
Sampai sekarang masih belum ada yang curiga kecuali Jongdae.
Beruntung waktu itu Chanwo segera menepis pernyataan tersebut. Mau tak mau ia
terpaksa ikut berbohong juga. Ternyata benar apa kata orang-orang. Sekali kau
berbohong, maka kau aka terus berbohong untuk menutupi kebohongan yang lainnya.
Pepatah lama tersebut ternyata berlaku untuk situasi yang sedang terjadi
sekarang.
Beruntung pada saat itu Chanwo langsung peka dengan
kondisinya. Dan yang jauh lebih menguntungkannya lagi adalah, pria itu mau
diajak bekerja sama. Entah siapa yang sedang berpihak kepada siapa saat ini.
Tapi, yang jelas ia cukup merasa lega.
“Jadi, kau sungguh tidak menemukannya saat pergi ke hutan?”
tanya Jongdae untuk memastikannya sekali lagi.
“Kalian hanya menyuruhku untuk mengawasi perbatasan antara
pemukiman dan hutan!” jawab Chanwo dengan nada bicara yang jauh lebih tinggi
dari biasanya.
“Jangan salahkan aku jika tidak pergi masuk terlalu jauh ke
dalam hutan!” tegasnya sekali lagi sambil berdecak sebal.
Sementara itu, Jongdae hanya mengehela napasnya dengan
kasar. Ia tidak habis pikir jika ternyata Chanwo sama sekali tidak ingin
disalahkan. Sikapnya sungguh terlihat seperti anak-anak jika diperhatikan
sekilas. Bahkan Nhea juga sempat terkejut melihat perubahan sikap dari pria itu
yang tidak seperti biasanya. Tapi, kemudian ia kembali bersikap biasa saja.
“Sudah-sudah! Jangan berkelahi lagi!” seru Jang Eunbi.
Gadis itu berusaha untuk melerai keduanya. Tidak menutup
kemungkinan jika mereka berdua sungguh akan berkelahi nantinya. Hanya saja,
tidak lucu jika Jongdae dan Chanwo berkelahi hanya karena masalah sepele.
Terlebih kedua pria itu sekarang sudah termasuk kategori pria dewasa.
“Daripada mempermasalahkan hal yang tadi, aku punya
informasi penting untuk kalian semua!” celetuk Oliver secara tiba-tiba.
Di saat yang bersamaan, gadis itu juga berhasil mengalihkan
topik pembicaraan. Oliver telah mencuri perhatian semua orang. Sepertinya ia
banyak belajar dari Eun Ji Hae akhir-akhir ini soal bagaimana menjadi pusat
perhatian orang lain. Sekarang ia sudah jauh lebih baik dalam bidang yang satu
itu.
“Apa itu?” tanya Nhea penasaran.
Sepertinya bukan hanya gadis itu saja satu-satunya orang
__ADS_1
yang merasa penasaran di sini. Namun, mereka semua juga merasakan hal serupa.
“Aku baru saja mendengar berita ini kemarin secara tidak
sengaja,” akunya.
“Katanya tepat setelah makan siang nanti, mereka akan
melakukan acara penobatan untuk Eun Ji Hae,” ungkap gadis itu secara gamblang.
Tidak ada yang sedang ia tutup-tutupi dari mereka. Oliver
tengah bicara dengan sejujur-jujurnya sekarang. Jadi, tidak mungkin ia
berbohong. Nhea cukup yakin dengan hal tersebut. Ekspresi dan perkataan mungkin
bisa menipu. Tapi, tidak dengan sorot mata.
Untuk beberapa orang, menemukan kebenaran memang tidak
mudah. Namun, hal sebaliknya malah terjadi kepada gadis itu. Layaknya sebuah
magnet, Nhea terus menarik setiap kebenaran untuk mendenkat ke arahnya.
“Penobatan Eun Ji Hae?” gumam Nhea sembari berpikir keras. Namun,
hasilnya tetap saja nihil. Ia tidak menemukan jawabannya jika hanya berusaha
sendiri.
“Tapi, untuk apa?” timpal gadis itu beberapa saat kemudian.
Nhea masih belum menemukan poin utamanya yang sedang menjadi
sorotan di sini. Sepertinya nyaris tidak ada hubungannya jika Eun Ji Hae
mendadak melakukan upacara penobatan. Terlebih lagi, yang melakukan hal
acara tersebut.
