
Pada akhirnya mereka memutuskan untuk tetap berada di sana
lebih dari satu jam. Nhea dan Oliver baru kembali ke kamarnya setelah jarum jam
di gedung utama nyaris menunjukkan pukul tiga pagi. Jam tidurnya terpotong
banyak. Mereka hanya bisa menikmati waktu yang tersisa selama kurang lebih tiga
jam lagi. Pasalnya, anak-anak di asrama harus bangun sebelum pukul tujuh pagi. Biasanya
mereka sudah bangun dan bersiap sejak masih pukul enam pagi.
Disiplin adalah hal paling mendasar yang diajarkan kepada
mereka. Para penghuni asrama biasanya sudah terbiasa dengan setumpuk aturan
yang kadang terkesan tidak masuk akal. Namun, ternyata memiliki tujuan
tersendiri yang tidak sembarang orang bisa memahaminya.
Begitu sampai di kamarnya, Nhea langsung bersiap. Ia mengganti
seragamnya dengan pakaian tidur biasa. Tidak lupa untuk menata ulang semua
barang-barangnya. Ia mengembalikan setiap benda ke tempatnya semula. Termasuk kalung
misterius yang tengah dipakainya saat ini.
Nhea beranggapan jika kalung tersebut tidak selamanya
membawa pengaruh baik. Ia bahkan tidak tahu darimana dan bagaimana
asal-usulnya. Bisa-bisa ia melah mimpi buruk karenanya. Atau bahkan kemungkinan
yang paling buruknya di sini adalah, jiwa Nhea terjebak pada dimensi lain saat
sedang terlelap.
Tidak ada yang pernah tahu kemungkinan terburuk seperti apa
yang akan terjadi. Manusia tidak bisa menentukan apa pun di masa depan. Tapi,
dengan prediksi setidaknya mereka bisa mencegah atau bahkan menghindari hal
buruk untuk terjadi.
Nhea mengembalikan kalung tersebut ke tempat yang
semestinya. Yaitu ke nakas. Mereka belum sempat untuk menyelidiki siapa
sebenarnya pemiliki kamar ini beberapa waktu yang lalu. Baik Nhea maupun Oliver
masih sama-sama sibuk dengan urusannya masing-masing. Sepertinya ia bahkan
tidak akan kepikiran dengan yang satu itu jika kalung tersebut tidak berada
pada lehernya secara misterius.
“Apakah kita perlu menyalakan dupa?” tanya Nhea.
Alih-alih bertanya, kalimat gadis itu barusan malah jauh
lebih terdengar seperti sebuah saran atau usulan.
“Memangnya harus?” tanya Oliver balik yang kemudian
mendapatkan gelengan singkat dari gadis itu.
“Hanya saja, rasaku akan jauh lebih baik jika kita membakar
satu atau bahkan dua dupa sebelum tidur,” usul Nhea. Kali ini ia tampak lebih
mempertegas ucapannya.
“Kita baru saja kembali dari luar pada waktu yang selarut
ini. Energi negatif pasti paling tidak ada bersama kita sekarang,” jelasnya
dengan singkat.
Oliver mengangguk paham. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh
gadis itu ada benarnya juga. Mereka barusaja pulang dari luar. Tidak ada yang
tahu pasti hal buruk seperti apa yang sedang menempel bersama mereka sekarang. Segala
energi negative mungkin saja akan membawa pengaruh buruk.
Mereka perlu melakukan pembersihan energi. Dari awal saat
mereka kembali pun, Nhea sudah merasa tidak nyaman. Rasanya berbeda dengan apa
yang ia rasakan saat masih berada di taman. Perasaannya tidak enak. Sulit untuk
dideskripsikan bagaimana rasanya.
Nhea merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Ia hanya takut
jika sesuatu yang buruk terjadi kepada mereka berdua karena pulang terlambat. Bukan
__ADS_1
hanya itu saja masalahnya. Mereka bahkan sempat berkeliaran tanpa arah yang
jelas di gedung utama.
Kemungkinan besar jika mereka akan mendapatkan masalah. Tapi,
untung saja sejauh ini semuanya masih baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang mengindikasi
jika hal buruk akan terjadi.
Merasa sependapat dengan saran Nhea barusan, Oliver lantas
segera menuruti permintaan gadis itu. Tidak ada salahnya sama sekali jika
mereka mencoba saran yang satu ini. Lagipula itu ide bagus.
“Baiklah, tapi sebaiknya dimana kita letakkan?” tanya Oliver
tanpa mengalihkan pandangannya.
Oliver memutuskan untuk membakar dua batang dupa saja untuk malam
ini. Lagipula mereka juga akan tidur setelahnya.
“Letakkan saja di dekat pintu,” ujar Nhea sambil menunjuk ke
arah pintu.
Mereka memang sempat meletakkan satu tempat bakaran dupa di
belakang pintu. Beberapa saat lalu mereka juga barusaja membakar dupa. Entahlah,
belakangan ini mereka memang tampak jauh lebih sering melakukan ritual
pembersihan energi.
Setelah dirasa jika semua urusannya selesai, Nhea dan Oliver
langsung berlih ke kasurnya masing-masing. Mereka tidak langsung tidur. Melainkan
hanya merebahkan tubuhnya di atas ranjang tadi. Paling tidak untuk meluruskan
tulang pinggangnya saja. Perlu diketahui jika Nhea dan Oliver tidak kembali ke
kamar asrama karena sudah mengantuk. Melainkan karena alasan akan tertangkap
oleh orang lain. Padahal, mereka tidak perlu mencemaskan yang satu itu. Sebab,
tidak ada siapa pun yang berjaga-jaga di malam hari.
