
Nhea berjalan masuk ke dalam kamp. Tentunya setelah mereka
menyelesaikan segala urusannya. Termasuk urusan dengan pelatih mereka. Pada akhirnya
hari ini telah selesai khusus untuk Nhea dan teman-temannya. Tapi, terkusus
bagi gadis itu hari ini sudah selesai. Tidak ada hal lain yang perlu ia
pikirkan apalagi sampai ia cemaskan. Satu-satunya hal yang membuatnya tidak
bisa tidur dengan tenang sepanjang hari adalah pertandingan panahan babak
kedua.
Beberapa hari belakangan ini dia bahkan tidak memikirkan hal
lain. Sungguh hanya pertandingan saja yang ada di otaknya. Rasanya hal yang
satu itu sudah memenuhi isi kepalanya. Tapi, hari inis emuanya sudah berakhir. Kekhawatirannya
sudah berkurang. Setidaknya ia bisa mulai kembali mengatur jam tidurnya dengan
normal setelah hari ini.
Bagaimanapun, Nhea pasti merasa cukup puas dengan perolehan
skor yang berhasil mereka cetak hari ini. Tidak ada hal lain yang jauh lebih
membuatnya bahagia hari ini selain hal tersebut. Cukup lega begitu mengetahui
mereka bisa mendapatkan skor yang jauh lebih tinggi daripada kemarin. Belum
mencapai angka sempurna memang. Tapi, hampir mendekati sempurna. Bukankah itu
suatu pencapaian yang bagus untuk ukuran pemain pemula seperti dirinya? Ia
bahkan tidak pernah belajar memanah sebelumnya. Jangankan belajar. Memegang busur
atau anak panah saja ia tidak pernah.
“Jangan pernah
meragukan dirimu sendiri. Ada banyak hal yang bisa kau lakukan. Tapi, kau tidak
pernah menyadarinya.”
Kalimat tersebut kembali terngiang di dalam kepala Nhea.
Padahal sudah berbulan-bulan yang lalu sejak kalimat tersebut pertama kali
terucap dari mulut seseorang yang tak lagi asing baginya. Entah kenapa mendadak
ia teringat. Sebelumnya Nhea sama sekali tidak pernah menyinggung permasalahan
ini sama sekali.
Bibi Ga Eun pernah mengatakan hal tersebut kepadanya. Tepat ketika
Nhea menemui wanita itu di ruangannya. Beberapa hari sebelum musim dingin tiba.
Gadis itu meminta izin untuk pergi ke rumah lama mereka dengan alasan mengambil
beberapa baju hangat yang tidak sengaja tertinggal di sana. Padahal, sebelum
pergi ia sudah memastikan jika semua barangnya sudah ia bawa.
Sudah bisa ditebak jawaban macam apa yang akan ia dapatkan. Tentu
__ADS_1
saja Bibi Ga Eun tidak akan memberikannya izin dengan semudah itu. Tidak ada
yang bsia melangkah keluar dari gerbang akademi tanpa mengantongi izin dari Bibi
Ga Eun. Dan memang bukan pekara mudah untuk mendapatkannya. Bahkan alasan yang
masuk akal saja tidak cukup.
“Mereka benar. Aku bisa melakukan sesuatu yang selama ini
kukira berada di luar batas kemampuanku,” batinnya dalam hati.
Untuk yang kesekian kalinya Nhea kembali tersenyum tipis. Hari
ini ia tampak bahagia. Meski rasa kesal, takut, marah dan energi negatif
lainnya sempat menghampiri. Tapi, kini semua itu sudah sirna. Tidak ada
apa-apanya lagi. Semua pengorbanan akan hal-hal yang perlu ia relakan sudah
terbayar lunas hari ini.
Nhea tidak akan menuntut apa pun lagi kepada siapa pun itu. Untuk
sementara waktu sepertinya ia akan merasa bangga kepada dirinya sendiri. Terlepas
dari pengumuman babak kedua. Pada tahap ini akan menentukan siapa yang akan lolos
ke babak final atau tidak. Mereka semua pasti telah melakukan persiapan yang
cukup matang dan juga bersungguh-sungguh. Karena mereka tahu jika babak ini
akan jauh lebih penting dari pada babak sebelumnya.
