
Suasananya mendadak menjadi menegangkan. Atmosfirnya berubah
drastis. Membuat Nhea tidak lagi merasa nyaman berada di sini. Sekarang, ia telah
menjadi pusat perhatian. Ia benci jika harus terjebak dalam posisi seperti ini.
Mendadak dadanya terasa sesak. Seolah ada sesuatu tak
terlihat yang sedang menghimpitnya saat ini. Nhea tidak tahu harus berbuat apa.
jika dipikir-pikir, sepertinya reaksi tubuhnya terhadap kondisi seperti ini
terlalu berlebihan.
“Katanya, kau akan menjadi seorang pemimpin,” ungkap Eun Ji
Hae secara gamblang.
“Lantas, kenapa berbicara seperti ini saja tidak bisa?”
tanyanya.
Alih-alih bertanya, kalimat yang diutarakan oleh gadis itu
barusan jauh lebih cocok jika disebut sebagai sindiran halus. Eun Ji Hae yakin
jika mereka semua cukup pandai untuk mencerna makna dari ucapannya barusan. Semua
anak yang berada di bawah naungan akademi sihir Mooneta adalah anak-anak yang
memiliki kemampuan di atas rata-rata. Jadi, mustahil jika mereka tidak
mengerti.
“Untuk menjadi seorang pemimpin, kau harus peka terhadap
sekitarmu,” ujar Eun Ji Hae sambil berjalan ke sana-kemari.
“Paling tidak, kau harus peduli serta ingin tahu terhadap
teman-temanmu sendiri,” lanjutnya kemudian.
Kini Eun Ji Hae sedang berusaha untuk memberikan nasehat
kepada adik tirinya yang satu itu. Entah benar-benar nasehat yang bertujuan
untuk membangun, atau malah sebaliknya. Gadis itu terkenal cukup manipulatif.
Tidak ada yang bisa memastikan dengan benar apa yang sedang ia rencanakan saat
ini. Tak peduli sedalam apa kemampuan untuk membaca pikiran yang dimiliki oleh
paara siswa.
Namun, entah kenapa Nhea merasa jika dirinya sedang
disudutkan. Seolah ia adalah pihak yang paling bersalah di sini. Padahal, gadis
itu juga tidak tahu apa-apa. Meski merasa terdesak ketika Eun Ji Hae berusaha
untuk membuatnya merasa terintimidasi secara tidak langsung, Nhea tetap
berpikiran positif. Tidak ada gunanya berprasangka buruk. Hal tersebut tidak
akan membantu dalam hal apa pun.
Merasa kegaduhan di dalam dirinya sudah menjadi hal wajar.
Sekarang, paling tidak Nhea sudah mulai bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Bisa dikatakan jika ia sudah merasa jauh lebih tenang dari pada sebelumnya.
Gadis itu kembali menghela napas, untuk menetralisir suasana
hatinya yang sedang tidak karuan saat ini. Dengan perlahan namun meyakinkan,
__ADS_1
Nhea mulai memberanikan diri untuk membalas tatapan Eun Ji Hae. Setelah
dipikir-pikir, untuk apa merasa takut dengannya. Bukankah posisi mereka saat
ini sama saja?
Jika dilihat dari kenyataannya, Eun Ji Hae juga belum bisa
dikategorikan sebagai seorang pemimpin yang baik. Mungkin di mata beberapa
orang ia malah terlihat jauh dari kriteria tersebut. Di mata Nhea sendiri, ia
memang belum bisa dikatakan sebagai seorang pemimpin. Tidak ada hal menarik
yang setidaknya bisa ia teladani dari gadis itu. Mungkin keberanian adalah
satu-satunya poin utama yang ia miliki.
“Kalau begitu, menurutmu apa saja yang harus dimiliki oleh
seorang pemimpin?” tanya Nhea.
Kali ini ia berniat untuk melemparkan balik perkataan Eun Ji
Hae sebelumnya. Bisa jadi, ia malah berniat untuk menyerangnya balik. Tidak
menutup kemungkinan bagi Nhea untuk berani melakukan hal tersebut. Kenapa
tidak? Selama nyalinya cukup dan ia benar, rasanya tidak masalah sama sekali.
“Jadi, kau sungguh tidak tahu soal yang satu itu?” tanya Eun
Ji Hae balik.
“Apa kau sendiri mengetahuinya?” balas Nhea dengan yakin.
