Mooneta High School

Mooneta High School
Heart Beat


__ADS_3

Nhea berjalan masuk ke dalam kamp. Tentunya setelah mereka


menyelesaikan segala urusannya. Termasuk urusan dengan pelatih mereka. Pada akhirnya


hari ini telah selesai khusus untuk Nhea dan teman-temannya. Tapi, terkusus


bagi gadis itu hari ini sudah selesai. Tidak ada hal lain yang perlu ia


pikirkan apalagi sampai ia cemaskan. Satu-satunya hal yang membuatnya tidak


bisa tidur dengan tenang sepanjang hari adalah pertandingan panahan babak


kedua.


Beberapa hari belakangan ini dia bahkan tidak memikirkan hal


lain. Sungguh hanya pertandingan saja yang ada di otaknya. Rasanya hal yang


satu itu sudah memenuhi isi kepalanya. Tapi, hari inis emuanya sudah berakhir. Kekhawatirannya


sudah berkurang. Setidaknya ia bisa mulai kembali mengatur jam tidurnya dengan


normal setelah hari ini.


Bagaimanapun, Nhea pasti merasa cukup puas dengan perolehan


skor yang berhasil mereka cetak hari ini. Tidak ada hal lain yang jauh lebih


membuatnya bahagia hari ini selain hal tersebut. Cukup lega begitu mengetahui


mereka bisa mendapatkan skor yang jauh lebih tinggi daripada kemarin. Belum


mencapai angka sempurna memang. Tapi, hampir mendekati sempurna. Bukankah itu


suatu pencapaian yang bagus untuk ukuran pemain pemula seperti dirinya? Ia


bahkan tidak pernah belajar memanah sebelumnya. Jangankan belajar. Memegang busur


atau anak panah saja ia tidak pernah.


“Jangan pernah


meragukan dirimu sendiri. Ada banyak hal yang bisa kau lakukan. Tapi, kau tidak


pernah menyadarinya.”


Kalimat tersebut kembali terngiang di dalam kepala Nhea.


Padahal sudah berbulan-bulan yang lalu sejak kalimat tersebut pertama kali


terucap dari mulut seseorang yang tak lagi asing baginya. Entah kenapa mendadak


ia teringat. Sebelumnya Nhea sama sekali tidak pernah menyinggung permasalahan


ini sama sekali.


Bibi Ga Eun pernah mengatakan hal tersebut kepadanya. Tepat ketika


Nhea menemui wanita itu di ruangannya. Beberapa hari sebelum musim dingin tiba.


Gadis itu meminta izin untuk pergi ke rumah lama mereka dengan alasan mengambil


beberapa baju hangat yang tidak sengaja tertinggal di sana. Padahal, sebelum


pergi ia sudah memastikan jika semua barangnya sudah ia bawa.


Sudah bisa ditebak jawaban macam apa yang akan ia dapatkan. Tentu

__ADS_1


saja Bibi Ga Eun tidak akan memberikannya izin dengan semudah itu. Tidak ada


yang bsia melangkah keluar dari gerbang akademi tanpa mengantongi izin dari Bibi


Ga Eun. Dan memang bukan pekara mudah untuk mendapatkannya. Bahkan alasan yang


masuk akal saja tidak cukup.


“Mereka benar. Aku bisa melakukan sesuatu yang selama ini


kukira berada di luar batas kemampuanku,” batinnya dalam hati.


Untuk yang kesekian kalinya Nhea kembali tersenyum tipis. Hari


ini ia tampak bahagia. Meski rasa kesal, takut, marah dan energi negatif


lainnya sempat menghampiri. Tapi, kini semua itu sudah sirna. Tidak ada


apa-apanya lagi. Semua pengorbanan akan hal-hal yang perlu ia relakan sudah


terbayar lunas hari ini.


Nhea tidak akan menuntut apa pun lagi kepada siapa pun itu. Untuk


sementara waktu sepertinya ia akan merasa bangga kepada dirinya sendiri. Terlepas


dari pengumuman babak kedua. Pada tahap ini akan menentukan siapa yang akan lolos


ke babak final atau tidak. Mereka semua pasti telah melakukan persiapan yang


cukup matang dan juga bersungguh-sungguh. Karena mereka tahu jika babak ini


akan jauh lebih penting dari pada babak sebelumnya.


