Mooneta High School

Mooneta High School
Last Page


__ADS_3

Sejak berhari-hari yang lalu, Eun


Ji Hae sudah begitu mendambakan hari ini. Malam ini semua mimpi-mimpinya akan


segera terealisasikan dengan segera. Eun Ji Hae sama sekali tidak pernah


membayangkan jika dirinya akan sebagaia ini. Terlepas dari semua masalah yang


penah ia alami sebelumnya. Entah kenapa perasaannya bisa berubah-ubah dengan


begitu cepat akhir-akhir ini.


Suasana berubah menjadi khidmat. Semua


orang tampak begitu menghayati jalannya acara. Meski sebenarnya dari sini kita


sudah bisa mengetahui kalau sebenarnya hampir seluruh peserta tidak ada yang


benar-benar megnikuti jalannya acara. Diam bukan berarti mereka akan merasa


khidmad. Tidak ada ketenangan yang terjadi sesungguhnya di dalam sini.


Asal Eun Ji Hae tahu saja jika ia


sebenarnya ada begitu banyak orang yang tengah menyumpahi dirinya. Sebagian kecil


di antaranya mendumal tak karuan. Entah kenapa mereka bersikap begitu marak


ketika Eun Ji Hae dinyatakan sebagai pimpinan asrama.


Sebenarnya bukan hanya mereka


saja satu-satunya orang yang merasa tiddak terima di sini. Tapi, Nhea dan


teman-temannya yang lain juga merasakan hal serupa. Bagaimana bisa ia tetap


bersikap tenang. Sementara haknya hampir direbut oleh orang lain. Jelas-jelas


jika ia tidak akan terima. Nhea telah menolak keputusan Vallery yang satu itu


secara mentah-mentah. Ia tidak akan menyerahkan mahkota itu kepada siapa pun. Termasuk


Eun Ji Hae.


‘TAP! TAP! TAP!’


Suara telapak sepatu Eun Ji Hae


yang menghantam permukaan lantai, mengakibatkan suara ketukan yang ttidak


terlalu besar. Namun, sepertinya semua orang yang berada di dalam akademi ini


bisa mendengarkan suara langkah kaki Eun Ji Hae dengan begitu jelas.


Nhea sendiri sudah mulai merasa


malas. Ia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Jika saja ia bisa menyerang


gadis itu jauh lebih cepat dari pada biasanya, maka Eun Ji Hae mungkin tidak


akan merasakan bahagia itu lagi sekarang.


Chanwo meminta Nhea untuk


bersabar lebih dulu. Sekarang belum waktu yang tepat. Akan ada saatnya bagi


mereka untuk melancarkan serangan terhadap gadis itu. Chanwo dan Nhea akan


memastikan jika Eun Ji Hae akan mendapatkan balasan yang setimpal.  Eun Ji Hae tidak akan pergi begitu saja tanpa


menerima sesuatu dari Nhea dan Chanwo. Anggap saja itu sebagai ucapan selamat


dari mereka berdua.


Entah apa yang akan dilakukan


oleh mereka berdua, yang jelas Eun Ji Hae harus bersiap saja. Gadis itu harus


siap dengan segala kemungkinan yang mungkin saja terjadi.


Sejak tadi, Nhea terus


memperhatikan gadis itu. Menyorotinya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan


sedikit pun. Yang jelas, Nhea tampak begitu tak sabaran. Ia sedang menunggu

__ADS_1


waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran kepada gadis itu. Bagaimanapun


juga, Eun Ji Hae perlu tahu jika pada dasarnya hukum karma tetap akan berjalan.


Pada prinsipnya, semesta memang


selalu berputar. Kau tidak akan berada di atas selamanya. Sesekali Eun Ji Hae perlu


sadar. Jika pada kenyataannya, ia tidak akan berada di atas selamanya. Akan ada


saatnya bagi Eun Ji Hae untuk berada di posisi paling bawah dalam hidupnya. Dan


kemungkinan besar jika waktu itu adalah sekarang.


