Mooneta High School

Mooneta High School
Ekspektasi


__ADS_3

Ia tidak pernah mengerti dengan silsilah keluarganya


sendiri. Bahkan, tidak ada yang pernah memberitahunya perlihal tersebut. Sejak


kecil ia tidak pernah mendapatkan penjelasan apa pun. Baik dari kedua orang


tuanya, maupun Bibi Ga Eun. Mereka semua sama saja. Bungkam bila ditanya pasal


keluarga.


Pernah sekali ia meminta Wilson dan Vallery untuk pergi ke


rumah nenek dan kakeknya saat liburan sekolah. Yang benar saja, masa sudah


hampir lima tahun ia hidup di dunia ini belum pernah berkunjung ke sana sama


sekali. Ia bahkan tidak tahu bagaimana rupa nenek dan kakeknya selama ini.


Sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa, jelas ia


menginginkan hal itu untuk terjadi. Nhea kerap kali merasa iri terhadap


teman-temannya. Mereka akan melakukan perjalanan ke rumah kakek dan neneknya di


pedesaan. Semua orang sepertinya rutin melakukan hal tersebut ketika musim


liburan tiba.


Saat ditanya soal keberadaan kakek dan neneknya, mereka jauh


lebih memilih untuk mengelak. Tidak ada penjelasan yang benar-benar bisa


menjelaskan rasa penasaran Nhea selama ini.


Beberapa hari belakangan ia sering merasa ragu. Apakah


sungguh keluarganya sama seperti apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


Nhea merupakan generasi pertama. Itu berarti posisinya jauh lebih kuat daripada


Eun Ji Hae sekali pun. Mereka menyebutnya dengan seperti itu. Tapi, di sisi


lain ia tidak pernah benar-benar tahu apa alasannya.


Untuk menjawab semua rasa penasarannya, ia memutuskan untuk


kembali berkunjung ke ruang penyimpanan lagi kali ini. Keputusannya ssudah


bulat. Tidak bisa diganggu gugat. Padahal, Nhea tidak boleh sering-sering ke


sana. Apalagi dengan cara mengendap-endap. Rencananya akan cukup beresiko.


Tidak ada yang mau bertanggung jawab atas kesalahannya jika ia sampai


tertangkap.


Meski gadis itu merupakan salah satu anggota keluarga, tapi


tetap saja ia tidak bisa keluar masuk ruang penyimpanan dengan seenaknya.


Minimal, ia harus mendapatkan izin dari Bibi Ga Eun. Tapi, untuk sekarang


rasanya hal tersebut sudah tidak terlalu penting sama sekali.


Nhea sudah memutuskan. Jika malam ini ia tetap akan pergi ke


sana. Ia akan melakukan aksinya sendirian kali ini. Tidak ada seorang pun yang


boleh mengetahuinya. Bahkan, Oliver sendiri tidak ia beri tahu. Nhea sungguh akan


mengandalkan dirinya sendiri. Jika ia sampai gagal, maka satu-satunya orang


yang berhak untuk disalahkan adalah dirinya sendiri.


“Jika kau ingin mendapatkan kebenaran, maka kau akan

__ADS_1


menemukannya di ruang penyimpanan,” gumamnya.


Semua orang tahu jelas jika tempat itu bersifat tertutup.


Pada umumnya, mereka menyimpan segala hal yang berbau rahasia di sana. Sehingga


tidak semua orang bisa tahu. Bahkan arus informasinya saja dibatasi.


Nhea harusnya merasa bersyukur. Sebab, ia termasuk kepada


orang yang beruntung. Setidaknya, akses menuju ruang penyimpanan telah terbuka


lebar untuknya. Tidak perlu usaha yang berlebihan untuk bisa sampai ke sana. Ia


bahkan tidak perlu bekerja keras seperti kebanyakan orang.


***


Mereka masih duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya.


Masih dengan tujuan yang sama pula tentunya. Pengumuman babak final menjadi


sesuatu yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang. Meski pada dasarnya di


kepala mereka pasti sudah tersimpan beberapa nama yang berpotensi untuk menjadi


kandidat.


Daripada bosan menunggu, Jongdae berinisiatif untuk


mendapatkan beberapa roti hangat untuk teman-temannya. Padahal, mereka baru


saja selesai sarapan sebelum kemari.


