
Para kawanan serigala itu tidak bisa melihat sosok Hwang Ji
Na dengan jelas karena terhalang oleh rombongan.
“Sepertinya, itu adalah serigala putih tuan,” ujar klan
omega.
“Bisa jadi ia juga seekor alpha,” sahut yang lainnya.
Sang alpha yang mendengar perkataan tersebut hanya bisa
menggeram kesal. Bagaimana bisa ada alpha lainnya di sini selain dirinya. Dan
yang lebih mengejutkan lagi, dari mana ia datang. Hwang Ji Na muncul begitu
saja secara tiba-tiba di hadapan mereka.
“Dia sedang berjalan ke sini!” seru klan omega.
Siapa bilang mereka panik saat melihat alpha lain sedang
menuju ke tempat mereka berdiri saat ini. Ia hanya memperingatkan sang pemimpin
jika saingannya telah datang. Pada akhirnya, Hwang Ji Na menunjukkan batang
hidungnya juga di depan mereka semua.
Keduanya saling melemparkan tatapan tajam satu sama lain.
Mereka menggeram. Rahangnya menguat. Bisa dilihat dengan jelas jika amarah
terpancar dari sorot mata mereka. Hal tersebut sangat wajar terjadi ketika klan
tertinggi saling bertemu. Mereka akan memperebutkan segalanya, termasuk
kekuasaan. Memimpin sudah menjadi keahlian klan alpha. Bisa dibilang, jika
mereka memang terlahir untuk itu.
“Apa yang terjadi?” tanya Bibi Ga Eun.
“Ada dua ekor serigala alpha di sini,” jawab Eun Ji Hae
secara gamblang.
Sebenarnya, ia sendiri tidak dapat memastikan hal tersebut
untuk sekarang. Tapi jika dilihat dari situasinya, maka bisa disimpulkan dengan
jelas jika ada dua serigala yang jauh lebih dominan di sini.
Sepertinya tidak semua orang tahu banyak soal kaum werewolf.
Para penyihir ini hanya sibuk dengan dunia mereka sebelumnya. Tidak ada mahluk
semacam itu di dalam pelajaran mereka.
Pertarungan tanpa aba-aba akan segera dimulai sebentar lagi.
Sang alpha akan melakukan segala cara untuk menjadi pemenangnya. Hanya boleh
ada satu alpha sebagai pemimpin di sini. Hwang Ji Na telah berambisi untuk
menjadi pemimpin bagi kaumnya sendiri. Kali ini bisa dipastikan jika ia yang
lebih unggul. Klan beta dan omega akan tunduk di bawah perintahnya. Bahkan
termasuk sang alpha sekalipun.
Dengan menjadi seorang pemimpin, maka itu artinya ia bisa
mengendalikan apa saja sesuai dengan keinginannya. Tidak ada yang bisa menolak
perintah dari sang alpha.
Dengan percaya diri gadis itu melangkah maju ke arah kawanan
__ADS_1
serigala tersebut. Bagaimana pun juga, Hwang Ji Na tetap akan kalah jika
melawan mereka semua sendirian. Tidak peduli apakah ia seorang alpha atau
tidak.
Langkahnya terhenti begitu saja tepat di depan sang alpha.
Membuat netra keduanya saling beradu pandang saat ini.
Hwang Ji Na baru menyadari jika lawannya adalah seekor alpha
jantan. Ia tidak terlalu yakin bisa menang. Tapi, mendadak gadis itu teringat jika
ia tak sendirian. Ada Chanwo yang membantunya.
"Siapa kau?" tanya sang alpha.
"Ku rasa indera pengelihatanmu masih cuku bagus untuk
melihat dengan jelas," jawab Hwang Ji Na secara gamblang.
Kalimat gadis itu barusan berhasil membuat sang alpha marah.
Emosinya terpancing dengan begitu cepat.
"Jangan pernah main-main dengan Daren!" peringati
salah satu omega.
"Jadi, nama pria ini Daren?" gumam Hwang Ji Na.
Pria itu semakin merasa geram dengan kelakuan Hwang Ji Na.
