Mooneta High School

Mooneta High School
Pasrah


__ADS_3

Tidak semua orang bisa menerima keputusan tersebut. Bahkan


beberapa di antaranya tak segan-segan untuk menolak secara terang-terangan di


depan umum dengan cara buka suara. Menurutnya, salah satu cara untuk membuat


pendapat mereka didengar adalah dengan menyuarakan pendapatnya. Para petinggi


sekolah tidak akan pernah tahu apa aspirasi mereka, tanpa disampaikan sama


sekali. Itulah pentingnya keberanian untuk berpendapat.


Bukan hanya satu atau dua orang yang menentang keputusan


tersebut. Lebih tepatnya semua orang yang tengah berada di dalam ruangan ini


sekarang. Bahkan termasuk yang menyampaikkan keputusan tadi. Baik Eun Ji Hae


maupun Bibi Ga Eun dan peserta rapat yang lainnya, mereka sebenarnya sama


sekali tidak setuju jika nama Mooneta harus dihilangkan begitu saja. Seolah


tidak pernah ada jejak sejarah tentang berdirinya tempat ini. Tapi, Eun Ji Hae


tetap harus mengatakan keputusan rapat tersebut dengan berat hati. Ia tahu akan


ada begitu banyak penolakan. Gadis itu bahkan sudah membayangkan akan bagaimana


jadinya nanti. Tapi ia tak bisa berbuat banyak. Untuk sementara waktu,


bergabung dengan Reodal adalah keputusan yang tepat. Terkecuali jika mereka


memang tetap ingin tinggal di tempat ini dan menunggu malaikan maut


menghampirinya.


‘BRAK!’


Eun Ji Ha menggebrak meja makan.


“Kalian pikir aku bahagia saat tahu akan meninggalkan


sekolah ini!” bentak Eun Ji Hae.


Suara gadis itu menggelegar. Terdengar hingga ke sudut


ruangan sekalipun. Eun Ji Hae berhasil memecahkan keriuhan suasana. Semua orang


terlihat melongo tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di sini. Eun Ji


Hae sedang berada di puncak emosinya. Mereka tak bisa berkata-kata lagi. Kini


untuk yang kesekian kalinya Eun Ji Hae berhasil menarik perhatian semua orang. Membuat


seluruh mata hanya tertuju kepadanya saat ini.


“Tetaplah pada pendirian kalian saat ini, jika kalian hendak


mati sia-sia!” tukasnya kemudian beranjak dari tempat duduknya.


Eun Ji Hae meninggalkan ruangan lebih dulu dari pada yang


lainnya. Dia adalah orang pertama yang berani melanggar aturan yang telah


ditetapkan. Pada dasarnya, mereka tak bisa kembali sebelum acara perjamuan


resmi dibubarkan.  Tapi, Eun Ji Hae sudah


terbakar api emosi lebih dulu. Udara dingin yang ia hirup saat ini bahkan


terasa seperti bahan bakar yang semakin memantik api untuk lebih berkobar.

__ADS_1


Semua orang hanya bisa memaklumi keadaannya saat ini. Pasti


sulit bagi mereka untuk memutuskan hal terbaik. Jadi, mau tak mau memang harus


dihargai. Menghargai keputusan orang lain merupakan salah satu dasar dari sopan


santun dan tata krama yang harus dikuasai terlebih dahulu.


“Jangan ada yang memperdebatkan soal masalah ini lagi!” ujar


Bibi Ga Eun yang ikut diangguki oleh Vallery.


“Sekarang, pergi ke kamar kalian masing-masing dan mulai


berkemas!” perintah Wilson.


Jika pria itu telah turun tangan, maka tidak ada yang bisa


membantuah ucapan atau bahkan perintahnya. Ia bukan orang yang menerima


penolakan. Tidak ada kata “ Tidak” di dalam kamus besarnya.


Semua orang langsung beranjak pergi dari tempat tersebut.


Mereka tidak ingin berlama-lama lagi di sini. Lagi pula sudah tidak ada lagi


alasan untuk tetap berada di tempat ini. Suasananya semakin terasa tidak


kondusif.


“Benar-benar menyebalkan!” gerutu Nhea kesal.


