Mooneta High School

Mooneta High School
Insiden Jamuan Makan


__ADS_3

Mereka bukan menjadi orang yang terakhir. Melainkan berada


di barusan paling akhir. Sebenarnya, di satu sisi hal tersebut akan


menguntungkan Nhea dan juag Oliver. Antriannya sudah tidak terlalu panjang lagi


sampai ke belakang. Jadi mereka bisa langsung mengambil makanannya tanpa perlu


berlama-lama mengantri bersama yang lainnya.


Tapi meski begitu, tetap ada sisi buruk yang harus mereka


dapatkan. Saat ini tempat duduk rata-rata sudah terisi semua. Hanya tersisa


beberapa yang masih kosong. Hal stersebut membuat Nhea dan gadis itu menjadi


sedikit kesulitan saat akan mencari tempat duduk yang masih kosong. Mereka


harus bisa menemukan setidaknya satu di antara sekian banyak orang yang sudah


berkumpul di sini.


Untuk kali ini Nhea dan Oliver terpaksa harus duduk di


tempat yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh antara satu dengan yang


lainnya. Hal tersebut dikarenakan tempat duduk yang kosong memang begitu


terbatas. Jumlahnya pas. Sesuai dengan ada berapa orang di ruangan ini


sekarang. Kursi-kursi tersebut tidak pernah lebih atau pun kurang. Selalu


menyesuaikan dengan jumlah orang yang ada di dalamnya.


Banyak orang yang mengira jika hal tersebut ada kaitannya


dengan kekuatan magis. Biasanya sekolah akademi sihir selalu identic dengan


hal-hal seperti itu. Karena mereka memang selalu mempelajari sihir setiap


harinya.


Namun, sampai saat ini tidak ada seorang pun yang berhasil


mengungkap kebenarannya. Apakah itu benar-benar sihir atau memang hanya sebatas


kebetulan saja. Pasalnya, orang-orang yang bertugas di dapur dan ruang makan


sama sekali tidak pernah mengatur kursinya. Mereka hanya bertuga untuk memasak,


serta mamastikan agar ruangan ini tetap bersih seperti pertama kali dibuka.


Nhea terpaksa duduk di kursi yang bersebelahan dengan Eun Ji


Hae. Hanya tempat itu yang satu-satunya masih tersisa. Mau tak mau ia harus


duduk di sana bersama anggota keluarga yang lain. Tidak mungkin jika ia harus


makan di lantai atau di tempat lain. Padahal ia sebenarnya tidak ingin berada


di sini. Dimana saja asal tidak berhadapan dengan kedua orang tuanya. Gadis itu


masih belum bisa memaafkan mereka.


Gadis itu akan duduk di sini untuk kali ini saja. Bisa


dipastikan jika pada asaat makan siang dan makan malam nanti ia tidak akan


terlambat agar tidak perlu datang ke sini lagi. Sebenarnya kursi itu memang


sengaja dikosongkan untuk Nhea sendiri. Karena ia merupakan salah satu bagian


dari anggota keluarga. Mereka tidak boleh membiarkan salah satu dari kelaurga


mereka merasa terlantarkan begitu saja.


Bukan keluarganya yang menerlantarkan gadis itu saat ini.


Melainkan Nhea sendir hal yang sengaja tidak ingin bergabung dengan mereka semua.


Ia selalu menjaga jarak dengan keluarganya sendiri. Satu-satunya orang yang


bisa ia percayai sampai saat ini hanyalah Bibi Ga Eun. Bertahun-tahun ia


tinggal bersama wanita itu. Sehingga tidak ada keraguan lagi di dalam hatinya.


“Kenapa kau baru sampai?” tanya Eun Ji Hae.


“Aku datang terlambat tadi,” kata Nhea.


“Tentu saja kau terlambat!” balas Eun Ji Hae sembari memutar


bola matanya malas.


Nhea tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sudah kehabisan akal


saat mengahadai Eun Ji Hae. Lagi pula ia memang sama sekali tidak ingin untuk


menanggapi ucapan gadis itu barusan. Sama sekali tidak penting. Hanya sekedar


basa-basi saja.


