
Nhea masih tetap pada pikirannya. Ia sama sekali tidak bisa
menyingkirkan hal tersebut dari pikirannya. Tak peduli sekeras apa pun ia telah
berusaha, hasilnya tetap sama saja. Nihil. Itu adalah kata yang paling tepat
untuk mendeskripsikan semua keadaannya saat ini. Isi pikirannya benar-benar
sudah butuh. Ia bahkan tidak tahu harus mencari jawaban tersebut kemana lagi.
Sebenarnya gadis itu masih belum tidur sejak tadi. Ia masih
sibuk memikirkan tentang bagaimana caranya untuk keluar dari masalah besar yang
sedang menimpa sekolah tercinta mereka. Memangnya apa lagi jika bukan karena
bencana salju abadi yang sudah terlanjut menyelimuti seluruh bangunan sekolah.
Nhea terus memikirkan hal tersebut hingga ia sendiri tidak
bisa mengontrol dirinya. Bahkan ia sampai tidka bisa terlelap dan malah terjaga
sepanjang malam seperti ini. Ia sama sekali tidak mengantuk karena memikirkan
hal tersebut. Kepalanya rasanya telah penuh dan siap untuk pecah.
Belum selesai permasalahan yang satu, sudah datang
permasalahan yang satunya lagi. Memangnya apa lagi permasalahannya jika bukan
tentang pria itu. Nhea masih tidak habis pikir. Bagaimana bisa pria itu muncul
lagi setelah menghilang bagai di telan bumi. Kini ia telah berani berbuat
lancang dengan masuk ke kamar gadis itu tanpa permisi sama sekali. Tapi bukan
itu bagian yang paling buruknya di sini. Masih ada hal lain yang patut untuk di
jadikan sebagai sorotan. Misalnya saja soal bagaimana nilai tata krama pria itu
yang nol. Ia bahkan sama sekali tidak menghiraukan hal itu.
Chanwo sama sekali tidak merasa bersalah. Ia telah mengambil
sesuatu dari dalam kamarnya dan pergi begitu saja. Pria itu bahkan tidak
meminta izin terlebih dahulu. Sebenarnya tidak ada gunanya juga jika ia memnita
izin kepada Nhea. Karena pada dasarnya, gadis itu tetap tidak akan memberikan
izin kepada pria itu untuk membawa barangnya.
Sepertinya Chanwo memang tidak pernah diajari soal tata krama sama sekali. Lihat saja
kejadian barusan sebagai bukti nyatanya. Meski pun besar di lingkungan
kerajaan, tidak mungkin jika ia tidak mendapatkan pelajaran tersebut. Paling tidak
dari orang tuanya. Karena sopan santun merupakan pondasi paling dasar yang
harus dimiliki oleh setiap orang.
__ADS_1
Pada dasarnya, semua orang akan mendapatkan pelajaran dasar
yang sama saja. Yang menjadi perbedaannya di sini adalah tentang cara
penerapannya. Mungkin kembali lagi sesuai dengan tempat mereka tinggal. Mereka harus
menyesuaikan dengan situasi dan kondisinya. Lagi-lagi harus ada penyesuaian. Tidak
boleh dipukul sama rata.
Mungkin saja jika sopan santun dan tata krama yang diajarkan
untuk kaum kegelapan dan juga kau manusia memiliki perbedaan yang mencolok. Mereka
tidak akan pernah mengetahui hal itu sebelum saling mengenal satu sama lain. Dan
selama ini seperti yang kita ketahui memang jika kaum kegelapan sangat menutup
diri dari beradaban manusia sejak awal. Mereka enggan keluar dari sarangnya.
Tapi hal tersebut berhasil dipatahkan oleh beberapa klan
yang berhasil keluar dari hutan itu dengan selamat. Salah satunya saja adalah
Wilson dan juga Chanwo. Buktinya mereka masih bisa bertahan hidup hingga hari
ini dan baik-baik saja.
“Sebenarnya siapa dia dan kenapa dia bisa berada di sini?”
gumam Nhea sambil memainkan jemari lentiknya.
