Mooneta High School

Mooneta High School
Last Night


__ADS_3

Sekarang sudah memasuki hari ketiga Nhea berada di ruang


penyimpanan. Selama berada di sini, Chanwo sering berkunjung. Seperti biasanya


mereka menghabiskan waktu dengan pergi menyelinap ke dapur, kemudian kembali


lagi ke atas dan mulai bercertia. Siklus yang sama selalu kembali terulang


setiap harinya.


Gadis itu sudah merencanakan untuk tetap berada di sini


selama tiga hari. Yang berarti, hari ini adalah ari terakhir baginya untuk


bersembunyi. Sekarang dia tidak memiliki alasan lagi untuk tetap berada di sini


lebih lama lagi. Nhea bukanlah seorang gadis yang dikenal sebagai pecundang. Nhea


bukan tipikal orang yang akan menghindari masalahnya sendiri. Ia tidak akan


pernah mencoba untuk lari, meski rasanya ia begitu menginginkan hal tersebut.


Memangnya siapa yang tidak menginginkan ketenangan?


Lari dari masalah bukan cara terbaik untuk menyelesaikannya.


Karena, tanpa kau hadapi ia tidak akan selesai. Bukankah seorang pemimpin harus


terbiasa dalam menghadapi masalah? Semesta hanya sedang menempahnya untuk


menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi.


“Apa kau akan kembali lagi bersama kami?” tanya Chanwo untuk


memastikan.


“Ini sudah memasuki hari ketiga,” katanya.


“Kuharap kau tidak melupakan janjimu sendiri,” tukas pria


itu kemudian.


Mendengar perkataan tersebut, ekspresi Nhea lantas berubah.


Dia tidak menonjolkan suatu emosi tertentu. Tampaknya semua begitu seimbang.


Namun, tidak dengan isi kepalanya. Chanwo tahu persis jika belakangan ini ada


begitu banyak hal yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Beberapa masalah


memang selalu datang dalam waktu yang berdekatan. Sehingga membuat Nhea nyaris


kewalahan. Mungkin Chanwo juga akan merasakan hal yang sama jika berada pada


posisi tersebut.


Gadis itu merendahkan pandangannya. Sekali lagi ia berusaha


untuk merenungi ucapan Chanwo barusan. Bukan karena tidak mengerti. Dia hanya


tidak ingin salah mengambil keputusan. Nhea sedang tidak ingin merugikan siapa


pun di sini. Karena pada dasarnya, ia juga sedang terjebak dalam kesulitan.


Gadis itu sama sekali tidak tahu kapan semua ini akan berakhir.


“Haruskah aku kembali?” tanya Nhea dengan ragu.


“Jangan pikirkan soal yang lain! Lakukanlah semua itu demi


aku!” tegas pria itu.


Nhea lantas mengerutkan dahinya. Ia tak benar-benar paham


dengan apa yang barusaja disampaikan oleh pria itu kepadanya.

__ADS_1


Seolah paham dengan isi pikiran gadis tersebut, Chanwo


lantas berkata, “Kau harus menepati janjimu untuk kembali setelah tiga hari


kemudian.”


Setelah dijelaskan secara singkat, Nhea baru benar-benar


paham. Tidak ada lagi rasa ragu yang terselip di dalam hatinya. Kini ia


mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Waktunya akan diputar mundur, kembali


ke masa tiga hari yang lalu. Tepat dimana pertama kali Chanwo menghampirinya


kemari. Berdiri di depan pintu masuk.


Setelah dipikir-pikir kembali, apa yang dikatakan oleh pria


itu barusan ada benarnya juga. Ia harus kembali. Bukan karena orang lain yang


memintanya, oleh sebab itu jangan hiraukan perkataan orang lain. Melainkan Nhea


kembali untuk sahabatnya. Karena ia sadar, mereka harus bersama-sama terus


sampai berhasil mencapai titik tertentu. Dan mungkin akan tetap bersama setelahnya.


Kini Nhea punya misi baru. Yaitu, untuk mengungkap hal baru


baik hal lama yang terjadi di akademi sihir Mooneta. Seperti yang sudah ia


ketahui jika keluarga inti tengah berusaha untuk menyembunyikan faktanya dari


banyak orang. Mereka ingin menutupi sisi gelapnya.


