
Rapat darurat yang baru saja diselenggarakan tadi sama
sekali tidak berarti apa-apa. Tidak ada satu kesimpulan yang bisa diambil.
Apalagi jalan keluar. Tidak ada yang bisa diharapkan untuk saat ini. Semua
orang juga sedang kebingungan sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini. salju
terus turun tanpa henti sejak beberapa jam terakhir. Membuat pelataran dan atap
penuh dengan salju yang kian menebal. Tidak ada yang berani keluar untuk
membersihkan semuanya. Atau paling tidak hanya sekedar menyingkirkan gumpalan
es putih itu dari jalanan utama.
Mereka masih khawatir jika itu benar salju abadi. Kabarnya,
mereka yang berani menyentuh salju tersebut secara sadar maupun tidak, akan
membeku. Pasalnya ini bukan salju biasa. Melainkan salju abadi yang hanya akan
turun dalam jangka waktu seribu tahun sekali.
Salju ini merupakan kutukan yang memiliki kekuatam magisnya
tersendiri. Awal mula salju ini bisa terjadi adalah karena ada pembunuhan
seorang ratu pada yang terjadi tepat pada musim dingin pertama di kerajaan
tersebut. Menurut cerita yang beredar, ratu marah kepada orang yang
membunuhnya. Ia sebenarnya masih hidup hingga saat ini. Wanita pemimpin itu
menjelma menjadi salju yang turun dari langit. Jiwanya kembali bersih seputih
salju setelah kematiannya.
Dewi memberikan wanita tersbut izin untuk kembali ke bumi
selama seribu tahun sekali dalam wujud salju. Untuk membalaskan dendamnya
kepada si pembunuh. Oleh sebab itu salju yang ini bisa membekukan apa saja yang
berada di sekitarnya. Baik itu benda hidup maupun benda mati. Semuanya sama
saja di mata wanita itu.
Meski ratu digambarkan sebagai salju putih, bukan berarti
arwahnya baik. Dia hanya mengalami proses pensucian di alam sana. Sehingga
jiwanya bisa seputih salju. Sama seperti jiwa seorang bayi yang baru terlahir
ke dunia. Tapi sejarah tetap saja mengganggapnya sebagai wanita yang penuh
amarah dan dendam. Dia masih di cap sebagai roh jahat sampai sekarang. Itu
sebabnya kenapa semua orang dilarang pergi keluar pada saat seperti ini.
Nhea mendengarkan semua cerita itu dari Oliver. Gadis itu
cukup ahli dalam hampir seluruh mata pelajaran. Ia menguasasi semuanya. Entah
terbuat dari apa otak gadis yang satu itu.
Setelah mendengar cerita soal salju abadi dari gadis itu,
Nhea merasa tidak baik-baik saja. Perasaannya mendadak berubah drastis. Ia
cemas tak karuan. Tapi masih bisa mengendalikan dirinya sendiri. Rasanya
benar-benar aneh. Semua rasa bercampur aduk menjadi satu. Sehingga ia tidak
bisa mendeskripsikan semuanya hanya dengan kata-kata saja.
Nhea berjalan dengan tatapan kosong menuju kasurnya. Seperti
yang semua orang tahu jika Oliver dan Nhea berbagi ruangan. Nhea masih enggak
untuk tinggal di gedung utama dan mengakui dirinya sendiri sebagai salah satu
anggota keluarga. Gadis itu merobohkan dirinya begitu saja di atas kasur. Kini
tatapannya lurus mengarah ke luar jendela. Menyaksikan setiap butiran salju
yang terus menerus turun tanpa henti dari langit. Seolah sedang berusaha untuk
memenuhi setiap celah yang berada di tempat ini. Jika saljunya terus-menerus
turun, tidak bisa dibayangkan akan seperti apa tempat ini nanti. Mungkin
Sekolah Mooneta akan terkubur salju. Kejadian langka ini akan menjadi bagian
__ADS_1
baru dalam pelajaran sejarah.
“Menurutmu, apa kita akan selamat?” tanya Nhea secara
gamblang.
“Kenapa kau berkata seperti itu?” tanya gadis itu balik.
