Mooneta High School

Mooneta High School
Klimaks


__ADS_3

Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar untuk terjadi.


Bukan sesuatu yang mengejutkan lagi jika tiba-tiba ada hal seperti itu. Namun,


perbedaan pendapat yang  kali ini sudah


tidak dapat ditangani lagi. Eun Ji Hae sudah bertindak terlalu jauh. Ia


berhasil membuat semua orang merasa kebingungan sekaligus takut dengan tingkah


lakunya. Gadis itu seolah haus akan atensi publik. Padahal, semua itu telah ia


dapatkan sejak awal kedatangannya kembali. Eun Ji Hae seakan serakan dan tidak


pernah puas dengan apa yang telah ia dapatkan sejauh ini.


“Setidaknya Ify merupakan pemilik darah murni di keluarga


ini,” ungkap Bibi Ga Eun.


“Dia adalah keturunan yang sebenarnya!” tukas wanita itu


sekali lagi.


Perkataan yang terlontar dari bibir Bibi Ga Eun berhasil


membuat gadis itu terpancing emosinya. Namun, untungnya Wilson berhasil


mencegah anaknya yang satu itu. Jika tidak, mungkin Eun Ji Hae akan membuat masalah


yang auh lebih besar dari pada semua ini.


“Jangan!” larang pria itu.


Ia mengucapkan kata tersebut dengan volume bicara yang


termasuk pelan, namun penuh akan penekanan.


Wilson benar-benar tak ingin mempermalukan keluarganya


sendiri di depan semua orang. Termasuk paara siswa Mooneta yang sama sekali


tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Ini adalah permasalahan internal


yang tidak boleh diketahui oleh semua orang. Hanya mereka yang terpilih saja


yang berhak mendapatkan hal yang bersifat rahasia tersebut.


Eun Ji Hae masih tampak ragu pada awalnya. Ia masih lebih


mementingkan emosinya yang hanya bersifat sesaat itu. Dia bahkan tidak akan


mendapatkan apa pun ketika telah melampiaskan semuanya. Tapi, untuk pertama


kalinya Eun Ji Hae berhasil menahan emosinya. Jika bukang karena Wilson yang


mencegah dirinya, mungkin ia sudah kelepasan. Pasalnya, untuk saat ini sama


sekali tidak ada alasan untuk berhenti.


Eun Ji Hae menghela napasnya dengan kasar. Kemudian


mengacak-acak rambutnya. Ia benar-benar kesal. Kali ini ia harus mengalah


secara terpaksa terhadap Bibi Ga Eun. Padahal, belum tentu jika ia adalah orang


yang paling benar di sini. Namun, ia selalu saja berlagak sombong seperti itu.


“Aku mungkin akan mengalah kali ini, tapi tidak dengan lain


kali!” sarkasnya.


Alih-alih ancaman, kalimat Eun Ji Hae jauh lebih terdengar

__ADS_1


seperti sebuah peringatan.


“Sudah-sudah!” lerai Wilson.


Dia sungguh tak ingin jika yang satu ini dilanjutkan lagi.


Kepalanya mungkin akan segera pecah jika sampai terjadi hal serupa seperti


tadi.


“Kita perlu bicara empat mata!” ucap Wilson dengan penuh


penekanan.


Dari raut wajahnya, pria itu terlihat sangat serius kali


ini. Ia sama sekali tidak menerima bantahan, apa lagi penolakan.


“Baiklah,” ucap Eun Ji Hae dengan pasrah.


Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang ini.


Bahkan Dewi Fortuna sedang tak memihak kepadanya. Hari ini semesta berpaling


dari gadis itu. Eun Ji Hae mendadak berubah menjadi orang yang memiliki nasib


paling sial di muka bumi.


“Ikuti aku!” perintah Wilson.


Pria itu membawa Eun Ji Hae melangkah sedikit lebih jauh


dari keramaian. Mereka tak ingin jika sampai orang lain tahu tentang apa yang


sedang mereka bicarakan. Dari awal, konsepnya memang hanya mereka berdua saja.


Orang lain dilarang keras untuk ikut campur. Hanya ada Wilson dan Eun Ji Hae.


Bahkan, Vallery sendiri tidak dilibatkan dalam urusan kali ini. Pria itu akan


Langkah Wilson terhenti tepat di depan sebuah pohon pinus.