Gadis itu terus berusaha untuk mencari masalah dengannya sejak tadi. Jika saja
ia tidak ikut campur dalam urusan mereka yang kali ini, maka Daren mungkin tidak
akan marah seperti sekarang.
"Menyingkir dari hadapanku sekarang juga!"
"Kau pikir siapa dirimu, sampai berani memerintah sang
alpha?" tantang Hwang Ji Na.
Untuk pertama kalinya, Daren menggeram dengan rasa kesal
yang tak tertahan. Ia melampiaskan semuanya, hingga tak ada lagi yang tersisa.
Tapi, sayangnya tidak semudah itu untuk menyingkirkan Hwang
Ji Na. Gertakan seperti itu tidak akan mempan baginya. Ia bukan orang yang
mudah terpengaruh. Jadi, jangan pernah main-main dengannya.
"Sebaiknya kalian yang menyingkir dari jalananku
sekarang," ujar Hwang Ji Na. Entah bagaimana caranya sampai gadis itu bisa
bersikap santai pada situasi seperti ini.
"Memangnya kau siapa sampai berani memerintah
kami?" ujar Daren.
"Aku adalah klan alpha," jawab Hwang Ji Na. Gadis
itu tampak begitu yakin dengan jawabannya barusan. Tidak ada keraguan sedikit
pun yang terbersit di dalam hatinya.
“Kau pikir dirimu hanya satu-satunya orang yang berhak
memerintah di sini? Tidakkah kau tahu jika kita berasal dari klan yang sama?”
celoteh pria itu dengan panjang lebar.
__ADS_1
Daren sama sekali tidak setuju jika ada serigala lain dari
klannya. Ia tak suka dengan yang namanya persaingan. Tapi, mau tak mau ia tetap
harus melakukannya.
“Jangan ikut campur soal urusan kami!” tegas Daren.
“Mari lakukan urusan kita masing-masing saja!” finalnya.
Sebenarnya, dari awal ia memang tak berniat untuk menanggapi
gadis itu. Baginya Hwang Ji Na hanya perusak konsentrasi. Gadis itu berusaha
untuk mengalihkan perhatian mereka semua. Membuat para kawanan serigala itu
sibuk dengan dirinya hingga melupakan tujuan awal.
“Kau benar, kita akan melakukan urusan masing-masing,” ucap
Hwang Ji Na.
“Tapi sejak awal, sebenarnya kau sendirilah yang telah ikut campur dalam urusanku secara tidak
langsung,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
“Maksudmu?” tanya Daren.
“Kau sungguh tak tahu dimana letak kesalahanmu?” tanya Hwang
Ji Na balik.
“Biar kujelaskan,” lanjutnya.
Hwang Ji Na menghela napas dengan kasar, membuat uap dingin
tampak mengepul keluar dari mulutnya.
“Bukaankah dari awal sudah kuberikan peringatan kepada
kalian untuk menyingkir dari jalanan kami?!” celoteh gadis itu.
“Kami?” gumam Daren.
“Aku dan orang-orangku ingin lewat. Jadi, jangan menghalangi
jalan kami,” beber Hwang Ji Na kemudian.
Kini kawanan serigala itu paham jika ternyata Hwang Ji Na
memiliki hubungan dengan para penyihir itu.
“Jadi, kau adalah pemimpin atau pengawal mereka?” tanya
Daren dengan nada meledek.
Tentu hal tersebut berhasil memancing gelak tawa para klan
omega dan klan beta yang berbaris di belakanganya.
Harga diri Hwang Ji Na sebagai klan alpha pasti akan hancur.
Reputasinya akan berubah menjadi jelek di hadapan mereka semua.
“Aku sudah cukup memberikan kalian peringatan. Jadi, jangan
menguji kesabaranku,” ungkap Hwang Ji Na.
“Kami tidak akan pergi dari sini!” celetuk Daren secara
tiba-tiba.
Raut wajah pria itu mendadak berubah. Dari yang semula biasa
saja, kini tampak begitu serius. Rahangnya mengeras, tatapannya juga turut
berubah menjadi tajam. Hal itu cukup untuk menunjukkan jika ia tidak sedang
__ADS_1
main-main. Hwang Ji Na yang melihat pemandangan tersebut jadi ikut terbawa
suasana.