
Paman Johnson memang pribadi yang baik. Sulit untuk
dideskripsikan dengan kata-kata bagaimana kebaikannya. Oliver sendiri sampai
bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, bagaimana bisa ada orang sebaik itu.
Apakah dia tidak pernah berbuat jahat sekali saja dalam hidupnya?
Tapi, kita tidak boleh menilai dari apa yang tampak saja.
Pasti ada banyak hal yang ia sembunyikan dari semesta. Yang tidak terlihat
belum tentu tidak kejadian. Pada intinya, jangan terlalu mempercayai manusia. Karena
mereka adalah mahluk yang paling tidak bisa dipercaya.
Sebaik apa pun orang itu, dia teteap tidak bisa dipercaya. Meski
ia tampak meyakinkan, tidak selamanya akan seperti itu. Percayalah jika manusia
adalah mahluk yang bermuka dua. Mereka terlalu manipulative. Bermuka dua. Berpura-pura
mendukungnya di depan, padahal tengah berusaha untuk menjatuhkan manusia
lainnya di belakang.
Nhea dan Oliver memutuskan untuk berberes kamar. Tempat ini
mendadak menjelma menjadi kapal pecah hanya dalam kurun waktu seminggu. Kedua gadis
ini terlalu sibuk berlatih dan belajar, sampai-sampai tidak memiliki waktu
untuk memperhatikan sekitarnya. Sekarang mereka sudah mulai tidak nyaman karena
tempat ini terlalu berantakan. Bukan hanya itu saja. Bahkan ada beberapa bagian
di langit-langit ruangan yang mulai dipenuhi olh sarang laba-laba.
“Aku akan membuka jendelanya terlebih dahulu supaya semua
debu itu pergi keluar,” ujar Oliver.
“Baiklah!” balas Nhea dengan singkat.
Hal pertama yang harus mereka bereskan adalah rak buku,
nakas dan lemari. Tempat-tempat penyimpanan itu merupakan salah satu titik yang
paling berantakan. Barang-barang di dalamnya berserakan.
Sementara Oliver sibuk membereskan isi lemari, Nhea yang
akan mengambil alih nakas dan rak buku. Untuk bagian rak buku sendiri, tidak
terlalu berantakan seperti apa yang ia bayangkan ternyata. Nhea hanya perlu
membersihkan debu yang menempel di sana, lalu menyusun kembali buku-bukunya. Satu-satunya
hal yang menyita perhatian gadis itu adalah nakas. Berbagai hal sengaja
disimpan di dalamnya. Kini ia beralih ke samping tempat tidur untuk membereskan
benda yang satu itu. Jangan salah sangka dulu. Meski bentuknya kecil, ia bisa
memuat banyak hal.
Nhea menghela napasnya dengan kasar. Bahkan gadis itu sudah
mengeluh. Padahal ia belum membuka laci nakasnya. Sudah bisa ia bayangkan di
dalam kepalanya saat ini seperti apa kekacauan di dalam sana. Sebenarnya ia
tidak siap. Tapi, mau tak mau Nhea harus tetap siap.
__ADS_1
“Apa ini?” gumamnya sesaat setelah laci pertama terbuka.
Tak sengaja kedua netranya menangkap sebuah benda yang cukup
asing berada di sana. Dia tidak pernah melihat benda ini sebelumnya.
“Oliver!” sahut Nhea.
“Ada apa?” balas gadis itu tanpa mengalihkan perhatiannya. Dia
masih terlalu sibuk untuk mengurusi kekacauan di lemari.
“Apa kau pemilik kalung ini?” tanya Nhea sembari menunjukkan
benda misterius yang baru saja ia dapatkan. Oliver harus melihat penemuannya
yang satu ini.
“Kalung mana yang kau maksud saat ini?” tanya gadis itu
balik.
Oliver memutuskan untuk menunda pekerjaannya sementara
waktu. Ia berjalan menghampiri Nhea. Sepertinya ia tidak boleh bersikap acuh
dalam urusan kali ini.
“Coba ku lihat!” ujar Oliver yang ternyata sudah berada di
samping gadis itu. Entah sejak kapan dia sudah berada di sana.
