
Tapi hal itu menurutnya bukan suatu masalah besar. Karena di balik kecerobohannya itu, diam-diam ternyata Chanwo telah menolong gadisi ini. Sebab dirinya sempat memakan separuh dari jantung gadis itu. Secara tidak langsung, pria ini telah menyerap kekuatan dari kaum bayangan yang diwariskan oleh ayahnya sendiri yaitu Wilson. Berkat pangeran vampire berdarah setengah klan bayangan ini, Nhea masih bisa tetap bertahan hidup hingga saatini.
Namun sepertinya tak ada orang yang tau soal kejadian yang berlangsung selama beberapa tahun silam itu. Hanya Chanwo lah satu-satunya orang yang tahu persis soal kejadian itu, karena ia lah yang merupakan pelakunya. Nhea yang saat itu mengambil posisi sebagai korban, masih terlalu muda untuk mengingat semuanya.
Terdengar aneh dan hampir tak masuk akal memang. Tapi selama ini gadis itu benar-benar hanya bertahan hidup dengan separuh sisa dari jantungnya yang masih terus berdetak hingga hari ini. Sebenarnya jika saat itu Chanwo memakan jantung gadis ini seluruhnya, mungkin Nhea akan segera mati saat itu juga. Gadis itu mungkin tak akan bisa tumbuh besar menjadi seorang gadis penyihir secantik ini. Untung saja saat itu Chanwo kecil, mampu menahan dirinya sendiri agar tak melakukan kesalahan yang lebih besar lagi.
Gadis itu tak memiliki darah kaum kegelapan sepenuhnya. Dia hanyalah kaum kegelapan dengan separuh darah manusia. Tak akan mungkin bagi Nhea untuk bertahan hidup tanpa detak jantung sama sekali. Setiap manusia pasti akan sangat membutuhkan hal yang satu itu, tidak seperti kaum kegelapan yang bisa hidup abadi tanpa suara detak jantung sama sekali.
“Bagaimana caraku untuk menolongnya,” gumam Chanwo pelan.
Ia tak yakin jika dirinya bisa membantu gadis malang yang tengah sekarat ini. Tapi Chanwo harus terus mencari cara untuk membantunya. Hanya gadis ini lah satu-satunya harapan bagi Sekolah Mooneta untuk menang. Chanwo harus membayar atas kesalahannya yang pernah ia lakukan terhadap Nhea kecil saat itu.
“Apa aku harus melakukan yang satu itu?” tanya pria itu pada dirinya sendiri.
“Ah, tidak! Jangan yang itu, pasti ada cara lain untuk menyelamatkannya. Cara yang satu itu terlalu berbahaya,” ucapnya sambil berjalan modar-mandir di ruangan itu.
Chanwo kembali menghampiri Nhea. Mendekatkan dirinya dengan gadis itu, yang jauh lebih muda darinya. Pria itu menyondongkan wajahnya ke arah Nhea. Jarak mereka sangat dekat, sampai-sampai Chanwo bisa merasakan hembusan nafas gadis ini. Salah satu tangannya menyapu halus pipi putih gadis penyihir dengan detengah darah klan ini.
“Kenapa kau begitu menggoda…” bisik Chanwo pelan di telinganya.
__ADS_1
“Waktu kau bayi, darah mu begitu menggodaku. Sekarang lihatlah, apa kau ingin menggodaku kembali dengan paras cantikmu ini?” lanjutnya sambil menepikan beberapa helai rambut Nhea,
“Dulu aku begitu tergoda denganmu hingga melakukan satu kesalahan fatal. Jadi sekarang jangan paksa akuk untuk melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Ku harap aku bisa menahan diriku sendiri,” jelas pria tersebut dengan panjang lebar.
Sebenarnya percuma saja jika Chanwo mencoba untuk berbicara dengan gadis ini. Nhea sedang tak berada di sini, jiwanya sedang berpetualang bebas. Jadi ia pasti tak bisa mendengar semua yang telah dikatakan oleh pria ini.