“Kau melakukan kerja bagus hari ini,” ucap seseorang yang


Ternyata itu adalah Chanwo. Pria ini tampak persis seperti


hantu. Ia bisa muncul dimana saja dan kapan saja. Kehadirannya yang terkesan


mendadak itu tidak jarang membuat orang lain merasa kaget. Bahkan jantung


mereka rasanya akan copot tepat pada saat itu juga.


Ini bukan pertama kalinya Nhea merasakan hal seperti itu. Dia


sudah lama ingin memberikan keluh kesahnya soal hal tersebut kepada Chanwo. Tapi,


sayangnya mereka tidak pernah memiliki waktu lebih untuk saling berbicara


antara satu sama lain.


Nhea memegangi dadanya yang terasa sakit. Bukan karena ia


menderita penyakit tertentu. Melainkan karena jantung gadis itu semakin


melemah. Seperti yang mereka tahu jika Nhea bukan lagi manusia seutuhnya. Bahkan


darah manusia yang saat ini mengalir di dalam tubuhnya saja sudah kurang dari


dua puluh lima persen dari total keseluruhan.


Ditambah saat ini Chanwo muncul secara tiba-tiba di


hadapannya. Salah satu organ penting pada diri gadis ini dipaksa untuk bekerja


jauh lebih keras dari pada biasanya.  Ia

__ADS_1


tidak bisa mengendalikannya sama sekali. Karena memang jantungnya bekerja bukan


dibawah kendali dirinya. Meski Nhea adalah sang pemiliki jantung tersebut.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Chanwo dengan nada gusar.


Ia berjalan mendekat ke arah gadis itu tanpa rasa ragu sama


sekali. Tampak jelas di wajahnya saat ini tergambar rasa panik berlebih. Bagaimanapun


juga, Nhea menjadi seperti ini setelah kedatangannya. Ia bisa saja disalahkan


oleh gadis itu jika memang Nhea tega untuk melakukannya. Chanwo juga sama


sekali tidak berniat untuk menghentikan gadis itu sebelumnya, jika ia memang


benar-benar ingin menyalahkan Chanwo.


Dengan langkah tertatih namun pasti, ia berusaha untuk menuntun


langkah gadis itu. Membawanya ke tepi. Apa pun akan ia lakukan untuk membuat


kondisi Nhea kembali seperti semula. Selama hukum tidak ada yang tidak mungkin


di dunia ini masih diterapkan, kenapa ia tidak terus berusaha. Tak ada salahnya


untuk terus mencoba, meski ia tidak akan tahu akan bagaimana hasilnya nanti.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Chanwo untuk memastikan.


“Mau aku ambilkan air minum?” tawarnya.


Belum sempat Nhea menjawab pertanyaan yang sebelumnya, pria


itu sudah melemparkan satu pertanyaan lagi. Kini mau tak mau ia harus menjawab


keduanya.


“Tidak perlu sama sekali. Lagipula aku tidak kenapa-kenapa,”


dalih Nhea.


Tapi, tetap saja ia tidak bisa berbohong dengan kondisinya


yang saat ini. Bagaimana bisa ia mengatakan jika dirinya baik-baik saja.


Padahal sudah jelas jika ia sama sekali tidak baik-baik saja. Tidak ada yang


terlihat baik darinya saat ini. Nhea sungguh kacau.


Tanpa pikir panjang lagi, Chanwo segera beranjak dari tempat duduknya ketika


dirasa Nhea sudah mulai aman. Pria itu bergegas untuk mengambil segelas air


minum. Apa pun ceritanya saat ini, Nhea sungguh membutuhkan hal sepele itu.


Chanwo bahkan memberikan bantuan tanpa menawarkannya


terlebih dahulu. Dan yang kedua, dia tidak akan menerima penolakan sama sekali.


Kondisi Nhea kali ini sudah tidak bisa ditoleransi. Dia sudah terlalu gawat.


Chanwo tetap harus bertanggung jawab. Akibat dirinya, Nhea menjadi seperti ini.


Meski sebenarnya Chanwo belum bisa disalahkan secara mutlak. Tapi, ia tidak bisa


merasa tenang sebelum Nhea kembali baik-baik saja. Setidaknya biarkan gadis itu

__ADS_1


kembali bernapas dengan lega seperti sebelumnya.


__ADS_2