Mooneta High School

Mooneta High School
News


__ADS_3

Sampai sekarang masih belum ada yang curiga kecuali Jongdae.


Beruntung waktu itu Chanwo segera menepis pernyataan tersebut. Mau tak mau ia


terpaksa ikut berbohong juga. Ternyata benar apa kata orang-orang. Sekali kau


berbohong, maka kau aka terus berbohong untuk menutupi kebohongan yang lainnya.


Pepatah lama tersebut ternyata berlaku untuk situasi yang sedang terjadi


sekarang.


Beruntung pada saat itu Chanwo langsung peka dengan


kondisinya. Dan yang jauh lebih menguntungkannya lagi adalah, pria itu mau


diajak bekerja sama. Entah siapa yang sedang berpihak kepada siapa saat ini.


Tapi, yang jelas ia cukup merasa lega.


“Jadi, kau sungguh tidak menemukannya saat pergi ke hutan?”


tanya Jongdae untuk memastikannya sekali lagi.


“Kalian hanya menyuruhku untuk mengawasi perbatasan antara


pemukiman dan hutan!” jawab Chanwo dengan nada bicara yang jauh lebih tinggi


dari biasanya.


“Jangan salahkan aku jika tidak pergi masuk terlalu jauh ke


dalam hutan!” tegasnya sekali lagi sambil berdecak sebal.


Sementara itu, Jongdae hanya mengehela napasnya dengan


kasar. Ia tidak habis pikir jika ternyata Chanwo sama sekali tidak ingin


disalahkan. Sikapnya sungguh terlihat seperti anak-anak jika diperhatikan


sekilas. Bahkan Nhea juga sempat terkejut melihat perubahan sikap dari pria itu


yang tidak seperti biasanya. Tapi, kemudian ia kembali bersikap biasa saja.


“Sudah-sudah! Jangan berkelahi lagi!” seru Jang Eunbi.


Gadis itu berusaha untuk melerai keduanya. Tidak menutup


kemungkinan jika mereka berdua sungguh akan berkelahi nantinya. Hanya saja,


tidak lucu jika Jongdae dan Chanwo berkelahi hanya karena masalah sepele.


Terlebih kedua pria itu sekarang sudah termasuk kategori pria dewasa.


“Daripada mempermasalahkan hal yang tadi, aku punya


informasi penting untuk kalian semua!” celetuk Oliver secara tiba-tiba.


Di saat yang bersamaan, gadis itu juga berhasil mengalihkan


topik pembicaraan. Oliver telah mencuri perhatian semua orang. Sepertinya ia


banyak belajar dari Eun Ji Hae akhir-akhir ini soal bagaimana menjadi pusat


perhatian orang lain. Sekarang ia sudah jauh lebih baik dalam bidang yang satu


itu.


“Apa itu?” tanya Nhea penasaran.


Sepertinya bukan hanya gadis itu saja satu-satunya orang

__ADS_1


yang merasa penasaran di sini. Namun, mereka semua juga merasakan hal serupa.


“Aku baru saja mendengar berita ini kemarin secara tidak


sengaja,” akunya.


“Katanya tepat setelah makan siang nanti, mereka akan


melakukan acara penobatan untuk Eun Ji Hae,” ungkap gadis itu secara gamblang.


Tidak ada yang sedang ia tutup-tutupi dari mereka. Oliver


tengah bicara dengan sejujur-jujurnya sekarang. Jadi, tidak mungkin ia


berbohong. Nhea cukup yakin dengan hal tersebut. Ekspresi dan perkataan mungkin


bisa menipu. Tapi, tidak dengan sorot mata.


Untuk beberapa orang, menemukan kebenaran memang tidak


mudah. Namun, hal sebaliknya malah terjadi kepada gadis itu. Layaknya sebuah


magnet, Nhea terus menarik setiap kebenaran untuk mendenkat ke arahnya.


“Penobatan Eun Ji Hae?” gumam Nhea sembari berpikir keras. Namun,


hasilnya tetap saja nihil. Ia tidak menemukan jawabannya jika hanya berusaha


sendiri.


“Tapi, untuk apa?” timpal gadis itu beberapa saat kemudian.


Nhea masih belum menemukan poin utamanya yang sedang menjadi


sorotan di sini. Sepertinya nyaris tidak ada hubungannya jika Eun Ji Hae


mendadak melakukan upacara penobatan. Terlebih lagi, yang melakukan hal


acara tersebut.


