Mooneta High School

Mooneta High School
The Night Story


__ADS_3

Pada akhirnya mereka memutuskan untuk tetap berada di sana


lebih dari satu jam. Nhea dan Oliver baru kembali ke kamarnya setelah jarum jam


di gedung utama nyaris menunjukkan pukul tiga pagi. Jam tidurnya terpotong


banyak. Mereka hanya bisa menikmati waktu yang tersisa selama kurang lebih tiga


jam lagi. Pasalnya, anak-anak di asrama harus bangun sebelum pukul tujuh pagi. Biasanya


mereka sudah bangun dan bersiap sejak masih pukul enam pagi.


Disiplin adalah hal paling mendasar yang diajarkan kepada


mereka. Para penghuni asrama biasanya sudah terbiasa dengan setumpuk aturan


yang kadang terkesan tidak masuk akal. Namun, ternyata memiliki tujuan


tersendiri yang tidak sembarang orang bisa memahaminya.


Begitu sampai di kamarnya, Nhea langsung bersiap. Ia mengganti


seragamnya dengan pakaian tidur biasa. Tidak lupa untuk menata ulang semua


barang-barangnya. Ia mengembalikan setiap benda ke tempatnya semula. Termasuk kalung


misterius yang tengah dipakainya saat ini.


Nhea beranggapan jika kalung tersebut tidak selamanya


membawa pengaruh baik. Ia bahkan tidak tahu darimana dan bagaimana


asal-usulnya. Bisa-bisa ia melah mimpi buruk karenanya. Atau bahkan kemungkinan


yang paling buruknya di sini adalah, jiwa Nhea terjebak pada dimensi lain saat


sedang terlelap.


Tidak ada yang pernah tahu kemungkinan terburuk seperti apa


yang akan terjadi. Manusia tidak bisa menentukan apa pun di masa depan. Tapi,


dengan prediksi setidaknya mereka bisa mencegah atau bahkan menghindari hal


buruk untuk terjadi.


Nhea mengembalikan kalung tersebut ke tempat yang


semestinya. Yaitu ke nakas. Mereka belum sempat untuk menyelidiki siapa


sebenarnya pemiliki kamar ini beberapa waktu yang lalu. Baik Nhea maupun Oliver


masih sama-sama sibuk dengan urusannya masing-masing. Sepertinya ia bahkan


tidak akan kepikiran dengan yang satu itu jika kalung tersebut tidak berada


pada lehernya secara misterius.


“Apakah kita perlu menyalakan dupa?” tanya Nhea.


Alih-alih bertanya, kalimat gadis itu barusan malah jauh


lebih terdengar seperti sebuah saran atau usulan.


“Memangnya harus?” tanya Oliver balik yang kemudian


mendapatkan gelengan singkat dari gadis itu.


“Hanya saja, rasaku akan jauh lebih baik jika kita membakar


satu atau bahkan dua dupa sebelum tidur,” usul Nhea. Kali ini ia tampak lebih


mempertegas ucapannya.


“Kita baru saja kembali dari luar pada waktu yang selarut


ini. Energi negatif pasti paling tidak ada bersama kita sekarang,” jelasnya


dengan singkat.


Oliver mengangguk paham. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh


gadis itu ada benarnya juga. Mereka barusaja pulang dari luar. Tidak ada yang


tahu pasti hal buruk seperti apa yang sedang menempel bersama mereka sekarang. Segala


energi negative mungkin saja akan membawa pengaruh buruk.


Mereka perlu melakukan pembersihan energi. Dari awal saat


mereka kembali pun, Nhea sudah merasa tidak nyaman. Rasanya berbeda dengan apa


yang ia rasakan saat masih berada di taman. Perasaannya tidak enak. Sulit untuk


dideskripsikan bagaimana rasanya.


Nhea merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Ia hanya takut


jika sesuatu yang buruk terjadi kepada mereka berdua karena pulang terlambat. Bukan

__ADS_1


hanya itu saja masalahnya. Mereka bahkan sempat berkeliaran tanpa arah yang


jelas di gedung utama.


Kemungkinan besar jika mereka akan mendapatkan masalah. Tapi,


untung saja sejauh ini semuanya masih baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang mengindikasi


jika hal buruk akan terjadi.


Merasa sependapat dengan saran Nhea barusan, Oliver lantas


segera menuruti permintaan gadis itu. Tidak ada salahnya sama sekali jika


mereka mencoba saran yang satu ini. Lagipula itu ide bagus.


“Baiklah, tapi sebaiknya dimana kita letakkan?” tanya Oliver


tanpa mengalihkan pandangannya.


Oliver memutuskan untuk membakar dua batang dupa saja untuk malam


ini. Lagipula mereka juga akan tidur setelahnya.


“Letakkan saja di dekat pintu,” ujar Nhea sambil menunjuk ke


arah pintu.


Mereka memang sempat meletakkan satu tempat bakaran dupa di


belakang pintu. Beberapa saat lalu mereka juga barusaja membakar dupa. Entahlah,


belakangan ini mereka memang tampak jauh lebih sering melakukan ritual


pembersihan energi.


Setelah dirasa jika semua urusannya selesai, Nhea dan Oliver


langsung berlih ke kasurnya masing-masing. Mereka tidak langsung tidur. Melainkan


hanya merebahkan tubuhnya di atas ranjang tadi. Paling tidak untuk meluruskan


tulang pinggangnya saja. Perlu diketahui jika Nhea dan Oliver tidak kembali ke


kamar asrama karena sudah mengantuk. Melainkan karena alasan akan tertangkap


oleh orang lain. Padahal, mereka tidak perlu mencemaskan yang satu itu. Sebab,


tidak ada siapa pun yang berjaga-jaga di malam hari.


