Mooneta High School

Mooneta High School
Necklace


__ADS_3

Paman Johnson memang pribadi yang baik. Sulit untuk


dideskripsikan dengan kata-kata bagaimana kebaikannya. Oliver sendiri sampai


bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, bagaimana bisa ada orang sebaik itu.


Apakah dia tidak pernah berbuat jahat sekali saja dalam hidupnya?


Tapi, kita tidak boleh menilai dari apa yang tampak saja.


Pasti ada banyak hal yang ia sembunyikan dari semesta. Yang tidak terlihat


belum tentu tidak kejadian. Pada intinya, jangan terlalu mempercayai manusia. Karena


mereka adalah mahluk yang paling tidak bisa dipercaya.


Sebaik apa pun orang itu, dia teteap tidak bisa dipercaya. Meski


ia tampak meyakinkan, tidak selamanya akan seperti itu. Percayalah jika manusia


adalah mahluk yang bermuka dua. Mereka terlalu manipulative. Bermuka dua. Berpura-pura


mendukungnya di depan, padahal tengah berusaha untuk menjatuhkan manusia


lainnya di belakang.


Nhea dan Oliver memutuskan untuk berberes kamar. Tempat ini


mendadak menjelma menjadi kapal pecah hanya dalam kurun waktu seminggu. Kedua gadis


ini terlalu sibuk berlatih dan belajar, sampai-sampai tidak memiliki waktu


untuk memperhatikan sekitarnya. Sekarang mereka sudah mulai tidak nyaman karena


tempat ini terlalu berantakan. Bukan hanya itu saja. Bahkan ada beberapa bagian


di langit-langit ruangan yang mulai dipenuhi olh sarang laba-laba.


“Aku akan membuka jendelanya terlebih dahulu supaya semua


debu itu pergi keluar,” ujar Oliver.


“Baiklah!” balas Nhea dengan singkat.


Hal pertama yang harus mereka bereskan adalah rak buku,


nakas dan lemari. Tempat-tempat penyimpanan itu merupakan salah satu titik yang


paling berantakan. Barang-barang di dalamnya berserakan.


Sementara Oliver sibuk membereskan isi lemari, Nhea yang


akan mengambil alih nakas dan rak buku. Untuk bagian rak buku sendiri, tidak


terlalu berantakan seperti apa yang ia bayangkan ternyata. Nhea hanya perlu


membersihkan debu yang menempel di sana, lalu menyusun kembali buku-bukunya. Satu-satunya


hal yang menyita perhatian gadis itu adalah nakas. Berbagai hal sengaja


disimpan di dalamnya. Kini ia beralih ke samping tempat tidur untuk membereskan


benda yang satu itu. Jangan salah sangka dulu. Meski bentuknya kecil, ia bisa


memuat banyak hal.


Nhea menghela napasnya dengan kasar. Bahkan gadis itu sudah


mengeluh. Padahal ia belum membuka laci nakasnya. Sudah bisa ia bayangkan di


dalam kepalanya saat ini seperti apa kekacauan di dalam sana. Sebenarnya ia


tidak siap. Tapi, mau tak mau Nhea harus tetap siap.

__ADS_1


“Apa ini?” gumamnya sesaat setelah laci pertama terbuka.


Tak sengaja kedua netranya menangkap sebuah benda yang cukup


asing berada di sana. Dia tidak pernah melihat benda ini sebelumnya.


“Oliver!” sahut Nhea.


“Ada apa?” balas gadis itu tanpa mengalihkan perhatiannya. Dia


masih terlalu sibuk untuk mengurusi kekacauan di lemari.


“Apa kau pemilik kalung ini?” tanya Nhea sembari menunjukkan


benda misterius yang baru saja ia dapatkan. Oliver harus melihat penemuannya


yang satu ini.


“Kalung mana yang kau maksud saat ini?” tanya gadis itu


balik.


Oliver memutuskan untuk menunda pekerjaannya sementara


waktu. Ia berjalan menghampiri Nhea. Sepertinya ia tidak boleh bersikap acuh


dalam urusan kali ini.


“Coba ku lihat!” ujar Oliver yang ternyata sudah berada di


samping gadis itu. Entah sejak kapan dia sudah berada di sana.