Gadis itu termasuk salah satu orang yang menentang keputusan


tersebut. Dia adalah satu dari sekian banyak orang yang menolak. Bukan hanya


Nhea saja. Bahkan Oliver, Jongdae sampai Jang Eunbi sekalipun juga menolak


Tidak ada gunanya. Mereka tidak akan mau mendengarkan hal tersebut.


Nhea dan Oliver berjalan beriringan ke kamarnya. Sementara


Jang Eunbi telah sampai lebih dulu. Kamar gadis itu terletak persis di sebelah


anak tangga. Lebih tepatnya berada di ujung lorong. Jadi tidak akan memerlukan


waktu lama baginya untuk mencapai ruangan tersebut.


Mereka masih tetap mendumal kesal sepanjang perjalanan.


Mereka tidak terima jika harus berakhir sia-sia begini. Salju abadi memang


berbahaya. Tapi, bukankah masih ada cara lain untuk mengatasi hal tersebut.


“Mari kita lihat saja apakah keputusan ini benar-benar


menyelamatkan nyawa kita atau malah sebaliknya,” ujar Oliver.


“Kita tidak akan pernah tahu kapan mereka akan menyesal


dengan semua ini,” balas Nhea.


“Tapi aku sudah menyesal, bahkan dibuat kecewa dan putus asa


sejak awal,” tukasnya.


‘KRIETT!!!’


Bangunan ini sudah terlalu tua. Bahkan engsel pintunya


berderit pelan dan terasa mengilukan saat dibuka atau ditutup. Mereka sama

__ADS_1


sekali tidak melakukan perawatan secara menyeluruh terhadap bagunan ini.


Perawatan hanya difokuskan pada gedung utama dan juga geedung sekolah. Dua


tempat itu jauh lebih penting dan berarti dari pada gedung asrama yang


merupakan tempat tinggal para siswa.


Memang sudah sepantasnya jika mereka meninggalkan bangunan


yang sebentar lagi akan roboh ini. Itu adalah alasan paling masuk akal nomer


dua setelah saluu abadi. Keselamatan mereka juga akan terancam jika tetap


tinggal di sini. Tidak akan ada yang tahu kapan bagunan ini bisa roboh.


***


Semua orang tengah sibuk mengemasi barang-barangnya saat


ini. Padahal beberapa bulan yang lalu, Nhea baru saja berkemas untuk pindah


dari kota ke sekolah. Sekarang ia harus melakukan hal yang sama lagi.


benar-benar membosankan. Hal tersebut membuatnya seolah-olah hidup sebagai


manusia nomaden.


“Apakah jarak dari Mooneta ke Reodal jauh?” tanya Nhea.


Dia belum pernah ke sana sebelumnya. Bahkan, mendengar nama


Reodal saja ia baru kali ini.


“Mungkin jaraknya sekitar lima puluh kilometer jika ditempuh


dari tempat kita berada saat ini,” jawab Oliver dengan apa adanya.


“Jika berjalan kaki ke sana, kita akan menghabiskan waktu


kurang lebih satu hari satu malam,” jelasnya kemudian.


Itu artinya tidak terlalu jauh perjalanan yang harus mereka


tempuh. Padahal ia yakin jika mereka bisa sampai lebih cepat dengan menggunakan


kendaraan seperti mobil misalnya. Tapi kembali lagi, hal itu sama sekali tidak


dibutuhkan di sini. Semenjak masuk ke sekolah ini, mereka nyaris tidak pernah


berhubungan dengan teknologi atau bahkan dunia luar. Semuanya kembali lagi


kepada masing-masing orang. Pada dasarnya hanya murni kekuatan pikiran saja yan


digunakan di sini. Tidak ada opsi lainnya.


Karena barang-barang yang dimiliki oleh Nhea hanya sedikit,


jadi gadis itu selesai jauh lebih cepat dari pada Oliver. Ia memang sengaja


untuk tidak membawa semua barang-barangnya yang ada di rumah kemari. Selama ini


ia selalu berpikir jika Bibi Ga Eun akan memasukkannya ke sekolah asrama yang


mereka akan pulang ke rumahnya masing-masing pada saat liburan musim panas atau


musin dingin. Sama seperti kebanyakan sekolah normal pada umumnya. Ternyata tidak


sama sekali. Sekolah Mooneta berbeda dari yang lain. Ia bahkan tidak pernah


mengetahui jika ada akademi sihir pada zaman semodern ini.

__ADS_1


__ADS_2