
Eun Ji Hae memunculkan kepalanya dari balik pintu. Berusaha
mengintip saat seberkas cahaya mulai menyapa pandangannya kala itu. Eun Ji Hae
mendapati tiga orang yang masih tersisa di dalam ruang kelas tersebut. Ada
Oliver, Jongdae dan juga Jang Eunbi. Bukannya terkejut, ia malah bersikap biasa
saja. Padahal di dalam hatinya jelas ia bertanya-tanya sedang apa anak-anak itu
masih di sini sampai hampir tengah malam. Bukankah kelas sudah selesai sejak
tadi. Gadis itu hanya memasang ekspresi datar. Tidak berlebihan sama sekali.
Juga tentu saja tidak sinkron dengan perasaaannya saat ini.
Tanpa rasa ragu sama sekali, ia memutuskan untuk masuk ke
dalam ruangan tersebut dan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Mereka sama
sekali tidak mengira jika Eun Ji Hae akan datang lagi. Entah kenapa belakangan
ini rasanya Eun Ji Hae gemar sekali berkunjung ke bangunan sekolah. Tidak
seperti biasanya. Entah dia sedang bosan dengan pemandangan yang disuguhkan di
gedung utama, atau malah memang gadis itu sudah dipindahkan tugas sejak
beberapa hari yang lalu. Sehingga Eun Ji Hae selalu sibuk di sekitar sini.
Entahlah. Apa pun itu alasannya, yang jelas saat ini mereka
telah tertangkap basa. Kabur dari Eun Ji Hae bukan pekara mudah. Mereka harus
menjabarkan semua alasannya secara rinci. Tidak ada yang boleh terlihat
mencurigakan. Atau mereka bertiga tidak akan diizinkan untuk kembali ke asrama
setelah ini. Berurusan dengan Eun Ji Hae sama saja dengan menghadapi maut. Nyaris
tidak ada bedanya.
“Apa yang kalian lakukan di sini selarut ini? Sudah jam
berapa sekarang? Kenapa tidak kembali ke asrama?” tanya Eun Ji Hae dengan nada
bicara yang jauh lebih tegas daripada biasanya.
Oliver berusaha untuk menelan salivanya dengan susah payah.
Otaknya seperti mendadak berhenti bekerja. Dia tidak bisa memikirkan apa pun.
Setidaknya sesuatu yang bisa ia pakai sebagai jalan keluar. Nafas gadis itu
tercekat. Lidahnya kelu tak bisa berkata apa-apa. Mereka bertiga mematung di
tempat. Tak berkutik sama sekali.
Dapat dirasakan dengan jelas jika sebuh organ yang jauh
tersembunyi di dalam sana sedang bekerja keras untuk memompa darah lebih cepat
dari pada biasanya. Mereka perlu banyak pasokan oksigen agar tetap sadar selama
proses interogasi bersama Eun Ji Hae.
“Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku?” desak Eun Ji
Hae.
__ADS_1
Derap langkah kakinya terdengar semakin jelas. Menggelitik
gendang telinga ketiga anak manusia di hadapannya. Sungguh menyeramkan. Bak
lagu pengantar menuju kematian yang tak terbantahkan.
Bagaimana bisa Eun Ji Hae mengajukan begitu banyak
pertanyaan tanpa memberikan jeda sedikit pun. Paling tidak biarkan mereka untuk
berpikir sejena. Atau hanya sekedar menarik napas dalam-dalam. Tidak bisa
dipungkiri jika anak-anak itu tidak akan bisa berpikir jernih sementara dirinya
dilanda kepanikan yang luar biasa.
Eun Ji Hae menghentikan langkahnya tepat di depan ketiga
orang tersebut. Menyoroti mereka satu-persatu secara bergantian. Hanya tersisa
beberapa meter lagi jarak di antara mereka. Menghadapi Eun Ji Hae secara
langsung ternyata jauh lebih menyeramkan dari apa yang pernah mereka kira
sebelumnya. Namun, yang satu itu bisa jadi sebuah pengecualian bagi mereka yang
sudah terbiasa untuk berinteraksi dengannya dalam frekuensi yang terbilang
tidak jarang.