“Tungguh dulu!” seru Nhea dengan


lantang.


Sontak semua mata langsung


tertuju ke arahnya. Termasuk Eun Ji Hae. Gadis itu bahkan sampai  menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Bersamaan


dengan terlontarnya kalimat dari gadis itu.


“Nhea! Apa-apaan kau ini?!” tegur


Bibi Ga Eun dengan setengah berbisik. Tapi, Nhea bahkan tidak menghiraukannya


sama sekali.


Ia hanya menoleh sekilas ke arah


Bibi Ga Eun. Kemudian, buru-buru memalingkan pandangannya kembali. Lama-lama ia


bisa muak melihat situasi seperti ini. Kehidupannya tidak pernah berjalan


dengan baik-baik saja semenjak Bibi Ga Eun mengajaknya untuk pindah kemari. Seharusnya


sejak awal ia sudah menolak ajakan tersebut. Karena, mau bagaimana pun juga ini


bukan tempat yang tepat untuk manusia seperti dirinya.


“Apa yang sedang kau lakukan?”


tanya Eun Ji Hae dengan penuh penekanan.


tepat setelah mendengar kalimat tersebut.


“Bukankah seharusnya aku yang


bertanya seperti itu kepadamu?” tanya gadis itu balik.


Eun Ji Hae lantas bungkam. Ia tidak


tahu apa yang sedang terjadi di sini. Semua hal terjadi dalam waktu yang begitu


singkat. Sehingga ia sama sekali tidak bisa mencerna apa pun di dalam


kepalanya.


“Seharusnya aku yang berada di


sana. Bukannya kau!” sarkas Nhea.


“Nhea! Jaga sikapmu!” seru


Vallery.


Kali ini tampaknya wanita itu


juga sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Vallery mulai naik pitam. Beruntung


ada Wilson yang berusaha untuk menenangkannya. Jika tidak, maka hal buruk bisa


saja terjadi.


Masih sama seperti kejadian yang


sebelumnya. Nhea sama sekali tidak peduli dengan hal tersebut. Rasanya jauh


lebih baik jika ie kembali melanjutkan aksinya, dari pada hanya sekedar


menanggapi perkataan tidak jelas dari mereka. Orang-orang tersebut tidak akan


bisa merusak konsentrasinya dengan mudah kali ini. Tidak seperti sebelumnya.

__ADS_1


Kali ini Nhea sungguh sudah


terjebak dalam mode keras kepala. Tekadnya untuk menjatuhkan Eun Ji Hae malam


ini sudah bulat. Tidak ada yang bisa menghalanginya lagi. Selama ini rasanya


Nhea sudah terlalu banyak mengalah dalam berbagai hal. Bukankah harusnya lebih


adil lagi. Sekarang sudah waktu yang tepat bagi Eun Ji Hae untuk merasakan


posisi Nhea selama ini. Dengan begitu, maka ia akan mengerti dengan apa yang


sebenarnya terjadi.


“Asal kalian tahu saja, jika aku


lah yang seharusnya berada di sana,” ujar Nhea dengan suara bergetar.


“Eun Ji Hae bahkan bukan siapa-siapa


di keluarga ini. Dia hanya anak yang diangkat menjadi salah satu anggita dalam


keluarga ini. Eun Ji Hae hanya beruntung. Padahal beberapa tahun yang lalu,


keluarganya membuang gadis itu tepat di depan pintu gerbang akademi sihir


Mooneta!” jelas Nhea dengan panjang lebar.


Sontak semua orang yang berada di


dalam ruangan itu merasa terkejut bukan main. Bahkan yang satu ini terasa jauh


lebih menyakitkan sekaligus mengejutkan di saat yang bersamaan.


“Rumor yang sempat beredar waktu


itu benar adanya!” akunya.


Secara terang-terangan Nhea


menyampaikan begitu banyak fakta yang telah ia ketahui sejauh ini.