Hal tersebut membuat Eun Ji Hae yang tepat berada di belakangnya ikut berhenti.


Eun Ji Hae tidak merasa gentar sama sekali dengan tatapan


ayahnya yang terkesan dingin itu. Siapa pun yang berada di dekat pria itu pasti


akan berusaha untuk menghindari kontak mata secara langsung. Tapi, tidak dengan


Eun Ji Hae. Dia malah tampak menantangnya secara tidak langsung.


“Ada apa?” tanya Eun Ji Hae.


Wilson tidak langsung menjawab pertanyaan gadis itu.


Melainkan menyorotinya terlebih dahulu dengan lekat. Berharap jika hal itu akan


membuat nyali Eun Ji Hae menjadi ciut, sehingga ia akan tunduk kepada Wilson.


Padahal tidak sama sekali. Tidak akan ada gunanya jika ia masih mengharapkan


hal seperti itu untuk terjadi. Karena bisa dipastikan jika Eun Ji Hae tidak


akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi.


“Langsung kepada intinya saja,” ujar Eun Ji Hae.


“Bukankah ayah tidka suka dengan hal yang terlalu


bertele-tele seperti ini?” tanya gadis itu.


“Apalagi jika harus membuang-buang waktu seperti ini!”

__ADS_1


tukasnya.


Wilson menghela napasnya dengan kasar sebelum pada akhirnya


mulai buka suara. Selama ini pria itu terkenal dengan keiritannya dalam


berbicara. Dia tidak akan bicara jika tak ada hal yang penting sama sekali.


Namun jika sampai Wilson sudah buka suara, maka itu artinya situasinya sudah


tidak beres lagi. contohnya seperti yang terjadi barusan. Wilson sampai harus


ikut turun tangan untuk menyelesaikan semuanya.


“Sejak kapan kau menjadi anak yang suka membuat masalah


seperti ini?” tanya pria itu.


Eun Ji Hae mengerutkan dahinya, sehingga kedua alis gadis


itu tampak menyatu. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang baru saja


disampaikan oleh pria itu. Eun Ji Hae tampak berpikir keras untuk mencerna


semuanya.


“Maksudnya?” tanya Eun Ji Hae.


Ia memilih untuk menyerah. Sepertinya otaknya telah membeku,


sampai-sampai tidak bisa digunakan untuk berpikir dengan normal lagi.


“Apa perkataanku tadi masih terasa kurang jelas bagimu?”


tanya Wilson balik.


“Atau hanya kau yang pura-pura tidak tahu?” tuduhnya.


Eun Ji Hae sama sekali tidak mempermasalahkan soal tuduhan


tersebut. Ia hanya fokus pada jawaban dari pertanyaannya barusan.


“Jelaskan saja apa yang ayah mau!” tegas gadis itu.


“Mari kita persingkat!” lanjutnya.


Wilson menghela napas dengan kasar untuk yang kesekian


kalinya. Ia harus meningkatkan level kesabarannya sampai ke peringkat yang


palling tinggi. Menghadapi Eun Ji Hae memang perlu serba ekstra. Tidak hanya


sebatas kesabaran saja.


Pria itu kemudian melipat kedua tangannya tepat di depan


dada. Rahangnya mengeras. Ia melemparkan tatapan mautnya kepada Eun Ji Hae.


Sekali lagi, masih dengan harapan yang sama. Harus diakui jika Wilson memang


gigih. Tapi, sayangnya Eun Ji Hae adalah seorang gadis yang cukup konsisten. Gertakan


seperti itu tidak akan mempan kepadanya. Semua orang tahu betapa keras kepribadiannya.


Eun Ji Hae memang sulit untuk ditaklukkan. Tidak semudah itu.


‘PLAK!!!’


Tanpa aba-aba sama sekali, Wilson langsung mendaratkan


tangannya di wajah Eun Ji Hae. Sebuah tamparan berhasil membuat gadis itu


memalingkan wajahnya. Kulit pipinya yang telah memerah karena udara dingin,

__ADS_1


kini tampak jauh lebih merah. Tapi untungnya tidak ada yang melihat kejadian


itu. Mereka sengaja memilih tempat yang jauh dari keramaian.


__ADS_2