Sepertinya semakin ke sini situasinya malah menjadi semakin
menegang. Terjadi sedikit perselisihan di antara Nhea dan juga Eun Ji Hae.
“Jika kau benar-benar merasa penasaran, kita bisa bicarakan
soal itu nanti,” ucap Eun Ji Hae dengan tenang.
“Mari lupakan saja soal pertanyaanku yang sebelumnya,”
lanjutnya.
“Kelihatannya pertanyaanku yang satu itu cukup membingungkan
kalian,” cicitnya sembari memijat pelan pelipisnya.
Untuk pertama kalinya Eun Ji Hae mengalami situasi tersebut.
Tidak ingin ambil pusing, ia segera mengalihkan topik pembicaraan. Terserah
sudah berapa banyak jumlah siswa yang berada di sini. Toh, nanti jika mereka
tidak mendengar informasi lengkapnya karena terlambat, itu adalah kesalahan
mereka sendiri. Jadi, jangan salahkan Eun Ji Hae jika memulai topiknya jauh
lebih cepat.
“Aku hanya ingin mengingatkan kepada kalian untuk
benar-benar serius saat berada di arena pertandingan nanti,” ungkapnya di awal.
“Sekarang kalian tidak bisa main-main lagi. Nasib akademi
kita berada di tangan kalian. Jadi, jangan kecewakan kami. Bukankah kalian
sadar jika sekarang kita sudah memasuki babak final?” jelasnya dengan panjang
lebar.
__ADS_1
“Lakukan usaha terbaik kalian. Ingat, ini adalah langkah terakhir
untuk menjadi pemenang!” tegasnya sekali lagi.
Sepertinya Nhea merasa kurang setuju dengan ucapan gadis itu
barusan. Perkataan Eun Ji Hae tidak bisa ia terima dengan sepenuhnya.
“Bagaimana bisa ia mengatakan hal tersebut dengan mudahnya?
Menuntut orang lain untuk mencapai suatu standar tertentu memang mudah bukan?”
batin gadis itu dalam hati.
Ini bukan yang pertama kalinya mereka berbeda pendapat. Sebenarnya,
hal itu wajar saja terjadi dalam kehidupan sosial. Namun semenjak tinggal
bersama, sepertinya nyaris tidak pernah kakak beradik ini sependapat. Mereka
tidak pernah searah. Selalu ada saja perbedaan yang menjadi pertentangan.
“Apa hanya itu yang ingin dia katakan?” batin Nhea sekali
lagi.
“Baiklah, kalian bisa membubarkan diri sekarang dan bersiap.
Hanya itu yang ingin kukatakan,” ucap Eun Ji Hae di akhir.
Seolah mengetahui isi hati Nhea, entah kenapa jawabannya
sama persis seperti pertanyaan yang sempat diutarakan gadis tersebut di dalam
hatinya sebelumnya. Jujur, ia sempat merasa terkejut sekaligus tidak percaya di
awal. Namun setelah dipikir-pikir, hal semacam itu bisa saja terjadi secara
kebetulan. Tidak ada yang perlu dicemaskan.
Mereka baru berani membubarkan diri tepat setelah Eun Ji Hae
berpaling pergi. Entah kemana perginya gadis itu. Mereka juga tidak perlu tahu.
Bukan urusannya sama sekali. Termasuk Nhea. Lagipula mereka juga tidak peduli
dengan urusan pribadi Eun Ji Hae. Biarkan mereka mengurus urusannya
masing-masing.
“Mengapa kau berkata kasar seperti itu terhadap kakakmu
sendiri?” ujar Oliver sembari menyenggol lengan gadis itu.
Sementara itu, sosok yang diajak bicara hanya bisa memutar
bola matanya dengan malas. Sebenarnya, ia sama sekali tidak ingin membahas
masalah itu lagi. Namun, entah kenapa Oliver kembali menyinggung hal yang sama.
Padahal ia tidak tertarik sama sekali.
“Aku hanya mengatakan apa yang menurutku benar,” ungkap Nhea
secara gamblang.
“Tapi, aku sama sekali tidak mengira jika kau akan berani
melawan kakakmu sendiri di hadapan umum seperti itu,” cicit Oliver.
“Lihat saja bagaimana tadi ia menyerah dengan perkataanmu!”
celetuknya dengan antusias.
“Aku yakin jika tadi Kakak Ji pasti mengalami kesulitan
__ADS_1
untuk membantah semua perkataanmu,” finalnya.