
Tidak semua orang bisa menerima keputusan tersebut. Bahkan
beberapa di antaranya tak segan-segan untuk menolak secara terang-terangan di
depan umum dengan cara buka suara. Menurutnya, salah satu cara untuk membuat
pendapat mereka didengar adalah dengan menyuarakan pendapatnya. Para petinggi
sekolah tidak akan pernah tahu apa aspirasi mereka, tanpa disampaikan sama
sekali. Itulah pentingnya keberanian untuk berpendapat.
Bukan hanya satu atau dua orang yang menentang keputusan
tersebut. Lebih tepatnya semua orang yang tengah berada di dalam ruangan ini
sekarang. Bahkan termasuk yang menyampaikkan keputusan tadi. Baik Eun Ji Hae
maupun Bibi Ga Eun dan peserta rapat yang lainnya, mereka sebenarnya sama
sekali tidak setuju jika nama Mooneta harus dihilangkan begitu saja. Seolah
tidak pernah ada jejak sejarah tentang berdirinya tempat ini. Tapi, Eun Ji Hae
tetap harus mengatakan keputusan rapat tersebut dengan berat hati. Ia tahu akan
ada begitu banyak penolakan. Gadis itu bahkan sudah membayangkan akan bagaimana
jadinya nanti. Tapi ia tak bisa berbuat banyak. Untuk sementara waktu,
bergabung dengan Reodal adalah keputusan yang tepat. Terkecuali jika mereka
memang tetap ingin tinggal di tempat ini dan menunggu malaikan maut
menghampirinya.
‘BRAK!’
Eun Ji Ha menggebrak meja makan.
“Kalian pikir aku bahagia saat tahu akan meninggalkan
sekolah ini!” bentak Eun Ji Hae.
Suara gadis itu menggelegar. Terdengar hingga ke sudut
ruangan sekalipun. Eun Ji Hae berhasil memecahkan keriuhan suasana. Semua orang
terlihat melongo tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di sini. Eun Ji
Hae sedang berada di puncak emosinya. Mereka tak bisa berkata-kata lagi. Kini
untuk yang kesekian kalinya Eun Ji Hae berhasil menarik perhatian semua orang. Membuat
seluruh mata hanya tertuju kepadanya saat ini.
“Tetaplah pada pendirian kalian saat ini, jika kalian hendak
mati sia-sia!” tukasnya kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Eun Ji Hae meninggalkan ruangan lebih dulu dari pada yang
lainnya. Dia adalah orang pertama yang berani melanggar aturan yang telah
ditetapkan. Pada dasarnya, mereka tak bisa kembali sebelum acara perjamuan
resmi dibubarkan. Tapi, Eun Ji Hae sudah
terbakar api emosi lebih dulu. Udara dingin yang ia hirup saat ini bahkan
terasa seperti bahan bakar yang semakin memantik api untuk lebih berkobar.
__ADS_1
Semua orang hanya bisa memaklumi keadaannya saat ini. Pasti
sulit bagi mereka untuk memutuskan hal terbaik. Jadi, mau tak mau memang harus
dihargai. Menghargai keputusan orang lain merupakan salah satu dasar dari sopan
santun dan tata krama yang harus dikuasai terlebih dahulu.
“Jangan ada yang memperdebatkan soal masalah ini lagi!” ujar
Bibi Ga Eun yang ikut diangguki oleh Vallery.
“Sekarang, pergi ke kamar kalian masing-masing dan mulai
berkemas!” perintah Wilson.
Jika pria itu telah turun tangan, maka tidak ada yang bisa
membantuah ucapan atau bahkan perintahnya. Ia bukan orang yang menerima
penolakan. Tidak ada kata “ Tidak” di dalam kamus besarnya.
Semua orang langsung beranjak pergi dari tempat tersebut.
Mereka tidak ingin berlama-lama lagi di sini. Lagi pula sudah tidak ada lagi
alasan untuk tetap berada di tempat ini. Suasananya semakin terasa tidak
kondusif.
“Benar-benar menyebalkan!” gerutu Nhea kesal.
Gadis itu termasuk salah satu orang yang menentang keputusan
tersebut. Dia adalah satu dari sekian banyak orang yang menolak. Bukan hanya
Nhea saja. Bahkan Oliver, Jongdae sampai Jang Eunbi sekalipun juga menolak
Tidak ada gunanya. Mereka tidak akan mau mendengarkan hal tersebut.
