Mooneta High School

Mooneta High School
Just Tell Me


__ADS_3

Tidak ada tanda-tanda sama sekali


yang menunjukkan jika mereka akan diminta untuk membuat sebuah kelompok. Sepertinya


mereka tidak bisa mempercayai perkataan Jongdae terlebih dahulu. Karena pada


kenyataannya, perkataan pria itu tidak selamanya benar. Bisa saja guru yang


sama telah menerapkan dua prinsip berbeda pada kelas yang berbeda pula. Tidak ada


yang bisa membaca apa isi pikirannya. Mereka semua hanya menebak.


“Menurutmu, apa yang paling menarik


dalam pelajaran kali ini?” tanya Jongdae dengan sedikit berbisik.


Ia tidak boleh menciptakan keributan


sekecil apa pun. Suasana kelas harus tetap kondusif. Ketua kelas biasanya


menjadi orang yang dicontoh oleh semua orang di sekitarnya.


“Apa itu?” tanya Nhea balik.


“Kita sudah mempelajari materi ini


lebih awal dari siapa pun,” ungkap Jongdae secara terang-terangan.


Gadis itu mengerjap beberapa kali


sambil berusaha untuk mencerna setiap kata yang terlontar keluar dari mulut


Jongdae. Ia perlu memahaminya baik-baik. Tidak boleh sampai salah paham.


“Seharusnya kita sama sekali tidak


belajar tentang cara membuat bola apa di kelas ini sekarang,” beber Jongdae.


“Hal tersebut baru akan diajarkan ke


kita pada saat kita memasuki tahun terakhir,” lanjutnya kemudian.


Setelah dipikir-pikir kembali, apa


yang dikatakan oleh pria ini ada benarnya juga. Bagaimana bisa Nhea sama sekali


tidk kepikiran soal hal tersebut. Jika dilihat berdasarkan kurikulum yang


sedang mereka gunakan untuk tahun ajaran kali ini, topik tersebut tidak akan


diajarkan. Bahkan subjeknya saja tidak tercantum di dalam daftar.


Nhea buru-buru mengecek kalender


akademiknya untuk memastikan hal tersebut. Biasanya mereka akan diberikan satu


kalender akademik yang tidak terlalu tebal. Cukup untuk memuat seluruh


informasih penting yang akan dilakukan selama satu tahun ajaran.


“Kau benar,” gumam gadis itu.


“Sudah kubilang sejak awal,” kata


Jongdae.


Beberapa saat kemudian, gadis itu


kembali menutup kalender akademiknya. Ia tidak lagi berurusan dengan hal


tersebut sekarang. Tidak sama sekali.


Nhea memerlukan penjelasan lebih


lanjut dari pria itu. Bagaimana ia bisa tahu tentang semuanya. Bahkan bisa


dikatakan jika Jongdae termasuk kepada salah satu orang yang paling peka di


antara semua orang. Jongdae menjadi satu-satunya orang yang menyadari perihal


tersebut, ketika semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.


“Menurutmu, kenapa kita harus

__ADS_1


mempelajari topik itu sekarang?” tanya Jongdae.


“Bukankah itu masih terlalu cepat


untuk ukuran siswa seperti kita?” lanjutnya kemudian.


Jika dilihat dari nada bicaranya,


pria itu sepertinya tidak sedang benar-benar bertanya. Jongdae bukan tidak tahu


sama sekali tentang jawaban dari pertanyaannya tersebut. Jelas ia tahu. Pria itu


hanya ingin mencari tahu seperti apa pendapat orang lain tentang pertanyaannya


barusan.


Alih-alih bertanya, pria itu malah


terasa seperti sedang mengumpulkan pendapat semua orang. Kemudian ia bisa


membuat sebuah kesimpulan baru dari sana untuk memperkuat argumennya.


“Pasti ada satu alasan khusus kenapa


mereka mempercepat pelajaran kita,” ujar Nhea.


Mereka harus menjaga volume suaranya


saat sedang berbicara di dalam kelas seperti ini. Jangan pernah menggunakan


nada bicara normal jika tidak ingin menjadi pusat perhatian. Ringkasnya, jangan


pernah mencari masalah saat kelas sedang berlangsung.


