Mooneta High School

Mooneta High School
Tertangkap Basa


__ADS_3

Eun Ji Hae memunculkan kepalanya dari balik pintu. Berusaha


mengintip saat seberkas cahaya mulai menyapa pandangannya kala itu. Eun Ji Hae


mendapati tiga orang yang masih tersisa di dalam ruang kelas tersebut. Ada


Oliver, Jongdae dan juga Jang Eunbi. Bukannya terkejut, ia malah bersikap biasa


saja. Padahal di dalam hatinya jelas ia bertanya-tanya sedang apa anak-anak itu


masih di sini sampai hampir tengah malam. Bukankah kelas sudah selesai sejak


tadi. Gadis itu hanya memasang ekspresi datar. Tidak berlebihan sama sekali.


Juga tentu saja tidak sinkron dengan perasaaannya saat ini.


Tanpa rasa ragu sama sekali, ia memutuskan untuk masuk ke


dalam ruangan tersebut dan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Mereka sama


sekali tidak mengira jika Eun Ji Hae akan datang lagi. Entah kenapa belakangan


ini rasanya Eun Ji Hae gemar sekali berkunjung ke bangunan sekolah. Tidak


seperti biasanya. Entah dia sedang bosan dengan pemandangan yang disuguhkan di


gedung utama, atau malah memang gadis itu sudah dipindahkan tugas sejak


beberapa hari yang lalu. Sehingga Eun Ji Hae selalu sibuk di sekitar sini.


Entahlah. Apa pun itu alasannya, yang jelas saat ini mereka


telah tertangkap basa. Kabur dari Eun Ji Hae bukan pekara mudah. Mereka harus


menjabarkan semua alasannya secara rinci. Tidak ada yang boleh terlihat


mencurigakan. Atau mereka bertiga tidak akan diizinkan untuk kembali ke asrama


setelah ini. Berurusan dengan Eun Ji Hae sama saja dengan menghadapi maut. Nyaris


tidak ada bedanya.


“Apa yang kalian lakukan di sini selarut ini? Sudah jam


berapa sekarang? Kenapa tidak kembali ke asrama?” tanya Eun Ji Hae dengan nada


bicara yang jauh lebih tegas daripada biasanya.


Oliver berusaha untuk menelan salivanya dengan susah payah.


Otaknya seperti mendadak berhenti bekerja. Dia tidak bisa memikirkan apa pun.


Setidaknya sesuatu yang bisa ia pakai sebagai jalan keluar. Nafas gadis itu


tercekat. Lidahnya kelu tak bisa berkata apa-apa. Mereka bertiga mematung di


tempat. Tak berkutik sama sekali.


Dapat dirasakan dengan jelas jika sebuh organ yang jauh


tersembunyi di dalam sana sedang bekerja keras untuk memompa darah lebih cepat


dari pada biasanya. Mereka perlu banyak pasokan oksigen agar tetap sadar selama


proses interogasi bersama Eun Ji Hae.


“Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku?” desak Eun Ji


Hae.

__ADS_1


Derap langkah kakinya terdengar semakin jelas. Menggelitik


gendang telinga ketiga anak manusia di hadapannya. Sungguh menyeramkan. Bak


lagu pengantar menuju kematian yang tak terbantahkan.


Bagaimana bisa Eun Ji Hae mengajukan begitu banyak


pertanyaan tanpa memberikan jeda sedikit pun. Paling tidak biarkan mereka untuk


berpikir sejena. Atau hanya sekedar menarik napas dalam-dalam. Tidak bisa


dipungkiri jika anak-anak itu tidak akan bisa berpikir jernih sementara dirinya


dilanda kepanikan yang luar biasa.


Eun Ji Hae menghentikan langkahnya tepat di depan ketiga


orang tersebut. Menyoroti mereka satu-persatu secara bergantian. Hanya tersisa


beberapa meter lagi jarak di antara mereka. Menghadapi Eun Ji Hae secara


langsung ternyata jauh lebih menyeramkan dari apa yang pernah mereka kira


sebelumnya. Namun, yang satu itu bisa jadi sebuah pengecualian bagi mereka yang


sudah terbiasa untuk berinteraksi dengannya dalam frekuensi yang terbilang


tidak jarang.