Tidak masalah sama sekali jika mereka akan tetap berada di


yang suka mencari masalah. Selagi masih bisa bermian aman, kenapa tidak.


Nhea menghela napasnya dengan kasar. Kedua matanya menatap


lurus ke depan. Satu-satunya pemandangan yang berada di hadapannya saat ini


adalah langit-lagi ruangan. Barusaja ia berniat akan mencoba untuk memejamkan


matanya, secara mendadak sebuah benda yang diyakini sebagai logam berdenting


keras. Sontak seluruh perhatiannya tertuju ke sana.


Tampaknya bukan hanya Nhea saja yang menyadari hal tersebut.


Oliver juga merasakan hal yang sama. Mereka berdua bangkit dari posisinya. Pandangannya


mengedar ke seluruh ruangan untuk mencari sumber suara.


“Suara apa itu tadi?” tanya Oliver.


“Entahlah,” balas Nhea sambil menggidikkan bahunya.


Ia sungguh tidak tahu suara apa itu barusan. Nhea juga sedang


dalam posisi yang tidak memungkinkan untuk tahu lebih banyak informasi pada


saat itu.


“Sepertinya berasal dari luar,” kata Nhea.


Setelah dipikir-pikir kembali, benar juga. Tampaknya suara


tersebut memang berasal dari luar ruangan ini. Sama sekali tidak ada benda


berbahan dasar logam yang tidak berada di tempatnya di dalam kamar. Mengingat jika


barang-barang berbahan logam yang tersimpan di dalam ruangan ini juga terbatas


jumlahnya. Sebagian besar perabotan di dalam ruangan ini terbuat dari kayu. Dan


kebanyakan memang kayu jati.


“Apa mungkin itu penyanggah lentera?” gumam Oliver berusaha


untuk menebak.


Sebenarnya mereka juga tidak perlu khawatir jika besi

__ADS_1


penyangga lentera benar jatuh. Pasalnya, semua lentera yang berada di bangunan


ini sudah dimatikan. Sehingga jalanan menjadi gelap gulita. Entah siapa yang


berinisiatif untuk melakukannya. Tapi, sepertinya ia sudah memiliki firasat


jika malam ini aka nada salahs atu dari mereka yang jatuh. Sehingga untuk


menghindari hal buruk, ia mematikan semua lentera yang ada tanpa menyisakan


satu lentera pun menyala.


Beruntung tadi Nhea dan Oliver berhasil mencapai kamar


mereka tanpa ada halangan sama sekali. Tempat yang gelap gulita bukan suatu


masalah. Nhea bahkan bisa melewatinya dengan mudah. Kemampuan indera


pengelihatan gadis itu menjadi kian meningkat setelah menerima lebih banyak


pasokan darah dari kaun kegelapan.


Tidak ingin ambil pusing soal yang barusaja terjadi di luar,


Nhea dan Oliver memutuskan untuk kembali tidur. Kali ini mereka harus


benar-benar terlelap. Tidak ada alasan untuk tetap terjaga lagi. Sekarang


bahkan sudah bukan larut malam lagi. Ini nyaris pagi. Bebeberapa jam ke depan


matahari akan segera keluar dari sarangnya. Sinar hangat bewarna kejinggaan


akan menerobos masuk melalui jendela serta setiap celah kecil lainnya.


Beberapa menit setelah kejadian tersebut, jiwa mereka


berhasil sampai di alam bawah sadarnya. Anggap saja jika kedua gadis itu tengah


terlelap sekarang. Mereka tidak akan menyadari gangguan dalam bentuk apa pun.


‘CEKLEK!’


‘KRIETT!!!’


Secara tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu kamar


mereka. Kalian bisa menganggapnya sebagai penyusup atau apa pun itu. Sebab, ia


masuk ke kamar orang lain tanpa izin sama sekali. Bukankah perbuatan seperti


itu dilarang karena terkesan tidak sopan? Tapi, nyatanya larangan bukan sesuatu


yang harus mereka ikuti sepenuhnya. Tidak jarang orang yang malah melanggar


aturan tersebut.


Beberapa manusia memang ingin berbeda. Mereka selalu ingin


menjadlani kehidupan yang berbeda dengan manusia lainnya. Melawan arus


kehidupan. Tidak sesuai dengan jalan dan arahan. Baginya, itu bukan masalah


yang serius. Tidak sama sekali.


“Ternyata gadis itu masih belum menyadari hal buruk yang


akan terjadi kepadanya. Padahal bahaya sudah jelas-jelas sedang mengancam,”


gumam orang misterius tersebut sambil tersenyum miring.


Jika diperhatikan dari gerak-gerik dan tingkah lakunya, ia


memang sedikit berbeda. Mencurigakan. Sekilas ia memang tampak seperti bukan


orang yang baik-baik saja.


‘TAP! TAP! TAP!’


Ia berjalan mendekat ke arah Nhea. Dengan langkah yang


perlahan namun pasti, pergerakannya tampak cukup mengancam. Tidak menutup


kemungkinan jika kali ini Nhea kembali terjebak dalam bahaya yang tidak


main-main. Mereka tidak bisa meremehkan ancaman seperti apa pun.


Setiap hal kecil bisa memiliki potensi yang sama besar untuk


mengancam. Diam-diam jiwa Nhea merasa terintimidasi. Andai saja Oliver sadar


lebih dulu dan mencegah orang ini berbuat lebih jauh. Perbuatannya mungkin akan


berpotensi untuk mencelakai Nhea.


Berprasangka buruk memang sebaiknya tidak dilakukan kepada


sembarang orang. Tapi, kita harus tetap berhati-hati. Kapan saja. Kembali lagi


kepada prinsip awalnya, waspada akan membuatmu tetap aman.

__ADS_1


__ADS_2