
Sekarang sudah memasuki hari ketiga Nhea berada di ruang
penyimpanan. Selama berada di sini, Chanwo sering berkunjung. Seperti biasanya
mereka menghabiskan waktu dengan pergi menyelinap ke dapur, kemudian kembali
lagi ke atas dan mulai bercertia. Siklus yang sama selalu kembali terulang
setiap harinya.
Gadis itu sudah merencanakan untuk tetap berada di sini
selama tiga hari. Yang berarti, hari ini adalah ari terakhir baginya untuk
bersembunyi. Sekarang dia tidak memiliki alasan lagi untuk tetap berada di sini
lebih lama lagi. Nhea bukanlah seorang gadis yang dikenal sebagai pecundang. Nhea
bukan tipikal orang yang akan menghindari masalahnya sendiri. Ia tidak akan
pernah mencoba untuk lari, meski rasanya ia begitu menginginkan hal tersebut.
Memangnya siapa yang tidak menginginkan ketenangan?
Lari dari masalah bukan cara terbaik untuk menyelesaikannya.
Karena, tanpa kau hadapi ia tidak akan selesai. Bukankah seorang pemimpin harus
terbiasa dalam menghadapi masalah? Semesta hanya sedang menempahnya untuk
menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi.
“Apa kau akan kembali lagi bersama kami?” tanya Chanwo untuk
memastikan.
“Ini sudah memasuki hari ketiga,” katanya.
“Kuharap kau tidak melupakan janjimu sendiri,” tukas pria
itu kemudian.
Mendengar perkataan tersebut, ekspresi Nhea lantas berubah.
Dia tidak menonjolkan suatu emosi tertentu. Tampaknya semua begitu seimbang.
Namun, tidak dengan isi kepalanya. Chanwo tahu persis jika belakangan ini ada
begitu banyak hal yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Beberapa masalah
memang selalu datang dalam waktu yang berdekatan. Sehingga membuat Nhea nyaris
kewalahan. Mungkin Chanwo juga akan merasakan hal yang sama jika berada pada
posisi tersebut.
Gadis itu merendahkan pandangannya. Sekali lagi ia berusaha
untuk merenungi ucapan Chanwo barusan. Bukan karena tidak mengerti. Dia hanya
tidak ingin salah mengambil keputusan. Nhea sedang tidak ingin merugikan siapa
pun di sini. Karena pada dasarnya, ia juga sedang terjebak dalam kesulitan.
Gadis itu sama sekali tidak tahu kapan semua ini akan berakhir.
“Haruskah aku kembali?” tanya Nhea dengan ragu.
“Jangan pikirkan soal yang lain! Lakukanlah semua itu demi
aku!” tegas pria itu.
Nhea lantas mengerutkan dahinya. Ia tak benar-benar paham
dengan apa yang barusaja disampaikan oleh pria itu kepadanya.
__ADS_1
Seolah paham dengan isi pikiran gadis tersebut, Chanwo
lantas berkata, “Kau harus menepati janjimu untuk kembali setelah tiga hari
kemudian.”
Setelah dijelaskan secara singkat, Nhea baru benar-benar
paham. Tidak ada lagi rasa ragu yang terselip di dalam hatinya. Kini ia
mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Waktunya akan diputar mundur, kembali
ke masa tiga hari yang lalu. Tepat dimana pertama kali Chanwo menghampirinya
kemari. Berdiri di depan pintu masuk.
Setelah dipikir-pikir kembali, apa yang dikatakan oleh pria
itu barusan ada benarnya juga. Ia harus kembali. Bukan karena orang lain yang
memintanya, oleh sebab itu jangan hiraukan perkataan orang lain. Melainkan Nhea
kembali untuk sahabatnya. Karena ia sadar, mereka harus bersama-sama terus
sampai berhasil mencapai titik tertentu. Dan mungkin akan tetap bersama setelahnya.
Kini Nhea punya misi baru. Yaitu, untuk mengungkap hal baru
baik hal lama yang terjadi di akademi sihir Mooneta. Seperti yang sudah ia
ketahui jika keluarga inti tengah berusaha untuk menyembunyikan faktanya dari
banyak orang. Mereka ingin menutupi sisi gelapnya.
