Mooneta High School

Mooneta High School
Raise Up


__ADS_3

Para kawanan serigala itu tidak bisa melihat sosok Hwang Ji


Na dengan jelas karena terhalang oleh rombongan.


“Sepertinya, itu adalah serigala putih tuan,” ujar klan


omega.


“Bisa jadi ia juga seekor alpha,” sahut yang lainnya.


Sang alpha yang mendengar perkataan tersebut hanya bisa


menggeram kesal. Bagaimana bisa ada alpha lainnya di sini selain dirinya. Dan


yang lebih mengejutkan lagi, dari mana ia datang. Hwang Ji Na muncul begitu


saja secara tiba-tiba di hadapan mereka.


“Dia sedang berjalan ke sini!” seru klan omega.


Siapa bilang mereka panik saat melihat alpha lain sedang


menuju ke tempat mereka berdiri saat ini. Ia hanya memperingatkan sang pemimpin


jika saingannya telah datang. Pada akhirnya, Hwang Ji Na menunjukkan batang


hidungnya juga di depan mereka semua.


Keduanya saling melemparkan tatapan tajam satu sama lain.


Mereka menggeram. Rahangnya menguat. Bisa dilihat dengan jelas jika amarah


terpancar dari sorot mata mereka. Hal tersebut sangat wajar terjadi ketika klan


tertinggi saling bertemu. Mereka akan memperebutkan segalanya, termasuk


kekuasaan. Memimpin sudah menjadi keahlian klan alpha. Bisa dibilang, jika


mereka memang terlahir untuk itu.


“Apa yang terjadi?” tanya Bibi Ga Eun.


“Ada dua ekor serigala alpha di sini,” jawab Eun Ji Hae


secara gamblang.


Sebenarnya, ia sendiri tidak dapat memastikan hal tersebut


untuk sekarang. Tapi jika dilihat dari situasinya, maka bisa disimpulkan dengan


jelas jika ada dua serigala yang jauh lebih dominan di sini.


Sepertinya tidak semua orang tahu banyak soal kaum werewolf.


Para penyihir ini hanya sibuk dengan dunia mereka sebelumnya. Tidak ada mahluk


semacam itu di dalam pelajaran mereka.


Pertarungan tanpa aba-aba akan segera dimulai sebentar lagi.


Sang alpha akan melakukan segala cara untuk menjadi pemenangnya. Hanya boleh


ada satu alpha sebagai pemimpin di sini. Hwang Ji Na telah berambisi untuk


menjadi pemimpin bagi kaumnya sendiri. Kali ini bisa dipastikan jika ia yang


lebih unggul. Klan beta dan omega akan tunduk di bawah perintahnya. Bahkan


termasuk sang alpha sekalipun.


Dengan menjadi seorang pemimpin, maka itu artinya ia bisa


mengendalikan apa saja sesuai dengan keinginannya. Tidak ada yang bisa menolak


perintah dari sang alpha.


Dengan percaya diri gadis itu melangkah maju ke arah kawanan

__ADS_1


serigala tersebut. Bagaimana pun juga, Hwang Ji Na tetap akan kalah jika


melawan mereka semua sendirian. Tidak peduli apakah ia seorang alpha atau


tidak.


Langkahnya terhenti begitu saja tepat di depan sang alpha.


Membuat netra keduanya saling beradu pandang saat ini.


Hwang Ji Na baru menyadari jika lawannya adalah seekor alpha


jantan. Ia tidak terlalu yakin bisa menang. Tapi, mendadak gadis itu teringat jika


ia tak sendirian. Ada Chanwo yang membantunya.


"Siapa kau?" tanya sang alpha.


"Ku rasa indera pengelihatanmu masih cuku bagus untuk


melihat dengan jelas," jawab Hwang Ji Na secara gamblang.


Kalimat gadis itu barusan berhasil membuat sang alpha marah.


Emosinya terpancing dengan begitu cepat.


"Jangan pernah main-main dengan Daren!" peringati


salah satu omega.


"Jadi, nama pria ini Daren?" gumam Hwang Ji Na.


Pria itu semakin merasa geram dengan kelakuan Hwang Ji Na.


