Mooneta High School

Mooneta High School
Me or She


__ADS_3

Tidak perlu waktu lama untuk menunggu semua orang berkumpul


di aula. Pasalnya, jarak antara ruang makan dengan aula tidak terlalu jauh.


Mereka bahkan bisa menempuhnya hanya dalam waktu kurang dari lima menit.


Setelah sampai di dalam, Nhea dan teman-temannya langsung


memilih tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari pintu keluar. Setelah


dipikir-pikir, sepertinya itu adalah tempat yang paling strategis untuk


sekarang ini. Nhea harus tetap waspada dalam situasi apa pun. Menurutnya selain


tidak terlalu sesak, posisi tempat duduk yang satu ini juga lebih memudahkan


mereka untuk mengakses jalan keluar.


Kebetulan pada saat itu belum ada siapa-siapa yang duduk di


sana. Jadi, sepertinya tidak ada salahnya jika Nhea dan teman-temannya


mengambil tempat duduk itu lebih dulu. Lagipula mereka berhak atas itu.


Sembari menunggu yang lain datang, Nhea mengedarkan


pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Mengamati setiap isi tempat ini dengan


seksama. Ia tidak boleh sampai melewatkan satu hal pun. Sebab, hal tersebut


akan sama pentingnya dengan acara ppenobatan Eun Ji Hae nanti.


Tidak dapat dipungkiri jika Nhea masih tidak terima.


Bagaimanapun juga, sejak awal mereka sudah menjanjikan posisi tersebut kepada


dirinya. Bukan Nhea yang meminta. Melainkan Bibi Ga Eun sendiri yang


menawarkannya. Bukan hanya wanita itu saja. Tapi, anggota keluarga lainnya juga


mengatakan hal yang serupa.


Kabar soal generasi pertama yang akan menjadi pemimpin


berikutnya ternyata hanya sekedar omong kosong belaka. Mereka hanya berniat


untuk menenangkan gadis itu setelah sampai di sini. Bbi Ga Eun paham betul jika


ia sempat merasa terkejut. Tidak mudah bagi seseorang untuk beradaptasi di


lingkungan yang baru. Termasuk Nhea salah satunya.


Bukan itu yang menjadi masalah utamanya di sini. Melainkan


ada satu hal yang cukup ia soroti sejak kemarin. Tidak bisa dipungkiri jika hal


tersebut cukup menarik perhatiannya.


Tepat pada hari pertama ketika Nhea menginjakkan kakinya di


akademi sihir Mooneta, Bibi Ga Eun mendeklarasikan kepada semua orang jika Nhea


akan menjadi pemimpn selanjutnya di akademi. Wanita itu mengatakannya di


hadapan semua orang. Bahkan peristiwa tersebut masih terjadi di tempat yang


sama dengan tempat ia berdiri saat ini.


Sebenarnya Nhea tidak terlalu kecewa. Walaupun setelah


dipikir-pikir, ia cukup dirugikan di sini. Nhea kehilangan hal yang seharusnya

__ADS_1


sudah menjadi haknya sejak awal. Lagi-lagi Eun Ji Hae mengusiknya. Namun, Nhea


tidak akan terlalu mempermasalahkan yang satu itu sekarang. Bukan hal yang


terlalu penting baginya saat ini jika bleh jujur.


Dari awal, Nhea juga sudah tidak tertarik untuk menjadi


seorang pemimpin. Menurutnya, ia tidak cocok sama sekali. Bukannya tidak cocok.


Nhea hanya tidak ingin membebani dirinya sendiri dengan ikut memikirkan masalah


orang lain juga. Memecahkan masalahnya sendiri saja ia masih tidak bisa.


Lantas, kenapa harus repot-repot memikirkan masalah orang lain juga.


Tapi, itu adalah salah satu resiko yang harus siap ia terima


jika ingin menjadi seorang pemimpin. Kemarin ia memang belum sepenuhnya siap


untuk memposisikan dirinya sebagai seorang pemimpin. Jika boleh jujur,


sebenarnya Nhea jauh lebih suka jika dipimpin. Tidak banyak orang yang tahu


soal fakta tersebut.


Kemarin adalah kemarin. Dan sekarang adalah sekarang.


Kesiapan mentalnya sudah berubah drastis sekarang. Paling tidak, untuk saat ini


ia sudah meyakinkan dirinya sendiri.


