
Mereka bukan menjadi orang yang terakhir. Melainkan berada
di barusan paling akhir. Sebenarnya, di satu sisi hal tersebut akan
menguntungkan Nhea dan juag Oliver. Antriannya sudah tidak terlalu panjang lagi
sampai ke belakang. Jadi mereka bisa langsung mengambil makanannya tanpa perlu
berlama-lama mengantri bersama yang lainnya.
Tapi meski begitu, tetap ada sisi buruk yang harus mereka
dapatkan. Saat ini tempat duduk rata-rata sudah terisi semua. Hanya tersisa
beberapa yang masih kosong. Hal stersebut membuat Nhea dan gadis itu menjadi
sedikit kesulitan saat akan mencari tempat duduk yang masih kosong. Mereka
harus bisa menemukan setidaknya satu di antara sekian banyak orang yang sudah
berkumpul di sini.
Untuk kali ini Nhea dan Oliver terpaksa harus duduk di
tempat yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh antara satu dengan yang
lainnya. Hal tersebut dikarenakan tempat duduk yang kosong memang begitu
terbatas. Jumlahnya pas. Sesuai dengan ada berapa orang di ruangan ini
sekarang. Kursi-kursi tersebut tidak pernah lebih atau pun kurang. Selalu
menyesuaikan dengan jumlah orang yang ada di dalamnya.
Banyak orang yang mengira jika hal tersebut ada kaitannya
dengan kekuatan magis. Biasanya sekolah akademi sihir selalu identic dengan
hal-hal seperti itu. Karena mereka memang selalu mempelajari sihir setiap
harinya.
Namun, sampai saat ini tidak ada seorang pun yang berhasil
mengungkap kebenarannya. Apakah itu benar-benar sihir atau memang hanya sebatas
kebetulan saja. Pasalnya, orang-orang yang bertugas di dapur dan ruang makan
sama sekali tidak pernah mengatur kursinya. Mereka hanya bertuga untuk memasak,
serta mamastikan agar ruangan ini tetap bersih seperti pertama kali dibuka.
Nhea terpaksa duduk di kursi yang bersebelahan dengan Eun Ji
Hae. Hanya tempat itu yang satu-satunya masih tersisa. Mau tak mau ia harus
duduk di sana bersama anggota keluarga yang lain. Tidak mungkin jika ia harus
makan di lantai atau di tempat lain. Padahal ia sebenarnya tidak ingin berada
di sini. Dimana saja asal tidak berhadapan dengan kedua orang tuanya. Gadis itu
masih belum bisa memaafkan mereka.
Gadis itu akan duduk di sini untuk kali ini saja. Bisa
dipastikan jika pada asaat makan siang dan makan malam nanti ia tidak akan
terlambat agar tidak perlu datang ke sini lagi. Sebenarnya kursi itu memang
sengaja dikosongkan untuk Nhea sendiri. Karena ia merupakan salah satu bagian
dari anggota keluarga. Mereka tidak boleh membiarkan salah satu dari kelaurga
mereka merasa terlantarkan begitu saja.
Bukan keluarganya yang menerlantarkan gadis itu saat ini.
Melainkan Nhea sendir hal yang sengaja tidak ingin bergabung dengan mereka semua.
Ia selalu menjaga jarak dengan keluarganya sendiri. Satu-satunya orang yang
bisa ia percayai sampai saat ini hanyalah Bibi Ga Eun. Bertahun-tahun ia
tinggal bersama wanita itu. Sehingga tidak ada keraguan lagi di dalam hatinya.
“Kenapa kau baru sampai?” tanya Eun Ji Hae.
“Aku datang terlambat tadi,” kata Nhea.
“Tentu saja kau terlambat!” balas Eun Ji Hae sembari memutar
bola matanya malas.
Nhea tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sudah kehabisan akal
saat mengahadai Eun Ji Hae. Lagi pula ia memang sama sekali tidak ingin untuk
menanggapi ucapan gadis itu barusan. Sama sekali tidak penting. Hanya sekedar
basa-basi saja.
