Mooneta High School

Mooneta High School
Together


__ADS_3

Mereka masih tetap berada di tempat yang sama. Bahkan setelah urusannya selesai. Tidak banyak hal yang bisa mereka lakukan setelah nomer urut peserta diumumkan. Kebanyakan dari mereka memutuskan untuk tetap berada di hall utama. Anak-anak itu sudah bersiap dari awal. Untuk berjaga-jaga jika mereka mendapatkan nomer urut pertama. Sehingga tidak banyak waktu yang dihabiskan untuk bersiap. Sebab mereka sudah menyelesaikan segalanya sejak awal.


Bukan hanya akademi sihir Mooneta saja yang sudah mempersiapkan dirinya. Bahkan bisa dikatakan jika nyaris seluruh peserta dari berbagai akademi sudah bersiap sejak awal. Mereka sudah belajar untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki.


"Apa tanganmu masih terasa sakit?" tanya Oliver.


"Tidak," jawab Nhea dengan apa adanya.


"Kau yakin? Coba kemarikan tangamu yang terluka itu!" titah Oliver kepada gadis itu. Tampak jelas jika ia tidak menerima penolakan sama sekali.


Mau tak mau kali ini Nhea terpaksa menuruti kata-kata gadis itu lagi. Belakangan ini Oliver jadi lebih banyak mengatur dan memerintah orang lain. Dia bisa berubah menjadi orang yang menyebalkan hanya dalam waktu semalam saja. Itu bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan oleh orang sepertinya.


Tanpa pikir panjang lagi, Nhea lantas membuka balutan kain pelindung tangannya yang diberikan oleh Eun Ji Hae tadi. Nhea sengaja membuka kain penutup tersebut agar Oliver bisa melihat lukanya dengan jelas. Dari sana ia bisa menentukan apakah lukanya suah benar-benar membaik atau tidak sama sekali.


"Setelah pertandingan ini selesai, kau harus menemui tabib akademi," saran Oliver.


Gadis itu tahu betul jika luka terbuka seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kemungkinan untuk infeksinya sangat besar. Luka Nhea harus dirawat dengan benar agar cepat sembuh.


"Apa kemarin kau sudah menemui tabib?" tanya Oliver secara mendadak.


"Belum sama sekali," jawab gadis itu secara gamblang.


Oliver hanya bisa menghela napasnya dengan kasar sambil memijat pelan kepalanya. Ia sungguh tidak habis pikir dengan kelakuan temannya yang satu itu. Bagaimana bisa Oliver dipertemukan dengan seseorang yang selalu menguji kesabarannya nyaris setiap detik. Hal apa pun yang ia lakukan dan tidak ia lakukan memang selalu tampak salah di mata Oliver.


Meski begitu, ia harus tetap sabar dalam menghadapi Nhea. Gadis itu tidak mudah untuk dikendalikan. Tak sembarang orang bisa dekat dengannya.


“Seharusnya kau langsung menemui tabib begitu sampai di akademi kemarin,” ujar Oliver dengan penuh kesabaran.


“Kau tahu jika aku tidak punya cukup waktu untuk menemui tabib,” ungkap Nhea secara gamblang.


“Aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak sama sekali selama beberapa hari belakangan ini,” gerutu gadis itu kemudian.

__ADS_1


“Tapi, setidaknya kau harus menyempatkan diri untuk merawat dirimu sendiri. Kau harus lebih memperhatikan dirimu sendiri pada saat terluka seperti ini,” jelas Oliver dengan panjang lebar.


“Jika bukan kau yang peduli dengan dirimu sendiri, memangnya siapa lagi yang akan peduli!” timpalnya beberapa saat kemudian.


Kalimat yang diucapkan oleh Oliver terakhir kali ada benarnya juga. Nhea sudah merasakan hal tersebut sejak awal. Dia adalah gadis yang mandiri. Selalu berdiri di atas kakinya sendiri. Tidak pernah merepotkan orang lain jika tidak sedang dalam kondisi terdesak.


Entah kenapa rasanya perkataan Oliver tadi berhasil menusuk hingga ke relung hati terdalamnya. Tepat mengenai sasaran. Nhea menjadi bungkam karenanya. Ia masih tetap bergeming hingga beberapa saat kemudian. Kepalanya sibuk memikirkan kalimat terakhir Oliver.