***


Untuk acara penobatan, dekorasi ruangan ini terkesan begitu


sederhana. Mereka bahkan nyaris tidak terlihat menambahkan dekorasi apa pun.


pemimpin baru?!” geruru Nhea.


Tidak berhenti sampai di situ saja. Matanya masih terus


menyisir seisi ruangan. Sampai tepat pada saat ia tengah sibuk mengamati


ruangan ini tiba-tiba matanya tertuju kepada satu benda yang berada di depan


sana. Sepertinya ia tidak merasa asing lagi. Nhea yakin betul jika ia pernah


melihat benda itu sebelumnya.


Gadis itu lantas segera memicingkan matanya. Ia perlu


mempersempit jangkauan pandang, dengan begitu pengelihatannya akan terasa lebih


fokus. Mengingat jika posisi Nhea saat ini berada di bangku nomer urut kelima


dari belakang.


“Mustahil jika itu mahkotanya!” gumam gadis itu.


Nhea melongo tidak percaya. Ia buru-buru menutupi mulutnya


sendiri. Akan terlihat sangat tidak sopan jika sampai orang lain melihatnya. Ini


bukan ekspresi yang bagus untuk dipertontonkan.


Sungguh tidaka masuk akal. Otaknya terus menolak untuk


percaya. Tidak peduli sudah berapa keras ia beursaha untuk meyakinkn dirinya


sendiri. Bukan hanya itu, bahkan Nhea masih tetap tidak bisa percaya meski

__ADS_1


bukti sudah di depan mata. Ia tahu dengan jelas jika yang berada di depan sana


benar mahkota yang ia maksud.


“Jadi, mereka mau mengeluarkan mahkota tersebut dari


tempatnya hanya untuk Eun Ji Hae?” batin Nhea di dalam hati.


Sebenarnya siapa yang merupakan pewaris tahta di sini.


Akademi sihir Mooneta tidak pernah transparan. Jangankan kepada orang lain.


Dengan anggota keluarganya sendiri saja mereka tidak pernah  bisa berbuat jujur. Mungkin karena mereka


tidak saling memiliki hubungan darah sama sekali. Nhea bisa memahami yang satu


itu.


“Sebenarnya siapa yang mengkhianati siapa di sini?” geram


gadis itu sambil mengepal kedua tangannya kuat-kuat.


Padahal Nhea sudah berniat untuk tidak mencari masalah lagi


kali ini. Ia hendak menyelesaikan semuanya secara satu-persatu dulu. Tapi,


kesalahan Eun Ji Hae yang kali ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Mau tidak


mau ia terpaksa mengeluarkan senjata utamanya.


Jika dipikir baik-baik, Eun Ji Hae adalah satu-satunya orang


yang mencari masalah di sini. Bagaimana bisa mereka tidak menyadari hal


tersebut. Selama ini Nhea sudah cukup bersabar dalam menghadapi gadis itu.


Tapi, tidak dengan kali ini.


Di lubuk hatinya yang terdalam, Nhea sudah bertekad untuk


membalas semua perbuatan Eun Ji Hae kepadanya selama ini. Sekarang bukan


waktunya untuk tetap diam dan bungkam. Beberapa kebenaran memang harus diungkap


demi mendapatkan keadilan bagi beberapa pihak tertentu.


Hari ini Nhea berencana untuk membongkar semuanya. Seisi


aula harus tahu siapa Eun Ji Hae yang sebenarnya. Jika ia bukan merupakan putri


kandung dari Vallery. Secara tidak langsung, Nhea akan membenarkan rumor yang


pernah menjadi pembicaraan seluruh akademi pada waktu itu. Sekarang ia tidak


akan membela apalagi berpihak kepada siapa pun di sini.


Eun Ji Hae benar-benar akan tamat hari ini. Tidak ada kata


maaf lagi baginya. Bagaimanapun juga, Eun Ji Hae memang pantas untuk


mendapatkan hal tersebut. Dia bukan seorang gadis yang baik. Sifat asilnya


berbeda jauh dengan apa yang dipikirkan oleh orang-orang selama ini.


“Jika mereka tidak bisa memberikanku keadilan, maka aku akan


mengusahakannya untuk diriku sendiri,” ucap Nhea dengan penuh penekanan.


Sepertinya kali ini ia tengah


bersungguh-sungguh dengan ucapannya sendiri. Nhea tidak sedang bermain-main. Memangnya

__ADS_1


kapan ia pernah begitu.


__ADS_2