Chanwo kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis di hadapannya itu. Kali benar-benar dekat dari pada yang sebelumnya. Pria itu mengecup dahi Nhea dengan sigkat dan dalam kurun waktu sepersekian detik saja. Kemudian ia segera memundurkan kepalanya kembali.
“Tetaplah di sini, aku akan datang lagi nanti malam. Sekarang aku harus pergi sebentar, karena mereka akan menuju ke sini,” ucap Chanwo kemudian segera menghilang dengan kecepatan yang tak terkira.
Benar seperti apa yang dikatakan oleh Chanwo tadi. Wilson dan Vallery kembali datang ke sana, untuk menemui anak kandungnya itu. Tapi kali ini hanya mereka berdua yang datang ke tempat itu, Eun Ji Hae dan Ga Eun masih berada di bilik lainnya dari tempat ini, untuk menyelesaikan masalah pribadinya.
Vallery menatap Nhea dengan tatapan nanar. Ia merasa gagal dan tak pantas sama sekali untuk menjadi seorang ibu. Sepertinya apa yang dikatakan Ga Eun padanya tadi memang benar adanya. Kali ini Vallery mulai memikirkan hal yang satu itu dengan serius.
“Tapi kau lihat? Sama sekali tak ada sesuatu yang terjadi Wilson,” keluh wanita itu terhadap suaminya.
“Mungkin kita harus bersabar sedikit lagi,” balas Wilson seraya berusaha menenangkan wanita yang ia cintai itu.
“Bagaimana aku bisa bersabar!” bentak Vallery dengan geram.
__ADS_1
“Ayo kita keluar. Besok kita kembali lagi untuk melihat kondisinya,” ucap Wilson.
“Aku takut terjadi sesuatu dengan Nhea. Aku tak mampu menyelamatkannya,” jelas Vallery dengan perasaan cemasnya.
“Percayalah, Nhea pasti baik-baik saja,” ujar Wilson dengan penuh pengertian.
Mau tak mau mereka harus kembali ke kamar mereka masing-masing. Setelah perjalanan panjang itu, orang-orang ini perlu istirahat. Vallery belakangan ini terlalu banyak pikiran, Wilson takut jika dia akan jatuh sakit dan melemah di saat serangan Ify mulai datang.
Untuk saat ini rasanya Vallery dan Wilson hanya bisa berharap. Setiap detik yang mereka habiskan akan digunakan untuk berdoa. Puluhan ribu semoga juga terus terucap dari mulut mereka. Nhea tak perlu khawatir karena dalam keadaan apapun gadis muda itu, ia tak akan pernah kehilangan pemohon kebaikan yang paling handal.
***
Tepat pukul dua belas malam, saat seluruh sekolah ini sudah mulai tertidur. Nyaris taka da seorangpun yang sedang terjaga di tempat ini, kecuali para Griffin yang memang sedang berjaga di depan gerbang sana.
‘SYUTT…’
Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melintas tepat di depan Nhea. Pergerakannya terlalu cepat untuk diamati oleh mata telanjang manusia biasa. Kehadirannya bahkan tak diketahui entah dari mana. Tiba-tiba ia muncul begitu saja di ruangan itu, seperti masuk dengan cara menembus tembok. Tapi rasanya itu hal yang mustahil untuk dilakukan, kecuali dia memang mahluk gaib.
“Nhea, aku datang sesuai dengan janjiku,” ucap pria tersebut dengan lembut.
__ADS_1
Awalnya Chanwo tak yakin jika harus melakukan ini sebelumnya. Namun jika dipikir-pikir tak ada cara lain untuk menyelamatkan Nhea, kecuali dengan cara yang satu ini. Sebenarnya hal ini adalah sebuah pilihan yang sulit baginya. Jika Chanwo melakukan ini, maka itu artinya pria ini akan mengubah hidup Nhea untuk selama-lamanya.
Chanwo mulai mendekatkan dirinya ke arah gadis itu. Pria itu mencium aroma tubuh Nhea yang begitu memikat. Dengan susah payah ia menelan salivanya sendiri. Sejujurnya Chanwo masih tak benar-benar yakin jika pada akhirnya ia akan melakukan hal ini.