Atmosfirnya mendadak berubah. Sulit untuk dideskripsikan


dengan kata-kata. Yang jelas, kini semakin mencekam. Lebih buruk dari


sebelumnya. Kedatangan Eun Ji Hae yang mendadak berhasil mendominasi ruangan


ini.


Jang Eunbi dengan terbata-bata.


Bisa mengeluarkan satu patah kata saja adalah sebuah kerja


bagus. Tidak seperti teman-temannya yang lain yang hanya bisa tertegun.


Sesekali mengerjap untuk mengurangi kecemasan.


“Kelompok?” gumam Eun Ji Hae sembari memiringkan kepalanya.


“Benar! Besok kami ada kelas praktikum bersama dengan Nyonya


Stendwart,” ungkap Jongdae secara terang-terangan.


“Kami diminta untuk membentuk sebuah kelompok,” timpal


Oliver kemudian.


Mereka bertiga berhasil mengatasi rasa gugupnya


masing-masing. Tapi, mereka gagal untuk mencairkan suasana yang sudah terlanjur


membeku sejak awal. Tidak ada yang menyangka jika Eun Ji Hae akan berkunjung


kemari selarut ini. Semua orang bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan oleh


Eun Ji Hae di gedung sekolah. Tidak biasanya ia kemari.


Eun Ji Hae tidak langsung menanggapi pernyataan anak-anak


itu. Ia tidak bisa mempercayai mereka sepenuhnya. Karena pada dasarnya tidak

__ADS_1


ada orang yang bisa dipercaya. Eun Ji Hae harus memastikan setiap halnya


terlebih dahulu. Walau itu adalah sesuatu yang paling kecil sekali pun. tidak


ada yang boleh sampai terlewat.


‘TAP! TAP! TAP!’


Eun Ji Hae kembali melangkah maju. Mempersingkat jarak di


antara mereka. Dia perlu melihat kedua bola mata anak-anak itu secara satu-persatu.


Mulut mungkin bisa berbohong. Tapi, tidak dengan mata. Karena mata adalah


jendela diri. Kau tidak bisa menyembunyikan apa-apa dari sana.


Rahangnya mengeras. Tatapannya mulai berubah tajam. Eun Ji


Hae cukup mengintimidasi. Dia adalah pihak yang paling mendominasi di ruangan


ini. Semua orang tahu jika auranya berbeda dengan kebanyakan orang pada


umumnya.


Eun Ji Hae menatap ketiga orang di hadapannya secara


lamat-lamat. Mengamati setiap gerak-gerik mereka. Apakah ada yang mencurigakan


atau tidak. Tapi, sepertinya tidak masalah. Sejauh ini Eun Ji Hae sama sekali belum


menemukan apa pun. Nihil. Anak-anak itu hanya bereaksi demikian karena gugup.


Bukan karena edang menyembunyikan sesuatu atau sejenisnya. Eun Ji Hae tahu


betul bagaimana cara membedakan perihal yang satu itu.


“Apa kalian masih akan tetap berada di sini setelah aku


pergi nanti?” tanya Eun Ji Hae.


Dari nada bicaranya, ia terdengar cukup tegas. Eun Ji Hae


tidak pernah main-main dengan ucapannya. Semua orang mendadak terbawa suasana


yang baru saja diciptakan oleh gadis ini. Eun Ji Hae bukan sembarangan orang.


Berurusan dengannya, itu sama saja dengan kau menyerahkan seluruh sisa hidupmu


kepada Eun Ji Hae.


“Tidak! Kami baru saja berencana untuk kembali ke kamar kami


masing-masing,” ucap Jang Eunbi dengan cepat yang kemudian mendapat anggukan


dari teman-temannya yang lain. Mereka semua setuju dengan gadis ini.


Beruntung Jang Eunbi langsung menepis asumsi Eun Ji Hae


seketika. Membuat Eun Ji Hae setidaknya bisa menyimpan beberapa pertanyaan yang


masih ingin ia tanyakan. Namun, perkataan Jang Eunbi tadi cukup untuk menahan


rasa penasarannya. Dia sama sekali tidak ingin membuat masalah ini menjadi


semakin besar. Akhir-akhir ini pekerjaannya sudah cukup banyak. Eun Ji Hae


tidak ingin membebani dirinya sendiri dengan hal konyol seperti itu yang


seharusnya tidak perlu dipermasalahkan.

__ADS_1


__ADS_2