Hal tersebut sebenarnya wajar-wajar saja. Manusia pasti


selalu ingin terlihat sempurna di hadapan manusia lainnya. Oleh sebab itu,


mereka akan berusaha untuk menutupi setiap hal buruk yang dimiliki. Padahal


Agaknya semua orang tahu betul jika tidak ada yang sempurna di dunia ini.


Mendekati sempurna adalah kata yang paling sering ia dengarkan.


“Lalu, bagaimana caranya aku kembali?” tanya Nhea kepada


pria itu.


“Maksudmu?” tanyanya balik.


“Mereka pasti akan sangat terkejut jika aku menghlang, lalu


mendadak kembali lagi,” jelas gadis itu kemudian.


Pasti akan menjadi sesuatu yang mengejutan nantinya, jika


sampai mereka tahu jika Nhea kembali. Setelah menghilang selama tiga hari tanpa


kabar sama sekali, mendadak ia datang kembali. Sejauh ini pihak keluarga belum


melakukan upaya pencarian terhadap dirinya. Di satu sisi itu merupakan hal


baik, karena Nhea tidak perlu mencemaskan dirinya sendiri. Gadis itu bisa


tenang, tidak perlu khawatir akan tertangkap. Namun, di sisi lain ia justru


kecewa terhadap keluarganya sendiri.


Nhea mempertanyakan status serta seberapa besaar


kedudukannya di dalam silsilah keluarga mereka. Ringkasnya begini, jika mereka


merasa kalau gadis itu adalah sesuatu yang penting maka mereka pasti akan


melakukan apa pun untuk mencarinya. Mengingat beberapa waktu yang lalu, Bibi Ga

__ADS_1


Eun pernah mengungkapkan jika Nhea merupakan pemimpin masa depan. Nasib akademi


sihir Mooneta berada di tangannya.


“Baiklah, aku tidak akan kembali karena keluargaku.


Melainkan untuk teman-temanku serta akademi ini,” batinnya dalam hati.


Gadis itu tengah berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Meski


pada akhirnya ia tahu akan seperti apa. Perasaannya tidak pernah benar-benar


yakin dengan keputusan yang satu ini. Selalu ada saja hal lain yang perlu


dipertimbangkan.


“Besok bisa dipastikan jika aku akan kembali berada di


tengah-tengah kalian semua,” gumam gadis itu pelan.


Namun, ternyata pada kenyataannya suara gadis itu belum


cukup pelan. Buktinya, Chanwo masih bisa mendengar setiap kata yang terlontar


kelur dari mulutnya dengan cukup jelas. Entah memang karena hal tersebut, atau


indera pendengaran Chanwo saja yang terlalu tajam. Sepertinya kedua hal


tersebut memiliki kemungkinan yang sama besar.


“Kalau begitu aku akan membantumu untuk kembali,” tawar


Chanwo.


Mendengar kalimt tersebut, Nhea lantas segera mengalihkan


pandangannya ke arah pria tersebut. Untuk yang kesekian kalinya ia dibuat


kebingungan. Dahinya berkerut, hingga kedua alisnya tampak menyatu. Hal tersebut


cukup untuk mengisyaratkan isi hatinya saat ini.


“Bagaimana caranya?” tanya Nhea secara gamblang.


“Kau akan mengetahuinya nanti,” balas pria itu acuh tak


acuh.


Dengan perasaan ragu sekaligus penasaran yang bercampur


menjadi satu, pada akhirnya Nhea memutuskan untuk mengiyakan perkataan pria itu


saja. Nhea menerima tawaran dari Chanwo. Lagipula tidak ada salahnya untuk


menerima niat baik orang lain, sementara ia memang benar-benar tulus dalam


melakukannya.


“Kalau begitu, mari kita habiskan waktu sedikit lebih lama


lagi di sini,” ujar Chanwo.


“Aku yakin jika kau akan merindukannya setelah kita pergi


nanti,” timpal pria itu tanpa jeda.


Nhea sama sekali tidak memberikan reaksi dalam bentuk apa


pun. Tapi, diam-diam di dalam hatinya ia mengiyakan perkataan pria itu. Kali


ini Nhea merasa sependapat dengan Chanwo. Meski selama ini mereka lebih sering


berselisih pendapat antara satu sama lain.


“Aku akan berkunjung kemari lagi nanti untuk mengambil

__ADS_1


mahkotaku,” batinnya dalam hati.


__ADS_2