mulai naik pitam. Beruntung
ada Wilson yang berusaha untuk menenangkannya. Jika tidak, maka hal buruk bisa
saja terjadi.
Masih sama seperti kejadian yang
sebelumnya. Nhea sama sekali tidak peduli dengan hal tersebut. Rasanya jauh
lebih baik jika ie kembali melanjutkan aksinya, dari pada hanya sekedar
menanggapi perkataan tidak jelas dari mereka. Orang-orang tersebut tidak akan
bisa merusak konsentrasinya dengan mudah kali ini. Tidak seperti sebelumnya.
__ADS_1
Kali ini Nhea sungguh sudah
terjebak dalam mode keras kepala. Tekadnya untuk menjatuhkan Eun Ji Hae malam
ini sudah bulat. Tidak ada yang bisa menghalanginya lagi. Selama ini rasanya
Nhea sudah terlalu banyak mengalah dalam berbagai hal. Bukankah harusnya lebih
adil lagi. Sekarang sudah waktu yang tepat bagi Eun Ji Hae untuk merasakan
posisi Nhea selama ini. Dengan begitu, maka ia akan mengerti dengan apa yang
sebenarnya terjadi.
“Asal kalian tahu saja, jika aku
lah yang seharusnya berada di sana,” ujar Nhea dengan suara bergetar.
“Eun Ji Hae bahkan bukan siapa-siapa
di keluarga ini. Dia hanya anak yang diangkat menjadi salah satu anggita dalam
keluarga ini. Eun Ji Hae hanya beruntung. Padahal beberapa tahun yang lalu,
keluarganya membuang gadis itu tepat di depan pintu gerbang akademi sihir
Mooneta!” jelas Nhea dengan panjang lebar.
Sontak semua orang yang berada di
dalam ruangan itu merasa terkejut bukan main. Bahkan yang satu ini terasa jauh
lebih menyakitkan sekaligus mengejutkan di saat yang bersamaan.
“Rumor yang sempat beredar waktu
itu benar adanya!” akunya.
Secara terang-terangan Nhea
menyampaikan begitu banyak fakta yang telah ia ketahui sejauh ini.
“Aku tahu jika kalian tidak akan
bisa mempercayai perkataanku dengan mudah. Jadi, aku memutuskan untuk membawa
buktinya kemari,” jelas gadis itu.
Tak lama kemudian ia tampak mengeluarkan
sebuah buku yang tidak terlalu tebal dari balik jubahnya. Ternyata itu adalah
buku sejarah akademi sihir Mooneta. Yang selama ini mereka sembunyikan di ruang
penyimpanan. Tidak ada seorang pun yang tahu atau bahkan menyangka jika gadis
itu ternyata sampai bertindak sejauh ini.
Buku tersebut
cukup untuk menjadi bukti atas semua kebohongan mereka. Ini masih satu buku.
Belum lagi dengan buku Sofia Von Rierra yang akan mengungkap sisi gelap dari
akademi ini. Hari itu Eun Ji Hae gagal berbahagia. Impiannya selama ini hancur
sia-sia hanya karena gadis itu.
Eun Ji Hae tidak pernah mendengar soal buku tersebut sebelumnya. Tapi, ia yakin jika benda yang satu itu akan membawa mala petaka baginya. Eun Ji Hae tidak bisa terus diam saja seperti ini. Paling tidak ia harus memberikan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Tapi, sepertinya sekarang sudah terlalu terlambat untuk melakukan itu semua.
"Kita bahkan tidak memiliki hubungan darah sama sekali!" sarkas Nhea sembari melangkah maju dengan yakin.
"Omong kosong macam apa itu!" bantah Eun Ji Hae tak terima.
"Aku tidak berdusta. Satu-satunya orang yang menipu selama ini adalah kau!" tuduh Nhea balik.
"Dengan berpura-pura menjadi salah satu bagian dari anggota keluarga, padahal kau hanya anak angkat. Berlagak menguasai seisi akademi ini. Padahal sejak awal semua itu adalah hakku," jelasnya dengan panjang lebar.
Ketika emosinya semakin memuncak, otomatis tekanan darahnya turut naik bersamaan dengan emosinya. Nhea sudah merasa geram. Ia tidak bisa menahan yang satu ini lagi. Namun, mendadak langkahnya terhenti. Ia tidak mampu melanjutkan perjalanannya lagi. Bukan karena tidak memiliki energi yang cukup. Lebih tepatnya sebuah anak panah telah menancap di dada kirinya. Tepat mengenai jantung milik gadis itu. Hal tersebut cukup untuk membuat Nhea kehilangan keseimbangan, kemudian tubuhnya roboh begitu saja.
Beberapa orang berteriak histeris. Sisanya masih tercengang hebat. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat di hadapannya saat ini.
Bibi Ga Eun memerintahkan salah satu penjaga untuk menyerang keponakannya yang satu itu secara diam-diam. Jika terus dibiarkan, maka Nhea akan mengganggu berlangsungnya acara ini. Tidak ada yang mengira jika penjaga tersebut akan langsung menyerang titik terlemah pada diri setiap manusia. Ia berhasil melumpuhkan Nhea dalam waktu kurang dari lima detik. Tapi, masalah besar sedang berada di hadapan mereka saat ini. Apa yang akan dibicarakan orang-orang kalau sampai tahu ada kasus pembunuhana berencana di akademi ini. Bukan hanya Bibi Ga Eun, namun seisi akademi akan terkena imbasnya.
"Dasar kalian para manusia licik!" lirih Nhea sambil meringis kesakitan.
__ADS_1
Gadis itu sendiri juga tidak pernah mengira jika ia akan berakhir seperti ini. Mati konyol di hadapan orang lain, bukan ini yang ia mau. Yang tadi itu, adalah kata-kata terakhir darinya sebelum menghembuskan napas terakhir. Beginilah pada akhirnya jika kalian berusaha untuk memberontak di akademi ini. Nhea bukan korban pertama. Memang sudah sepantasnya semua kebusukan itu terbongkar di hadapan semua orang, agar mereka juga sadar.