
Tidak perlu waktu lama untuk menunggu semua orang berkumpul
di aula. Pasalnya, jarak antara ruang makan dengan aula tidak terlalu jauh.
Mereka bahkan bisa menempuhnya hanya dalam waktu kurang dari lima menit.
Setelah sampai di dalam, Nhea dan teman-temannya langsung
memilih tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari pintu keluar. Setelah
dipikir-pikir, sepertinya itu adalah tempat yang paling strategis untuk
sekarang ini. Nhea harus tetap waspada dalam situasi apa pun. Menurutnya selain
tidak terlalu sesak, posisi tempat duduk yang satu ini juga lebih memudahkan
mereka untuk mengakses jalan keluar.
Kebetulan pada saat itu belum ada siapa-siapa yang duduk di
sana. Jadi, sepertinya tidak ada salahnya jika Nhea dan teman-temannya
mengambil tempat duduk itu lebih dulu. Lagipula mereka berhak atas itu.
Sembari menunggu yang lain datang, Nhea mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Mengamati setiap isi tempat ini dengan
seksama. Ia tidak boleh sampai melewatkan satu hal pun. Sebab, hal tersebut
akan sama pentingnya dengan acara ppenobatan Eun Ji Hae nanti.
Tidak dapat dipungkiri jika Nhea masih tidak terima.
Bagaimanapun juga, sejak awal mereka sudah menjanjikan posisi tersebut kepada
dirinya. Bukan Nhea yang meminta. Melainkan Bibi Ga Eun sendiri yang
menawarkannya. Bukan hanya wanita itu saja. Tapi, anggota keluarga lainnya juga
mengatakan hal yang serupa.
Kabar soal generasi pertama yang akan menjadi pemimpin
berikutnya ternyata hanya sekedar omong kosong belaka. Mereka hanya berniat
untuk menenangkan gadis itu setelah sampai di sini. Bbi Ga Eun paham betul jika
ia sempat merasa terkejut. Tidak mudah bagi seseorang untuk beradaptasi di
lingkungan yang baru. Termasuk Nhea salah satunya.
Bukan itu yang menjadi masalah utamanya di sini. Melainkan
ada satu hal yang cukup ia soroti sejak kemarin. Tidak bisa dipungkiri jika hal
tersebut cukup menarik perhatiannya.
Tepat pada hari pertama ketika Nhea menginjakkan kakinya di
akademi sihir Mooneta, Bibi Ga Eun mendeklarasikan kepada semua orang jika Nhea
akan menjadi pemimpn selanjutnya di akademi. Wanita itu mengatakannya di
hadapan semua orang. Bahkan peristiwa tersebut masih terjadi di tempat yang
sama dengan tempat ia berdiri saat ini.
Sebenarnya Nhea tidak terlalu kecewa. Walaupun setelah
dipikir-pikir, ia cukup dirugikan di sini. Nhea kehilangan hal yang seharusnya
__ADS_1
sudah menjadi haknya sejak awal. Lagi-lagi Eun Ji Hae mengusiknya. Namun, Nhea
tidak akan terlalu mempermasalahkan yang satu itu sekarang. Bukan hal yang
terlalu penting baginya saat ini jika bleh jujur.
Dari awal, Nhea juga sudah tidak tertarik untuk menjadi
seorang pemimpin. Menurutnya, ia tidak cocok sama sekali. Bukannya tidak cocok.
Nhea hanya tidak ingin membebani dirinya sendiri dengan ikut memikirkan masalah
orang lain juga. Memecahkan masalahnya sendiri saja ia masih tidak bisa.
Lantas, kenapa harus repot-repot memikirkan masalah orang lain juga.
Tapi, itu adalah salah satu resiko yang harus siap ia terima
jika ingin menjadi seorang pemimpin. Kemarin ia memang belum sepenuhnya siap
untuk memposisikan dirinya sebagai seorang pemimpin. Jika boleh jujur,
sebenarnya Nhea jauh lebih suka jika dipimpin. Tidak banyak orang yang tahu
soal fakta tersebut.
Kemarin adalah kemarin. Dan sekarang adalah sekarang.
Kesiapan mentalnya sudah berubah drastis sekarang. Paling tidak, untuk saat ini
ia sudah meyakinkan dirinya sendiri.
