Mooneta High School

Mooneta High School
Can We Start Again


__ADS_3

Lagi-lagi


Nhea dan Oliver duduk di meja yang sama. Jarak mereka bahkan tidak jauh


berbeda. Keduanya berada dalam posisi yang bersebelahan. Hari ini bahkan


Chanwo, Jongdae dan Jang Eunbi juga berada di dekat mereka. Entah kebetulan


macam apa lagi ini.


Mereka semua duduk saling berhadapan. Melempar pandangan satu sama lain. Tapi,


tidak ada yang buka suara sama sekali. Semua orang hanya saling membisu satu


sama lain. Tidak ada yang berniat untuk buka suara sama sekali.


Nhea beberapa kali berdeham untuk mencairkan suasana. Atmosfer di titik yang


satu ini berbeda dengan keseluruhan ruangan lainnya. Semua orang tampak tegang.


Bahkan Nhea sampai ikut terbawa suasana.


Gadis itu memainkan kakinya di bawah sana. Sesekali ia menyenggol ujung sepatu


Oliver untuk membuka gerbang dialog antara dirinya dengan gadis itu. Menyadari


jika situasinya sama sekali tidak memungkinkan mereka untuk berbicara dengan


bebas seperti biasanya.


Tampaknya tidak perlu waktu lama bagi Oliver untuk menyadari hal tersebut. Dia


termasuk kepada tipikal orang yang cukup peka terhadap lingkungan sekitarnya.


Harus diakui jika indra perasa gadis itu jauh lebih sensitif daripada siapa


pun.


Oliver yang merasa jika ada sesuatu yang aneh, buru-buru memeriksa sepatunya.


Ia yakin betul jika ada sesuatu yang baru saja menabrak kakinya. Baik secara


disengaja atau pun tidak. Oliver tidak mungkin salah. Dia bisa merasakannya


dengan cukup jelas. Jangankan Oliver, orang biasa tanpa kemampuan apa saja bisa


merasakannya dengan mudah.


Nhea yang sudah menyoroti gadis itu sejak tadi, pada akhirnya mendapatkan


balasan juga. Oliver melirik ke arah Nhea yang ternyata sudah mengawasi dirinya


sejak tadi. Lagi-lagi mereka berdua saling menyadari. Sepertinya kedua gadis


ini sudah memiliki koneksi khusus satu sama lain. Seolah bisa berbicara hanya


dengan mata, keduanya mencoba hal aneh tersebut. Kenapa tidak. Pada


kenyataannya mereka saling mengerti dengan maksud satu sama lain setelah saling


melemparkan tatapan.


"Mata adalah jendela diri kita."


Pepatah kuno tersebut benar adanya. Mereka bisa mengetahui apa saja hanya


dengan menatap mata kita. Mata adalah akses paling mudah yang bisa dijangkau


oleh semua orang.


Oliver menaikkan salah satu alisnya. Seolah-olah bertanya "Kenapa


mengusikku?"


Nhea sempat bingung harus bagaimana. Lebih tepatnya, gadis itu sudah kehabisan


akal. Entah bagaimana ia akan menyampaikan pesan balasan yang satu ini kepada


Oliver. Begitu pula sebaliknya nanti. Kali ini Nhea sama sekali tidak bisa


berbuat apa-apa. Tidak ada cara lain selain menunda percakapan mereka sampai

__ADS_1


situasinya kembali kondusif.


"Mau kutuangkan minuman untuk kalian semua?" tawar Jang Eunbi secara


tiba-tiba.


Sontak semua mata tertuju kepadanya saat ini. Bahkan kedua bola mata Nhea


nyaris membulat dengan sempurna. Gadis itu tidak bisa percaya dengan sepenuhnya


dengan apa yang baru saja terjadi. Pasalnya, Jang Eunbi sama sekali.


“Baiklah,


boleh juga,” balas Chanwo yang kemudian ikut diangguki oleh Nhea dan yang


lainnya.


Cukup


untuk sebagai pertanda jika mereka tidak menolak tawaran gadis itu sama sekali.


Setelah


mendapatkan persetujuan dari para teman-teman di sekitarnya, Jang Eunbi mulai


menuangkan air putih ke gelas mereka masing-masing. Teko akan diberikan secara


bergiliran. Kebetulan saat ini adalah giliran mereka.


“Terima


kasih,” ucap Nhea dengan lemah lembut.


“Bukan


masalah sama sekali,” balas gadis itu.


