Mooneta High School

Mooneta High School
Siblings


__ADS_3

Eun Ji Hae masih tetap menunggu di sana sambil harap-harap


cemas. Dia sama sekali tidak bermaksud untuk meninggalkan ketiganya. Tapi


mereka belum muncul sejak tadi. Padahal ini hampir tengah malam. Jika mereka


tidak bisa keluar sebellum tengah malam, maka mereka tidak akan bisa pergi


malam ini. Setidaknya harus menunggu sampai sbesok atau sampai salju berhenti.


Dengan begitu, nyawa mereka tidak akan terancam bahaya.


Sebenarnya salju abadi tidak mematikan sama sekali. Hal


tersebut hanya akan memberikan efek kelumpuhan sementara akibat reaksi kimia.


Tidak akan bersifat selamanya. Mereka hanya akan mati suri lebih tepatnya. Orang


yang terjebak di dalam bongkahan es tersebut akan tetap hidup. Setidaknya


sampai esnya kembali mencair. Baru setelah itu mereka bisa kembali normal


seperti semula.


“Dimana mereka?” gumam Eun


Ji Hae.


Dia mulai merasakan suhu yang perlahan turun secara teratur


di ruangan ini. Itu sebabnya kenapa Eun Ji Hae memutuskan untuk mengeratkan


kembali baju hangatnya.


Sempat terlintas di dalam pikiran Eun Ji Hae untuk pergi dan


mencari mereka. Namun, bagaimana jika mendadak salah satu dari mereka datang


kemari dan tidak ada siapa-siapa di sana. pasti akan semakin rumit masalahnya.


Eun Ji Hae tidak bisa membelah diri dan masing-masingnya berpencar untuk


mencari setiap orang.


Sejauh ini ia masuh tetap menunggu. Tidak ada hal lain yang


bisa dilakukan olehnya. Bahkan tindakannya akan serba salah pada saat seperti


sekarang ini. Terlalu sulit baginya untuk memutuskan.


‘TAP! TAP! TAP!’


Tempat ini sudah terlalu sunyi sekarang. Sehingga Eun Ji Hae


bisa mendengar setiap suara dengan jelas. Bahkan suara telapak sepatu yang


beradu dengan permukaan lantai saja terdengar dua kali lebih kuat dari volume


aslinya. Sontak hal tersebut berhasil merebut perhatian Eun Ji Hae. Ia segera


memalingkan pandangannya ke arah pintu masuk menuju aula. Ternyata itu adalah


Jongdae. Ia baru saja sampai di sini. Kemudian disusul oleh Oliver yang berada


tepat di belakangnya kala itu.


“Bagaimana?”


“Apakah semua baik-baik saja?”


“Kalian sudah memastikan jika tidak ada seorang pun yang


masih tertinggal di sana bukan?”


Keduanya langsung diserang oleh pertanyaan Eun Ji Hae


tersebut. Gadis itu bahkan tidak memberikan kesempatan sama sekali bagi mereka


untuk menjawab pertanyaan tersebut.

__ADS_1


“Kakak Ji tidak perlu khawatir. Semuanya baik-baik saja,”


ungkap Oliver.


“Syukurlah,” ucap Eun Ji Hae.


Gadis itu merasa jauh lebih lega sekarang. Tapi ia belum


bisa merasa benar-benar lega, karena pada faktanya masih ada satu masalah yang


belum selesai di sini. Nhea belum kembali. Dan itu adalah sisa masalahnya. Ia


harus memikirkan jalan keluar untuk yang satu itu.


“Lalu dimana Nhea? Kenapa ia belum kembali?” gumam Eun Ji


Hae.


Ia mengacak-acak rambutnya karena merasa frustrasi.


Jongda dan Oliver saling melempar pandangan satu sama lain


untuk beberapa saat. Dari raut wajah mereka, bisa ditebak dengan jelas apa yang


sedang mereka rasakan saat ini. Tentu saja kebingungan.


“Memangnya dimana Nhea?” tanya Oliver.


“Bukankah seharusnya dia sudah keluar bersama dengan yang


lain?” timpal Jongdae.


“Tidak. Dia belum keluar dari tempat ini sama sekali,”


ungkap Eun Ji Hae.


“Aku menyuruhnya untuk memeriksa ke gedung utama dan


memastikan hal serupa. Tapi, ia belum kembali sejak tadi,” jelasnya.