Baiklah, masuk akal jika mereka mengerahkan seluruh tenaga
serta pikirannya untuk upacara sakral tersebut. Tapi, memangnya apa yang telah
dilakukan oleh Eun Ji Hae. Kenapa secara mendadak ia mendapatkan perlakuan
istmewa seperti itu. tidak bisa dipungkiri jika Nhea diam-diam juga merasa
cemburu. Mungkin ia tidak akan bersikap kekanak-kanakan seperti itu lagi jika
ada alasan yang cukup masuk akal baginya.
“Tapi, kalian harus berjanji untuk menjaga rahasia ini
sampai waktunya nanti tiba,” ujar Oliver dengan nada yang sedikit berbisik.
Semua orang langsung mengangguk dengan antusias. Tepat
setelah Oliver menyelesaikan kalimatnya. Sebenarnya itu bukan sembarang
kalimat. Melainkan sebuah peringatan yang ditujukan secara khusus kepada empat
orang temannya. Hanya mereka berempat saja yang bisa mengetahui informasi ini. Bahkan
mereka seadng dilarang secara keras untuk meneruskan atau membagikannya kepada
orang lain. Oliver tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.
“Kemarin aku tidak sengaja menguping pembicaraan mereka di
ruangan Nyonya kepala sekolah,” beber Oliver secara terang-terangan.
__ADS_1
“Eun Ji Hae akan dlantik menjadi pemimpin tetap akademi ini.
Setelah keputusan rapat beberapa hari yang lalu. Ternyata selama ini mereka
memang sengaja menempatkan gadis itu sebagai asisten Nyonya kepala sekolah.
Mereka ingin melihat sejauh apa kemampuannya dalam memimpin. Lebih tepatnya,
semacam tes untuk mengukur apakah Eun Ji Hae mampu mengendalikan akademi sihir
Mooneta di tangannya sendiri atau tidak,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
“Jadi, maksudmu selama ini ia sedang menjalani masa uji coba
begitu?!” balas Chanwo dengan sedikit memekik.
Oliver lantas segera mengangguk-anggukkan kepalanya untuk
mengiyakan perkataan pria itu barusan. Tebakan Chanwo benar. Kurang lebih
begitu. Ternyata selama ini Eun Ji Hae diangkat menjadi asisten Bibi Ga Eun
bukan tanpa alasan. Ini adalah salah satu bagian dari rencana mereka.
Mungkin sebagian besar dari mereka beranggapan jika akademi
sihir Mooneta tentu akan aman di bawah tangan Eun Ji Hae. Apalagi kabarnya
sekarang ia sudah berhasil melewati masa uji coba tersebut dan akan segera
dilantik. Hal konyol macam apa ini? Bagaimana bisa mereka menentukan siapa
seorang pemimpin yang tepat, hanya dengan melalui masa percobaan saja.
“Tunggu! Bukankah seharusnya Nhea yang akan memimpin akademi
ini nantinya?” tanya Jang Eunbi.
Sejauh ini bukan hanya Chanwo saja yang merasa ada
kejanggalan. Ada begitu banyak hal yang perlu mereka pertanyakan. Hampir
keseluruhan dari mereka merasakan kejanggalan yang kurang lebih sama. Ternyata gadis
itu juga memiliki pikiran yang sama dengan Nhea. Jangan-jangan ia memang bisa
membaca isi pikiran orang lain.
“Seharunya memang begitu aturannya sejak awal. Tapi, aku
juga tidak tahu kenapa mendadak jadi berubah seperti ini,” akunya.
Oliver sendir juga tidak tahu kenapa bisa berubah. Jika ingin
mengubah sistem yang telah ditetapkan sejak awal, maka mereka harus melakukan
rapat kembali. Paling tidak untuk mendiskusikannya bersama. Dengan demikian
tidak akan ada pihak yang merasa keberatan atau bahkan dirugikan di sini. Semuanya
akan terasa jauh lebih adil.
Namun, pada kenyataannya selama
ini rapat untuk mendiskusikan terkait hal tersebut sama sekali tidak pernah
dibahas. Bahkan Nhea sendiri tidak pernah mendapatkan undangan rapat. Setidaknya
ia juga harus dilibatkan. Karena bagaimanapun juga ia tetap salah satu bagian dari
anggota keluarga.
__ADS_1