Mooneta High School

Mooneta High School
Back Home


__ADS_3

Mereka menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk memilih


sebuah sepatu saja. Beruntung Nhea dan Oliver tidak sampai telat untuk kembali


ke akademi. Jika tidak pasti mereka sudah habis. Tidak peduli dengan status


Nhea sebagai anggota keluarga. Apalagi Oliver yang hanya menjabat sebagai ketua


asrama saja. Tidak ada perlakuan istimewa di sini. Yang salah tetaplah salah.


Bahkan Bibi Ga Eun saja pernah mengutuk Eun Ji Hae menjadi patung phoenix


beberapa tahun yang lalu. Kesalahannya pasti cukup berat sehingga tidak bisa


ditoleransi lagi.


“Lain kali jika ada


waktu dan kesempatan, berkunjunglah lagi ke sini. Aku akan memperlakukan kalian


dengan baik.”


Lagi-lagi perkataan Paman Johnson kembali terngiang di dalam


telinganya. Seolah-olah pria itu tengah berada di sini bersama mereka.


Ini adalah pertama kalinya bagi Nhea dan juga Oliver bertemu


dengan kakak seniornya. Pendahulu lebih tepatnya. Selama ini yang bisa mereka


jumpai hanya Eun Ji Hae. Tapi, ternyata masih ada satu lagi. Paman Johnson


bahkan jauh lebih tua dari pada Eun Ji Hae. Dia adalah angkatan pertama dari


akademi ini. Sementara Eun Ji Hae merupakan angkatan ke enam. Bisa dipastikan


jika perbedaan usia mereka saat ini cukup jauh.


Tapi, kabarnya ada beberapa teman seangkatan Paman Johnson


yang juga mengambi untuk akademi. Salah satunya adalah petinggi akademi sihir


Mooneta. Bu Yeon. Sejauh ini hanya ada dua orang dari angkatan pertama yang


tersisa yang mereka ketahui. Selebihnya gugur pada saat perang rutin musim


dingin bersama Ify. Sisanya tidak tahu entah kemana. Mereka memilih untuk


melepaskan segala ikatan dengan akademi setelah lulus. Termasuk Paman Johnson.


“Hari ini menu makanan kita enak semua,” gumam Oliver sambil


memperhatikan makanan yang tersaji di depannya saat ini.


Seperti yang mereka tahu. Aturannya tidak ada yang boleh


makan sebelum semua orang duduk di kursinya masing-masing. Begitu cara akademi


sihir Mooneta menanamkan rasa kekeluargaan pada setiap anggotanya.


“Sepertinya aku tahu kenapa mereka memperlakukan kita dengan


cara yang begitu baik hari ini,” ungkapnya.


“Kenapa?” tanya Nhea sembari mengerutkan dahinya.


“Ayolah! Aku yakin kau juga pasti tahu,” protes Oliver.


Yang benar saja. Selama ini ia mengira jika mereka berdua


telah sepemikiran. Tapi, ternyata tidak begitu. Nhea bahkan sama sekali tidak


tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis ini sekarang.

__ADS_1


Gadis itu berdecak sebal sebelum mulai berkata, “Kau sungguh


tidak tahu?”


Nhea lagi-lagi hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Entah


sudah berapa kali ia melakukan hal serupa dalam hari ini. Yang jelas sudah


banyak. Meski tidak ada yang berniat untuk menghitungnya.  Padahal sekarang baru saja masuk jam makan


siang. Masih ada beberapa jam lagi sebelum hari ini benar-benar usai.


“Apa kau lupa jika besok kita akan berkompetisi?!” ucap Oliver


dengan penuh penekanan. Itu adalah cara lain untuk memperjelas suaranya tanpa


perlu berteriak seperti biasa.


“Tentu tidak! Bagaimana aku bisa lupa memangnya?” balas


gadis itu dengan acuh tak acuh.


Oliver menghela napasnya dengan kasar. Berusaha untuk


meningkatkan rasa sabarnya menuju level maksimal. Nhea sungguh menguji


kesabarannya kali ini. Untung saja gadis itu merupakan temannya. Jika tidak


mungkin Oliver sudah melakukan sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh dia


sebelumnya.