Nhea dan Jongdae dapat dikategorikan


kepada orang-orang yang nekat. Mereka tetap berbicara di dalam kelas. Meski sudah


jelas-jelas dilarang untuk membuat keributan dalam bentuk apa pun selama jam


pelajaran berlangsung. Namun, sepertinya larangan yang satu itu sama sekali


tidak berlaku bagi keduanya. Larangan adalah sesuatu yang tidak masalah untuk


“Tentu saja ada alasan tertentu. Memangnya,


kenapa mereka mau repot-repot mencurahkan lebih banyak energi untuk mengajari


anak-anak yang masih terlalu muda untuk ini,” celoteh pria itu dengan panjang


lebar.


“Coba saja pikirkan soal yang satu


itu,” tukas Jongdae.


Sementara itu, di sisi lain Nhea


tidak langsung menanggapi pernyataan pria itu. Tampaknya, ia memang butuh waktu


lebih untuk berpikir. Bukan pekkara yang mudah untuk menganalisa. Mungkin semua


orang bisa menganalisa. Tapi, tidak semua orang bisa mengatasi permasalahan


yang sama.


Nhea memaska otaknya untuk bekerja


lebih keras dari pada biasanya. Gadis itu terus berusaha untuk memutar otak. Bagaimana


saja, asal ia bisa mendapatkan setidaknya satu solusi.


“Bagaimana? Apa kau sudah menemukan


jawabannya?” tanya Jongdae untuk memastikan.


Ia sudah tahu sejak awal jika


pertanyaannya barusan akan mendapatkan balasan berupa gelengans ingkat dari


Nhea. Mana mungkin ia bisa menemukan jawaban dalam waktu yang sesingkat itu.


Jongdae bahkan tidak memberikan waktu tambahan kepada gadis itu untuk

__ADS_1


memikirkan kembali jawaban yang sebelumnya telah ia siapkan.


“Kalau begitu, itu artinya kau


menyerah?” tanya Jongdae lagi.


Kali ini Nhea sama sekali tidak


berniat untuk menjawabnya. Ia sudah kehabisan kata-kata. Meski sebenarnya saat


ini sudah bisa dikatakan jika ia sudah menyerah. Namun, tetap saja Nhea masih


belum bisa mengakui jika dirinya telah menyerah secepat itu.


“Menyerah secepat ini? Ini bukan


Nhea yang aku tahu,” batin gadis itu di dalam hati.


Jongdae menghela napasnya dengan


panjang. Sesekali ia mengerjap. Mencoba untuk menetralisir perasaannya sendiri.


Jika boleh jujur, sebenarnya Jongdae masih kerap merasa canggung jika harus


dihadapkan dengan situasi seperti ini. Lama tidak berbincang dengan temannya


sendiri, ternyata bisa memberikan dampak yang cukup besar.


Seperti ada tembok penghalang di


antara mereka. Tidak ada yang benar-benar bebas seperti dulu. Tidak peduli


seberapa keras usaha mereka untuk memperbaiki semuanya. Keadaan tetap sama


saja. Hasilnya nihil.


Entah memang karena mereka yang


terlalu berharap, atau hanya semesta yang sedang menunda hal baik untuk datang.


“Kalau begitu mau aku beri tahu


sesuatu?” tawar Jongdae.


Nhea masih tidak habis pikir. Bagaimana


bisa pria itu memberikan tawaran untuk sebuah informasi secara cuma-cuma. Padahal


semua orang tahu jika tidak sembarang informasi bisa didapatkan dengan mudah. Beberapa


di antaranya bahkan terkesan langka. Namun, sepertinya untuk kali ini hal


tersebut sama sekali tidak berlaku bagi Jongdae.


Terkhusus untuk hari ini saja ia


sudah menyebarluaskan beberapa informasi yang bersifat semi rahasia kepada


beberapa orang. Tidak terlalu banyak jumlahnya memang. Hanya Nhea, Oliver,


Chanwo serta Jang Eunbi. Selain mereka berempat, seharusnya tidak ada orang


lain yang tahu perihal tersebut.


“Pertama-tama, aku harus memastikan


dulu jika kau sama sekali tidak keberatan untuk membagi informasi tersebut


denganku,” ujar Nhea secara gamblang.


“Untuk apa aku menawarkannya jika


tidak berniat membagikannya denganmu?” tanya Jongdae sambil tertawa jengah.


Ia sama sekali tidak mengerti dengan


jalan pikiran gadis itu. Berjaga-jaga memang tidak ada salahnya. Tapi, bukankah


kita tidak perlu berjaga-jaga sepanjang waktu? Hal tersebut hanya akan membuang


terlalu banyak tenaga.


“Ternyata kau masih menghiraukanku,”

__ADS_1


gumam Jongdae pelan.


__ADS_2