
Harusnya mereka senang karena bisa menduduki posisi pertama
untuk perolehan poin sementara. Siapa lagi memangnya jika bukan akademi sihir
Mooneta. Mereka bahkan sudah menduganya sejak awal. Mooneta selalu menjadi yang
terbaik. Mendengar namanya saja sudah membuat orang-orang bosan. Benci dengan
fakta jika lagi-lagi mereka yang harus menang. Apakah semesta tidak pernah
memihak kepada manusia lainnya selain anak-anak itu.
Mereka bahkan tak tampak berjuang mati-matian seperti yang
lain. Akademi sihir Mooneta bisa menang dengan mudah. Nama mereka sudah besar.
Mereka dikenal dimana-mana. Nyaris sempurna. Memangnya apa yang belum pernah
mereka dapatkan sejauh ini? Bukankah semua yang disebutkan tafi sudah terlalu
banyak?
"Tidak bisakah mereka melihat kita dengan pandangan
yang biasa saja?" gumam Nhea.
"Pandangan seperti itu sudah menjadihal yang lumrah
untuk terjadi,” jawab Oliver secara gamblang.
Memang benar adanya. Di dunia ini setiap hal memiliki dua
sisi yang berbeda dan saling bertimbal balik. Tidak ada yang berjalan seirama.
Ada yang pro dan kontra. Sama saja seperti konteks lainnya.
Pada faktanya, ada banyak orang yang tidak suka dengan
kemenangan Mooneta. Namun, di sisi lain juga tidak sedikit yang mendukung
mereka dengan tulus.
“Mereka pasti iri karena tidaka bisa berada di posisi kita,”
ujar Oliver secara terang-terangan.
“Berada di posisi pertama selalu menjadi impian mereka sejak
awal. Namun, sepertinya Dewi Fortuna belum memihak kepada mereka. Wajar saja
jika orang-orang itu merasa kesal,” jelasnya dengan panjang lebar.
“Sepertinya jika ingin menggeser posisi kita, mereka harus
berusaha lebih keras lagi,” tukas Oliver di akhir kalimat.
Melihat sikap mereka yang dingin dan terkesan meremehkan
seperti itu berhasil membuat emosi Oliver terpancing. Entah bagaimana reaksi
Bibi Ga Eun atau Eun Ji Hae saat berada di sini. Mungkin mereka berdua sudah
mengintimidasi balik orang-orang itu dengan cara yang lebih elegan.
“Sudahlah! Tidak usah pikirkan mereka,” ucap Oliver sembari
mengalihkan perhatian.
“Bukankah kita harus bersiap ke belakangan panggung untuk
pertandingan berikutnya setelah makan siang?” tanya Oliver.
Untuk yang kesekian kalinya ia berusaha untuk mengalihkan
topik pembicaraan mereka saat ini. Tampak dengan jelas jika ia tidak ingin berurusan
dengan mereka. Alih-alih ambil pusing soal sorot mata mereka, ia malah beriskap
__ADS_1
bodoh amat dan tidak ingin menghiraukannya sama sekali.
Hal tersebut bahkan sama sekali tidak berarti. Jika
dipikirkan terlalu dalam, hanya akan mengganggu konsentrasi mereka nantinya.
Tak ingin membuang lebih banyak waktu lagi dengan
berdesak-desakan di sana, Oliver dan Nhea segera beranjak dari tempat duduknya.
Mereka berencana untuk membebaskan diri dari kerumunan orang-orang ini.
Setidaknya berikan sedikit ruang untuk kedua gadis malang ini. Mereka nyaris
kehabisan napas karena duduk di sana sepanjang pengumuman. Sebetulnya tidak
perlu ditunggu juga, semua orang sudah tahu jika akademi sihir Mooneta pasti
akan lolos. Mustahil jika mereka gagal. Apalagi pada percobaan pertama.
“Haruskah aku menggunakan sesuatu untuk mengamankan
tanganku?” tanya Nhea. Gadis itu berusaha untuk meminta pendapat Oliver.
Biasanya dia selalu tahu apa-apa saja yang terbaik. Saran darinya tidak pernah
mengecewakan.
“Kau bisa menggunakan pelingdung tangan jika mau,” jawab
Oliver.
“Apa itu tidak masalah?” tanya Nhea lagi.
“Maksudku, aku tidak akan mendapatkan pelanggaran karenanya
kan?” lanjutnya. Kali ini ia hanya berusaha untuk memperjelas kalimat yang
sebelumnya agar tidak terjadi kesalah pahaman.