Baiklah, masuk akal jika mereka mengerahkan seluruh tenaga


serta pikirannya untuk upacara sakral tersebut. Tapi, memangnya apa yang telah


dilakukan oleh Eun Ji Hae. Kenapa secara mendadak ia mendapatkan perlakuan


istmewa seperti itu. tidak bisa dipungkiri jika Nhea diam-diam juga merasa


cemburu. Mungkin ia tidak akan bersikap kekanak-kanakan seperti itu lagi jika


ada alasan yang cukup masuk akal baginya.


“Tapi, kalian harus berjanji untuk menjaga rahasia ini


sampai waktunya nanti tiba,” ujar Oliver dengan nada yang sedikit berbisik.


Semua orang langsung mengangguk dengan antusias. Tepat


setelah Oliver menyelesaikan kalimatnya. Sebenarnya itu bukan sembarang


kalimat. Melainkan sebuah peringatan yang ditujukan secara khusus kepada empat


orang temannya. Hanya mereka berempat saja yang bisa mengetahui informasi ini. Bahkan


mereka seadng dilarang secara keras untuk meneruskan atau membagikannya kepada


orang lain. Oliver tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.


“Kemarin aku tidak sengaja menguping pembicaraan mereka di


ruangan Nyonya kepala sekolah,” beber Oliver secara terang-terangan.

__ADS_1


“Eun Ji Hae akan dlantik menjadi pemimpin tetap akademi ini.


Setelah keputusan rapat beberapa hari yang lalu. Ternyata selama ini mereka


memang sengaja menempatkan gadis itu sebagai asisten Nyonya kepala sekolah.


Mereka ingin melihat sejauh apa kemampuannya dalam memimpin. Lebih tepatnya,


semacam tes untuk mengukur apakah Eun Ji Hae mampu mengendalikan akademi sihir


Mooneta di tangannya sendiri atau tidak,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


“Jadi, maksudmu selama ini ia sedang menjalani masa uji coba


begitu?!” balas Chanwo dengan sedikit memekik.


Oliver lantas segera mengangguk-anggukkan kepalanya untuk


mengiyakan perkataan pria itu barusan. Tebakan Chanwo benar. Kurang lebih


begitu. Ternyata selama ini Eun Ji Hae diangkat menjadi asisten Bibi Ga Eun


bukan tanpa alasan. Ini adalah salah satu bagian dari rencana mereka.


Mungkin sebagian besar dari mereka beranggapan jika akademi


sihir Mooneta tentu akan aman di bawah tangan Eun Ji Hae. Apalagi kabarnya


sekarang ia sudah berhasil melewati masa uji coba tersebut dan akan segera


dilantik. Hal konyol macam apa ini? Bagaimana bisa mereka menentukan siapa


seorang pemimpin yang tepat, hanya dengan melalui masa percobaan saja.


“Tunggu! Bukankah seharusnya Nhea yang akan memimpin akademi


ini nantinya?” tanya Jang Eunbi.


Sejauh ini bukan hanya Chanwo saja yang merasa ada


kejanggalan. Ada begitu banyak hal yang perlu mereka pertanyakan. Hampir


keseluruhan dari mereka merasakan kejanggalan yang kurang lebih sama. Ternyata gadis


itu juga memiliki pikiran yang sama dengan Nhea. Jangan-jangan ia memang bisa


membaca isi pikiran orang lain.


“Seharunya memang begitu aturannya sejak awal. Tapi, aku


juga tidak tahu kenapa mendadak jadi berubah seperti ini,” akunya.


Oliver sendir juga tidak tahu kenapa bisa berubah. Jika ingin


mengubah sistem yang telah ditetapkan sejak awal, maka mereka harus melakukan


rapat kembali. Paling tidak untuk mendiskusikannya bersama. Dengan demikian


tidak akan ada pihak yang merasa keberatan atau bahkan dirugikan di sini. Semuanya


akan terasa jauh lebih adil.


Namun, pada kenyataannya selama


ini rapat untuk mendiskusikan terkait hal tersebut sama sekali tidak pernah


dibahas. Bahkan Nhea sendiri tidak pernah mendapatkan undangan rapat. Setidaknya


ia juga harus dilibatkan. Karena bagaimanapun juga ia tetap salah satu bagian dari


anggota keluarga.

__ADS_1


__ADS_2