Tidak bisa dipungkiri jika Nhea sempat terkejut pada


awalnya. Tapi, untungnya semua langsung kembali normal lagi berkat kemampuannya


dalam mengontrol perasaan.


Ia membiarkan Oliver untuk mengamati benda itu selama


beberapa saat. Berharap agar gadis itu tahu setidaknya satu atau dua hal


tentang kalungnya. Nhea belum pernah melihat benda ini sebelumnya. Yang jelas


ini bukan miliknya. Siapa tahu Oliver adalah sang empunya. Dia bisa mendapatkan


benda semacam itu dari mana saja. Tidak harus dengan pergi ke pasar saja.


“Jadi, apakah ini milikmu?” tanya Nhea sekali lagi untuk


memastikan.


“Bukan,” jawab gadis itu sembari menggeleng pelan.


Jika kalung ini bukan milik Oliver, lantas milik siapa. Siapa


orang yang meninggalkan perhiasannya di nakas kamar orang lain. Itu artinya dia


pernah masuk ke tempat ini setidaknya satu kali.


“Bisa jadi ini milikmu, tapi kau lupa. Cobalah ingat-ingat


kembali,” ujar Nhea.


“Ini bukan milikku. Aku tidak pernah mempunyai kalung


sebelumnya dan aku memang tidak suka memakai kalung seperti itu,” jelasnya


dengan panjang lebar.


Oliver berharap agar penjelasannya mampu meyakinkan Nhea,


bahwa sungguh bukan dia orang yang memiliki benda itu. Tidak ada satu pun dari

__ADS_1


mereka yang tahu bagaimana bisa benda tersebut ada di dalam sana dan siapa


pemiliknya. Semuanya terjadi secara misterius.


Nhea berpikir keras. Berusaha untuk mengingat kejadian


beberapa hari lalu. Ada lebih dari lima klip yang muncul di dalam kepalanya. Semua


potongan kejadian itu tersusun secara acak, namun Nhea masih bisa menentukan


kapan waktu terjadinya. Otak dan mata adalah perekam memori kehidupan yang


paling sempurna. Keduanya saling berkoordinasi satu sama lain.


“Aku yakin jika diriku tidak pernah memiliki kalung seperti


ini,” ungkap Nhea.


“Aku tahu itu,” balas Oliver setuju.


“Tapi, aku juga tidak pernah memiliki barang seperti itu.


Kau tahu betul jika aku tidak pernah menggunakan perhiasan dalam bentuk apa pun


sebelumnya,” jelasnya dengan panjang lebar.


Oliver terus-terusan memberikan pembelaan berupa kata-kata


kepada dirinya sendiri. Ia tidak ingin sampai gadis itu mencurigainya terus.


“Lalu jika bukan kita berdua pemiliknya, maka siapa?” gumam


Nhea dengan tatapan kosong.


Pertanyaan yang satu ini tidak ditujukan kepada siapa-siapa.


Mereka hanya ingin tahu siapa pelakunya saja.


“Jika bukan salah satu dari kita pemiliknya, pasti ada


seseorang yang dengan sengaja meletakkan kalung itu dalm nakas. Sehingga kita


menemukannya di hari ini,” jelas Oliver dengan panjang lebar. Apa yang ia


katakan barusan adalah sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.


“Tapi, siapa?” tanya Nhea.


“Kita selalu mengunci kamar ini. Baik pintu mau pun


jendelanya. Sehingga tidak ada celah bagi orang lain untuk masuk,” tukas gadis


itu.


“Apa kau sungguh yakin jika ia adalah seorang manusia?”


balas Oliver.


Pertanyaan yang ia berikan kali ini terkesan


cukup menjebak. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi di sini. Pertama, memang


ada penyusup. Dan yang kedua, mungkin saja seseorang tidak sengaja meninggalkan


kalungnya di tempat ini saat sedang berkunjung. Tapi, hanya ada satu orang yang


berkunjung kemari akhir-akhir ini. Jang Eunbi. Dia adalah orangnya. Tapi, gadis


itu sama sekali tidak ada mendekat ke arah nakas. Nhea tahu betul soal itu.


Pasalnya, kemarin gadis itu selalu berada di bawah pengawasan Nhea saat


menginjakkan kaki di kamar ini.

__ADS_1


__ADS_2