“Memangnya apa alasan mereka untuk mendiskualifikasi orang
sepertimu dari pertandingan?” tanya gadis itu.
“Hanya karena pelingdung tangan? Huh?! Kau bahkan memang
berhak untuk menggunakannya pada saat pertandingan berlangsung untuk mengurangi
resiko terluka atau cedera,” celotehnya dengan panjang lebar.
Begitu acara pengumuman selesai, semua orang langsung
bergegas untuk kembali ke kamp nya masing-masing. Terutama para peserta akademi
yang berasal dari luar kota. Pihak penyelenggara festival telah menyiapkan satu
tempat di belakang panggung bagi para peserta untuk bersiap terlebih dahulu
sebelum bertanding. Setiap akademi mendapatkan tempatnya masing-masing.
"Pertandingan baru akan dimulai setelah jam makan
siang," ujar Oliver.
"Aku dengar jadwalnya juga akan dibagikan nanti. Tepat
setelah kita selesai makan siang," balas Nhea yang tak ingin kalah.
"Jujur, aku mulai merasa penasaran dengan tim mana dulu
yang akan bertanding," ungkap Oliver secara gamblang.
Kedua gadis ini berjalan beriringan menuju area belakang
panggung. Sepertinya semua orang juga mulai berangsur turun dari tribun.
Meninggalkan tempat tersebut dan pergi entah kemana. Tempat itu sudah mulai
__ADS_1
terasa lebih lengang sekarang. Setidaknya mereka yang masih bertahan di sana
sudah bisa bernapas dengan lega. Tidak perlu lagi berebut setiap hal yang
sebenarnya tidak pantas untuk diperebutkan.
"Apa kita akan makan siang di sini?" tanya Nhea
secara tiba-tiba. Tidak ada alasan khusus baginya untuk menanyakan hal
tersebut.
"Entahlah," jawab Oliver sambil menggidikkan
bahunya. Pertanda tak tahu.
Beberapa hari yang lalu, mereka pernah menyelenggarakan
acara jamuan makan siang bahkan sampai makan malam di belakang panggung. Lebih
tepatnya pada saat acara pertandingan di hari pertama setelah pembukaan.
Mereka harus tetap berada di sana. Setidaknya sampai acara
selesai. Tidak ada waktu untuk kembali ke akademi. Bahkan hanya untuk sekedar
makan siang dan makan malam saja tidak bisa. Itu sebabnya Eun Ji Hae
berinisiatif untuk memerintahkan staff dapur membawa roti ke arena pertandingan
untuk seluruh siswa. Meski tidak terlalu kenyang, setidaknya sepotong roti bisa
mengganjal perut mereka sedikit lebih lama lagi.
Tentu saja semua perbuatan yang dilakukan oleh gadis itu
sudah mendapatkan persetujuan dari Bibi Ga Eun. Hal sekecil apa pun itu, dia
tetap harus melibatkan wanita tersebut. Meski pada dasarnya Eun Ji Hae masih
malas untuk berurusan dengannya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Situasi
yang memaksa.
Sesampainya di sana, mereka disambut oleh beberapa siswa dan
para pengajar yang ternyata sudah sampai di tempat itu lebih dulu dari mereka.
Belum terlalu banyak orang di sana. Dan semoga saja tidak akan pernah ada
banyak orang.
Kamp tempat peserta dari akademi Mooneta hanya terdiri dari
satu tenda. Meski cuma satu, tapi ukurannya lumayan besar. Walau tetap saja
tidak bisa menampung seluruh siswa di dalamnya. Mereka harus menggunakan
fasilitas yang satu ini secara bergantian. Ada yang keluar dan ada yang masuk
ke dalam secara teratur. Sehingga mereka tidak akan menumpuk di dalan tenda.
Atmosfirnya pasti tidak lagi terasa bersahabat jika sudah
begitu.
“Bisa bicara sebentar?” ucap Eun Ji Hae yang tiba-tiba
muncul. Tidak ada yang tahu kapan ia datang dan dari mana asalnya.
“Siapa yang kau maksud?” tanya Nhea balik.
Tentu saja hanya gadis itu yang berani berbicara
non-formal seperti itu kepada Eun Ji Hae. Jika siswa lain yang berkata seperti
itu kepadanya, maka kau akan berurusan langsung dengan si pemilik nama.
__ADS_1