
Setelah Eun Ji Hae dan siswa yang lainnya benar-benar pergi, ini adalah saatnya bagi Hwang Ji Na untuk membereskan sisa permasalahan yang ada. Ia harus menyingkirkan Daren dari jalanan. Keberadaan mereka hanya akan mengganggu di sini.
“Chanwo!” sahut Hwang Ji Na.
“Cepat keluar sekarang juga dan bantu aku untuk menyingkirkan mereka,” lanjutnya.
Selang beberapa detik kemudian, Chanwo kembali ke wujud aslinya. Menjadi seorang manusia biasa, padahal ia adalah vampir.
“Apa aku telah melakukannya dengan baik?” tanya pria itu sambil bertolak pinggang.
“Ku kira kau cukup ahli dalam melakukan yang satu itu. Ternyata tidak sama sekali,” beber Hwang Ji Na.
“Hei! Apa maksudmu?!” protes pria itu tak terima.
Padahal sejauh ini ia telah melakukan yang terbaik. Pria itu sudah berusaha dengan semaksimal mungkin.
“Mereka masih terlalu kuat bahkan setelah kau menyerap energi dari mereka,” akunya.
“Jika tadi tidak ada Eun Ji Hae yang membantu, maka aku mungkin sudah tergeletak di sini untuk menggantikan posisi mereka,” jelas Hwang Ji Na dengan panjang lebar.
“Sudah, lupakan saja! Tidak penting!” tukas gadis itu.
Hwang Ji Na kemudian segera beranjak dari posisinya semula. Ia menghampiri Daren dan teman-temannya yang tengah terkulai tak bertenaga. Beberapa di antara mereka yang masih sadar terlihat meringkuk sambil meringis kesakitan. Daren sendiri sudah tidak sadarkan diri sejak beberapa saat yang lalu. Mungkin ia adalah orang pertama yang kalah di sini.
“Apa kau akan membiarkannya mati begitu saja?” tanya Chanwo.
“Siapa?” tanya Hwang Ji Na balik.
Bukannya menjawab, pria itu malah mengarahkan jari telunjuknya ke arah Daren. Tidak perlu waktu lama bagi gadis itu untuk memahami maksud dari perkataannya tadi.
__ADS_1
“Dia pasti akan selamat jika semesta masih memberikannya kesempatan untuk hidup,” ujar gadis itu secara gamblang.
Tanpa banyak bicara lagi, Hwang Ji Na yang dibantu dengan Chanwo segera memindahkan mereka semua ke bawah sebuah pohon. Keduanya masih memiliki rasa kemanusiaan, meskipun tidak ada yang benar-benar manusia di sini. mereka bahkan mengatur posisinya dengan sedemikian rupa, agar mereka tak saling merasa kesakitan satu sama lain.
“Sudah beres!” ucap Hwang Ji Na dengan penuh perasaan lega.
“Ayo kita pergi menyusul Eun Ji Hae!” ajak gadis itu kemudian.
“Tidak!” tolak Chanwo.
Sontak Hwang Ji Na berhasil dibuat terkejut sekaligus kebingungan dengan balasan Chanwo barusan. Ia mengerutkan dahinya. Kedua alisnya tampak seperti menyatu. Hwang Ji Na memperhatikan sang raja dari kaum kegelapan itu dengan seksama. Dengan sorot mata yang sulit untuk dijelaskan, Hwang Ji Na berusaha menerka apa yang sedang terjadi kali ini.
“Ada apa?” tanya Hwang Ji Na. Gadis itu memilih untuk menyerah. Ia tak bisa menemukan apa pun di balik manik mata Chanwo.
“Sebaiknya kita tidak perlu terlibat lagi dengan mereka,” ungkap Chanwo secara mengejutkan.
Hwang Ji Na segera menarik tangan pria itu tepat saat ia akan beranjak dari sana. Chanwo berhutang penjelasan kepada Hwang Ji Na. Entah apa yang membuatnya mendadak berubah. Padahal, sejak kemarin Chanwo adalah orang yang peling keras kepala. Dia selalu konsisten dengan pilihannya. Chanwo tidak pernah seperti ini sebelumnya. Pasti ada alasan di balik semua ini.
