
Untungnya salju belum turun sampai detik ini. Kebetulan mereka baru saja menyelesaikan pekerjaannya untuk menyingkirkan tumpukkan salju ini dari jalanan. Sekarang area di sekitar akademi sihir Mooneta sudah bersih sepenuhnya. Mereka membersihkan semuanya hingga tampak seperti baru. Bahkan salju yang tersisa di bagian atap pun ikut dibersihkan. Untuk sementara waktu mungkin mereka tidak akan menyelenggarakan proses belajar mengajar. Semua orang sudah terlalu lelah sejauh ini. Ada banyak hal yang harus mereka bereskan belakangan ini. Kemungkinan besar liburan musim dingin di akademi sihir Mooneta akan dimulai lebih cepat dari pada biasanya.
Saat ini semua orang sudah berada di dalam ruangannya masing-masing. Mereka kembali menempati tempat itu lagi. Semuanya kembali seperti semula. Mereka berharap, ke depannya tidak akan terjadi hal-hal buruk lagi. Akhir tahun nanti adalah saat yang paling tepat untuk mengakhiri semuanya.
Mereka akan melakukan pembersihan energi lagi untuk yang kedua kalinya. Bibi Ga Eun akan memastikan jika tempat ini aman untuk dihuni semua orang. Mereka tidak akan meninggalkan tempat ini lagi. Semua orang di luar sana sama jahatnya dengan mereka. Tidak ada yang bisa dipercaya, karena pada dasarnya semua manusia memang pengkhianat. Tunggu dulu. Tidak semuanya. Hanya beberapa. Tapi, kini mereka menganggap jika semua orang sama hanya karena satu yang berbuat salah. Terkesan tidak adil memang.
Sekarang belum terlalu larut malam. Hanya saja suasana di tempat ini memang benar-benar sunyi. Seperti sudah hampir tengah malam. Tidak ada seorang pun yang tampak berkeliaran seperti biasanya. Tampaknya mereka memilih untuk tetap menetap di dalam kamarnya masing-masing sampai besok pagi. Hari ini tidak ada agenda kegiatan sama sekali. Semua orang sedang sibuk untuk memulihkan diri mereka masing-masing dari kepenatan yang terus berlarut ini.
Tidak semuanya langsung tidur begitu merebahkan diri mereka di atas permukaan kasur yang dingin karena hawa sekitar itu. Malah kebanyakan di antara mereka hanya tidur tanpa menutup mata sama sekali. Mereka belum mau terlelap meski merasa lelah.
Beberapa hari lagi bulan Desember akan berakhir. Tapi tidak dengan musim dingin. Mereka akan melewati malam pergantian tahun dengan situasi seperti ini. Anak-anak itu sudah cukup terbiasa dengan suasana musim dingin yang lebih identik dengan rasa duka dan perasaan negatif lainnya. Mereka harus bertahan. Setidaknya sampai musim dingin selesai.
“Aku akan sangat berterima kasih kepada Hwang Ji Na jika kami bertemu lagi nanti,” gumam Eun Ji Hae.
Saat ini ia sedang bermalas-malasan di dalam kamarnya. Tidak jauh berbeda dengan yang lain. Seratus persen orang yang berada di tempat ini sedang melakukan hal tersebut. Mereka sudah kehabisan terlalu banyak tenaga.
__ADS_1
“Tapi, apakah aku bisa bertemu dengannya lagi?” gumam gadis itu lagi.
Sebenarnya ia tidak begitu siap untuk melepas Hwang Ji Na dan Chanwo untuk pergi dengan begitu saja. Ia ingin agar Hwang Ji Na menetap di tempat ini lebih lama lagi. Walaupun harus bersama si menyebalkan itu. Tapi bukannya melarang atau mencegah mereka untuk pergi, Eun Ji Hae malah membantu keduanya untuk kembali ke tempat asal mereka.