“Apakah semua orang sudah berada di tempat duduknya


masing-masing?” tanya Bibi Ga Eun.


Mereka harus memastikan hal tersebut sekali lagi sebelum


memulai acara sarapan. Tidak boleh ada satu orang pun yang tertinggal.


Begitulah cara mereka untuk memupuk rasa kekeluargaannya. Dimulai dari hal


kecil terlebih dahulu. Terutama yang bisa didapati dalam kehiduan sehari-hari.


Kekeluargaan merupakan dasar paling penting sebelum menuju


tahap selanjutnya yang memiliki makna jauh lebih besar. Yaitu kekompakan dan


kesolidan mereka.


“Baiklah kalau semua orang sudah berada di sini, mari segera


kita mulai saraannya!” seru Bibi Ga Eun sekali lagi.


“Silahkan nikmati hidangan kalian pada pagi  hari ini!” tukasnya.


Setelah kalimat tersebut berakhir, semua orang mulai meraih


alat makannya masing-masing yang berupa sendok dan sumpit. Tanpa sepatah kata


pun lagi, semua orang mulai menyantap makananya masing-masing. Hari ini


porsinya masih sama seperti kemarin. Kurang lebih takarannya tidak jauh

__ADS_1


berbeda. Mungkin karena mereka masih mengalami krisis pangan akibat badai salju


berbahaya yang turun dengan lebat. Mereka jadi tidak bisa pergi kemana-mana


karena hal tersebut. Bahkan untuk mencari bahan makanan saja tidak bisa.


Mengingat persediaan mereka setiap harinya kian menipis. Meski telah dilakukan


upaya penghematan dengan cara pengurangan porsi makan sekali pun. hal tersebut


tidak memiliki pengaruh yang terlalu besar.


Di saat semua orang tengah sibuk menikmati hidangan yang


berada di hadapannya masing-masing, Wilson malah sibuk mengendus sesuatu.


Untungnya dia tidak melakukan hal tersebut secara berlebihan. Sehingga


orang-orang tidak menaruh rasa curiga kepadanya.


Lagi-lagi bau ini muncul dan menyapa indera penciumannya. Hal


tersebut berhasil menarik perhatian pria itu. Beberapa hari belakangan ini dia


selalu mencium bau yang sama. Dan yang pasti, bau ini juga berasal dari satu


sumber yang sama.


“Ternyata anggota klan itu masih belum pergi juga dari


tempat ini. Sebenarnya apa yang ia mau,” batinnya dalam hati.


Wilson akan memastikan jika anggota klan yang tertangkap


olehnya itu akan segera diamankan. Tidak boleh ada mahluk selain manusia biasa


yang berkeliaran di tempat ini. Keberadaan mereka di tengah-tengah sekumpulan


kaum manusia ini bisa membawa mara bahaya bagi orang-orang di sekitarnya.


Hanya mereka yang masih termasuk ke dalam kategori manusia


yang bisa masuk ke tempat ini. Oleh sebab itu diadakan seleksi terlebih dahulu


kepada setiap aclon siswa baru yang akan mendaftar. Untuk memastikan hal itu


tadi. Hanya Nhea lah satu-satunya keturunan anggota klan yang berhasil memasuki


tempat ini tanpa merasa terancam. Lagi pula gadis itu tidak sepenuhnya menjadi


anggota klan. Dia masih memiliki darah manusia yang mengalir di dalam tubuhnya,


meski tak banyak. Oleh sebab itu, bau Nhea tidak akan tercium dengan jelas di


hidung para anggota klan lainnya.


“Kenapa kau berhenti makan?” tanya Vallery.


“Apa makananya tidak enak?” sambungnya.