***
Untuk acara penobatan, dekorasi ruangan ini terkesan begitu
sederhana. Mereka bahkan nyaris tidak terlihat menambahkan dekorasi apa pun.
pemimpin baru?!” geruru Nhea.
Tidak berhenti sampai di situ saja. Matanya masih terus
menyisir seisi ruangan. Sampai tepat pada saat ia tengah sibuk mengamati
ruangan ini tiba-tiba matanya tertuju kepada satu benda yang berada di depan
sana. Sepertinya ia tidak merasa asing lagi. Nhea yakin betul jika ia pernah
melihat benda itu sebelumnya.
Gadis itu lantas segera memicingkan matanya. Ia perlu
mempersempit jangkauan pandang, dengan begitu pengelihatannya akan terasa lebih
fokus. Mengingat jika posisi Nhea saat ini berada di bangku nomer urut kelima
dari belakang.
“Mustahil jika itu mahkotanya!” gumam gadis itu.
Nhea melongo tidak percaya. Ia buru-buru menutupi mulutnya
sendiri. Akan terlihat sangat tidak sopan jika sampai orang lain melihatnya. Ini
bukan ekspresi yang bagus untuk dipertontonkan.
Sungguh tidaka masuk akal. Otaknya terus menolak untuk
percaya. Tidak peduli sudah berapa keras ia beursaha untuk meyakinkn dirinya
sendiri. Bukan hanya itu, bahkan Nhea masih tetap tidak bisa percaya meski
__ADS_1
bukti sudah di depan mata. Ia tahu dengan jelas jika yang berada di depan sana
benar mahkota yang ia maksud.
“Jadi, mereka mau mengeluarkan mahkota tersebut dari
tempatnya hanya untuk Eun Ji Hae?” batin Nhea di dalam hati.
Sebenarnya siapa yang merupakan pewaris tahta di sini.
Akademi sihir Mooneta tidak pernah transparan. Jangankan kepada orang lain.
Dengan anggota keluarganya sendiri saja mereka tidak pernah bisa berbuat jujur. Mungkin karena mereka
tidak saling memiliki hubungan darah sama sekali. Nhea bisa memahami yang satu
itu.
“Sebenarnya siapa yang mengkhianati siapa di sini?” geram
gadis itu sambil mengepal kedua tangannya kuat-kuat.
Padahal Nhea sudah berniat untuk tidak mencari masalah lagi
kali ini. Ia hendak menyelesaikan semuanya secara satu-persatu dulu. Tapi,
kesalahan Eun Ji Hae yang kali ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Mau tidak
mau ia terpaksa mengeluarkan senjata utamanya.
Jika dipikir baik-baik, Eun Ji Hae adalah satu-satunya orang
yang mencari masalah di sini. Bagaimana bisa mereka tidak menyadari hal
tersebut. Selama ini Nhea sudah cukup bersabar dalam menghadapi gadis itu.
Tapi, tidak dengan kali ini.
Di lubuk hatinya yang terdalam, Nhea sudah bertekad untuk
membalas semua perbuatan Eun Ji Hae kepadanya selama ini. Sekarang bukan
waktunya untuk tetap diam dan bungkam. Beberapa kebenaran memang harus diungkap
demi mendapatkan keadilan bagi beberapa pihak tertentu.
Hari ini Nhea berencana untuk membongkar semuanya. Seisi
aula harus tahu siapa Eun Ji Hae yang sebenarnya. Jika ia bukan merupakan putri
kandung dari Vallery. Secara tidak langsung, Nhea akan membenarkan rumor yang
pernah menjadi pembicaraan seluruh akademi pada waktu itu. Sekarang ia tidak
akan membela apalagi berpihak kepada siapa pun di sini.
Eun Ji Hae benar-benar akan tamat hari ini. Tidak ada kata
maaf lagi baginya. Bagaimanapun juga, Eun Ji Hae memang pantas untuk
mendapatkan hal tersebut. Dia bukan seorang gadis yang baik. Sifat asilnya
berbeda jauh dengan apa yang dipikirkan oleh orang-orang selama ini.
“Jika mereka tidak bisa memberikanku keadilan, maka aku akan
mengusahakannya untuk diriku sendiri,” ucap Nhea dengan penuh penekanan.
Sepertinya kali ini ia tengah
bersungguh-sungguh dengan ucapannya sendiri. Nhea tidak sedang bermain-main. Memangnya
__ADS_1
kapan ia pernah begitu.