“Apakah semua orang sudah berada di tempat duduknya
masing-masing?” tanya Bibi Ga Eun.
Mereka harus memastikan hal tersebut sekali lagi sebelum
memulai acara sarapan. Tidak boleh ada satu orang pun yang tertinggal.
Begitulah cara mereka untuk memupuk rasa kekeluargaannya. Dimulai dari hal
kecil terlebih dahulu. Terutama yang bisa didapati dalam kehiduan sehari-hari.
Kekeluargaan merupakan dasar paling penting sebelum menuju
tahap selanjutnya yang memiliki makna jauh lebih besar. Yaitu kekompakan dan
kesolidan mereka.
“Baiklah kalau semua orang sudah berada di sini, mari segera
kita mulai saraannya!” seru Bibi Ga Eun sekali lagi.
“Silahkan nikmati hidangan kalian pada pagi hari ini!” tukasnya.
Setelah kalimat tersebut berakhir, semua orang mulai meraih
alat makannya masing-masing yang berupa sendok dan sumpit. Tanpa sepatah kata
pun lagi, semua orang mulai menyantap makananya masing-masing. Hari ini
porsinya masih sama seperti kemarin. Kurang lebih takarannya tidak jauh
__ADS_1
berbeda. Mungkin karena mereka masih mengalami krisis pangan akibat badai salju
berbahaya yang turun dengan lebat. Mereka jadi tidak bisa pergi kemana-mana
karena hal tersebut. Bahkan untuk mencari bahan makanan saja tidak bisa.
Mengingat persediaan mereka setiap harinya kian menipis. Meski telah dilakukan
upaya penghematan dengan cara pengurangan porsi makan sekali pun. hal tersebut
tidak memiliki pengaruh yang terlalu besar.
Di saat semua orang tengah sibuk menikmati hidangan yang
berada di hadapannya masing-masing, Wilson malah sibuk mengendus sesuatu.
Untungnya dia tidak melakukan hal tersebut secara berlebihan. Sehingga
orang-orang tidak menaruh rasa curiga kepadanya.
Lagi-lagi bau ini muncul dan menyapa indera penciumannya. Hal
tersebut berhasil menarik perhatian pria itu. Beberapa hari belakangan ini dia
selalu mencium bau yang sama. Dan yang pasti, bau ini juga berasal dari satu
sumber yang sama.
“Ternyata anggota klan itu masih belum pergi juga dari
tempat ini. Sebenarnya apa yang ia mau,” batinnya dalam hati.
Wilson akan memastikan jika anggota klan yang tertangkap
olehnya itu akan segera diamankan. Tidak boleh ada mahluk selain manusia biasa
yang berkeliaran di tempat ini. Keberadaan mereka di tengah-tengah sekumpulan
kaum manusia ini bisa membawa mara bahaya bagi orang-orang di sekitarnya.
Hanya mereka yang masih termasuk ke dalam kategori manusia
yang bisa masuk ke tempat ini. Oleh sebab itu diadakan seleksi terlebih dahulu
kepada setiap aclon siswa baru yang akan mendaftar. Untuk memastikan hal itu
tadi. Hanya Nhea lah satu-satunya keturunan anggota klan yang berhasil memasuki
tempat ini tanpa merasa terancam. Lagi pula gadis itu tidak sepenuhnya menjadi
anggota klan. Dia masih memiliki darah manusia yang mengalir di dalam tubuhnya,
meski tak banyak. Oleh sebab itu, bau Nhea tidak akan tercium dengan jelas di
hidung para anggota klan lainnya.
“Kenapa kau berhenti makan?” tanya Vallery.
“Apa makananya tidak enak?” sambungnya.