“Jawab saja pertanyaanku!” seru Nhea.
Mendengar nada bicara gadis itu yang terdengar berbeda dari
biasanya, membuat Oliver terdiam sejenak. Entah apa yang ia pikirkan. Dia hanya
kebingungan dengan sikap Nhea yang mendadak berubah menjadi ketus seperti ini.
“Aku juga tidak tahu kalau soal hal itu,” jawab Oliver
dengan ragu.
“Sebenarnya, aku tidak yakin jika kita akan selamat. Atau
paling tidak bertahan sampai beberapa hari ke depan,” ungkap Nhea dengan suara
bergetar.
Terdengar sulit bagi Nhea untuk mengutarakan semua
perasaannya yang ia pendam selama ini. Soal ketakutan dan kekhawatirannya.
Masalah Ify mungkin sudah selesai. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
Hanya saja, bagaimana jadinya jika berita soal salju abadi itu benar adanya.
Bagaimanapun juga, mereka harus tetap meninggalkan tempat
ini untuk menyelamatkan diri. Hanya itu satu-satunya jalan keluar yang
memungkinkan. Dari pada bertahan di tempat seperti ini tanpa persediaan yang
cukup. Mereka hanya akan berakhir tragis. Meregang nyawa akibat terkubur salju.
Sama sekali tidak lucu jika hidupnya harus berakhir dengan cara yang seperti
itu.
Nhea sendiri sebagai manusia normal, masih memiliki
menginginkan hal tersebut. Namun untuk saat ini mereka tidak bisa bertindak
dengan tergesa. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan matang-matang sebelum
membuat keputusan. Terlebih keputusan yang akan diambil saat ini adalah
keputusan besar yang menyangkut hidup banyak orang. Satu kesalahan kecil saja
bisa mengacaukan segalanya.
Jika perlahan saja belum tentu akan berjalan dengan lancar,
apalagi terburu-buru. Bisa-bisa malah berantakan dan fatal akibatnya. Ada
banyak faktor yang harus dipikirkan terlebih dahulu. Tidak bisa main asal ambil
keputusan saja. Masalahnya ini bukan lah hal sepele. Resikonya juga cukup
besar. Ini adalah pertaruhan antara hidup dengan mati. Jadi tidak bisa
sembarang.
“Jika saja ratu itu tidak dibunuh. Apakah salju abadi tetap
akan turun juga hari ini?” tanya Nhea.
“Tentu saja tidak,” cicit gadis yang tengah berbaring di
sebelahnya.
Mereka berdua terlihat merapati nasibnya masing-masing
terhadap fenomena salju abadu yang mungkin akan mengancam nyawa mereka. Tapi di
sisi lain, semua orang juga sudah terlihat pasrah dengan apa yang terjadi.
Memangnya apa yang bisa mereka lakukan saat ini. Semuanya
sudah terjadi. Tidak bisa dicegah atau bahkan diatasi sama sekali. Satu-satunya
hal yang bisa mereka lakukan adalah menghindar. Pasalnya, tidka ada seorangpun
yang bisa mengubah sejarah. Terkadang sejarah memang memiliki pengaruh besar
terhadap hal-hal apa saja yang akan terjadi di masa depan.
__ADS_1
Beberapa di antaranya mungkin terasa tidak masuk akal. Tapi
begitulah cara semesta bekerja. Ia bisa membolak-balikkan apa saja sesuai
dengan keinginannya.
“Bagaimana kalau ada seseorang yang pergi ke masa lalunya
dan mengubah alur kejadiannya,” usul Nhea.
“Lalu dengan begitu, otomatis sejarahnya akan berubah,”
lanjutnya.
Sebenarnya gadis itu hanya sedang berandai-andai. Tapi jika
dipikir-pikir, tidak ada salahnya juga jika mereka melakukan perjalanan waktu.
Melintasi portal khusus yang dibuat untuk menuju zaman itu. Portalnya akan
cukup panjang pasti. Pasalnya bukan satu atau dua tahun yang dilintasi.
Melainkan beribu-ribu tahun. Atau bahkan bisa saja lebih.
“Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini, selain
menunggu keajaiban datang,” ujar Oliver dengan nada sendu.
Ia juga sedang terlihat tidak bersemangat hari ini. Tidak
seperti biasanya.
Salju berhasil menghambat pergerakan mereka. Tidak ada yang bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Terutama aktivitas yang berada di luar ruangan. Mereka harus tetap tunduk pada peraturan yang berlaku. Lagi pula semua ini demi kebaikan mereka bersama.
Ketebalan salju sudah mencapai hampir sekitar tiga puluh senti saat ini. Cukup untuk menghalangi langkah mereka. Bahkan pintu saja sudah sulit untuk terbuka saat ini. Kecurigaan mereka mengenai salju abadi ini semakin bertambah. Asumsi nereka semakin kuat. Jika yang ada di hadapan mereka saat ini bukan salju biasa, melainkan salju abadi.
"Apa yang harus kita lakukan bi?" tanya Eun Ji Hae kepada seorang wanita yang biasa dipanggil sebagai Bibi Ga Eun itu.
"Entah lah," jawab wanita itu dengan pasrah.
Saat semua orang kembali ke kamarnya masing-masing setelah rapat tadi, termasuk Vallery dan Wilson. Eun Ji Hae bersama bibinya malah pergi ke perpustakaan. Ruangan itu memang selalu sepi. Bahkan di hari biasa sekalipun. Jarang ada orang di sana. Termasuk hari ini. Tidak ada siapapun di sana kecuali Eun Ji Hae dan Bibi Ga Eun. Hanya ada mereka berdua di sana.
Kegemaran membaca di sekolah ini cukup minim. Itu sebabnya kebanyakan buku-buku yang berada di tempat ini sudah termakan usia. Beberapa di antaranya bahkan sudah rusak dan dibuang. Padahal belun ada yang pernah menyentuhnya sama sekali.
Awalnya Eun Ji Hae sama sekali tidak ingin pergi ke tempat ini. Namun langkah kaki Bibi Ga Eun berhasil membawanua sampai ke sini. Gadis itu hanya mengikuti langkah Bibi Ga Eun dari belakang sejak keluar dari ruangan rapat tadi dan malah berakhir di tempat seperti ini. Eun Ji Hae sendiri bahkan tidak tahu kenapa dan apa yang membawa wanita paruh baya itu kemari.
Eun Ji Hae berdiri tepat di samping kaca jendela yang hampir membeku itu. Ia tidak bisa lagi melihat pemandangan yang ada di luar sana dengan jelas. Seluruh permukaan kaca telah tertutup oleh kabut. Tidak peduli seberapa sering ia menyekanya. Tetap saja asap putih itu akan kembali untuk menutupi seluruh permukaan kaca.
"Jika benar ini adalah salju abadi, maka kita harus segera pergi dari sini sebelum mati karena dikubur hidup-hidup oleh salju," celetuk Eun Ji Hae yang berniat untuk memberikan usulan.
Tapi ternyata hal tersebut tidak disambut baik oleh Bibi Ga Eun. Dia malah mendapatkan pertentangan dari wanita itu. Ternyata jalan pikiran mereka tidak sama.
"Bagaimana bisa kau akan meninggalkan tempat ini begitu saja tanpa memperjuangkannya!" protes Bibi Ga Eun tidak terima.
"Tapi, memangnya apa yang bisa kita pertahankan dari tempat ini?" balas Eun Ji Hae.
"Tidak ada bi!" tukasnya.
"Saat ini kita tengah terancam. Kita tidak bisa berkutik sama sekali!" tegas Eun Ji Hae sekali lagi.
Kalimat Eun Ji Hae tadi berhasil membuat wanita itu kehabisan kata-kata untuk menyerangnya balik. Bibi Ga Eun hanya bisa membisu. Lidahnya terasa kelu. Ia tak tahu harus berkata apa.
Apa yang dikatakan oleh gadis ini barusan ada benarnya juga. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Posisi mereka saat ini telah dibuat kalah telak oleh permainan takdir.
