Mooneta High School

Mooneta High School
Plan B


__ADS_3

Hwang Ji Na tidak akan pernah membiarkan pria itu pergi begitu saja sebelum menyelesaikan semua masalahnya. Paling tidak ia harus menjawab pertanyaan dari gadis in iterlebih dahulu.


“Aku tidak akan memberikanmu kesempatan selain saat ini,” ujar Hwang Ji Na.


“Jadi, kau tak bisa menundanya lagi!” tukas gadis itu.


Hwang Ji Na aakan melakukan segala cara untuk membuat pria itu berkata jujur. Sejauh ini ia sudah cukup berusaha untuk mendesaknya. Chanwo akan buka mulut sebentar lagi. Posisinya sudah semakin tersudutkan. Ia tidak akan mampu untuk menahan semua tekanan ini lagi.


“Baiklah!” seru Chanwo.


Yang benar saja, dugaan Hwang Ji Na tepat. Dia tidak pernah salah sama sekali. Mungkinkah karena intuisinya yang cukup tajam. Pad aakhirnya Chanwo memutuskan untuk menyerah.


“Aku akan kembali ke istana dan memutuskan hubungan dengan mereka semua,” ungkap pria itu.


“Lagi pula aku sudah mendapatkan apa yang ku mau. Ini sudah lebih dari cukup. Tidak ada lagi alasan yang membuatku untuk tetap berada di sana bersama mereka. Aku tidak membutuhkan orang-orang itu lagi, begitu pula sebaliknya,” jelas Chanwo dengan panjang lebar.


Sepertinya pemaparan dari pria itu barusan sudah cukup untuk menjawab semua keluh kesah serta pertanyaan yang dimiliki oleh Hwang Ji Na selama ini. Ia bahkan tidak memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk mengajukan pertanyaan tambahan lagi. semua telah ia babat habis, hingga tak ada yang tersisa.


Satu detik, dua detik, tiga detik, mereka saling membisu satu sama lain. Membuat suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara gesekan dedaunan yang terkena hembusan angina musim dingin. Situasi tetap seperti itu sampai Hwang Ji Na memutuskan untuk buka suara. Ia berhasil memecah keheningan suasana kala itu.


“Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Begitu katamu?” tanya Hwang Ji Na sekali lagi untuk memastikan.

__ADS_1


Chanwo yang menjadi lawan bicara Hwang Ji Na saat itu langsung mengagguk tanpa ragu.


“Bukankah tujuan utamamu adalah untuk mendapatkan detak jantung itu kembali?” tanya gadis itu untuk yang kesekian kalinya.


“Kurasa bukan,” balas Chanwo secara gamblang.


“Seharusnya dari awal aku sama sekali tidak berambisi untuk mendapatkan hal yang bukan milikku. Klan vampir tidak akan pernah mendapatkan detak jantung mereka kembali. Karena pada dasarnya, mereka semua terlahir tanpa detak jantung sama sekali. Lantas, kenapa mereka masih menuntut soal hal itu?” celoteh Chanwo dengan panjang lebar.


“Bukankah itu namanya terlalu serakah?” lanjutnya.


“Aku tidak mau menjadi orang yang seperti itu. Setidaknya, aku masih tahu sampai mana saja batasanku untuk bertindak,” final pria itu kemudian.


Hwang Ji Na tidak bisa berkutik sama sekali di detik-detik awal. Mendadak ia kehabisan kata-kata begitu mendengar penjelasan dari Chanwo. Apa yang dikatakannya barusan terlalu benar untuk dibantah. Chanwo menang kali ini. Ia telah menguasai babak akhir pertandingan.


Sejauh ini, tidak ada vampir yang terlahir dengan detak jantung. Bahkan, klan vampir pertama saja tidak memilikinya. Entah karena kutukan atau bukan, tapi yang jelas hal tersebut benar adanya. Ia tak bisa memungkiri fakta yang ada.


