
Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar untuk terjadi.
Bukan sesuatu yang mengejutkan lagi jika tiba-tiba ada hal seperti itu. Namun,
perbedaan pendapat yang kali ini sudah
tidak dapat ditangani lagi. Eun Ji Hae sudah bertindak terlalu jauh. Ia
berhasil membuat semua orang merasa kebingungan sekaligus takut dengan tingkah
lakunya. Gadis itu seolah haus akan atensi publik. Padahal, semua itu telah ia
dapatkan sejak awal kedatangannya kembali. Eun Ji Hae seakan serakan dan tidak
pernah puas dengan apa yang telah ia dapatkan sejauh ini.
“Setidaknya Ify merupakan pemilik darah murni di keluarga
ini,” ungkap Bibi Ga Eun.
“Dia adalah keturunan yang sebenarnya!” tukas wanita itu
sekali lagi.
Perkataan yang terlontar dari bibir Bibi Ga Eun berhasil
membuat gadis itu terpancing emosinya. Namun, untungnya Wilson berhasil
mencegah anaknya yang satu itu. Jika tidak, mungkin Eun Ji Hae akan membuat masalah
yang auh lebih besar dari pada semua ini.
“Jangan!” larang pria itu.
Ia mengucapkan kata tersebut dengan volume bicara yang
termasuk pelan, namun penuh akan penekanan.
Wilson benar-benar tak ingin mempermalukan keluarganya
sendiri di depan semua orang. Termasuk paara siswa Mooneta yang sama sekali
tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Ini adalah permasalahan internal
yang tidak boleh diketahui oleh semua orang. Hanya mereka yang terpilih saja
yang berhak mendapatkan hal yang bersifat rahasia tersebut.
Eun Ji Hae masih tampak ragu pada awalnya. Ia masih lebih
mementingkan emosinya yang hanya bersifat sesaat itu. Dia bahkan tidak akan
mendapatkan apa pun ketika telah melampiaskan semuanya. Tapi, untuk pertama
kalinya Eun Ji Hae berhasil menahan emosinya. Jika bukang karena Wilson yang
mencegah dirinya, mungkin ia sudah kelepasan. Pasalnya, untuk saat ini sama
sekali tidak ada alasan untuk berhenti.
Eun Ji Hae menghela napasnya dengan kasar. Kemudian
mengacak-acak rambutnya. Ia benar-benar kesal. Kali ini ia harus mengalah
secara terpaksa terhadap Bibi Ga Eun. Padahal, belum tentu jika ia adalah orang
yang paling benar di sini. Namun, ia selalu saja berlagak sombong seperti itu.
“Aku mungkin akan mengalah kali ini, tapi tidak dengan lain
kali!” sarkasnya.
Alih-alih ancaman, kalimat Eun Ji Hae jauh lebih terdengar
__ADS_1
seperti sebuah peringatan.
“Sudah-sudah!” lerai Wilson.
Dia sungguh tak ingin jika yang satu ini dilanjutkan lagi.
Kepalanya mungkin akan segera pecah jika sampai terjadi hal serupa seperti
tadi.
“Kita perlu bicara empat mata!” ucap Wilson dengan penuh
penekanan.
Dari raut wajahnya, pria itu terlihat sangat serius kali
ini. Ia sama sekali tidak menerima bantahan, apa lagi penolakan.
“Baiklah,” ucap Eun Ji Hae dengan pasrah.
Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang ini.
Bahkan Dewi Fortuna sedang tak memihak kepadanya. Hari ini semesta berpaling
dari gadis itu. Eun Ji Hae mendadak berubah menjadi orang yang memiliki nasib
paling sial di muka bumi.
“Ikuti aku!” perintah Wilson.
Pria itu membawa Eun Ji Hae melangkah sedikit lebih jauh
dari keramaian. Mereka tak ingin jika sampai orang lain tahu tentang apa yang
sedang mereka bicarakan. Dari awal, konsepnya memang hanya mereka berdua saja.
Orang lain dilarang keras untuk ikut campur. Hanya ada Wilson dan Eun Ji Hae.
Bahkan, Vallery sendiri tidak dilibatkan dalam urusan kali ini. Pria itu akan
Langkah Wilson terhenti tepat di depan sebuah pohon pinus.
