
Terbukti jika pertahanan Mooneta jauh lebih kuat dari pada Reodal. Bahkan rencana yang terkesan terburu-buru saja bisa berhasil di tangan mereka. Kali ini kalimatnya diganti. Dari yang “Tidak ada yang bisa menghentikan Do Yen Sae” berganti menjadi “Tidak ada yang bisa menghentikan Mooneta”. Sepertinya kalimat kedua jauh lebih baik dan cocok.
Do Yen Sae bukan apa-apa. Di bahkan bukan lawan yang seimbang bagi Mooneta. Mengalahkan Eun Ji Haesaja tidak bisa. Apalagi menghadai seluruh Mooneta. Do Yen Sae akan mudah dikalahkan. Bahkan satu orang saja cukup untuk menghadapinya. Ia bukan lawan yang seimbang bagi Mooneta.
Jika Mooneta asal menunjuk orang tanpa memperhatikan kemampuannya, sepertinya hal itu tidak akan berpengaruh banyak. Saat mereka mengirim siswa terlemah sekalipun untuk menghadapi gadis itu, Mooneta tetap akan menjadi pemenangnya.
Do Yen Sae tidak sekuat yang mereka bayangkan selama ini. Ia hanya bersembunyi di balik nama besar Ayah dan Ibunya. Tidak ada yang lain lagi. Buktinya, Do Yen Sae tidak bisa berbuat apa-apa jika dibiarkan sendirian seperti ini. Ia bahkan tidak bisa mengendalikan situasi. Bagaimana ia akan memimpin nanti. Mungkin Reodal tengah berada di ambang kehancuran saat ini. Jika akademi ini tetap dipimpim oleh Do Yen Sae selama beberapa tahun ke depan.
Meskipun Ayahnya dan keluarganya yang lain memiliki watak yang sama saja dengan Do Yen Sae, tapi setidaknya ia bisa memimpin Reodal dengan baik sejauh ini. Bahkan jauh lebih baik dari pada Do Yen Sae. Gadis itu hanya bisa mengacau. Bagaimana bisa ia menjadi pemimpin, padahal tidak tahu apa-apa. Hanya karena tidak ada kandidat lain selain dirinya, maka ia lah yang ditunjuk. Padahal Do Yen Sae sama sekali tidak memenuhi kualifikasi untuk memimpin suatu akademi.
Mungkin sejak Do Yen Sae lahir, keluarganya memang berencana untuk tidak memiliki keturunan lagi. Dengan status anak tunggal yang disandang oleh gadis itu sejak lahir, semua terasa mudah baginya. Seolah semesta telah mengatur semuanya dengan sedemikian rupa. Ia menjadikan Do Yen Sae sebagai pusat dari semesta. Semua keinginannya selalu terwujud. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat. Mungkin oleh sebab itu pula Do Yen Sae menjadi anak yang manja. Ia memang tidak mau bergantung dan mengandalkan orang lain. Tapi, itu semua terkecuali dari kedua orang tuanya. Tidak bisa dipungkiri jika Do Yen Sae akan selalu membutuhkan mereka. Gadis ini tak kenal dengan yang namanya persaingan. Dia tidak pernah merasakan hal tersebut sejak masih kecil hingga saat ini. Kehidupan di akademi, harta dan kekuasaan orang tuanya berhasil membuat gadis itu terlena. Do Yen Sae sampai lupa jika harus berjuang sendiri.
***
__ADS_1
Sudah tiga jam berlalu sejak pertama kali mereka meninggalkan akademi sihir Reodal. Mulai saat ini, mereka berjanji untuk tidak menginjakkan kaki di tempat terkutuk itu. Sekarang Eun Ji Hae dan yang lainnya sudah menempuh hampir sejauh tiga perempat perjalanan. Semua orang sepakat jika mereka akan kembali ke Mooneta. Saat ini mereka hanya bisa berharap agar tempat itu sedang tidak mengalami hujan salju saat mereka sampai di sana nanti.
Sekarang sudah tiga jam berlalu sejak anak-anak Mooneta menyebar ramuan. Seharusnya seluruh Reodal sudah kembali tersadar sekarang. Tempat itu akan kembali hidup setelah terjebak dalam mati suri. Sebenarnya akan jauh lebih baik jika mereka sekalian tidak usah bangun untuk selama-lamanya. Dengan begitu berarti jika Reodal akan musnah. Tidak akan ada lagi pengacau yang serupa. Setidaknya mereka telah berperan dalam rangka mengurangi orang-orang jahat di muka bumi ini. Mereka memang pantas untuk enyah dari semesta.
Tapi, di sisi lain Bibi Ga Eun dan yang lainnya masih memiliki rasa kemanusiaan. Mereka tidak akan mungkin menjelma menjadi pembunuh berdarah dingin hanya karena satu orang saja. Bagaimanapun juga, Do Yen Sae adalah biang keroknya di sini. Hanya dia orang yang pantas untuk menerima semua itu. Ada harga setimpal yang harus ia bayar atas semua perbuatannya selama ini.
Tidak semua siswa Mooneta bisa dipukul rata. Mereka semua juga manusia. Pasti memiliki sikap yang berbeda-beda. Tidak ada yang bisa disama-ratakan begitu saja. Setidaknya harus ada satu orang baik yang hidup di antara mereka. Bibi Ga Eun tahu itu.
“Siapapun, bukakan pintu ini untukku!” teriak Do Yen Sae dari dalam ruangan.
Gadis itu sudah berteriak sejak tadi, tapi tidak ada respon sama sekali. Mungkin memang tidak ada yang melintas di depan ruangannya pada saat itu. Semua orang sudah tekena obet tertidur. Tidak ada yang bisa mendengar teriakannya tentu saja.
Tidak peduli seberapa keras ia telah mencoba, hasilnya tetap saja nihil. Bahkan sudah lebih dari tiga jam ia berteriak seperti ini. Suaranya hampir habis. Tenggorokannya sudah kering. Jika ia terus-tersan bersikap seperti ini, maka pita suaranya bisa rusak. Bagaimana bisa Do Yen Sae tidak memperhatikan hal seperti itu.
__ADS_1
Do Yen Sae menyandarkan tubuhnya di balik pintu kayu jati sambil memeluk kakinya erat-erat. Sesekali ia mencoba untuk mengetuk pintu dengan tenaga yang seadanya. Ia tidak bisa memaksa. Mau bagaimanapun juga, Do Yen Sae sudah kehilangan banyak tenaga akibat hal tersebut.
Sejak kemarin malam ia sudah terkurung di sini. Do Yen Sae mulai kehabisan akal. Dia sudah pasrah jika memang harus berakhir di tempat seperti ini.
“Siapa pun, tolong keluarkan aku dari sini,” lirihnya.
Do Yen Sae nyaris tidak bisa berkutik. Ia tak habis pikir jika anak-anak dari Mooneta itu cukup hebat juga. Mereka bisa mengalahkan orang sepertinya. Padahal Do Yen Sae bukan apa-apa dimata Eun Ji Hae dan yang lainnya. Ia hanya merasa dirinya yang paling hebat. Padahal ia belum cukup hebat. Bahkan ia tidak termasuk ke dalam kriteria tersebut.
Untuk pertama kalinya Do Yen Sae merasa ingin menyerah. Sudah tidak ada harapan. Dewi Fortuna sedang tidak memihak kepadanya lagi pada saat ini.
“Siapa yang telah melakukan ini padaku?!” geram Do Yen Sae.
Suaranya memang pelan, karena ia nyaris kehilangan seluruh suaranya. Namun, ia berhasil mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh penekanan.
__ADS_1