Hal tersebut sebenarnya wajar-wajar saja. Manusia pasti
selalu ingin terlihat sempurna di hadapan manusia lainnya. Oleh sebab itu,
mereka akan berusaha untuk menutupi setiap hal buruk yang dimiliki. Padahal
Agaknya semua orang tahu betul jika tidak ada yang sempurna di dunia ini.
Mendekati sempurna adalah kata yang paling sering ia dengarkan.
“Lalu, bagaimana caranya aku kembali?” tanya Nhea kepada
pria itu.
“Maksudmu?” tanyanya balik.
“Mereka pasti akan sangat terkejut jika aku menghlang, lalu
mendadak kembali lagi,” jelas gadis itu kemudian.
Pasti akan menjadi sesuatu yang mengejutan nantinya, jika
sampai mereka tahu jika Nhea kembali. Setelah menghilang selama tiga hari tanpa
kabar sama sekali, mendadak ia datang kembali. Sejauh ini pihak keluarga belum
melakukan upaya pencarian terhadap dirinya. Di satu sisi itu merupakan hal
baik, karena Nhea tidak perlu mencemaskan dirinya sendiri. Gadis itu bisa
tenang, tidak perlu khawatir akan tertangkap. Namun, di sisi lain ia justru
kecewa terhadap keluarganya sendiri.
Nhea mempertanyakan status serta seberapa besaar
kedudukannya di dalam silsilah keluarga mereka. Ringkasnya begini, jika mereka
merasa kalau gadis itu adalah sesuatu yang penting maka mereka pasti akan
melakukan apa pun untuk mencarinya. Mengingat beberapa waktu yang lalu, Bibi Ga
__ADS_1
Eun pernah mengungkapkan jika Nhea merupakan pemimpin masa depan. Nasib akademi
sihir Mooneta berada di tangannya.
“Baiklah, aku tidak akan kembali karena keluargaku.
Melainkan untuk teman-temanku serta akademi ini,” batinnya dalam hati.
Gadis itu tengah berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Meski
pada akhirnya ia tahu akan seperti apa. Perasaannya tidak pernah benar-benar
yakin dengan keputusan yang satu ini. Selalu ada saja hal lain yang perlu
dipertimbangkan.
“Besok bisa dipastikan jika aku akan kembali berada di
tengah-tengah kalian semua,” gumam gadis itu pelan.
Namun, ternyata pada kenyataannya suara gadis itu belum
cukup pelan. Buktinya, Chanwo masih bisa mendengar setiap kata yang terlontar
kelur dari mulutnya dengan cukup jelas. Entah memang karena hal tersebut, atau
indera pendengaran Chanwo saja yang terlalu tajam. Sepertinya kedua hal
tersebut memiliki kemungkinan yang sama besar.
“Kalau begitu aku akan membantumu untuk kembali,” tawar
Chanwo.
Mendengar kalimt tersebut, Nhea lantas segera mengalihkan
pandangannya ke arah pria tersebut. Untuk yang kesekian kalinya ia dibuat
kebingungan. Dahinya berkerut, hingga kedua alisnya tampak menyatu. Hal tersebut
cukup untuk mengisyaratkan isi hatinya saat ini.
“Bagaimana caranya?” tanya Nhea secara gamblang.
“Kau akan mengetahuinya nanti,” balas pria itu acuh tak
acuh.
Dengan perasaan ragu sekaligus penasaran yang bercampur
menjadi satu, pada akhirnya Nhea memutuskan untuk mengiyakan perkataan pria itu
saja. Nhea menerima tawaran dari Chanwo. Lagipula tidak ada salahnya untuk
menerima niat baik orang lain, sementara ia memang benar-benar tulus dalam
melakukannya.
“Kalau begitu, mari kita habiskan waktu sedikit lebih lama
lagi di sini,” ujar Chanwo.
“Aku yakin jika kau akan merindukannya setelah kita pergi
nanti,” timpal pria itu tanpa jeda.
Nhea sama sekali tidak memberikan reaksi dalam bentuk apa
pun. Tapi, diam-diam di dalam hatinya ia mengiyakan perkataan pria itu. Kali
ini Nhea merasa sependapat dengan Chanwo. Meski selama ini mereka lebih sering
berselisih pendapat antara satu sama lain.
“Aku akan berkunjung kemari lagi nanti untuk mengambil
__ADS_1
mahkotaku,” batinnya dalam hati.