
Tidak ada tanda-tanda sama sekali
yang menunjukkan jika mereka akan diminta untuk membuat sebuah kelompok. Sepertinya
mereka tidak bisa mempercayai perkataan Jongdae terlebih dahulu. Karena pada
kenyataannya, perkataan pria itu tidak selamanya benar. Bisa saja guru yang
sama telah menerapkan dua prinsip berbeda pada kelas yang berbeda pula. Tidak ada
yang bisa membaca apa isi pikirannya. Mereka semua hanya menebak.
“Menurutmu, apa yang paling menarik
dalam pelajaran kali ini?” tanya Jongdae dengan sedikit berbisik.
Ia tidak boleh menciptakan keributan
sekecil apa pun. Suasana kelas harus tetap kondusif. Ketua kelas biasanya
menjadi orang yang dicontoh oleh semua orang di sekitarnya.
“Apa itu?” tanya Nhea balik.
“Kita sudah mempelajari materi ini
lebih awal dari siapa pun,” ungkap Jongdae secara terang-terangan.
Gadis itu mengerjap beberapa kali
sambil berusaha untuk mencerna setiap kata yang terlontar keluar dari mulut
Jongdae. Ia perlu memahaminya baik-baik. Tidak boleh sampai salah paham.
“Seharusnya kita sama sekali tidak
belajar tentang cara membuat bola apa di kelas ini sekarang,” beber Jongdae.
“Hal tersebut baru akan diajarkan ke
kita pada saat kita memasuki tahun terakhir,” lanjutnya kemudian.
Setelah dipikir-pikir kembali, apa
yang dikatakan oleh pria ini ada benarnya juga. Bagaimana bisa Nhea sama sekali
tidk kepikiran soal hal tersebut. Jika dilihat berdasarkan kurikulum yang
sedang mereka gunakan untuk tahun ajaran kali ini, topik tersebut tidak akan
diajarkan. Bahkan subjeknya saja tidak tercantum di dalam daftar.
Nhea buru-buru mengecek kalender
akademiknya untuk memastikan hal tersebut. Biasanya mereka akan diberikan satu
kalender akademik yang tidak terlalu tebal. Cukup untuk memuat seluruh
informasih penting yang akan dilakukan selama satu tahun ajaran.
“Kau benar,” gumam gadis itu.
“Sudah kubilang sejak awal,” kata
Jongdae.
Beberapa saat kemudian, gadis itu
kembali menutup kalender akademiknya. Ia tidak lagi berurusan dengan hal
tersebut sekarang. Tidak sama sekali.
Nhea memerlukan penjelasan lebih
lanjut dari pria itu. Bagaimana ia bisa tahu tentang semuanya. Bahkan bisa
dikatakan jika Jongdae termasuk kepada salah satu orang yang paling peka di
antara semua orang. Jongdae menjadi satu-satunya orang yang menyadari perihal
tersebut, ketika semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.
“Menurutmu, kenapa kita harus
__ADS_1
mempelajari topik itu sekarang?” tanya Jongdae.
“Bukankah itu masih terlalu cepat
untuk ukuran siswa seperti kita?” lanjutnya kemudian.
Jika dilihat dari nada bicaranya,
pria itu sepertinya tidak sedang benar-benar bertanya. Jongdae bukan tidak tahu
sama sekali tentang jawaban dari pertanyaannya tersebut. Jelas ia tahu. Pria itu
hanya ingin mencari tahu seperti apa pendapat orang lain tentang pertanyaannya
barusan.
Alih-alih bertanya, pria itu malah
terasa seperti sedang mengumpulkan pendapat semua orang. Kemudian ia bisa
membuat sebuah kesimpulan baru dari sana untuk memperkuat argumennya.
“Pasti ada satu alasan khusus kenapa
mereka mempercepat pelajaran kita,” ujar Nhea.
Mereka harus menjaga volume suaranya
saat sedang berbicara di dalam kelas seperti ini. Jangan pernah menggunakan
nada bicara normal jika tidak ingin menjadi pusat perhatian. Ringkasnya, jangan
pernah mencari masalah saat kelas sedang berlangsung.