Wanita itu hanya ingin memastikan jika keadaan suaminya itu
baik-baik saja. Pasalnya, Wilson sering terlihat aneh beberapa hari belakangan
ini. Bukan hanya Vallery yang merasa seperti itu. Bahkan Eun Ji Hae juga tengah
merasakan hal yang sama. Mereka berdua menyadari jika ada sesuatu yang salah
dengan pria tersebut. Dia berubah menjadi aneh.
jawaban Wilson tetap sama. Ia hanya akan mengatakan tidak apa-apa. Tidak ada
hal lain yang bisa ia katakan selain yang tadi itu. Kalimat tersebut telah
menjadi jawaban andalannya tiap kali ditanyakan perihal yang sama. Padahal
mereka berharap agar pria itu setidaknya mau lebih terbuka kepada keluarganya
sendiri. Mereka bukan orang lain. Bukan orang asing. Memangnya apa masalahnya. Lagi
pula mereka tidak akan memberi tahu orang lain juga. Mereka paham jika setiap
permasalahan pribadi yang ada di sini bersifat rahasia dan tidak boleh
dipublikasi. Mereka semua sudah dewasa semua. Pasti sudah bisa membedakan mana
yang baik dan mana yang sebalikya.
***
Selama jam makan berlangsung, bau tersebut sama sekali tidak
menyingkir dari indera penciuman Wilson. Yang berarti jika anggota klan
tersebut masih berada di sana. Bahkan mungkin ikut bergabung dalam acara jamuan
makan ini. Bisa jadi anggota klan tersebut menyamar sebagai salah satu siswa di
sekolah ini.
Kecurigaan pria itu menjadi timbul seketika. Ada banyak
asumsi yang muncul di dalam kepalanya. Entah yang mana satu yang benar.
Sepertinya semua dugaan yang ada di dalam pikirannya memiliki kesempatan yang
sama untuk terjadi. Tidak ada satu pun yang bisa disalahkan. Karena setiap hal
tersebut memiliki potensi yang cukup untuk dijadikan sebagai hal yang benar.
“Jangan ada yang beranjak pergi keluar setelah selesai
makan!” perintah Wilson.
Suaranya menggema hingga ke seluruh penjuru ruangan.
Sehingga tidak ada satu orang pun yang tidak mendengar apa yang dikatakan oleh
pria ini barusan. Mendadak ia mengambil alih tempat ini. Semua anggota keluarga
terkejut, karena mereka sama sekali belum ada membicarkan soal ini sebelumnya.
Mendadak Wilson langsung mengambil keputusan secara sepihak begitu saja.
“Apa yang ayah lakukan?” tanya Eun Ji Hae.
Gadis itu sengaja berbicara dengan agak berbisik. Ia tidak
ingin percakapannya kali ini didengar oleh orang lain.
“Ada yang tidak beres di sini dan aku harus memastikannya,”
ujar pria itu dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Sekali Wilson memberikan perintah, maka tidak ada yang bisa
membantahnya sama sekali. Tidak oeduli siapa pun itu. Bahkan termasuk anggota
keluarganya sendiri tidak ada yang berani menentangnya. Karena ia merupakan
pemimpin tertinggi dalam keluarga mereka. Wilson merupakan seorang kepala
keluarga.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi kali ini. Bahkan
untuk mencegahnya sudah terlambat. Baik Vallery, Eun Ji Hae, Bibi Ga Eun dan
juga Nhea sekali pun. Mereka semua tidak ada yang bisa berkutik sama sekali.
Semua orang yang berada di tempat ini tahu persis apa yang sedang terjadi
sekarang. Jika sampai Wilson yang harus turun tangan, maka itu artinya jika
kondisi saat ini sudah gawat. Tidak ada yang bisa menanganinya lagi, hingga
pria itu terpaksa harus turun tangan seperti ini.
Semua orang bergegas untuk menyelesaikan sarapannya.
Kemudian duduk dengan rapih pada bangkunya masing-masing. Tidak ada satu pun
dari mereka yang tahu apa yang akan dilakukan oleh pria ini. Yang jelas, tidak
ada yang merasa tenang, semua orang merasa gugup. Jatungnya tidak bisa berdetak
pada tempo yang semestinya. Tidak ada yang baik-baik saja di ruangan ini.
Mereka semua mendadak merasa seperti seorang tahanan yang akan diinterogasi
oleh petugas kepolisian.