“Bukankah seharusnya kau merasa senang karena aku menuruti permintaanmu untuk kembali ke istana secepat mungkin?” tanya pria itu balik.
“Ya, tapi kenapa harus mendadak seperti ini?” tanya Hwang Ji Na sekali lagi.
“Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran?” timpalnya.
Chanwo menghela napas dengan kasar. Ia sedang tidak ingin menjawab pertanyaan dari gadis itu sebenarnya. Tapi jika ia terus menunda dan berusaha untuk menghindar, Hwang Ji Na pasti akan menyadari hal tersebut dengan cepat. Mau tidak mau, ia tetap harus menjawabnya. Chanwo harus menyelesaikan semuanya dengan cepat, sebelum pada akhirnya masalah semakin merembet dan bertambah panjang. Ia tidak suka jika harus terjebak dalam situasi yang rumit.
“Lebih baik kita pergi sekarang. Nanti akan ku jelaskan begitu sampai di istana,” ujar Chanwo.
Kalimat yang diucapkan oleh pria ini barusan sama sekali tidak memberikan jawaban yang diinginkan oleh Hwang Ji Na. Ia hanya sedang menunda untuk memberikan penjelasan, sama seperti yang dilakukan oleh Hwang Ji Na kepada Eun Ji Hae tadi.
__ADS_1
“Jika kita pergi sekarang, lalu bagaimana dengan mereka?” tanya Hwang Ji Na.
“Memangnya kita ada hubungan apa dengan orang-orang itu?” tanya Chanwo balik.
Tapi kalimat tadi sama sekali tidak cukup untuk membungkam mulut gadis ini. Dia bisa melakukan apa saja dengan cepat. Termasuk dalam urusan mencari jawaban serta alasan.
“Jadi, itu artinya kau memutuskan untuk berhenti dalam pencarian jati diri?” tanya Hwang Ji Na sekali lagi.
“Kau telah menyerah untuk mendapatkan detak jantung itu kembali?” timpalnya.
Kini posisinya berubah seratus delapan puluh derajat. Hwang Ji Na berhasil memimpin permainan untuk sementara waktu. Posisinya jauh lebih unggul dari pada pria itu sekarang.
“Kau bahkan tidak menyadari jika langkahmu hampir selesai. Jadi, ku harap kau tidak memutuskan untuk berputar balik,” ungkap gadis itu secara terang-terangan.
“Aku bahkan tidak pernah melangkah maju sejak awal,” balas Chanwo.
“Coba lihat dirimu saat ini!” perintah Hwang Ji Na.
“Kau bahkan bisa berdiri di sana tanpa takut harus terbakar sinar matahari,” bebernya.
Sontak kedua bola mata pria itu membulat dengan sempurna. Apa yang dikatakan oleh Hwang Ji Na benar. Sinar matahari kini bahkan bukan lagi sebuah ancaman baginya. Bagaimana bisa ia baru menyadari hal luar biasa tersebut. Apakah yang seperti ini perlu dirayakan juga?
Chanwo tercengang. Ia masih tampak tak percaya dengan semua itu. Sungguh tidak masuk akal. Keajaiban macam apa lagi ini. Pada akhirnya, Chanwo berhasil hidup seperti Wilson. Mereka mampu berdiri menantang sang surya. Selama ini kaum kegelapan selalu hidup dalam ketakutan. Itu sebabnya ada banyak larangan yang tidak boleh mereka langgar.
“Mustahil,” gumam pria itu.
“Bagaimana mungkin hal ini terjadi kepadaku?” lanjutnya.
Hwang Ji Na hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir dengan pria itu. Ternyata Chanwo benar-benar baru menyadarinya. Selama ini kemana saja dia.
__ADS_1
“Dasar bodoh!” celetuk Hwang Ji Na.
Mendengar kalimat tersebut, Chanwo segera mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Ia tak marah. Melainkan penuh akan tanda tanya yang tak berkesudahan. Belum selesai ia dibuat pusing akan keajaiban musim dingin tersebut, Hwang Ji Na sudah menambahi beban pikirannya saja. paling tidak berikan pria itu kesempatan untuk menyelesaikannya satu persatu.