Tidak masalah sama sekali jika mereka akan tetap berada di
yang suka mencari masalah. Selagi masih bisa bermian aman, kenapa tidak.
Nhea menghela napasnya dengan kasar. Kedua matanya menatap
lurus ke depan. Satu-satunya pemandangan yang berada di hadapannya saat ini
adalah langit-lagi ruangan. Barusaja ia berniat akan mencoba untuk memejamkan
matanya, secara mendadak sebuah benda yang diyakini sebagai logam berdenting
keras. Sontak seluruh perhatiannya tertuju ke sana.
Tampaknya bukan hanya Nhea saja yang menyadari hal tersebut.
Oliver juga merasakan hal yang sama. Mereka berdua bangkit dari posisinya. Pandangannya
mengedar ke seluruh ruangan untuk mencari sumber suara.
“Suara apa itu tadi?” tanya Oliver.
“Entahlah,” balas Nhea sambil menggidikkan bahunya.
Ia sungguh tidak tahu suara apa itu barusan. Nhea juga sedang
dalam posisi yang tidak memungkinkan untuk tahu lebih banyak informasi pada
saat itu.
“Sepertinya berasal dari luar,” kata Nhea.
Setelah dipikir-pikir kembali, benar juga. Tampaknya suara
tersebut memang berasal dari luar ruangan ini. Sama sekali tidak ada benda
berbahan dasar logam yang tidak berada di tempatnya di dalam kamar. Mengingat jika
barang-barang berbahan logam yang tersimpan di dalam ruangan ini juga terbatas
jumlahnya. Sebagian besar perabotan di dalam ruangan ini terbuat dari kayu. Dan
kebanyakan memang kayu jati.
“Apa mungkin itu penyanggah lentera?” gumam Oliver berusaha
untuk menebak.
Sebenarnya mereka juga tidak perlu khawatir jika besi
__ADS_1
penyangga lentera benar jatuh. Pasalnya, semua lentera yang berada di bangunan
ini sudah dimatikan. Sehingga jalanan menjadi gelap gulita. Entah siapa yang
berinisiatif untuk melakukannya. Tapi, sepertinya ia sudah memiliki firasat
jika malam ini aka nada salahs atu dari mereka yang jatuh. Sehingga untuk
menghindari hal buruk, ia mematikan semua lentera yang ada tanpa menyisakan
satu lentera pun menyala.
Beruntung tadi Nhea dan Oliver berhasil mencapai kamar
mereka tanpa ada halangan sama sekali. Tempat yang gelap gulita bukan suatu
masalah. Nhea bahkan bisa melewatinya dengan mudah. Kemampuan indera
pengelihatan gadis itu menjadi kian meningkat setelah menerima lebih banyak
pasokan darah dari kaun kegelapan.
Tidak ingin ambil pusing soal yang barusaja terjadi di luar,
Nhea dan Oliver memutuskan untuk kembali tidur. Kali ini mereka harus
benar-benar terlelap. Tidak ada alasan untuk tetap terjaga lagi. Sekarang
bahkan sudah bukan larut malam lagi. Ini nyaris pagi. Bebeberapa jam ke depan
matahari akan segera keluar dari sarangnya. Sinar hangat bewarna kejinggaan
akan menerobos masuk melalui jendela serta setiap celah kecil lainnya.
Beberapa menit setelah kejadian tersebut, jiwa mereka
berhasil sampai di alam bawah sadarnya. Anggap saja jika kedua gadis itu tengah
terlelap sekarang. Mereka tidak akan menyadari gangguan dalam bentuk apa pun.
‘CEKLEK!’
‘KRIETT!!!’
Secara tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu kamar
mereka. Kalian bisa menganggapnya sebagai penyusup atau apa pun itu. Sebab, ia
masuk ke kamar orang lain tanpa izin sama sekali. Bukankah perbuatan seperti
itu dilarang karena terkesan tidak sopan? Tapi, nyatanya larangan bukan sesuatu
yang harus mereka ikuti sepenuhnya. Tidak jarang orang yang malah melanggar
aturan tersebut.
Beberapa manusia memang ingin berbeda. Mereka selalu ingin
menjadlani kehidupan yang berbeda dengan manusia lainnya. Melawan arus
kehidupan. Tidak sesuai dengan jalan dan arahan. Baginya, itu bukan masalah
yang serius. Tidak sama sekali.
“Ternyata gadis itu masih belum menyadari hal buruk yang
akan terjadi kepadanya. Padahal bahaya sudah jelas-jelas sedang mengancam,”
gumam orang misterius tersebut sambil tersenyum miring.
Jika diperhatikan dari gerak-gerik dan tingkah lakunya, ia
memang sedikit berbeda. Mencurigakan. Sekilas ia memang tampak seperti bukan
orang yang baik-baik saja.
‘TAP! TAP! TAP!’
Ia berjalan mendekat ke arah Nhea. Dengan langkah yang
perlahan namun pasti, pergerakannya tampak cukup mengancam. Tidak menutup
kemungkinan jika kali ini Nhea kembali terjebak dalam bahaya yang tidak
main-main. Mereka tidak bisa meremehkan ancaman seperti apa pun.
Setiap hal kecil bisa memiliki potensi yang sama besar untuk
mengancam. Diam-diam jiwa Nhea merasa terintimidasi. Andai saja Oliver sadar
lebih dulu dan mencegah orang ini berbuat lebih jauh. Perbuatannya mungkin akan
berpotensi untuk mencelakai Nhea.
Berprasangka buruk memang sebaiknya tidak dilakukan kepada
sembarang orang. Tapi, kita harus tetap berhati-hati. Kapan saja. Kembali lagi
kepada prinsip awalnya, waspada akan membuatmu tetap aman.
__ADS_1