Hal tersebut membuat Eun Ji Hae yang tepat berada di belakangnya ikut berhenti.
Eun Ji Hae tidak merasa gentar sama sekali dengan tatapan
ayahnya yang terkesan dingin itu. Siapa pun yang berada di dekat pria itu pasti
akan berusaha untuk menghindari kontak mata secara langsung. Tapi, tidak dengan
Eun Ji Hae. Dia malah tampak menantangnya secara tidak langsung.
“Ada apa?” tanya Eun Ji Hae.
Wilson tidak langsung menjawab pertanyaan gadis itu.
Melainkan menyorotinya terlebih dahulu dengan lekat. Berharap jika hal itu akan
membuat nyali Eun Ji Hae menjadi ciut, sehingga ia akan tunduk kepada Wilson.
Padahal tidak sama sekali. Tidak akan ada gunanya jika ia masih mengharapkan
hal seperti itu untuk terjadi. Karena bisa dipastikan jika Eun Ji Hae tidak
akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi.
“Langsung kepada intinya saja,” ujar Eun Ji Hae.
“Bukankah ayah tidka suka dengan hal yang terlalu
bertele-tele seperti ini?” tanya gadis itu.
“Apalagi jika harus membuang-buang waktu seperti ini!”
__ADS_1
tukasnya.
Wilson menghela napasnya dengan kasar sebelum pada akhirnya
mulai buka suara. Selama ini pria itu terkenal dengan keiritannya dalam
berbicara. Dia tidak akan bicara jika tak ada hal yang penting sama sekali.
Namun jika sampai Wilson sudah buka suara, maka itu artinya situasinya sudah
tidak beres lagi. contohnya seperti yang terjadi barusan. Wilson sampai harus
ikut turun tangan untuk menyelesaikan semuanya.
“Sejak kapan kau menjadi anak yang suka membuat masalah
seperti ini?” tanya pria itu.
Eun Ji Hae mengerutkan dahinya, sehingga kedua alis gadis
itu tampak menyatu. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang baru saja
disampaikan oleh pria itu. Eun Ji Hae tampak berpikir keras untuk mencerna
semuanya.
“Maksudnya?” tanya Eun Ji Hae.
Ia memilih untuk menyerah. Sepertinya otaknya telah membeku,
sampai-sampai tidak bisa digunakan untuk berpikir dengan normal lagi.
“Apa perkataanku tadi masih terasa kurang jelas bagimu?”
tanya Wilson balik.
“Atau hanya kau yang pura-pura tidak tahu?” tuduhnya.
Eun Ji Hae sama sekali tidak mempermasalahkan soal tuduhan
tersebut. Ia hanya fokus pada jawaban dari pertanyaannya barusan.
“Jelaskan saja apa yang ayah mau!” tegas gadis itu.
“Mari kita persingkat!” lanjutnya.
Wilson menghela napas dengan kasar untuk yang kesekian
kalinya. Ia harus meningkatkan level kesabarannya sampai ke peringkat yang
palling tinggi. Menghadapi Eun Ji Hae memang perlu serba ekstra. Tidak hanya
sebatas kesabaran saja.
Pria itu kemudian melipat kedua tangannya tepat di depan
dada. Rahangnya mengeras. Ia melemparkan tatapan mautnya kepada Eun Ji Hae.
Sekali lagi, masih dengan harapan yang sama. Harus diakui jika Wilson memang
gigih. Tapi, sayangnya Eun Ji Hae adalah seorang gadis yang cukup konsisten. Gertakan
seperti itu tidak akan mempan kepadanya. Semua orang tahu betapa keras kepribadiannya.
Eun Ji Hae memang sulit untuk ditaklukkan. Tidak semudah itu.
‘PLAK!!!’
Tanpa aba-aba sama sekali, Wilson langsung mendaratkan
tangannya di wajah Eun Ji Hae. Sebuah tamparan berhasil membuat gadis itu
memalingkan wajahnya. Kulit pipinya yang telah memerah karena udara dingin,
__ADS_1
kini tampak jauh lebih merah. Tapi untungnya tidak ada yang melihat kejadian
itu. Mereka sengaja memilih tempat yang jauh dari keramaian.