Mooneta High School

Mooneta High School
Camp of Mooneta


__ADS_3

Harusnya mereka senang karena bisa menduduki posisi pertama


untuk perolehan poin sementara. Siapa lagi memangnya jika bukan akademi sihir


Mooneta. Mereka bahkan sudah menduganya sejak awal. Mooneta selalu menjadi yang


terbaik. Mendengar namanya saja sudah membuat orang-orang bosan. Benci dengan


fakta jika lagi-lagi mereka yang harus menang. Apakah semesta tidak pernah


memihak kepada manusia lainnya selain anak-anak itu.


Mereka bahkan tak tampak berjuang mati-matian seperti yang


lain. Akademi sihir Mooneta bisa menang dengan mudah. Nama mereka sudah besar.


Mereka dikenal dimana-mana. Nyaris sempurna. Memangnya apa yang belum pernah


mereka dapatkan sejauh ini? Bukankah semua yang disebutkan tafi sudah terlalu


banyak?


"Tidak bisakah mereka melihat kita dengan pandangan


yang biasa saja?" gumam Nhea.


"Pandangan seperti itu sudah menjadihal yang lumrah


untuk terjadi,” jawab Oliver secara gamblang.


Memang benar adanya. Di dunia ini setiap hal memiliki dua


sisi yang berbeda dan saling bertimbal balik. Tidak ada yang berjalan seirama.


Ada yang pro dan kontra. Sama saja seperti konteks lainnya.


Pada faktanya, ada banyak orang yang tidak suka dengan


kemenangan Mooneta. Namun, di sisi lain juga tidak sedikit yang mendukung


mereka dengan tulus.


“Mereka pasti iri karena tidaka bisa berada di posisi kita,”


ujar Oliver secara terang-terangan.


“Berada di posisi pertama selalu menjadi impian mereka sejak


awal. Namun, sepertinya Dewi Fortuna belum memihak kepada mereka. Wajar saja


jika orang-orang itu merasa kesal,” jelasnya dengan panjang lebar.


“Sepertinya jika ingin menggeser posisi kita, mereka harus


berusaha lebih keras lagi,” tukas Oliver di akhir kalimat.


Melihat sikap mereka yang dingin dan terkesan meremehkan


seperti itu berhasil membuat emosi Oliver terpancing. Entah bagaimana reaksi


Bibi Ga Eun atau Eun Ji Hae saat berada di sini. Mungkin mereka berdua sudah


mengintimidasi balik orang-orang itu dengan cara yang lebih elegan.


“Sudahlah! Tidak usah pikirkan mereka,” ucap Oliver sembari


mengalihkan perhatian.


“Bukankah kita harus bersiap ke belakangan panggung untuk


pertandingan berikutnya setelah makan siang?” tanya Oliver.


Untuk yang kesekian kalinya ia berusaha untuk mengalihkan


topik pembicaraan mereka saat ini. Tampak dengan jelas jika ia tidak ingin berurusan


dengan mereka. Alih-alih ambil pusing soal sorot mata mereka, ia malah beriskap

__ADS_1


bodoh amat dan tidak ingin menghiraukannya sama sekali.


Hal tersebut bahkan sama sekali tidak berarti. Jika


dipikirkan terlalu dalam, hanya akan mengganggu konsentrasi mereka nantinya.


Tak ingin membuang lebih banyak waktu lagi dengan


berdesak-desakan di sana, Oliver dan Nhea segera beranjak dari tempat duduknya.


Mereka berencana untuk membebaskan diri dari kerumunan orang-orang ini.


Setidaknya berikan sedikit ruang untuk kedua gadis malang ini. Mereka nyaris


kehabisan napas karena duduk di sana sepanjang pengumuman. Sebetulnya tidak


perlu ditunggu juga, semua orang sudah tahu jika akademi sihir Mooneta pasti


akan lolos. Mustahil jika mereka gagal. Apalagi pada percobaan pertama.


“Haruskah aku menggunakan sesuatu untuk mengamankan


tanganku?” tanya Nhea. Gadis itu berusaha untuk meminta pendapat Oliver.


Biasanya dia selalu tahu apa-apa saja yang terbaik. Saran darinya tidak pernah


mengecewakan.


“Kau bisa menggunakan pelingdung tangan jika mau,” jawab


Oliver.


“Apa itu tidak masalah?” tanya Nhea lagi.