Sepertinya


ini adalah sebuah angin segar bagi hubungan mereka semua. Permulaan yang baik


untuk Nhea dan semua orang yang berada di sini. Sudah lama sejak terakhir kali


tersebut.


“Setelah


ini kita ada kelas bukan?” tanya Jongdae.


“Benar,”


balas Chanwo.


“Aku


mendengar dari kelas sebelah jika mereka diminta untuk membuat tugas per


kelompok untuk mata pelajaran yang satu ini,” beber Jongdae dengan volume


bicara yang jauh lebih pelan daripada biasanya.


Ia memang sengaja melakukan hal tersebut. Karena,


berita yang ia sebarkan saat ini sifatnya masih sangat rahasia. Belum banyak orang


yang menetahuinya. Hanya mereka yang berkumpul di meja ini saja yang menjadi


penerima informasi pertama kali dari Jongdae. Ia tidak akan membaginya dengan


sembarang orang. Pasalnya, tidak semua orang bisa mengetahui hal yang sama.


Mereka tidak memiliki hak yang sama di sini.


Bukan pekara yang mudah bagi Jongdae untuk mendapatkan


informasih tersebut. Jadi, hanya orang-orang yang ia pilih saja yang berhak


tahu lebih dulu. Termasuk Nhea dan yang lainnya. Entah sejak kapan pria itu


mulai ikut melibatkan mereka kembali pada urusan pribadinya.

__ADS_1


“Kenapa kau memberi tahu hal tersebut lebih dulu


kepada kami?” tanya Oliver.


“Toh, pada akhirnya semua orang akan tahu hal yang


sama juga,” tambahnya kemudian.


Apa yang dikatakan oleh gadis itu barusan ada benarnya


juga. Tapi, di sisi lain perbuatan Jongdae belum tentu selamanya salah. Pria itu


pasti memiliki setidaknya satu alasan kenapa ia mau melakukan hal tersebut.


“Aku dengar pembagian kelompok untuk kali ini kita


diperkenankan untuk memilih anggota sendiri,” ungkap Jongdae secara


terang-terangan.


“Lalu?” tanya Oliver lagi.


“setelah dipikir-pikir kembali, sepertinya kita bisa


bekerja sama di dalam sebuah tim yang sama,” ujar pria itu kemudian.


Dari perkataannya barusan, sudah bisa ditebak jika


pria itu memiliki maksud terselubung di sini. Jongdae segaja memberi tahu


berita tersebut lebih awal dari pada waktu yang telah ditentukan. Pria itu membocorkan


informasi tersebut lebih dulu ke teman-teman yang duduk satu meja dengannya malam


ini. Sepertinya pria itu memang sudah merencanakan segalanya dengan sedemikian


rupa sejak awal.


Tapi, kecil kemungkinan bagi mereka untuk duduk di


meja yang sama sebelumnya. Kejadian yang satu ini nyaris tidak bisa ditebak.


Jongdae pasti tidak pernah memperkirakan hal tersebut sebelumnya. Pasalnya,


memang tidak mudah untuk mengatur segala halnya. Apalagi harus secara


terperinci seperti ini.


Kali ini Dewi Fortuna berpihak kepadanya. Ada banyak


situasi yang bisa ia manfaatkan untuk membantu melancarkan aksinya yang satu


ini. Secara tidak langsung, semesta telah menunjukkan restunya. Sehingga, tidak


ada keraguan lagi bagi pria itu untuk melancarkan aksinya.


“Jadi, bagaimana?” tanya Jongdae untuk memastikan.


Sejak awal, ia sudah yakin jika mereka semua tidak


akan menolak ajakannya. Tidak akan ada alasan untuk menolak atawaran Jongdae. Tapi,


tidak ada salahnya jika ia memastikan sekali lagi. Paling tidak untuk


memastikan apakah rencananya kali ini benar-benar berhasil atau tidak sama


sekali.


Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Tapi, masih


tidak ada jawaban dari mereka. Semua orang diam. Saling membisu seribu bahasa. Mereka


semua masih tetap bergeming, meski Jongdae sudah menatapnya secara bergantian.


“Tidak mungkin jika mereka menolak tawaranku secara


mentah-mentah,” batinnya dalam hati.


Pria itu masih berusaha untuk tetap


optimis dan berpikiran positif. Meski sebenarnya tidak bisa dipungkiri kalau

__ADS_1


saat ini ia mulai merasa gugup sekaligus cemas. Jongdae tidak bisa memastikan


apa pun di sini.


__ADS_2