“Aku tahu jika kalian tidak akan


bisa mempercayai perkataanku dengan mudah. Jadi, aku memutuskan untuk membawa


buktinya kemari,” jelas gadis itu.


Tak lama kemudian ia tampak mengeluarkan


sebuah buku yang tidak terlalu tebal dari balik jubahnya. Ternyata itu adalah


buku sejarah akademi sihir Mooneta. Yang selama ini mereka sembunyikan di ruang


penyimpanan. Tidak ada seorang pun yang tahu atau bahkan menyangka jika gadis


itu ternyata sampai bertindak sejauh ini.


Buku tersebut


cukup untuk menjadi bukti atas semua kebohongan mereka. Ini masih satu buku.


Belum lagi dengan buku Sofia Von Rierra yang akan mengungkap sisi gelap dari


akademi ini. Hari itu Eun Ji Hae gagal berbahagia. Impiannya selama ini hancur


sia-sia hanya karena gadis itu.


Eun Ji Hae tidak pernah mendengar soal buku tersebut sebelumnya. Tapi, ia yakin jika benda yang satu itu akan membawa mala petaka baginya. Eun Ji Hae tidak bisa terus diam saja seperti ini. Paling tidak ia harus memberikan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Tapi, sepertinya sekarang sudah terlalu terlambat untuk melakukan itu semua.


"Kita bahkan tidak memiliki hubungan darah sama sekali!" sarkas Nhea sembari melangkah maju dengan yakin.


"Omong kosong macam apa itu!" bantah Eun Ji Hae tak terima.


"Aku tidak berdusta. Satu-satunya orang yang menipu selama ini adalah kau!" tuduh Nhea balik.


"Dengan berpura-pura menjadi salah satu bagian dari anggota keluarga, padahal kau hanya anak angkat. Berlagak menguasai seisi akademi ini. Padahal sejak awal semua itu adalah hakku," jelasnya dengan panjang lebar.


Ketika emosinya semakin memuncak, otomatis tekanan darahnya turut naik bersamaan dengan emosinya. Nhea sudah merasa geram. Ia tidak bisa menahan yang satu ini lagi. Namun, mendadak langkahnya terhenti. Ia tidak mampu melanjutkan perjalanannya lagi. Bukan karena tidak memiliki energi yang cukup. Lebih tepatnya sebuah anak panah telah menancap di dada kirinya. Tepat mengenai jantung milik gadis itu. Hal tersebut cukup untuk membuat Nhea kehilangan keseimbangan, kemudian tubuhnya roboh begitu saja.


Beberapa orang berteriak histeris. Sisanya masih tercengang hebat. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat di hadapannya saat ini.


Bibi Ga Eun memerintahkan salah satu penjaga untuk menyerang keponakannya yang satu itu secara diam-diam. Jika terus dibiarkan, maka Nhea akan mengganggu berlangsungnya acara ini. Tidak ada yang mengira jika penjaga tersebut akan langsung menyerang titik terlemah pada diri setiap manusia. Ia berhasil melumpuhkan Nhea dalam waktu kurang dari lima detik. Tapi, masalah besar sedang berada di hadapan mereka saat ini. Apa yang akan dibicarakan orang-orang kalau sampai tahu ada kasus pembunuhana berencana di akademi ini. Bukan hanya Bibi Ga Eun, namun seisi akademi akan terkena imbasnya.


"Dasar kalian para manusia licik!" lirih Nhea sambil meringis kesakitan.

__ADS_1


Gadis itu sendiri juga tidak pernah mengira jika ia akan berakhir seperti ini. Mati konyol di hadapan orang lain, bukan ini yang ia mau. Yang tadi itu, adalah kata-kata terakhir darinya sebelum menghembuskan napas terakhir. Beginilah pada akhirnya jika kalian berusaha untuk memberontak di akademi ini. Nhea bukan korban pertama. Memang sudah sepantasnya semua kebusukan itu terbongkar di hadapan semua orang, agar mereka juga sadar.


__ADS_2