Gadis itu terus berusaha untuk mencari masalah dengannya sejak tadi. Jika saja


ia tidak ikut campur dalam urusan mereka yang kali ini, maka Daren mungkin tidak


akan marah seperti sekarang.


"Menyingkir dari hadapanku sekarang juga!"


"Kau pikir siapa dirimu, sampai berani memerintah sang


alpha?" tantang Hwang Ji Na.


Untuk pertama kalinya, Daren menggeram dengan rasa kesal


yang tak tertahan. Ia melampiaskan semuanya, hingga tak ada lagi yang tersisa.


Tapi, sayangnya tidak semudah itu untuk menyingkirkan Hwang


Ji Na. Gertakan seperti itu tidak akan mempan baginya. Ia bukan orang yang


mudah terpengaruh. Jadi, jangan pernah main-main dengannya.


"Sebaiknya kalian yang menyingkir dari jalananku


sekarang," ujar Hwang Ji Na. Entah bagaimana caranya sampai gadis itu bisa


bersikap santai pada situasi seperti ini.


"Memangnya kau siapa sampai berani memerintah


kami?" ujar Daren.


"Aku adalah klan alpha," jawab Hwang Ji Na. Gadis


itu tampak begitu yakin dengan jawabannya barusan. Tidak ada keraguan sedikit


pun yang terbersit di dalam hatinya.


“Kau pikir dirimu hanya satu-satunya orang yang berhak


memerintah di sini? Tidakkah kau tahu jika kita berasal dari klan yang sama?”


celoteh pria itu dengan panjang lebar.

__ADS_1


Daren sama sekali tidak setuju jika ada serigala lain dari


klannya. Ia tak suka dengan yang namanya persaingan. Tapi, mau tak mau ia tetap


harus melakukannya.


“Jangan ikut campur soal urusan kami!” tegas Daren.


“Mari lakukan urusan kita masing-masing saja!” finalnya.


Sebenarnya, dari awal ia memang tak berniat untuk menanggapi


gadis itu. Baginya Hwang Ji Na hanya perusak konsentrasi. Gadis itu berusaha


untuk mengalihkan perhatian mereka semua. Membuat para kawanan serigala itu


sibuk dengan dirinya hingga melupakan tujuan awal.


“Kau benar, kita akan melakukan urusan masing-masing,” ucap


Hwang Ji Na.


“Tapi sejak awal, sebenarnya  kau sendirilah yang telah ikut campur dalam urusanku secara tidak


langsung,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


“Maksudmu?” tanya Daren.


“Kau sungguh tak tahu dimana letak kesalahanmu?” tanya Hwang


Ji Na balik.


“Biar kujelaskan,” lanjutnya.


Hwang Ji Na menghela napas dengan kasar, membuat uap dingin


tampak mengepul keluar dari mulutnya.


“Bukaankah dari awal sudah kuberikan peringatan kepada


kalian untuk menyingkir dari jalanan kami?!” celoteh gadis itu.


“Kami?” gumam Daren.


“Aku dan orang-orangku ingin lewat. Jadi, jangan menghalangi


jalan kami,” beber Hwang Ji Na kemudian.


Kini kawanan serigala itu paham jika ternyata Hwang Ji Na


memiliki hubungan dengan para penyihir itu.


“Jadi, kau adalah pemimpin atau pengawal mereka?” tanya


Daren dengan nada meledek.


Tentu hal tersebut berhasil memancing gelak tawa para klan


omega dan klan beta yang berbaris di belakanganya.


Harga diri Hwang Ji Na sebagai klan alpha pasti akan hancur.


Reputasinya akan berubah menjadi jelek di hadapan mereka semua.


“Aku sudah cukup memberikan kalian peringatan. Jadi, jangan


menguji kesabaranku,” ungkap Hwang Ji Na.


“Kami tidak akan pergi dari sini!” celetuk Daren secara


tiba-tiba.


Raut wajah pria itu mendadak berubah. Dari yang semula biasa


saja, kini tampak begitu serius. Rahangnya mengeras, tatapannya juga turut


berubah menjadi tajam. Hal itu cukup untuk menunjukkan jika ia tidak sedang

__ADS_1


main-main. Hwang Ji Na yang melihat pemandangan tersebut jadi ikut terbawa


suasana.


__ADS_2