Tidak bisa dipungkiri jika Nhea sempat terkejut pada
awalnya. Tapi, untungnya semua langsung kembali normal lagi berkat kemampuannya
dalam mengontrol perasaan.
Ia membiarkan Oliver untuk mengamati benda itu selama
beberapa saat. Berharap agar gadis itu tahu setidaknya satu atau dua hal
tentang kalungnya. Nhea belum pernah melihat benda ini sebelumnya. Yang jelas
ini bukan miliknya. Siapa tahu Oliver adalah sang empunya. Dia bisa mendapatkan
benda semacam itu dari mana saja. Tidak harus dengan pergi ke pasar saja.
“Jadi, apakah ini milikmu?” tanya Nhea sekali lagi untuk
memastikan.
“Bukan,” jawab gadis itu sembari menggeleng pelan.
Jika kalung ini bukan milik Oliver, lantas milik siapa. Siapa
orang yang meninggalkan perhiasannya di nakas kamar orang lain. Itu artinya dia
pernah masuk ke tempat ini setidaknya satu kali.
“Bisa jadi ini milikmu, tapi kau lupa. Cobalah ingat-ingat
kembali,” ujar Nhea.
“Ini bukan milikku. Aku tidak pernah mempunyai kalung
sebelumnya dan aku memang tidak suka memakai kalung seperti itu,” jelasnya
dengan panjang lebar.
Oliver berharap agar penjelasannya mampu meyakinkan Nhea,
bahwa sungguh bukan dia orang yang memiliki benda itu. Tidak ada satu pun dari
__ADS_1
mereka yang tahu bagaimana bisa benda tersebut ada di dalam sana dan siapa
pemiliknya. Semuanya terjadi secara misterius.
Nhea berpikir keras. Berusaha untuk mengingat kejadian
beberapa hari lalu. Ada lebih dari lima klip yang muncul di dalam kepalanya. Semua
potongan kejadian itu tersusun secara acak, namun Nhea masih bisa menentukan
kapan waktu terjadinya. Otak dan mata adalah perekam memori kehidupan yang
paling sempurna. Keduanya saling berkoordinasi satu sama lain.
“Aku yakin jika diriku tidak pernah memiliki kalung seperti
ini,” ungkap Nhea.
“Aku tahu itu,” balas Oliver setuju.
“Tapi, aku juga tidak pernah memiliki barang seperti itu.
Kau tahu betul jika aku tidak pernah menggunakan perhiasan dalam bentuk apa pun
sebelumnya,” jelasnya dengan panjang lebar.
Oliver terus-terusan memberikan pembelaan berupa kata-kata
kepada dirinya sendiri. Ia tidak ingin sampai gadis itu mencurigainya terus.
“Lalu jika bukan kita berdua pemiliknya, maka siapa?” gumam
Nhea dengan tatapan kosong.
Pertanyaan yang satu ini tidak ditujukan kepada siapa-siapa.
Mereka hanya ingin tahu siapa pelakunya saja.
“Jika bukan salah satu dari kita pemiliknya, pasti ada
seseorang yang dengan sengaja meletakkan kalung itu dalm nakas. Sehingga kita
menemukannya di hari ini,” jelas Oliver dengan panjang lebar. Apa yang ia
katakan barusan adalah sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.
“Tapi, siapa?” tanya Nhea.
“Kita selalu mengunci kamar ini. Baik pintu mau pun
jendelanya. Sehingga tidak ada celah bagi orang lain untuk masuk,” tukas gadis
itu.
“Apa kau sungguh yakin jika ia adalah seorang manusia?”
balas Oliver.
Pertanyaan yang ia berikan kali ini terkesan
cukup menjebak. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi di sini. Pertama, memang
ada penyusup. Dan yang kedua, mungkin saja seseorang tidak sengaja meninggalkan
kalungnya di tempat ini saat sedang berkunjung. Tapi, hanya ada satu orang yang
berkunjung kemari akhir-akhir ini. Jang Eunbi. Dia adalah orangnya. Tapi, gadis
itu sama sekali tidak ada mendekat ke arah nakas. Nhea tahu betul soal itu.
Pasalnya, kemarin gadis itu selalu berada di bawah pengawasan Nhea saat
menginjakkan kaki di kamar ini.
__ADS_1