
Mereka menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk memilih
sebuah sepatu saja. Beruntung Nhea dan Oliver tidak sampai telat untuk kembali
ke akademi. Jika tidak pasti mereka sudah habis. Tidak peduli dengan status
Nhea sebagai anggota keluarga. Apalagi Oliver yang hanya menjabat sebagai ketua
asrama saja. Tidak ada perlakuan istimewa di sini. Yang salah tetaplah salah.
Bahkan Bibi Ga Eun saja pernah mengutuk Eun Ji Hae menjadi patung phoenix
beberapa tahun yang lalu. Kesalahannya pasti cukup berat sehingga tidak bisa
ditoleransi lagi.
“Lain kali jika ada
waktu dan kesempatan, berkunjunglah lagi ke sini. Aku akan memperlakukan kalian
dengan baik.”
Lagi-lagi perkataan Paman Johnson kembali terngiang di dalam
telinganya. Seolah-olah pria itu tengah berada di sini bersama mereka.
Ini adalah pertama kalinya bagi Nhea dan juga Oliver bertemu
dengan kakak seniornya. Pendahulu lebih tepatnya. Selama ini yang bisa mereka
jumpai hanya Eun Ji Hae. Tapi, ternyata masih ada satu lagi. Paman Johnson
bahkan jauh lebih tua dari pada Eun Ji Hae. Dia adalah angkatan pertama dari
akademi ini. Sementara Eun Ji Hae merupakan angkatan ke enam. Bisa dipastikan
jika perbedaan usia mereka saat ini cukup jauh.
Tapi, kabarnya ada beberapa teman seangkatan Paman Johnson
yang juga mengambi untuk akademi. Salah satunya adalah petinggi akademi sihir
Mooneta. Bu Yeon. Sejauh ini hanya ada dua orang dari angkatan pertama yang
tersisa yang mereka ketahui. Selebihnya gugur pada saat perang rutin musim
dingin bersama Ify. Sisanya tidak tahu entah kemana. Mereka memilih untuk
melepaskan segala ikatan dengan akademi setelah lulus. Termasuk Paman Johnson.
“Hari ini menu makanan kita enak semua,” gumam Oliver sambil
memperhatikan makanan yang tersaji di depannya saat ini.
Seperti yang mereka tahu. Aturannya tidak ada yang boleh
makan sebelum semua orang duduk di kursinya masing-masing. Begitu cara akademi
sihir Mooneta menanamkan rasa kekeluargaan pada setiap anggotanya.
“Sepertinya aku tahu kenapa mereka memperlakukan kita dengan
cara yang begitu baik hari ini,” ungkapnya.
“Kenapa?” tanya Nhea sembari mengerutkan dahinya.
“Ayolah! Aku yakin kau juga pasti tahu,” protes Oliver.
Yang benar saja. Selama ini ia mengira jika mereka berdua
telah sepemikiran. Tapi, ternyata tidak begitu. Nhea bahkan sama sekali tidak
tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis ini sekarang.
__ADS_1
Gadis itu berdecak sebal sebelum mulai berkata, “Kau sungguh
tidak tahu?”
Nhea lagi-lagi hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Entah
sudah berapa kali ia melakukan hal serupa dalam hari ini. Yang jelas sudah
banyak. Meski tidak ada yang berniat untuk menghitungnya. Padahal sekarang baru saja masuk jam makan
siang. Masih ada beberapa jam lagi sebelum hari ini benar-benar usai.
“Apa kau lupa jika besok kita akan berkompetisi?!” ucap Oliver
dengan penuh penekanan. Itu adalah cara lain untuk memperjelas suaranya tanpa
perlu berteriak seperti biasa.
“Tentu tidak! Bagaimana aku bisa lupa memangnya?” balas
gadis itu dengan acuh tak acuh.
Oliver menghela napasnya dengan kasar. Berusaha untuk
meningkatkan rasa sabarnya menuju level maksimal. Nhea sungguh menguji
kesabarannya kali ini. Untung saja gadis itu merupakan temannya. Jika tidak
mungkin Oliver sudah melakukan sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh dia
sebelumnya.