Nhea dan Oliver berjalan beriringan ke kamarnya. Sementara
Jang Eunbi telah sampai lebih dulu. Kamar gadis itu terletak persis di sebelah
anak tangga. Lebih tepatnya berada di ujung lorong. Jadi tidak akan memerlukan
waktu lama baginya untuk mencapai ruangan tersebut.
Mereka masih tetap mendumal kesal sepanjang perjalanan.
Mereka tidak terima jika harus berakhir sia-sia begini. Salju abadi memang
berbahaya. Tapi, bukankah masih ada cara lain untuk mengatasi hal tersebut.
“Mari kita lihat saja apakah keputusan ini benar-benar
menyelamatkan nyawa kita atau malah sebaliknya,” ujar Oliver.
“Kita tidak akan pernah tahu kapan mereka akan menyesal
dengan semua ini,” balas Nhea.
“Tapi aku sudah menyesal, bahkan dibuat kecewa dan putus asa
sejak awal,” tukasnya.
‘KRIETT!!!’
Bangunan ini sudah terlalu tua. Bahkan engsel pintunya
berderit pelan dan terasa mengilukan saat dibuka atau ditutup. Mereka sama
__ADS_1
sekali tidak melakukan perawatan secara menyeluruh terhadap bagunan ini.
Perawatan hanya difokuskan pada gedung utama dan juga geedung sekolah. Dua
tempat itu jauh lebih penting dan berarti dari pada gedung asrama yang
merupakan tempat tinggal para siswa.
Memang sudah sepantasnya jika mereka meninggalkan bangunan
yang sebentar lagi akan roboh ini. Itu adalah alasan paling masuk akal nomer
dua setelah saluu abadi. Keselamatan mereka juga akan terancam jika tetap
tinggal di sini. Tidak akan ada yang tahu kapan bagunan ini bisa roboh.
***
Semua orang tengah sibuk mengemasi barang-barangnya saat
ini. Padahal beberapa bulan yang lalu, Nhea baru saja berkemas untuk pindah
dari kota ke sekolah. Sekarang ia harus melakukan hal yang sama lagi.
benar-benar membosankan. Hal tersebut membuatnya seolah-olah hidup sebagai
manusia nomaden.
“Apakah jarak dari Mooneta ke Reodal jauh?” tanya Nhea.
Dia belum pernah ke sana sebelumnya. Bahkan, mendengar nama
Reodal saja ia baru kali ini.
“Mungkin jaraknya sekitar lima puluh kilometer jika ditempuh
dari tempat kita berada saat ini,” jawab Oliver dengan apa adanya.
“Jika berjalan kaki ke sana, kita akan menghabiskan waktu
kurang lebih satu hari satu malam,” jelasnya kemudian.
Itu artinya tidak terlalu jauh perjalanan yang harus mereka
tempuh. Padahal ia yakin jika mereka bisa sampai lebih cepat dengan menggunakan
kendaraan seperti mobil misalnya. Tapi kembali lagi, hal itu sama sekali tidak
dibutuhkan di sini. Semenjak masuk ke sekolah ini, mereka nyaris tidak pernah
berhubungan dengan teknologi atau bahkan dunia luar. Semuanya kembali lagi
kepada masing-masing orang. Pada dasarnya hanya murni kekuatan pikiran saja yan
digunakan di sini. Tidak ada opsi lainnya.
Karena barang-barang yang dimiliki oleh Nhea hanya sedikit,
jadi gadis itu selesai jauh lebih cepat dari pada Oliver. Ia memang sengaja
untuk tidak membawa semua barang-barangnya yang ada di rumah kemari. Selama ini
ia selalu berpikir jika Bibi Ga Eun akan memasukkannya ke sekolah asrama yang
mereka akan pulang ke rumahnya masing-masing pada saat liburan musim panas atau
musin dingin. Sama seperti kebanyakan sekolah normal pada umumnya. Ternyata tidak
sama sekali. Sekolah Mooneta berbeda dari yang lain. Ia bahkan tidak pernah
mengetahui jika ada akademi sihir pada zaman semodern ini.
__ADS_1