
Lagi-lagi
Nhea dan Oliver duduk di meja yang sama. Jarak mereka bahkan tidak jauh
berbeda. Keduanya berada dalam posisi yang bersebelahan. Hari ini bahkan
Chanwo, Jongdae dan Jang Eunbi juga berada di dekat mereka. Entah kebetulan
macam apa lagi ini.
Mereka semua duduk saling berhadapan. Melempar pandangan satu sama lain. Tapi,
tidak ada yang buka suara sama sekali. Semua orang hanya saling membisu satu
sama lain. Tidak ada yang berniat untuk buka suara sama sekali.
Nhea beberapa kali berdeham untuk mencairkan suasana. Atmosfer di titik yang
satu ini berbeda dengan keseluruhan ruangan lainnya. Semua orang tampak tegang.
Bahkan Nhea sampai ikut terbawa suasana.
Gadis itu memainkan kakinya di bawah sana. Sesekali ia menyenggol ujung sepatu
Oliver untuk membuka gerbang dialog antara dirinya dengan gadis itu. Menyadari
jika situasinya sama sekali tidak memungkinkan mereka untuk berbicara dengan
bebas seperti biasanya.
Tampaknya tidak perlu waktu lama bagi Oliver untuk menyadari hal tersebut. Dia
termasuk kepada tipikal orang yang cukup peka terhadap lingkungan sekitarnya.
Harus diakui jika indra perasa gadis itu jauh lebih sensitif daripada siapa
pun.
Oliver yang merasa jika ada sesuatu yang aneh, buru-buru memeriksa sepatunya.
Ia yakin betul jika ada sesuatu yang baru saja menabrak kakinya. Baik secara
disengaja atau pun tidak. Oliver tidak mungkin salah. Dia bisa merasakannya
dengan cukup jelas. Jangankan Oliver, orang biasa tanpa kemampuan apa saja bisa
merasakannya dengan mudah.
Nhea yang sudah menyoroti gadis itu sejak tadi, pada akhirnya mendapatkan
balasan juga. Oliver melirik ke arah Nhea yang ternyata sudah mengawasi dirinya
sejak tadi. Lagi-lagi mereka berdua saling menyadari. Sepertinya kedua gadis
ini sudah memiliki koneksi khusus satu sama lain. Seolah bisa berbicara hanya
dengan mata, keduanya mencoba hal aneh tersebut. Kenapa tidak. Pada
kenyataannya mereka saling mengerti dengan maksud satu sama lain setelah saling
melemparkan tatapan.
"Mata adalah jendela diri kita."
Pepatah kuno tersebut benar adanya. Mereka bisa mengetahui apa saja hanya
dengan menatap mata kita. Mata adalah akses paling mudah yang bisa dijangkau
oleh semua orang.
Oliver menaikkan salah satu alisnya. Seolah-olah bertanya "Kenapa
mengusikku?"
Nhea sempat bingung harus bagaimana. Lebih tepatnya, gadis itu sudah kehabisan
akal. Entah bagaimana ia akan menyampaikan pesan balasan yang satu ini kepada
Oliver. Begitu pula sebaliknya nanti. Kali ini Nhea sama sekali tidak bisa
berbuat apa-apa. Tidak ada cara lain selain menunda percakapan mereka sampai
__ADS_1
situasinya kembali kondusif.
"Mau kutuangkan minuman untuk kalian semua?" tawar Jang Eunbi secara
tiba-tiba.
Sontak semua mata tertuju kepadanya saat ini. Bahkan kedua bola mata Nhea
nyaris membulat dengan sempurna. Gadis itu tidak bisa percaya dengan sepenuhnya
dengan apa yang baru saja terjadi. Pasalnya, Jang Eunbi sama sekali.
“Baiklah,
boleh juga,” balas Chanwo yang kemudian ikut diangguki oleh Nhea dan yang
lainnya.
Cukup
untuk sebagai pertanda jika mereka tidak menolak tawaran gadis itu sama sekali.
Setelah
mendapatkan persetujuan dari para teman-teman di sekitarnya, Jang Eunbi mulai
menuangkan air putih ke gelas mereka masing-masing. Teko akan diberikan secara
bergiliran. Kebetulan saat ini adalah giliran mereka.
“Terima
kasih,” ucap Nhea dengan lemah lembut.
“Bukan
masalah sama sekali,” balas gadis itu.