“Mereka pasti memberikan makanan enak ini kepada kita agar
para siswa menjadi semangat saat pertandingan besok,” bisik Oliver dengan penuh
penekanan.
harus diwaspadai di sini. Meski tidak ada yang terlihat mencurigakan sama
sekali. Bisa saja ada orang yang diam-diam sedang memperhatikan gerak-gerik
mereka. Bahkan sampai menguping pembicaraan mereka. Itu sebabnya kenapa ia
harus terus menjaga sikap dan hati-hati saat berbicara setiap hal mengenai
akademi sihir Mooneta. Beberapa hal bisa menjadi sangat sensitif jika
dibicarakan pada saat yang tidak tepat.
“Yang kau katakan tadi cukup masuk akal,” ungkap Nhea
sembari mengangguk setuju.
Bibi Ga Eun pasti telah memerintahkan mereka semua untuk
pmemperlakukan para siswa dengan baik. Khusus untuk hari ini saja agar mereka
bahagia. Tidak boleh sampai ada siswa yang berada di dalam tekanan. Karena
bagaimanapun juga itu pasti akan mempengaruhi kesehatan serta kondisi
mentalnya. Mereka bisa tidak fokus pada saat bertanding nanti. Otomatis
hasilnya pasti tidak akan maksimal.
“Kalau begitu, aku berharap agar kita bisa dilakukan seperti
ini setiap hari,” ujar Nhea secara terang-terangan.
“Seharusnya kau mengatakan itu langsung di hadapan kakak dan
bibimu,” saran Oliver.
__ADS_1
“Kau adalah anggota keluarga. Paling tidak kau harus
menggunakan hakmu sekali seumur hidup selama tinggal di sini. Aku yakin jika suara
orang sepertimu akan didengar oleh mereka semua,” jelas gadis itu dengan
panjang lebar.
Lagi-lagi perkataan Oliver benar. Dia mampu membuat gadis
ini kembali bungkam untuk yang kesekian kalinya. Nhea kehabisan kata-kata. Isi
kepalanya mendadak buyar seketika. Bagaimana bisa seorang gadis biasa seperti
Oliver mampu mematahkan opini lawan bicaranya hanya dalam waktu hitungan detik.
Tunggu, dia bukan manusia biasa. Oliver lebih dari itu. Bahkan kemampuannya
saja sudah berada di atas Nhea setingkat lebih jauh.
“Saat ini posisiku belum sekuat itu untuk melakukan
segalanya. Paling tidak aku harus sama seperti Kakak Ji terlebih dahulu,” gumamnya.
Kebetulan Nhea dan Oliver mendapatkan antrian pertama tadi.
Jadi, tidak perlu berdiri terlalu lama di barisan untuk mendapatkan jatah
makanannya masing-masing. Sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk
berbincang di meja makan sambil menunggu yang lainnya selesai. Belum ada
separuh dari mereka yang sudah menyelesaikan antriannya. Mungkin akan memakan
waktu sepuluh sampai lima belas menit lagi.
“Omong-omong, kemana Kakak Ji?” tanya Oliver.
“Benar, kemana dia?” tanya Nhea balik.
Mereka belum ada melihatnya sama sekali sejak pertama kali
memasuki ruang jamuan makan ini. Biasanya para anggota keluarga dan petinggi
akademi selalu menjadi orang yang paling pertama masuk ke dalam tempat ini. Itu
pula sebabnya kenapa mereka selalu duduk lebih dulu dari pada yang lain. Tapi,
kali ini sedikit berbeda. Hanya Eun Ji Hae yang belum tampak di mejanya sama
sekali. Selebihnya sudah duduk dengan tenang.
“Mungkin dia masih memiliki beberapa urusan yang akan
diselesaikan,” jawab Nhea dengan tenang.
Jika diperhatikan, wajah mereka cukup tenang sejauh ini.
Jadi, tidak mungkin sampai terjadi apa-apa dengan Eun Ji Hae. Gadis itu pasti
sudah meminta izin untuk datang terlabat sebelumnya. Jika tidak, Bibi Ga Eun
atau Vallery pasti sudah akan bertindak. Tidak perlu menunggu lama seperti ini.
“Apa kau yakin?” tanya Oliver.
“Ini bukan yang pertama kalinya dia melewatkan acara
perjamuan makan,” ungkapnya kemudian.
“Dia pasti akan datang sebentar
lagi,” balas Nhea acuh tak acuh.
__ADS_1