Wanita itu hanya ingin memastikan jika keadaan suaminya itu


baik-baik saja. Pasalnya, Wilson sering terlihat aneh beberapa hari belakangan


ini. Bukan hanya Vallery yang merasa seperti itu. Bahkan Eun Ji Hae juga tengah


merasakan hal yang sama. Mereka berdua menyadari jika ada sesuatu yang salah


dengan pria tersebut. Dia berubah menjadi aneh.


jawaban Wilson tetap sama. Ia hanya akan mengatakan tidak apa-apa. Tidak ada


hal lain yang bisa ia katakan selain yang tadi itu. Kalimat tersebut telah


menjadi jawaban andalannya tiap kali ditanyakan perihal yang sama. Padahal


mereka berharap agar pria itu setidaknya mau lebih terbuka kepada keluarganya


sendiri. Mereka bukan orang lain. Bukan orang asing. Memangnya apa masalahnya. Lagi


pula mereka tidak akan memberi tahu orang lain juga. Mereka paham jika setiap


permasalahan pribadi yang ada di sini bersifat rahasia dan tidak boleh


dipublikasi. Mereka semua sudah dewasa semua. Pasti sudah bisa membedakan mana


yang baik dan mana yang sebalikya.


***


Selama jam makan berlangsung, bau tersebut sama sekali tidak


menyingkir dari indera penciuman Wilson. Yang berarti jika anggota klan


tersebut masih berada di sana. Bahkan mungkin ikut bergabung dalam acara jamuan


makan ini. Bisa jadi anggota klan tersebut menyamar sebagai salah satu siswa di


sekolah ini.


Kecurigaan pria itu menjadi timbul seketika. Ada banyak


asumsi yang muncul di dalam kepalanya. Entah yang mana satu yang benar.


Sepertinya semua dugaan yang ada di dalam pikirannya memiliki kesempatan yang


sama untuk terjadi. Tidak ada satu pun yang bisa disalahkan. Karena setiap hal


tersebut memiliki potensi yang cukup untuk dijadikan sebagai hal yang benar.


“Jangan ada yang beranjak pergi keluar setelah selesai


makan!” perintah Wilson.


Suaranya menggema hingga ke seluruh penjuru ruangan.


Sehingga tidak ada satu orang pun yang tidak mendengar apa yang dikatakan oleh


pria ini barusan. Mendadak ia mengambil alih tempat ini. Semua anggota keluarga


terkejut, karena mereka sama sekali belum ada membicarkan soal ini sebelumnya.


Mendadak Wilson langsung mengambil keputusan secara sepihak begitu saja.


“Apa yang ayah lakukan?” tanya Eun Ji Hae.


Gadis itu sengaja berbicara dengan agak berbisik. Ia tidak


ingin percakapannya kali ini didengar oleh orang lain.


“Ada yang tidak beres di sini dan aku harus memastikannya,”


ujar  pria itu dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Sekali Wilson memberikan perintah, maka tidak ada yang bisa


membantahnya sama sekali. Tidak oeduli siapa pun itu. Bahkan termasuk anggota


keluarganya sendiri tidak ada yang berani menentangnya. Karena ia merupakan


pemimpin tertinggi dalam keluarga mereka. Wilson merupakan seorang kepala


keluarga.


Tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi kali ini. Bahkan


untuk mencegahnya sudah terlambat. Baik Vallery, Eun Ji Hae, Bibi Ga Eun dan


juga Nhea sekali pun. Mereka semua tidak ada yang bisa berkutik sama sekali.


Semua orang yang berada di tempat ini tahu persis apa yang sedang terjadi


sekarang. Jika sampai Wilson yang harus turun tangan, maka itu artinya jika


kondisi saat ini sudah gawat. Tidak ada yang bisa menanganinya lagi, hingga


pria itu terpaksa harus turun tangan seperti ini.


Semua orang bergegas untuk menyelesaikan sarapannya.


Kemudian duduk dengan rapih pada bangkunya masing-masing. Tidak ada satu pun


dari mereka yang tahu apa yang akan dilakukan oleh pria ini. Yang jelas, tidak


ada yang merasa tenang, semua orang merasa gugup. Jatungnya tidak bisa berdetak


pada tempo yang semestinya. Tidak ada yang baik-baik saja di ruangan ini.


Mereka semua mendadak merasa seperti seorang tahanan yang akan diinterogasi


oleh petugas kepolisian.


