
Ia tidak pernah mengerti dengan silsilah keluarganya
sendiri. Bahkan, tidak ada yang pernah memberitahunya perlihal tersebut. Sejak
kecil ia tidak pernah mendapatkan penjelasan apa pun. Baik dari kedua orang
tuanya, maupun Bibi Ga Eun. Mereka semua sama saja. Bungkam bila ditanya pasal
keluarga.
Pernah sekali ia meminta Wilson dan Vallery untuk pergi ke
rumah nenek dan kakeknya saat liburan sekolah. Yang benar saja, masa sudah
hampir lima tahun ia hidup di dunia ini belum pernah berkunjung ke sana sama
sekali. Ia bahkan tidak tahu bagaimana rupa nenek dan kakeknya selama ini.
Sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa, jelas ia
menginginkan hal itu untuk terjadi. Nhea kerap kali merasa iri terhadap
teman-temannya. Mereka akan melakukan perjalanan ke rumah kakek dan neneknya di
pedesaan. Semua orang sepertinya rutin melakukan hal tersebut ketika musim
liburan tiba.
Saat ditanya soal keberadaan kakek dan neneknya, mereka jauh
lebih memilih untuk mengelak. Tidak ada penjelasan yang benar-benar bisa
menjelaskan rasa penasaran Nhea selama ini.
Beberapa hari belakangan ia sering merasa ragu. Apakah
sungguh keluarganya sama seperti apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Nhea merupakan generasi pertama. Itu berarti posisinya jauh lebih kuat daripada
Eun Ji Hae sekali pun. Mereka menyebutnya dengan seperti itu. Tapi, di sisi
lain ia tidak pernah benar-benar tahu apa alasannya.
Untuk menjawab semua rasa penasarannya, ia memutuskan untuk
kembali berkunjung ke ruang penyimpanan lagi kali ini. Keputusannya ssudah
bulat. Tidak bisa diganggu gugat. Padahal, Nhea tidak boleh sering-sering ke
sana. Apalagi dengan cara mengendap-endap. Rencananya akan cukup beresiko.
Tidak ada yang mau bertanggung jawab atas kesalahannya jika ia sampai
tertangkap.
Meski gadis itu merupakan salah satu anggota keluarga, tapi
tetap saja ia tidak bisa keluar masuk ruang penyimpanan dengan seenaknya.
Minimal, ia harus mendapatkan izin dari Bibi Ga Eun. Tapi, untuk sekarang
rasanya hal tersebut sudah tidak terlalu penting sama sekali.
Nhea sudah memutuskan. Jika malam ini ia tetap akan pergi ke
sana. Ia akan melakukan aksinya sendirian kali ini. Tidak ada seorang pun yang
boleh mengetahuinya. Bahkan, Oliver sendiri tidak ia beri tahu. Nhea sungguh akan
mengandalkan dirinya sendiri. Jika ia sampai gagal, maka satu-satunya orang
yang berhak untuk disalahkan adalah dirinya sendiri.
“Jika kau ingin mendapatkan kebenaran, maka kau akan
__ADS_1
menemukannya di ruang penyimpanan,” gumamnya.
Semua orang tahu jelas jika tempat itu bersifat tertutup.
Pada umumnya, mereka menyimpan segala hal yang berbau rahasia di sana. Sehingga
tidak semua orang bisa tahu. Bahkan arus informasinya saja dibatasi.
Nhea harusnya merasa bersyukur. Sebab, ia termasuk kepada
orang yang beruntung. Setidaknya, akses menuju ruang penyimpanan telah terbuka
lebar untuknya. Tidak perlu usaha yang berlebihan untuk bisa sampai ke sana. Ia
bahkan tidak perlu bekerja keras seperti kebanyakan orang.
***
Mereka masih duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya.
Masih dengan tujuan yang sama pula tentunya. Pengumuman babak final menjadi
sesuatu yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang. Meski pada dasarnya di
kepala mereka pasti sudah tersimpan beberapa nama yang berpotensi untuk menjadi
kandidat.
Daripada bosan menunggu, Jongdae berinisiatif untuk
mendapatkan beberapa roti hangat untuk teman-temannya. Padahal, mereka baru
saja selesai sarapan sebelum kemari.