“Padahal gedung utama tidak jauh lebih besar dari pada


Kenapa tidak bisa bekerja dengan sedikit lebih cepat?” protes Eun Ji Hae yang


tak habis pikir dengan adiknya sendiri.


“Aih! Dia benar-benar membuatku kesal!” sarkasnya.


Mungkin komentar Eun Ji Hae terdengar agak kasar sekarang


ini. Apa lagi yang ia komentari adalah adiknya sendiri. Tapi, ia bukan tipikal


orang yang bermuka dua. Eun Ji Hae akan mengatakan apa pun yang sesuai dengan


perasaannya. Gadis itu tidak pernah berpura-pura baik dan membohongi dirinya


sendiri demi menjaga perasaan orang lain. Menurutnya, perasaannya sendiri


adalah yang paling penting.


“Kalian pergilah keluar sekarang juga!” perintah Eun Ji Hae.


“Berkumpul bersama dengan yang lainnya di luar dan jangan


pernah berpisah dari mereka!” tegasnya sekali lagi.


“Aku akan pergi menyusul Nhea ke gedung utama,” finalnya.


Eun Ji Hae langsung pergi setelah menyelesaikan


perkataannya. Bahkan gadis itu kelihatannya sedang tidak membutuhkan respon


atau jawaban sama sekali. Apa lagi penolakan serta bantahan. Ia jelas-jelas


akan menolak hal tersebut.


“Apakah kita harus pergi sekarang?” tanya Oliver.


“Menurutmu?” tanya Jongdae balik.

__ADS_1


“Tentu saja kita harus pergi dari sini!” tukasnya.


“Tapi, bagaimana dengan Nhea?” tanya gadis itu lagi.


“Kakak Ji akan membereskan semua masalahnya. Jadi tidak


perlu merasa cemas lagi,” jelas Jongdae.


“Ku harap juga begitu,” ucap Oliver dengan pasrah.


Gadis itu menghela napasnya dengan kasar. Sebenarnya ia


ingin membantu. Setidaknya mencoba untuk melakukan sesuatu yang bisa


meringankan keadaan. Tapi ia tahu jika Eun Ji Hae sama sekalit idak menerima


penolakan.


“Ayo!” ajak Jongdae.


Oliver hanya mengangguk pasrah dan mengiyakan perkataan


kakaknya barusan. Lagi pula dengan tetap berada di sini tidak akan menjamin apa


pun. Termasuk keselamatan Nhea. Mereka telah mempercayakan semuanya kepada Eun


Ji Hae. Gadis itu pasti akan melakukan yang terbaik. Dia selalu bersikap


perfeksionis saat melakukan sesuatu.


***


Kini hanya tersisa Nhea dan juga Eun Ji Hae yang masih


berkeliaran di tempat ini. Sesuai dengan janjinya tadi, bahwa Eun Ji Hae tidak


akan pernah pergi sebelum meenukan Nhea. ia harus keluar bersama dengan gadis


itu. Sekarang ia sedang menuju ke gedung utama. Eun Ji Hae terus mempercepat


langkahnya secara bertahap. Dengan begitu, ia bisa sampai di sana dengan tepat


waktu. Sambil sesekali ia mendumal entah kepada siapa.


Eun Ji Hae menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu


masuk yang sudah terbuka sejak awal. Tapi, ia sama sekali tidak menemukan Nhea


di sana. tidak perlu berkeliling untuk mencarinya. Tidak ada sekat pemisah


ruangan di lantai pertama. Karena tempat ini hanya dimanfaatkan sebagai ruang


makan saja.


“Dia pasti ada di lantai atas,” gumam Eun Ji Hae dengan


napas yang memburu.


Gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia


beralih ke tangga penghubung lantai dasar dengan lantai di atasnya. Sambil sesekal


ia juga masih tetap mengawasi ruangan ini untuk memastikan jika semuanya


aman-aman saja.


Lantai dua adalah kamar tidur para staff serta gudang tempat


pnyimpanan makanan. Eun Ji Hae telah mondar-mandir untuk memeriksa ruangannya


satu-persatu. Tapi hasilnya nihil. Ia bahkan tidak bisa menemukan Nhea setelah


melakukan pengecekan. Apakah Eun Ji Hae yang kurang teliti atau bagaimana.


“pasti dia ada di lantai tiga,” simpulnya.


Lantai tiga merupakan tempat terakhir yang bisa ia periksa. Hanya


ada kamar-kamar anggota keluarga di sana. Tidak terlalu banyak ruangan jika

__ADS_1


dibangdingkan dengan lantai dua.


__ADS_2