Sejauh ini dia telah melakukan yang terbaik. Dan menurutnya hal itu benar. Tapi, di sisi lain ia merasa menyesal karena telah membiarkan mereka pergi begitu saja. Padahal, Eun Ji Hae masih memerlukan mereka berdua di sini. Terutama Hwang Ji Na. Dia adalah gadis yang bisa diandalkan. Tapi, Eun Ji Hae sadar jika ia harus berdiri di atas kakinya sendiri. Dia tidak bisa mengandalkan siapa pun di dunia ini.
Eun Ji Hae menghela napasnya kasar. Membuat uap-uap sisa pernapasan itu membekas di udara. Ia memejamkan kedua matanya yang semula menatap langit-langit ruangan ini. Tadinya, ia berencana untuk tidur. Namun, mendadak Eun Ji Hae langsung mengurungkan niatnya yang satu itu begitu mendengar suara berisik dari jendela. Ada sesuatu yang sedang berusaha untuk mengusiknya.
Gadis itu berdecak sebal, kemudian bangkit dari posisinya. Ia memutar bola matanya ke arah jendela. Ia bisa melihat dengan jelas ada seseorang yang sedang duduk di sana. Bayangannya tercetak jelas di bawah sinar rembulan malam itu. Tapi siapa? Sungguh tidak masuk akal. Sudah jam berapa ini? Lagi pula bagaimana caranya sampai ke sana? Kamar Eun Ji Hae terletak pada lantai paling atas di gedung utama. Tidak mungkin mereka bisa mencapainya dengan mudah. Apalagi sampai duduk di tepi jedela yang bahkan tidak memiliki balkon sama sekali.
Dengan langkah yang penuh kehati-hatian, Eun Ji Hae mencoba untuk berjalan mendekat. Ia menghampiri jendela tersebut dengan segenap sisa nyali yang ia miliki. Eun Ji Hae sama sekali tidak percaya dengan yang namanya hantu. Dia tidak pernah bertemu dengan mahluk seperti itu seumur hidupnya. Namun, berbeda lagi ceritanya jika dengan roh. Menurutnya kedua hal itu berbeda jauh.
Tanpa pikir panjang lagi, Eun Ji Hae segera mendorong jendelanya agar terbuka. Hal itu menyebabkan sosok tersebut menghilang secara bersamaan. Bukan. Dia bukan melarikan diri. Melainkan terjatuh ke bawah karena Eun Ji Hae tidak menyisakan sedikit ruang kepadanya untuk tetep berpijak. Alhasil, dia kehilangan keseimbangan saat Eun Ji Hae mendorong jendelanya.
“AKH!!!”
__ADS_1
Terdengar suara pekikan yang tertahan dari bawah sana. Eun Ji Hae yang merasa penasaran langusng turun ke bawah. Ia melompat begitu saja dari jendela. Tenang, ia sudah menguasai tekniknya. Tidak perlu khawatir jika ia akan berakhir seperti orang itu tadi.
“Siapa kau?!” interupsi gadis itu.
“Apakah kau tidak bisa menyambut tamu dengan pantas?!” balas Chanwo yang tak ingin kalah.
“Chanwo? Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau kemari?” tanya Eun Ji Hae.
Bukannya membantu pria itu untuk bangkit, Eun Ji Hae malah menyerangnya dengan pertanyaan mendadak. Bahkan otaknya sudah tidak bisa diajak untuk bekerja sama lagi pada saat seperti ini. Bagaimana bisa ia akan menjawab semua pertanyaan tersebut.
Padahal yang ia harapkan adalah Hwang Ji Na. Kenapa malah pria itu yang datang. Apakah semesta tidak mendengar isi hatinya. Yang ia minta adalah Hwang Ji Na. Bukan pria menyebalkan ini.
“Hey! Bisakah kau bantu aku terlebih dahulu?!” cicit Chanwo sambil memegangi punggungnya.
Eun Ji Hae berdecak sebal sambil memutar bola matanya malas. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu pria itu bangkit. Sulit baginya untuk berdiri dengan normal pada saat seperti ini. Tubuhnya menghantam tanah dengan sangat keras tadi. Bahkan sampai menimbulkan suara berisik. Beruntung tidak ada seorang pun yang bangun karena ulah mereka berdua.
__ADS_1