“Kau tidak bisa pergi begitu saja,” ucap Hwang Ji Na secara gamblang.


Pria itu lantas mengerutkan dahinya. Situasinya menjadi semakin rumit.


“Cari tahu sendiri kalau kau sungguh tidak tahu apa alasannya. Aku akan kembali bersama mereka dan kau juga harus meninggalkan tempat ini. Sebentar lagi mereka akan sadarkan diri. Para serigala ini bisa saja menghabisimu,” jelas Hwang Ji Na sambil beranjak pergi dari sana.

__ADS_1


Ia pergi begitu saja tanpa menghiraukan Chanwo sama sekali. Pria itu lantas segera menyusul langkah Hwang Ji Na. mengingat perkataan gadis itu barusan jika para serigala akan segera bangun. Mau tak mau ia harus ikut meninggalkan tempat ini juga bersama Hwang Ji Na jika ingin selamat. Tidak lucu jika sampai ada sejarah baru yang mengatakan jika seorang raja dari klan vampir yang mati terbunuh oleh kaum werewolf.


Setidaknya ia harus keluar dari hutan ini telebih dahulu sebelum waktunya habis. Setelah itu, baru ia pikirkan akan kemana. Lagi pula, Reodal searah dengan jalan pulangnya ke istana.


Hwang Ji Na berhasil sampai lebih dulu di perbatasan. Kemudian disusul dengan kedatangan Chanwo. Ia sempat mengira jika pria itu akan tetap berada di sana. Secara, dia memang orang yang keras kepala. Jadi, tidak ada gunanya juga jika harus memperingatkan pria itu soal bahaya. Tapi ternyata hal tersebut tidak berlaku kepadanya untuk hari ini.


Mereka tidak langsung pergi dari sana begitu sampai di perbatasan. Hwang Ji Na masih berdiri di tempat. Matanya lurus mengarah ke kawanan serigala itu. ia memperhatikan setiap gerak-gerik mereka. Chanwo sendiri enggan untuk beranjak tanpa Hwang Ji Na. Bagaimana pun, mereka harus pergi bersama jika benar ingin pulang. Hwang Ji Na sempat berkata jika ia tidak akan pulang tanpa pria itu. Begitu pula sebaliknya sekarang.


Entah apa lagi yang ditunggu oleh Hwang Ji Na. Tadi ia adalah orang yang paling mendesak Chanwo untuk segera meninggalkan tempat ini. Tapi, sekarang malah ia yang bertahan. Mereka tidak bisa berlama-lama di sini jika ingin selamat.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Chanwo.


“Pergilah lebih dulu,” balas Hwang Ji Na.


Lagi-lagi gadis itu berhasil membuat Chanwo merasa kebingungan. Ia tak tahu harus berbuat apa.


“Cari tempat berlindung untuk sementara waktu. Aku akan datang sebentar lagi,” jelas Hwang Ji Na.


“Aku perlu membereskan mereka!” tukas gadis itu.


Tak ingin ambil pusing, Chanwo segera menuruti perkataan Hwang Ji Na. Kali ini ia tidak memiliki banyak kesempatan untuk membantah. Gadis itu tahu betul apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan semua orang di ini. Lagi pula Chanwo sudah mempercayakan semuanya kepada Hwang Ji Na. Ia tahu sekaligus yakin jika Hwang Ji Na bisa menyelesaikan semuanya. Gadis itu selalu bisa diandalkan.

__ADS_1


Chanwo memilih untuk pergi ke atas pohon. Ia bersembunyi di sana untuk beberapa saat, sesuai dengan permintaan Hwang Ji Na. Sementara itu Hwang Ji Na masih tetap berada di bawah. Ia terus mengawasi setiap pergerakan mereka dengan seksama. Sekarang Hwang Ji Na hanya perlu membereskan klan beta dan juga omega. Daren sudah bukan ancaman lagi baginya. Pria itu sudah tidak bisa berkutik sama sekali. Ia tengah sekarat.


__ADS_2