Semua rasa bercampur aduk mencjadi satu. Sehingga sulit
untuk dideskripsikan dengan kata-kata. Rasanya sebuah kalimat kompleks sekali
pun tidak akan cukup untuk mewakili semua ini.
Setelah semua orang kembali ke tempat duduknya masing-masing,
Wilson mulai beranjak dari tempat duduknya. Ia melakukan kebalikan dari semua
orang. Pria itu mulai berjalan untuk menyusuri sebuah gang kecil yang menjadi
jeda antara setiap meja yang satu dengan meja yang lainnya.
Suara langkah kakinya terdengar jelas menggema di ruangan
ini. Bahkan suara telapak sepatu yang beradu dengan permukaan lantai itu saja
mampu membuat jantung mereka jadi berdegup kencang. Tidak bisa dipungkiri jika
aura gelap dari pria itu jauh lebih mendominasi di ruangan ini. Siapa saja yang
berada di sekitarnya pasti akan langsung merasa terintimidasi.
“Sebelum aku menangkapnya dengan tanganku sendiri, lebih
baik kalian mengaku saja. Siapa yang bukan manusia di sini?” ujar Wilson.
Sontak pertanyaan
pria itu berhasil membuat semua orang tercengang tak percaya. Memangnya siapa
yang bukan manusia di sini. Apa ada mahluk hidup selain manusia yang menyelinap
masuk ke dalam tempat ini.
Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut menolak
untuk percaya. Mereka semua merasa terkejut. Terkecuali Nhea dan juga Wilson. Mereka
telah mengetahui siapa orangnya. Dugaan gadis ini hanya mengarah kepada satu
orang. Memangnya siapa lagi jika bukan si murid baru yang bernama Chanwo itu. Selama
ini pria itu selalu bersikap aneh. Bahkan sebelum ia resmi menjadi seorang
siswa di sekolah ini. Awal kedatangannya ke tempat ini saja berhasil mengundang
ras curiga banyak orang.
Hal tersebut tidak bisa dipungkiri. Lagi pula bukan hanya
Nhea seorang diri yang merasakan keanehan pada pria itu. Bahkan Oliver, Jongdae
dan Jang Eunbi sekali pun juga mernush rasa curiga yang sama besarnya. Sampai sekarang
saja, rasa penasaran mereka sama sekali belum terjawabkan. Tidak ada seorang
pun yang bisa menjawabnya kecuali pria itu sendiri. Chanwo berhutang penjelasan
secara tidak langsung kepada mereka semua.
“Cepatlah mengaku sekarang juga!” desak Wilson sambil tetap
melangkah maju. Perlahan namun pasti, ia terus berjalan menyusuri setiap gang
kecil antar meja yang ada di sana. Menelusuri setiap tempat. Sudut terkecil di
ruangan ini saja tidak bisa luput dari pengawasan pria itu. Pandangannya mengedar
ke seluruh penjuru ruangan.
Chanwo tahu persis jika yang dimaksud oleh pria itu barusan
adalah dirinya. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Nasibnya sedang berada
di ujung tanduk. Keselamatannya sedang dipertaruhkan dalam situasi yang genting
seperti ini. Dia sudah kehabisan akal. Chanwo tidak bisa berkutik sedikit pun,
bahkan untuk membela dirinya sendiri.
Pria itu mulai tierlihat pasrah. Memang tidak seharusnya
jika ia terlibat dalam kehidupan manusia. Berada di dalam hutan adalah
keputusan yang paling tepat. Jika tahu pada akhirnya akan seperti ini, mungkin
Chanwo tidak akan pernah mengikuti jejak Eun Ji Hae dan keluar dari hutan
tersebut. Ia bahkan sudah tidak kembali lagi ke sana selama lebih dari satu
minggu. Dia sudah sampai di tempat ini tepat beberapa hari sebelum salju
pertama turun, hingga sekarang. Entah apa yang membuatnya betah untuk
__ADS_1
berlama-lama di sini. Bukan betah. Lebih tepatnya memang tidak ada cara untuk
melarikan diri dari tempat ini. Dia sudah terjebak.