“Kau tidak bisa mengandalkan orang lain selain dirimu sendiri.”


Tampaknya kalimat tersebut sudah menjadi sebuah prinsip hidup bagi Nhea. Sejak kepergian ayah dan ibunya, ia menjadi anak yang cukup pendiam. Menutup diri terhadap dunia luar. Ringkasnya, ia tidak seceria dulu lagi.


Semesta menundanya untuk bahagia.


Menjadikannya manusia paling tak tahu apa itu cinta.


“Hai!” sahut Oliver sembari menepuk pelan pundaknya.


Sontak isi kepala gadis itu langsung buyar seketika. Ia tersadar dari lamunannya. Bahkan, Nhea sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan. Isi kepalanya terlaku banyak.


“Ah! Tidak sama sekali,” dalih Nhea.


Gadis itu berbohong. Ia tidak bicara jujur bukan karena merasa takut akan sesuatu. Melainkan akibat ia tidak mau memperpanjang urusannya. Masalahnya bisa jadi lebih rumit jika sampai Oliver ikut campur juga.


“Apa pun itu, kau harus tetap fokus,” peringati gadis itu.


“Kendalikan pikiranmu sendiri!” tegasnya sekali lagi.


“Bisa-bisanya kau masih menyalahkanku. Padahal kaulah yang membuatku berpikir terlalu berlebihan terhadap kata-katamu barusan itu,” batin Nhea dalam hati.


Kali ini ia jauh lebih memilih untuk mengumpat di dalam hati saja. Cukup dirinya sendiri saja yang tahu. Bisa-bisa, ia habis dibuat Oliver akibat mengumpati dirinya seperti itu. Oliver pasti tidak akan terima. Memangnya siapa yang suka menerima sumpah serapah jelek dari orang lain.

__ADS_1


“Lain kali kau juga harus menjaga kata-katamu sendiri!” celetuk Nhea.


“Untuk apa aku berpura-pura menjadi orang lain? Jika diriku yang saat ini saja tidak banyak yang menyukainya,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


Kembali lagi pada konteks awalnya. Yang terbaik tidak selalu menjadi sesuatu yang baik. Bencana bisa saja datang dari yang terbaik.


“Apakah menurutmu mereka yang berada di atas selalu mendapatkan ujaran kebencian?” tanya Nhea dengan ragu.


“Kenapa kau mendadak menanyakan soal hal itu?” tanya Oliver balik.


“Jawab saja dulu pertanyaanku!” tegas Nhea sekali lagi.


“Baiklah,” balas Oliver.


Gadis itu tertegun. Pasalnya sungguh tidak biasa bagi mereka untuk mendapati situasi seperti ini. Nhea menjadi jauh lebih serius dari pada sebelumnya.


“Semua orang berhak untuk menyukai atau membenci siapa saja,” ucap Oliver sebagai kalimat pembuka.


“Kau tahu soal itu bukan? Kita diberi kebebasan untuk melakukannya,” lanjutnya.


“Jadi, bagaimana soal jawaban dari pertanyaanku yang satu itu?” tanya Nhea sekali lagi.


“Berada di posisi paling atas, itu berarti jika kau jauh lebih unggul dari pada mereka,” ungkap Oliver.


“Untuk beberapa orang yang merasa tersaingi, mungkin mereka akan menganggap jika posisimu saat itu sebagai ancaman bagi posisi mereka. Orang-orang itu tidak salah. Mereka hanya sedang berusaha untuk mempertahankan posisinya sendiri,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


“Jadi, mungkin saja jika seorang bawahan membenci pemimpin sendiri?” tanya Nhea untuk memastikan jika asumsinya benar.


“Memangnya apa yang membuatmu menganggap jika itu salah?” tanya Oliver balik.


Jadi, secara tidak langsung Oliver telah membenarkan perkataan Nhea barusan. Kebanyakan orang memang selaku begitu.

__ADS_1


“Aku hanya takut jika akan semakin banyak orang yang membenciku nanti. Padahal aku tidak pernah mendapatkan cinta sebelumnya,” batin Nhea dalam hati dengan penuh keresahan.


“Sungguh miris,” lanjutnya.


__ADS_2