“Menurut kalian, siapa yang akan melaju ke babak final?”


tanya Chanwo.


“Mereka akan mengambil lima nama akademi dengan perolehan


“Lalu, mereka akan kemblai bertanding di babak final sampai


panitia berhasil mendapatkan tiga nama teratas,” lanjutnya kemudian.


“Tidak perlu cemas!” celetuk Oliver setelahnya.


Kini, gadis itu berhasil mengalihkan perhatian semua orang.


Empat pasang mata berhasil tertuju ke arahnya.


“Akademi sihir Mooneta biasanya selalu terdaftar ke dalam


kandidat tersebut,” ungkapnya secara gamblang.


“Tidakkah kalian melihat performa kita? Sejauh ini akademi


kitalah yang memimpin skornya,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


Jika dipikir-pikir, sepertinya apa yang dikatakan oleh gadis


itu ada benarnya juga. Kecil kemungkinan jika akademi sihiR Mooneta akan


tersingkir dalam babak final. Sejauh ini merekalah yang memimpin. Semua orang


tahu persis jika skor mereka yang paling tinggi di antara yang lainnya. Sudah


bisa dipastikan jika akademi sihir Mooneta akan melaju ke babak selanjutnya.


Mereka bahkan belum menemukan lawan yang benar-benar


memiliki potensi untuk mengacaukan rencana mereka. Mooneta masih menjadi yang


terbaik sampai hari ini. Kemudian disusul dengan keberadaan akademi sihir


Reodal dan juga akademi sihir Orton.

__ADS_1


“Aku juga berharap demikian,” ucap Nhea.


“Kita berhak untuk mendapatkan kemenangan,” timpal Chanwo


kemudian.


Semua orang mengangguk setuju dengan perkataan pria itu


barusan. Untuk pertama kalinya mereka semua sependapat. Biasanya tidak pernah


searah sama sekali. Hal seperti ini cukup jarang terjadi. Apalagi tidak ada di


antara mereka berlima yang mau mengalah. Semua orang memiliki keras kepala yang


sama. Tidak ada yang berbeda.


“Kemenangan, itu berarti tanggung jawab berada di pundak


kita untuk beberapa tahun ke depan,” ujar Nhea secara gamblang.


Teman-temannya yang lain tidak langsung menjawab. Mereka


saling membisu satu sama lain untuk beberapa saat. Otaknya sibuk mencerna kata-kata


yang meluncur keluar dari mulut gadis itu. Mereka tidak ingin sampai ada yang


salah paham. Lebih tepatnya, mereka tidak ingin kesalahan yang sama sampai


terulang lagi hanya karena salah paham saja.


“Orang-orang pasti berekspektasi tinggi terhadap kita,”


timpal Jang Eunbi yang kemudian ikut diangguki oleh Nhea.


Kini yang lainnya mulai tahu kemana arah percakapan yang


satu ini. Setidaknya sudah mulai ada petunjuk yang bermunculan.


“Lagipula bukankah itu memang sudah resikonya?” tanya


Jongdae.


“Orang-orang selalu menuntut orang lain untuk menjadi yang


terbaik,” lanjutnya.


Kalimat pria itu barusan sama sekali tidak salah. Apa yang


dikatakan oleh Jongdae barusan ada benarnya juga. Mereka tidak bisa memungkiri


hal tersebut sama sekali. Hukum alam memang selalu begitu. Terkadang terkesan


tidak adil, namun kita harus selalu menerimanya. Seolah tidak memiliki hal


untuk melawan sama sekali.


“Padahal, mereka bukan siapa-siapa yang berhak untuk


menuntut hal tersebut dari kita,” ujar Oliver.


“Kami bahkan sudah mengalaminya sejak pertama kali masuk ke


akademi sihir Mooneta,” beber gadis itu secara gamblang.


Tidak bisa dipungkiri, jika ia dan kakanya sudah merasakan


segala tekanan tersebut sejak awal kedatangan mereka kemari. Terlalu banyak hal


yang berhasil membuat mereka ingin menyerah. Namun, jumlahnya tidak jauh lebih


banyak dari hal baik yang membuat mereka tetap bertahan.


Dari awal, jalan ceritanya saja memang sudah tidak mudah. Semua


orang tahu betul perihal yang satu itu.

__ADS_1


__ADS_2