
Eun Ji Hae masih tetap menunggu di sana sambil harap-harap
cemas. Dia sama sekali tidak bermaksud untuk meninggalkan ketiganya. Tapi
mereka belum muncul sejak tadi. Padahal ini hampir tengah malam. Jika mereka
tidak bisa keluar sebellum tengah malam, maka mereka tidak akan bisa pergi
malam ini. Setidaknya harus menunggu sampai sbesok atau sampai salju berhenti.
Dengan begitu, nyawa mereka tidak akan terancam bahaya.
Sebenarnya salju abadi tidak mematikan sama sekali. Hal
tersebut hanya akan memberikan efek kelumpuhan sementara akibat reaksi kimia.
Tidak akan bersifat selamanya. Mereka hanya akan mati suri lebih tepatnya. Orang
yang terjebak di dalam bongkahan es tersebut akan tetap hidup. Setidaknya
sampai esnya kembali mencair. Baru setelah itu mereka bisa kembali normal
seperti semula.
“Dimana mereka?” gumam Eun
Ji Hae.
Dia mulai merasakan suhu yang perlahan turun secara teratur
di ruangan ini. Itu sebabnya kenapa Eun Ji Hae memutuskan untuk mengeratkan
kembali baju hangatnya.
Sempat terlintas di dalam pikiran Eun Ji Hae untuk pergi dan
mencari mereka. Namun, bagaimana jika mendadak salah satu dari mereka datang
kemari dan tidak ada siapa-siapa di sana. pasti akan semakin rumit masalahnya.
Eun Ji Hae tidak bisa membelah diri dan masing-masingnya berpencar untuk
mencari setiap orang.
Sejauh ini ia masuh tetap menunggu. Tidak ada hal lain yang
bisa dilakukan olehnya. Bahkan tindakannya akan serba salah pada saat seperti
sekarang ini. Terlalu sulit baginya untuk memutuskan.
‘TAP! TAP! TAP!’
Tempat ini sudah terlalu sunyi sekarang. Sehingga Eun Ji Hae
bisa mendengar setiap suara dengan jelas. Bahkan suara telapak sepatu yang
beradu dengan permukaan lantai saja terdengar dua kali lebih kuat dari volume
aslinya. Sontak hal tersebut berhasil merebut perhatian Eun Ji Hae. Ia segera
memalingkan pandangannya ke arah pintu masuk menuju aula. Ternyata itu adalah
Jongdae. Ia baru saja sampai di sini. Kemudian disusul oleh Oliver yang berada
tepat di belakangnya kala itu.
“Bagaimana?”
“Apakah semua baik-baik saja?”
“Kalian sudah memastikan jika tidak ada seorang pun yang
masih tertinggal di sana bukan?”
Keduanya langsung diserang oleh pertanyaan Eun Ji Hae
tersebut. Gadis itu bahkan tidak memberikan kesempatan sama sekali bagi mereka
untuk menjawab pertanyaan tersebut.
__ADS_1
“Kakak Ji tidak perlu khawatir. Semuanya baik-baik saja,”
ungkap Oliver.
“Syukurlah,” ucap Eun Ji Hae.
Gadis itu merasa jauh lebih lega sekarang. Tapi ia belum
bisa merasa benar-benar lega, karena pada faktanya masih ada satu masalah yang
belum selesai di sini. Nhea belum kembali. Dan itu adalah sisa masalahnya. Ia
harus memikirkan jalan keluar untuk yang satu itu.
“Lalu dimana Nhea? Kenapa ia belum kembali?” gumam Eun Ji
Hae.
Ia mengacak-acak rambutnya karena merasa frustrasi.
Jongda dan Oliver saling melempar pandangan satu sama lain
untuk beberapa saat. Dari raut wajah mereka, bisa ditebak dengan jelas apa yang
sedang mereka rasakan saat ini. Tentu saja kebingungan.
“Memangnya dimana Nhea?” tanya Oliver.
“Bukankah seharusnya dia sudah keluar bersama dengan yang
lain?” timpal Jongdae.
“Tidak. Dia belum keluar dari tempat ini sama sekali,”
ungkap Eun Ji Hae.
“Aku menyuruhnya untuk memeriksa ke gedung utama dan
memastikan hal serupa. Tapi, ia belum kembali sejak tadi,” jelasnya.
“Padahal gedung utama tidak jauh lebih besar dari pada
Kenapa tidak bisa bekerja dengan sedikit lebih cepat?” protes Eun Ji Hae yang
tak habis pikir dengan adiknya sendiri.