“Mereka pasti memberikan makanan enak ini kepada kita agar


para siswa menjadi semangat saat pertandingan besok,” bisik Oliver dengan penuh


penekanan.


harus diwaspadai di sini. Meski tidak ada yang terlihat mencurigakan sama


sekali. Bisa saja ada orang yang diam-diam sedang memperhatikan gerak-gerik


mereka. Bahkan sampai menguping pembicaraan mereka. Itu sebabnya kenapa ia


harus terus menjaga sikap dan hati-hati saat berbicara setiap hal mengenai


akademi sihir Mooneta. Beberapa hal bisa menjadi sangat sensitif jika


dibicarakan pada saat yang tidak tepat.


“Yang kau katakan tadi cukup masuk akal,” ungkap Nhea


sembari mengangguk setuju.


Bibi Ga Eun pasti telah memerintahkan mereka semua untuk


pmemperlakukan para siswa dengan baik. Khusus untuk hari ini saja agar mereka


bahagia. Tidak boleh sampai ada siswa yang berada di dalam tekanan. Karena


bagaimanapun juga itu pasti akan mempengaruhi kesehatan serta kondisi


mentalnya. Mereka bisa tidak fokus pada saat bertanding nanti. Otomatis


hasilnya pasti tidak akan maksimal.


“Kalau begitu, aku berharap agar kita bisa dilakukan seperti


ini setiap hari,” ujar Nhea secara terang-terangan.


“Seharusnya kau mengatakan itu langsung di hadapan kakak dan


bibimu,” saran Oliver.

__ADS_1


“Kau adalah anggota keluarga. Paling tidak kau harus


menggunakan hakmu sekali seumur hidup selama tinggal di sini. Aku yakin jika suara


orang sepertimu akan didengar oleh mereka semua,” jelas gadis itu dengan


panjang lebar.


Lagi-lagi perkataan Oliver benar. Dia mampu membuat gadis


ini kembali bungkam untuk yang kesekian kalinya. Nhea kehabisan kata-kata. Isi


kepalanya mendadak buyar seketika. Bagaimana bisa seorang gadis biasa seperti


Oliver mampu mematahkan opini lawan bicaranya hanya dalam waktu hitungan detik.


Tunggu, dia bukan manusia biasa. Oliver lebih dari itu. Bahkan kemampuannya


saja sudah berada di atas Nhea setingkat lebih jauh.


“Saat ini posisiku belum sekuat itu untuk melakukan


segalanya. Paling tidak aku harus sama seperti Kakak Ji terlebih dahulu,” gumamnya.


Kebetulan Nhea dan Oliver mendapatkan antrian pertama tadi.


Jadi, tidak perlu berdiri terlalu lama di barisan untuk mendapatkan jatah


makanannya masing-masing. Sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk


berbincang di meja makan sambil menunggu yang lainnya selesai. Belum ada


separuh dari mereka yang sudah menyelesaikan antriannya. Mungkin akan memakan


waktu sepuluh sampai lima belas menit lagi.


“Omong-omong, kemana Kakak Ji?” tanya Oliver.


“Benar, kemana dia?” tanya Nhea balik.


Mereka belum ada melihatnya sama sekali sejak pertama kali


memasuki ruang jamuan makan ini. Biasanya para anggota keluarga dan petinggi


akademi selalu menjadi orang yang paling pertama masuk ke dalam tempat ini. Itu


pula sebabnya kenapa mereka selalu duduk lebih dulu dari pada yang lain. Tapi,


kali ini sedikit berbeda. Hanya Eun Ji Hae yang belum tampak di mejanya sama


sekali. Selebihnya sudah duduk dengan tenang.


“Mungkin dia masih memiliki beberapa urusan yang akan


diselesaikan,” jawab Nhea dengan tenang.


Jika diperhatikan, wajah mereka cukup tenang sejauh ini.


Jadi, tidak mungkin sampai terjadi apa-apa dengan Eun Ji Hae. Gadis itu pasti


sudah meminta izin untuk datang terlabat sebelumnya. Jika tidak, Bibi Ga Eun


atau Vallery pasti sudah akan bertindak. Tidak perlu menunggu lama seperti ini.


“Apa kau yakin?” tanya Oliver.


“Ini bukan yang pertama kalinya dia melewatkan acara


perjamuan makan,” ungkapnya kemudian.


“Dia pasti akan datang sebentar


lagi,” balas Nhea acuh tak acuh.

__ADS_1


__ADS_2