Semua rasa bercampur aduk mencjadi satu. Sehingga sulit


untuk dideskripsikan dengan kata-kata. Rasanya sebuah kalimat kompleks sekali


pun tidak akan cukup untuk mewakili semua ini.


Setelah semua orang kembali ke tempat duduknya masing-masing,


Wilson mulai beranjak dari tempat duduknya. Ia melakukan kebalikan dari semua


orang. Pria itu mulai berjalan untuk menyusuri sebuah gang kecil yang menjadi


jeda antara setiap meja yang satu dengan meja yang lainnya.


Suara langkah kakinya terdengar jelas menggema di ruangan


ini. Bahkan suara telapak sepatu yang beradu dengan permukaan lantai itu saja


mampu membuat jantung mereka jadi berdegup kencang. Tidak bisa dipungkiri jika


aura gelap dari pria itu jauh lebih mendominasi di ruangan ini. Siapa saja yang


berada di sekitarnya pasti akan langsung merasa terintimidasi.


“Sebelum aku menangkapnya dengan tanganku sendiri, lebih


baik kalian mengaku saja. Siapa yang bukan manusia di sini?” ujar Wilson.


 Sontak pertanyaan


pria itu berhasil membuat semua orang tercengang tak percaya. Memangnya siapa


yang bukan manusia di sini. Apa ada mahluk hidup selain manusia yang menyelinap


masuk ke dalam tempat ini.


Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut menolak


untuk percaya. Mereka semua merasa terkejut. Terkecuali Nhea dan juga Wilson. Mereka


telah mengetahui siapa orangnya. Dugaan gadis ini hanya mengarah kepada satu


orang. Memangnya siapa lagi jika bukan si murid baru yang bernama Chanwo itu. Selama


ini pria itu selalu bersikap aneh. Bahkan sebelum ia resmi menjadi seorang


siswa di sekolah ini. Awal kedatangannya ke tempat ini saja berhasil mengundang


ras curiga banyak orang.


Hal tersebut tidak bisa dipungkiri. Lagi pula bukan hanya


Nhea seorang diri yang merasakan keanehan pada pria itu. Bahkan Oliver, Jongdae


dan Jang Eunbi sekali pun juga mernush rasa curiga yang sama besarnya. Sampai sekarang


saja, rasa penasaran mereka sama sekali belum terjawabkan. Tidak ada seorang


pun yang bisa menjawabnya kecuali pria itu sendiri. Chanwo berhutang penjelasan


secara tidak langsung kepada mereka semua.


“Cepatlah mengaku sekarang juga!” desak Wilson sambil tetap


melangkah maju. Perlahan namun pasti, ia terus berjalan menyusuri setiap gang


kecil antar meja yang ada di sana. Menelusuri setiap tempat. Sudut terkecil di


ruangan ini saja tidak bisa luput dari pengawasan pria itu. Pandangannya mengedar


ke seluruh penjuru ruangan.


Chanwo tahu persis jika yang dimaksud oleh pria itu barusan


adalah dirinya. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Nasibnya sedang berada


di ujung tanduk. Keselamatannya sedang dipertaruhkan dalam situasi yang genting


seperti ini. Dia sudah kehabisan akal. Chanwo tidak bisa berkutik sedikit pun,


bahkan untuk membela dirinya sendiri.


Pria itu mulai tierlihat pasrah. Memang tidak seharusnya


jika ia terlibat dalam kehidupan manusia. Berada di dalam hutan adalah


keputusan yang paling tepat. Jika tahu pada akhirnya akan seperti ini, mungkin


Chanwo tidak akan pernah mengikuti jejak Eun Ji Hae dan keluar dari hutan


tersebut. Ia bahkan sudah tidak kembali lagi ke sana selama lebih dari satu


minggu. Dia sudah sampai di tempat ini tepat beberapa hari sebelum salju


pertama turun, hingga sekarang. Entah apa yang membuatnya betah untuk

__ADS_1


berlama-lama di sini. Bukan betah. Lebih tepatnya memang tidak ada cara untuk


melarikan diri dari tempat ini. Dia sudah terjebak.


__ADS_2