“Aih! Dia benar-benar membuatku kesal!” sarkasnya.
Mungkin komentar Eun Ji Hae terdengar agak kasar sekarang
ini. Apa lagi yang ia komentari adalah adiknya sendiri. Tapi, ia bukan tipikal
orang yang bermuka dua. Eun Ji Hae akan mengatakan apa pun yang sesuai dengan
perasaannya. Gadis itu tidak pernah berpura-pura baik dan membohongi dirinya
sendiri demi menjaga perasaan orang lain. Menurutnya, perasaannya sendiri
adalah yang paling penting.
“Kalian pergilah keluar sekarang juga!” perintah Eun Ji Hae.
“Berkumpul bersama dengan yang lainnya di luar dan jangan
pernah berpisah dari mereka!” tegasnya sekali lagi.
“Aku akan pergi menyusul Nhea ke gedung utama,” finalnya.
Eun Ji Hae langsung pergi setelah menyelesaikan
perkataannya. Bahkan gadis itu kelihatannya sedang tidak membutuhkan respon
atau jawaban sama sekali. Apa lagi penolakan serta bantahan. Ia jelas-jelas
akan menolak hal tersebut.
“Apakah kita harus pergi sekarang?” tanya Oliver.
“Menurutmu?” tanya Jongdae balik.
__ADS_1
“Tentu saja kita harus pergi dari sini!” tukasnya.
“Tapi, bagaimana dengan Nhea?” tanya gadis itu lagi.
“Kakak Ji akan membereskan semua masalahnya. Jadi tidak
perlu merasa cemas lagi,” jelas Jongdae.
“Ku harap juga begitu,” ucap Oliver dengan pasrah.
Gadis itu menghela napasnya dengan kasar. Sebenarnya ia
ingin membantu. Setidaknya mencoba untuk melakukan sesuatu yang bisa
meringankan keadaan. Tapi ia tahu jika Eun Ji Hae sama sekalit idak menerima
penolakan.
“Ayo!” ajak Jongdae.
Oliver hanya mengangguk pasrah dan mengiyakan perkataan
kakaknya barusan. Lagi pula dengan tetap berada di sini tidak akan menjamin apa
pun. Termasuk keselamatan Nhea. Mereka telah mempercayakan semuanya kepada Eun
Ji Hae. Gadis itu pasti akan melakukan yang terbaik. Dia selalu bersikap
perfeksionis saat melakukan sesuatu.
***
Kini hanya tersisa Nhea dan juga Eun Ji Hae yang masih
berkeliaran di tempat ini. Sesuai dengan janjinya tadi, bahwa Eun Ji Hae tidak
akan pernah pergi sebelum meenukan Nhea. ia harus keluar bersama dengan gadis
itu. Sekarang ia sedang menuju ke gedung utama. Eun Ji Hae terus mempercepat
langkahnya secara bertahap. Dengan begitu, ia bisa sampai di sana dengan tepat
waktu. Sambil sesekali ia mendumal entah kepada siapa.
Eun Ji Hae menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu
masuk yang sudah terbuka sejak awal. Tapi, ia sama sekali tidak menemukan Nhea
di sana. tidak perlu berkeliling untuk mencarinya. Tidak ada sekat pemisah
ruangan di lantai pertama. Karena tempat ini hanya dimanfaatkan sebagai ruang
makan saja.
“Dia pasti ada di lantai atas,” gumam Eun Ji Hae dengan
napas yang memburu.
Gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia
beralih ke tangga penghubung lantai dasar dengan lantai di atasnya. Sambil sesekal
ia juga masih tetap mengawasi ruangan ini untuk memastikan jika semuanya
aman-aman saja.
Lantai dua adalah kamar tidur para staff serta gudang tempat
pnyimpanan makanan. Eun Ji Hae telah mondar-mandir untuk memeriksa ruangannya
satu-persatu. Tapi hasilnya nihil. Ia bahkan tidak bisa menemukan Nhea setelah
melakukan pengecekan. Apakah Eun Ji Hae yang kurang teliti atau bagaimana.
“pasti dia ada di lantai tiga,” simpulnya.
Lantai tiga merupakan tempat terakhir yang bisa ia periksa. Hanya
ada kamar-kamar anggota keluarga di sana. Tidak terlalu banyak ruangan jika
__ADS_1
dibangdingkan dengan lantai dua.