Sepertinya
ini adalah sebuah angin segar bagi hubungan mereka semua. Permulaan yang baik
untuk Nhea dan semua orang yang berada di sini. Sudah lama sejak terakhir kali
tersebut.
“Setelah
ini kita ada kelas bukan?” tanya Jongdae.
“Benar,”
balas Chanwo.
“Aku
mendengar dari kelas sebelah jika mereka diminta untuk membuat tugas per
kelompok untuk mata pelajaran yang satu ini,” beber Jongdae dengan volume
bicara yang jauh lebih pelan daripada biasanya.
Ia memang sengaja melakukan hal tersebut. Karena,
berita yang ia sebarkan saat ini sifatnya masih sangat rahasia. Belum banyak orang
yang menetahuinya. Hanya mereka yang berkumpul di meja ini saja yang menjadi
penerima informasi pertama kali dari Jongdae. Ia tidak akan membaginya dengan
sembarang orang. Pasalnya, tidak semua orang bisa mengetahui hal yang sama.
Mereka tidak memiliki hak yang sama di sini.
Bukan pekara yang mudah bagi Jongdae untuk mendapatkan
informasih tersebut. Jadi, hanya orang-orang yang ia pilih saja yang berhak
tahu lebih dulu. Termasuk Nhea dan yang lainnya. Entah sejak kapan pria itu
mulai ikut melibatkan mereka kembali pada urusan pribadinya.
__ADS_1
“Kenapa kau memberi tahu hal tersebut lebih dulu
kepada kami?” tanya Oliver.
“Toh, pada akhirnya semua orang akan tahu hal yang
sama juga,” tambahnya kemudian.
Apa yang dikatakan oleh gadis itu barusan ada benarnya
juga. Tapi, di sisi lain perbuatan Jongdae belum tentu selamanya salah. Pria itu
pasti memiliki setidaknya satu alasan kenapa ia mau melakukan hal tersebut.
“Aku dengar pembagian kelompok untuk kali ini kita
diperkenankan untuk memilih anggota sendiri,” ungkap Jongdae secara
terang-terangan.
“Lalu?” tanya Oliver lagi.
“setelah dipikir-pikir kembali, sepertinya kita bisa
bekerja sama di dalam sebuah tim yang sama,” ujar pria itu kemudian.
Dari perkataannya barusan, sudah bisa ditebak jika
pria itu memiliki maksud terselubung di sini. Jongdae segaja memberi tahu
berita tersebut lebih awal dari pada waktu yang telah ditentukan. Pria itu membocorkan
informasi tersebut lebih dulu ke teman-teman yang duduk satu meja dengannya malam
ini. Sepertinya pria itu memang sudah merencanakan segalanya dengan sedemikian
rupa sejak awal.
Tapi, kecil kemungkinan bagi mereka untuk duduk di
meja yang sama sebelumnya. Kejadian yang satu ini nyaris tidak bisa ditebak.
Jongdae pasti tidak pernah memperkirakan hal tersebut sebelumnya. Pasalnya,
memang tidak mudah untuk mengatur segala halnya. Apalagi harus secara
terperinci seperti ini.
Kali ini Dewi Fortuna berpihak kepadanya. Ada banyak
situasi yang bisa ia manfaatkan untuk membantu melancarkan aksinya yang satu
ini. Secara tidak langsung, semesta telah menunjukkan restunya. Sehingga, tidak
ada keraguan lagi bagi pria itu untuk melancarkan aksinya.
“Jadi, bagaimana?” tanya Jongdae untuk memastikan.
Sejak awal, ia sudah yakin jika mereka semua tidak
akan menolak ajakannya. Tidak akan ada alasan untuk menolak atawaran Jongdae. Tapi,
tidak ada salahnya jika ia memastikan sekali lagi. Paling tidak untuk
memastikan apakah rencananya kali ini benar-benar berhasil atau tidak sama
sekali.
Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Tapi, masih
tidak ada jawaban dari mereka. Semua orang diam. Saling membisu seribu bahasa. Mereka
semua masih tetap bergeming, meski Jongdae sudah menatapnya secara bergantian.
“Tidak mungkin jika mereka menolak tawaranku secara
mentah-mentah,” batinnya dalam hati.
Pria itu masih berusaha untuk tetap
optimis dan berpikiran positif. Meski sebenarnya tidak bisa dipungkiri kalau
__ADS_1
saat ini ia mulai merasa gugup sekaligus cemas. Jongdae tidak bisa memastikan
apa pun di sini.