“Menurut kalian, siapa yang akan melaju ke babak final?”
tanya Chanwo.
“Mereka akan mengambil lima nama akademi dengan perolehan
“Lalu, mereka akan kemblai bertanding di babak final sampai
panitia berhasil mendapatkan tiga nama teratas,” lanjutnya kemudian.
“Tidak perlu cemas!” celetuk Oliver setelahnya.
Kini, gadis itu berhasil mengalihkan perhatian semua orang.
Empat pasang mata berhasil tertuju ke arahnya.
“Akademi sihir Mooneta biasanya selalu terdaftar ke dalam
kandidat tersebut,” ungkapnya secara gamblang.
“Tidakkah kalian melihat performa kita? Sejauh ini akademi
kitalah yang memimpin skornya,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
Jika dipikir-pikir, sepertinya apa yang dikatakan oleh gadis
itu ada benarnya juga. Kecil kemungkinan jika akademi sihiR Mooneta akan
tersingkir dalam babak final. Sejauh ini merekalah yang memimpin. Semua orang
tahu persis jika skor mereka yang paling tinggi di antara yang lainnya. Sudah
bisa dipastikan jika akademi sihir Mooneta akan melaju ke babak selanjutnya.
Mereka bahkan belum menemukan lawan yang benar-benar
memiliki potensi untuk mengacaukan rencana mereka. Mooneta masih menjadi yang
terbaik sampai hari ini. Kemudian disusul dengan keberadaan akademi sihir
Reodal dan juga akademi sihir Orton.
__ADS_1
“Aku juga berharap demikian,” ucap Nhea.
“Kita berhak untuk mendapatkan kemenangan,” timpal Chanwo
kemudian.
Semua orang mengangguk setuju dengan perkataan pria itu
barusan. Untuk pertama kalinya mereka semua sependapat. Biasanya tidak pernah
searah sama sekali. Hal seperti ini cukup jarang terjadi. Apalagi tidak ada di
antara mereka berlima yang mau mengalah. Semua orang memiliki keras kepala yang
sama. Tidak ada yang berbeda.
“Kemenangan, itu berarti tanggung jawab berada di pundak
kita untuk beberapa tahun ke depan,” ujar Nhea secara gamblang.
Teman-temannya yang lain tidak langsung menjawab. Mereka
saling membisu satu sama lain untuk beberapa saat. Otaknya sibuk mencerna kata-kata
yang meluncur keluar dari mulut gadis itu. Mereka tidak ingin sampai ada yang
salah paham. Lebih tepatnya, mereka tidak ingin kesalahan yang sama sampai
terulang lagi hanya karena salah paham saja.
“Orang-orang pasti berekspektasi tinggi terhadap kita,”
timpal Jang Eunbi yang kemudian ikut diangguki oleh Nhea.
Kini yang lainnya mulai tahu kemana arah percakapan yang
satu ini. Setidaknya sudah mulai ada petunjuk yang bermunculan.
“Lagipula bukankah itu memang sudah resikonya?” tanya
Jongdae.
“Orang-orang selalu menuntut orang lain untuk menjadi yang
terbaik,” lanjutnya.
Kalimat pria itu barusan sama sekali tidak salah. Apa yang
dikatakan oleh Jongdae barusan ada benarnya juga. Mereka tidak bisa memungkiri
hal tersebut sama sekali. Hukum alam memang selalu begitu. Terkadang terkesan
tidak adil, namun kita harus selalu menerimanya. Seolah tidak memiliki hal
untuk melawan sama sekali.
“Padahal, mereka bukan siapa-siapa yang berhak untuk
menuntut hal tersebut dari kita,” ujar Oliver.
“Kami bahkan sudah mengalaminya sejak pertama kali masuk ke
akademi sihir Mooneta,” beber gadis itu secara gamblang.
Tidak bisa dipungkiri, jika ia dan kakanya sudah merasakan
segala tekanan tersebut sejak awal kedatangan mereka kemari. Terlalu banyak hal
yang berhasil membuat mereka ingin menyerah. Namun, jumlahnya tidak jauh lebih
banyak dari hal baik yang membuat mereka tetap bertahan.
Dari awal, jalan ceritanya saja memang sudah tidak mudah. Semua
orang tahu betul perihal yang satu itu.
__ADS_1