"Kita harus segera membawa mereka semua pindah dari tempat ini sebelum salju semakin menebal," jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.
"Kita harus melakukannya dengan secepat mungkin. Berlomba dengan waktu," timpalnya.
Kali ini Bibi Ga Eun setuju dengan perkataan Eun Ji Hae. Padahal sebelumnya mereka sempat saling berselisih pendapat. Tapi kini jalan pikiran wanita itu sudah mulai terbuka sedikit. Ia telah mulai bisa menerima kenyataanya.
Keselamatan mereka saat ini jauh lebih penting dari rasa egois yang ia miliki. Dia tidak bisa hanya memikirkan soal dirinya sendiri. Karena masalah ini menyangkut orang banyak. Dan yang terpenting adalah, nyawa mereka tengah dipertaruhkan saat ini. Perjuangan antara hidup dan mati. Hanya ada dua pilihan yang tersedia. Semua orang juga tahu jika mereka pasti memilih opsi pertama. Memangnya siapa yang tidak mau hidup.
"Kembali lah ke kamarmu sekarang!" perintah Bibi Ga Eun.
"Aku akan memperrimbangkan kembali saranmu nanti," tukasnya.
"Aku tahu jika bibi akan memilih yang terbaik untuk kita semua," ujar Eun Ji Hae.
Gadis itu telah mempercayakan segalanya kepada Bibi Ga Eun. Karena Eun Ji Hae tahu kalau bibinya itu nisa diandalkan. Dalam semua bidang, terlepas dari aspek apapun itu.
"Baiklah, aku pergi dulu!" pamit Eun Ji Hae sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah Eun Ji Hae pergi, hanya tersisa satu orang di dalamnya. Siapa lagi jika bukan Bibi Ga Eun. Dia menghabiskan waktunya di sana untuk termenung. Wanita itu duduk tertegun di depan kaca jendela yang buram. Pandangannya terasa kosong. Dia menyaksikan semuanya melalui celah berbentuk persegi itu. Tentang bagaimana perlahan bangunan sekolah yang telah menjadi salah sagu bagian dari hidupnya ini sebentar lagi akan terkubur bersama semua kenangan yang ada di dalamnya.
Padahal kemarin ia baru saja mengantarkan putrinya ke tempat peristirahatan yang terakhir. Tapi hari ini malah sebuah bencana baru datang kembali. Entah kenapa dua hal buruk ini harus terjadi dalam waktu yang berdekatan. Seolah memiliki hubungan yang erat satu sama lain. Padahal setelah dipikir-pikir, tidak sama sekali. Apakah hal buruk akan menghampirinya sepanjang musim dingin. Tapi kenapa. Kenapa harus pada saat musim dingin semua kenangan itu tercipta. Selalu tepat pada musim dingin. Sehibgga kebanyakan orang di sekolah ini selau menganggap jika musim dingin adalah pertanda buruk. Setidaknya ada satu peristiwa berdarah pada musim dingin. Alam seolah tengah meminta tumbal setiap kali musim dingin datang. Mungkin kali ini mereka akan menjadi korban seleksi alam berikutnya.
Maut adalah sesuatu yang pasti dan tidak ada yang mampu mengubahnya. Semua itu telah diatur dengan sedemikian rupa. Tertulis jelas di dalam buku takdir. Setiap orang memiliki takdir yang berbeda-beda sattmu sama lainnya. Tidak semua orang harus melulu sama.
'CEKLEK!!!'
Suara itu berhasil membuat Bibi Ga Eun terperanjat kaget. Ia berhasil sadar dari lamunannya hanya dalam waktu kurang dari satu detik. Bersamaaan dengan munculnya suara tersebut, semua isi pikiran Bibi Ga Eun ikut buyar. Konsentrasinya pecah.
Bibi Ga Eun membalikkan badannya ke arah sumber suara tadi yang seharusnya berasal dari pintu. Dan yang benar saja. Ada seseorang yang masuk ke sini. Dia telah menyadari hal itu sejak awal. Hanya saja ia sama sekali tidak pernah menyangka jika Vallery lah yang akan datang kemari untuk menghampirinya.
__ADS_1