“Kau melakukan kerja bagus hari ini,” ucap seseorang yang
Ternyata itu adalah Chanwo. Pria ini tampak persis seperti
hantu. Ia bisa muncul dimana saja dan kapan saja. Kehadirannya yang terkesan
mendadak itu tidak jarang membuat orang lain merasa kaget. Bahkan jantung
mereka rasanya akan copot tepat pada saat itu juga.
Ini bukan pertama kalinya Nhea merasakan hal seperti itu. Dia
sudah lama ingin memberikan keluh kesahnya soal hal tersebut kepada Chanwo. Tapi,
sayangnya mereka tidak pernah memiliki waktu lebih untuk saling berbicara
antara satu sama lain.
Nhea memegangi dadanya yang terasa sakit. Bukan karena ia
menderita penyakit tertentu. Melainkan karena jantung gadis itu semakin
melemah. Seperti yang mereka tahu jika Nhea bukan lagi manusia seutuhnya. Bahkan
darah manusia yang saat ini mengalir di dalam tubuhnya saja sudah kurang dari
dua puluh lima persen dari total keseluruhan.
Ditambah saat ini Chanwo muncul secara tiba-tiba di
hadapannya. Salah satu organ penting pada diri gadis ini dipaksa untuk bekerja
jauh lebih keras dari pada biasanya. Ia
__ADS_1
tidak bisa mengendalikannya sama sekali. Karena memang jantungnya bekerja bukan
dibawah kendali dirinya. Meski Nhea adalah sang pemiliki jantung tersebut.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Chanwo dengan nada gusar.
Ia berjalan mendekat ke arah gadis itu tanpa rasa ragu sama
sekali. Tampak jelas di wajahnya saat ini tergambar rasa panik berlebih. Bagaimanapun
juga, Nhea menjadi seperti ini setelah kedatangannya. Ia bisa saja disalahkan
oleh gadis itu jika memang Nhea tega untuk melakukannya. Chanwo juga sama
sekali tidak berniat untuk menghentikan gadis itu sebelumnya, jika ia memang
benar-benar ingin menyalahkan Chanwo.
Dengan langkah tertatih namun pasti, ia berusaha untuk menuntun
langkah gadis itu. Membawanya ke tepi. Apa pun akan ia lakukan untuk membuat
kondisi Nhea kembali seperti semula. Selama hukum tidak ada yang tidak mungkin
di dunia ini masih diterapkan, kenapa ia tidak terus berusaha. Tak ada salahnya
untuk terus mencoba, meski ia tidak akan tahu akan bagaimana hasilnya nanti.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Chanwo untuk memastikan.
“Mau aku ambilkan air minum?” tawarnya.
Belum sempat Nhea menjawab pertanyaan yang sebelumnya, pria
itu sudah melemparkan satu pertanyaan lagi. Kini mau tak mau ia harus menjawab
keduanya.
“Tidak perlu sama sekali. Lagipula aku tidak kenapa-kenapa,”
dalih Nhea.
Tapi, tetap saja ia tidak bisa berbohong dengan kondisinya
yang saat ini. Bagaimana bisa ia mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Padahal sudah jelas jika ia sama sekali tidak baik-baik saja. Tidak ada yang
terlihat baik darinya saat ini. Nhea sungguh kacau.
Tanpa pikir panjang lagi, Chanwo segera beranjak dari tempat duduknya ketika
dirasa Nhea sudah mulai aman. Pria itu bergegas untuk mengambil segelas air
minum. Apa pun ceritanya saat ini, Nhea sungguh membutuhkan hal sepele itu.
Chanwo bahkan memberikan bantuan tanpa menawarkannya
terlebih dahulu. Dan yang kedua, dia tidak akan menerima penolakan sama sekali.
Kondisi Nhea kali ini sudah tidak bisa ditoleransi. Dia sudah terlalu gawat.
Chanwo tetap harus bertanggung jawab. Akibat dirinya, Nhea menjadi seperti ini.
Meski sebenarnya Chanwo belum bisa disalahkan secara mutlak. Tapi, ia tidak bisa
merasa tenang sebelum Nhea kembali baik-baik saja. Setidaknya biarkan gadis itu
__ADS_1
kembali bernapas dengan lega seperti sebelumnya.