Nhea dan Jongdae dapat dikategorikan
kepada orang-orang yang nekat. Mereka tetap berbicara di dalam kelas. Meski sudah
jelas-jelas dilarang untuk membuat keributan dalam bentuk apa pun selama jam
pelajaran berlangsung. Namun, sepertinya larangan yang satu itu sama sekali
tidak berlaku bagi keduanya. Larangan adalah sesuatu yang tidak masalah untuk
“Tentu saja ada alasan tertentu. Memangnya,
kenapa mereka mau repot-repot mencurahkan lebih banyak energi untuk mengajari
anak-anak yang masih terlalu muda untuk ini,” celoteh pria itu dengan panjang
lebar.
“Coba saja pikirkan soal yang satu
itu,” tukas Jongdae.
Sementara itu, di sisi lain Nhea
tidak langsung menanggapi pernyataan pria itu. Tampaknya, ia memang butuh waktu
lebih untuk berpikir. Bukan pekkara yang mudah untuk menganalisa. Mungkin semua
orang bisa menganalisa. Tapi, tidak semua orang bisa mengatasi permasalahan
yang sama.
Nhea memaska otaknya untuk bekerja
lebih keras dari pada biasanya. Gadis itu terus berusaha untuk memutar otak. Bagaimana
saja, asal ia bisa mendapatkan setidaknya satu solusi.
“Bagaimana? Apa kau sudah menemukan
jawabannya?” tanya Jongdae untuk memastikan.
Ia sudah tahu sejak awal jika
pertanyaannya barusan akan mendapatkan balasan berupa gelengans ingkat dari
Nhea. Mana mungkin ia bisa menemukan jawaban dalam waktu yang sesingkat itu.
Jongdae bahkan tidak memberikan waktu tambahan kepada gadis itu untuk
__ADS_1
memikirkan kembali jawaban yang sebelumnya telah ia siapkan.
“Kalau begitu, itu artinya kau
menyerah?” tanya Jongdae lagi.
Kali ini Nhea sama sekali tidak
berniat untuk menjawabnya. Ia sudah kehabisan kata-kata. Meski sebenarnya saat
ini sudah bisa dikatakan jika ia sudah menyerah. Namun, tetap saja Nhea masih
belum bisa mengakui jika dirinya telah menyerah secepat itu.
“Menyerah secepat ini? Ini bukan
Nhea yang aku tahu,” batin gadis itu di dalam hati.
Jongdae menghela napasnya dengan
panjang. Sesekali ia mengerjap. Mencoba untuk menetralisir perasaannya sendiri.
Jika boleh jujur, sebenarnya Jongdae masih kerap merasa canggung jika harus
dihadapkan dengan situasi seperti ini. Lama tidak berbincang dengan temannya
sendiri, ternyata bisa memberikan dampak yang cukup besar.
Seperti ada tembok penghalang di
antara mereka. Tidak ada yang benar-benar bebas seperti dulu. Tidak peduli
seberapa keras usaha mereka untuk memperbaiki semuanya. Keadaan tetap sama
saja. Hasilnya nihil.
Entah memang karena mereka yang
terlalu berharap, atau hanya semesta yang sedang menunda hal baik untuk datang.
“Kalau begitu mau aku beri tahu
sesuatu?” tawar Jongdae.
Nhea masih tidak habis pikir. Bagaimana
bisa pria itu memberikan tawaran untuk sebuah informasi secara cuma-cuma. Padahal
semua orang tahu jika tidak sembarang informasi bisa didapatkan dengan mudah. Beberapa
di antaranya bahkan terkesan langka. Namun, sepertinya untuk kali ini hal
tersebut sama sekali tidak berlaku bagi Jongdae.
Terkhusus untuk hari ini saja ia
sudah menyebarluaskan beberapa informasi yang bersifat semi rahasia kepada
beberapa orang. Tidak terlalu banyak jumlahnya memang. Hanya Nhea, Oliver,
Chanwo serta Jang Eunbi. Selain mereka berempat, seharusnya tidak ada orang
lain yang tahu perihal tersebut.
“Pertama-tama, aku harus memastikan
dulu jika kau sama sekali tidak keberatan untuk membagi informasi tersebut
denganku,” ujar Nhea secara gamblang.
“Untuk apa aku menawarkannya jika
tidak berniat membagikannya denganmu?” tanya Jongdae sambil tertawa jengah.
Ia sama sekali tidak mengerti dengan
jalan pikiran gadis itu. Berjaga-jaga memang tidak ada salahnya. Tapi, bukankah
kita tidak perlu berjaga-jaga sepanjang waktu? Hal tersebut hanya akan membuang
terlalu banyak tenaga.
“Ternyata kau masih menghiraukanku,”
__ADS_1
gumam Jongdae pelan.