Gadis itu mencoba untuk menebak-nebak apakah mereka pernah
saling berkenalan sebelumnya. Kenapa mendadak ia jadi melupakan nama pria itu. Padahal
memang ingatan gadis ini yang cukup payah. Ada terlalu banyak hal yang sedang
menumpuk di dalam kepalanya saat ini.
Sekarang sudah sekitar pukul dua malam. Tidak ada jam di sini.
Di sekolah ini, mereka benar-benar jauh dari keh idupan kota yang terkesan mewah
dan serba canggih. Bahkan alat dengan mesin dan prinsip kerja yang sederhana
seperti jam saja tidak ada di sini. Hanya ada satu di lantai dasar gedung
sekolah. Benar-benar hanya ada satu di sekolah ini. Jam satu-satunya sekaligus
jam paling tua yang sudah berada di tempat ini sejak awal dibangun.
Mereka tidak bisa bolak-balik ke ruangan sekolah hanya untuk
memastikan jam berapa saat ini. Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa siswa
diajarkan tentang bagaimana caranya untuk mengetahui waktu. Mereka memiliki
trik sendiri yang sulit untuk dijelaskan.
Semua orang yang berada di sekolah ini bisa menyelesaikan
hampir semua masalah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mulai dari hal besar
hingga hal kecil yang paling tidak berguna sama sekali. Itu adalah salah satu
__ADS_1
faktor mengapa mereka masih bisa bertahan hidup hingga hari ini. Karena kebanyakan
telah diajarkan tentang dasar-dasar kehidupan yang tidak banyak orang ketahui.
Gadis itu masih tetap terjaga di tengah malam hingga menuju
dini hari. Ia bahkan tidak tidur sama sekali. Sibuk berkutat dengan isi
pikirannya sendiri. Nhea mengabaikan sekelilingnya. Termasuk Oliver yang tengah
tertidur pulas. Dia tidak akan pernah bisa seperti gadis itu. Tak peduli
sekeras apa pun ia mencoba, matanya tetap tidak akan bisa mengantuk. Nhea tidak
akan pernah tidur sepulas Oliver. Terutama untuk malam ini.
Nhea membiarkan hawa dingin menyeruak masuk ke dalam
ruangannya melalui celah-celah kecil yang ada di ruangan ini. Gadis itu bahkan
sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi kini. Andai ada sesuatu yang bisa
membuatnya merasa jauh lebih tenang saat ini, ia pasti telah tertidur dengan
pulas. Sama seperti Oliver yang tengah terbaring dengan sembaran pose.
Gadis itu memikirkan dua hal secara sekaligus di dalam
kepalanya yang sempit itu. Otakknya tidak akan sanggup untuk menampung
seluruhnya. Pada akhirnya ia akan merasa lelah sendiri. Nhea adalah
satu-satunya orang yang masih terjaga hingga saat ini. Bahkan sekarang hampir
pagi. Beberapa jam lagi, matahari akan segera keluar dari sarangnya.
Tidak bisa dipungkiri jika ia memang merasa lelah secara
emosional mau pun fisik. Hari ini begitu banyak menguras tenaga baginya. Bukan hanya
untuk gadis ini saja. Tapi juga hampir semua orang yang berada di tempat ini.
Nhea menghabiskan malam harinya bukan untuk tidur. Melainkan
untuk melamun. Ia terjaga semalaman dengan semua isi pikirannya. Otaknya sama
sekal itidak membiarkan Nhea untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Belakangan
ini gadis itu terlalu banyak memaksakan dirinya sendiri. Ia telah melampaui
batas wajar.
“Apakah kami semua akan baik-baik saja selama berada di
tempat ini?” gumamnya pelan.
Nhea tidak terlalu yakin soal hal itu. Sehingga ia banyak
mempertanyakan perihal yang sama. Bahkan ia telah pasrah jika harus berakhir di
sini. sungguh tidak apa-apa jika memang semua hal buruk ini adalah sebuah
bagian dari perjalanan hidupnya. Sepertinya keberuntungan memang tidak pernah
memihak kepadanya sejak ia terlahir sebagai manusia ke muka bumi ini.
__ADS_1