Atmosfirnya mendadak berubah. Sulit untuk dideskripsikan
dengan kata-kata. Yang jelas, kini semakin mencekam. Lebih buruk dari
sebelumnya. Kedatangan Eun Ji Hae yang mendadak berhasil mendominasi ruangan
ini.
Jang Eunbi dengan terbata-bata.
Bisa mengeluarkan satu patah kata saja adalah sebuah kerja
bagus. Tidak seperti teman-temannya yang lain yang hanya bisa tertegun.
Sesekali mengerjap untuk mengurangi kecemasan.
“Kelompok?” gumam Eun Ji Hae sembari memiringkan kepalanya.
“Benar! Besok kami ada kelas praktikum bersama dengan Nyonya
Stendwart,” ungkap Jongdae secara terang-terangan.
“Kami diminta untuk membentuk sebuah kelompok,” timpal
Oliver kemudian.
Mereka bertiga berhasil mengatasi rasa gugupnya
masing-masing. Tapi, mereka gagal untuk mencairkan suasana yang sudah terlanjur
membeku sejak awal. Tidak ada yang menyangka jika Eun Ji Hae akan berkunjung
kemari selarut ini. Semua orang bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan oleh
Eun Ji Hae di gedung sekolah. Tidak biasanya ia kemari.
Eun Ji Hae tidak langsung menanggapi pernyataan anak-anak
itu. Ia tidak bisa mempercayai mereka sepenuhnya. Karena pada dasarnya tidak
__ADS_1
ada orang yang bisa dipercaya. Eun Ji Hae harus memastikan setiap halnya
terlebih dahulu. Walau itu adalah sesuatu yang paling kecil sekali pun. tidak
ada yang boleh sampai terlewat.
‘TAP! TAP! TAP!’
Eun Ji Hae kembali melangkah maju. Mempersingkat jarak di
antara mereka. Dia perlu melihat kedua bola mata anak-anak itu secara satu-persatu.
Mulut mungkin bisa berbohong. Tapi, tidak dengan mata. Karena mata adalah
jendela diri. Kau tidak bisa menyembunyikan apa-apa dari sana.
Rahangnya mengeras. Tatapannya mulai berubah tajam. Eun Ji
Hae cukup mengintimidasi. Dia adalah pihak yang paling mendominasi di ruangan
ini. Semua orang tahu jika auranya berbeda dengan kebanyakan orang pada
umumnya.
Eun Ji Hae menatap ketiga orang di hadapannya secara
lamat-lamat. Mengamati setiap gerak-gerik mereka. Apakah ada yang mencurigakan
atau tidak. Tapi, sepertinya tidak masalah. Sejauh ini Eun Ji Hae sama sekali belum
menemukan apa pun. Nihil. Anak-anak itu hanya bereaksi demikian karena gugup.
Bukan karena edang menyembunyikan sesuatu atau sejenisnya. Eun Ji Hae tahu
betul bagaimana cara membedakan perihal yang satu itu.
“Apa kalian masih akan tetap berada di sini setelah aku
pergi nanti?” tanya Eun Ji Hae.
Dari nada bicaranya, ia terdengar cukup tegas. Eun Ji Hae
tidak pernah main-main dengan ucapannya. Semua orang mendadak terbawa suasana
yang baru saja diciptakan oleh gadis ini. Eun Ji Hae bukan sembarangan orang.
Berurusan dengannya, itu sama saja dengan kau menyerahkan seluruh sisa hidupmu
kepada Eun Ji Hae.
“Tidak! Kami baru saja berencana untuk kembali ke kamar kami
masing-masing,” ucap Jang Eunbi dengan cepat yang kemudian mendapat anggukan
dari teman-temannya yang lain. Mereka semua setuju dengan gadis ini.
Beruntung Jang Eunbi langsung menepis asumsi Eun Ji Hae
seketika. Membuat Eun Ji Hae setidaknya bisa menyimpan beberapa pertanyaan yang
masih ingin ia tanyakan. Namun, perkataan Jang Eunbi tadi cukup untuk menahan
rasa penasarannya. Dia sama sekali tidak ingin membuat masalah ini menjadi
semakin besar. Akhir-akhir ini pekerjaannya sudah cukup banyak. Eun Ji Hae
tidak ingin membebani dirinya sendiri dengan hal konyol seperti itu yang
seharusnya tidak perlu dipermasalahkan.
__ADS_1