“Maksudku, aku tidak akan mendapatkan pelanggaran karenanya


kan?” lanjutnya. Kali ini ia hanya berusaha untuk memperjelas kalimat yang


sebelumnya agar tidak terjadi kesalah pahaman.


“Memangnya apa alasan mereka untuk mendiskualifikasi orang


sepertimu dari pertandingan?” tanya gadis itu.


“Hanya karena pelingdung tangan? Huh?! Kau bahkan memang


berhak untuk menggunakannya pada saat pertandingan berlangsung untuk mengurangi


resiko terluka atau cedera,” celotehnya dengan panjang lebar.


Begitu acara pengumuman selesai, semua orang langsung


bergegas untuk kembali ke kamp nya masing-masing. Terutama para peserta akademi


yang berasal dari luar kota. Pihak penyelenggara festival telah menyiapkan satu


tempat di belakang panggung bagi para peserta untuk bersiap terlebih dahulu


sebelum bertanding. Setiap akademi mendapatkan tempatnya masing-masing.


"Pertandingan baru akan dimulai setelah jam makan


siang," ujar Oliver.


"Aku dengar jadwalnya juga akan dibagikan nanti. Tepat


setelah kita selesai makan siang," balas Nhea yang tak ingin kalah.


"Jujur, aku mulai merasa penasaran dengan tim mana dulu


yang akan bertanding," ungkap Oliver secara gamblang.


Kedua gadis ini berjalan beriringan menuju area belakang


panggung. Sepertinya semua orang juga mulai berangsur turun dari tribun.


Meninggalkan tempat tersebut dan pergi entah kemana. Tempat itu sudah mulai

__ADS_1


terasa lebih lengang sekarang. Setidaknya mereka yang masih bertahan di sana


sudah bisa bernapas dengan lega. Tidak perlu lagi berebut setiap hal yang


sebenarnya tidak pantas untuk diperebutkan.


"Apa kita akan makan siang di sini?" tanya Nhea


secara tiba-tiba. Tidak ada alasan khusus baginya untuk menanyakan hal


tersebut.


"Entahlah," jawab Oliver sambil menggidikkan


bahunya. Pertanda tak tahu.


Beberapa hari yang lalu, mereka pernah menyelenggarakan


acara jamuan makan siang bahkan sampai makan malam di belakang panggung. Lebih


tepatnya pada saat acara pertandingan di hari pertama setelah pembukaan.


Mereka harus tetap berada di sana. Setidaknya sampai acara


selesai. Tidak ada waktu untuk kembali ke akademi. Bahkan hanya untuk sekedar


makan siang dan makan malam saja tidak bisa. Itu sebabnya Eun Ji Hae


berinisiatif untuk memerintahkan staff dapur membawa roti ke arena pertandingan


untuk seluruh siswa. Meski tidak terlalu kenyang, setidaknya sepotong roti bisa


mengganjal perut mereka sedikit lebih lama lagi.


Tentu saja semua perbuatan yang dilakukan oleh gadis itu


sudah mendapatkan persetujuan dari Bibi Ga Eun. Hal sekecil apa pun itu, dia


tetap harus melibatkan wanita tersebut. Meski pada dasarnya Eun Ji Hae masih


malas untuk berurusan dengannya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Situasi


yang memaksa.


Sesampainya di sana, mereka disambut oleh beberapa siswa dan


para pengajar yang ternyata sudah sampai di tempat itu lebih dulu dari mereka.


Belum terlalu banyak orang di sana. Dan semoga saja tidak akan pernah ada


banyak orang.


Kamp tempat peserta dari akademi Mooneta hanya terdiri dari


satu tenda. Meski cuma satu, tapi ukurannya lumayan besar. Walau tetap saja


tidak bisa menampung seluruh siswa di dalamnya. Mereka harus menggunakan


fasilitas yang satu ini secara bergantian. Ada yang keluar dan ada yang masuk


ke dalam secara teratur. Sehingga mereka tidak akan menumpuk di dalan tenda.


Atmosfirnya pasti tidak lagi terasa bersahabat jika sudah


begitu.


“Bisa bicara sebentar?” ucap Eun Ji Hae yang tiba-tiba


muncul. Tidak ada yang tahu kapan ia datang dan dari mana asalnya.


“Siapa yang kau maksud?” tanya Nhea balik.


Tentu saja hanya gadis itu yang berani berbicara


non-formal seperti itu kepada Eun Ji Hae. Jika siswa lain yang berkata seperti


itu kepadanya, maka kau akan berurusan langsung dengan si pemilik nama.

__ADS_1


__ADS_2