
Terlepas dari semua permasalahan itu, yang namanya masa lalu
sudah tidak pantas untuk diingat lagi. bahkan Nhea saja tidak ingin
mengenangnya sama sekali. Sudah tidak ada lagi ruang di dalam hati dan
pikirannya untuk hal seperti itu. Selama hal tersebut tidak menentukan
kehidupannya di masa depan, maka Nhea tidak akan mau memusingkan hal tersebut
lebih dari lima menit. Hanya segitu batas waktu yang bisa ia lakukan.
Untuk saat ini dia sudah bisa berdamai dengan dirinya
sendiri. Tidak perlu mengingat soal kejadian kelam beberapa tahun lalu. Yang
jelas, bisa tetap hidup sampai saat ini saja adalah sebuah keberuntungan yang
tidak bisa didapatkan semua orang dengan mudah. Apalagi untuk anak seperti
dirinya. Semua ini berkat rencana Wilson pada malam itu.
Meski ia tidak pernah tahu apa alasan Vallery dan Wilson
meninggalkannya malam itu, Nhea tetap bungkam. Ia tak ingin menciptakan masalah
baru di antara sekian banyak masalah yang ada. Meski sebenarnya hal sebesar ini
patut untuk dipermasalahkan. Mereka berhutang penjelasan kepada gadis ini.
Setelah menghilang bertahun-tahun lamanya bak di telan bumi, kini mendadak
muncul di depan mata.
Tapi, Nhea sudah terlalu malas untuk mengungkit kisah lama
itu. Sudah sepatutnya memang untuk tetap terkubur. Tidak perlu diangkat lagi ke
permukaan. Dia sudah tenang dengan luka lamanya.
“Kau harus banyak
minum air putih agar tetap fokus nanti.”
Kalimat itu kembali terngiang di dalam kepalanya.
Mengingatkan Nhea kepada kejadian yang baru saja terjadi tadi pagi. Masih segar
di ingatannya.
Vallery sempat memberikan sebotol air putih kepada Nhea
untuk dibawa ke arena perlombaan. Karena ia tahu jika di sana nanti pasti akan terasa panas. Matahari bahkan
sudah terasa menyengat sejak masih pagi. Ditambah dengan banyaknya kerumunan
orang. Tentu akan semakin mempersempit ruang gerak. Nhea akan mudah merasa
lelah pada saat seperti itu. Tenggorokannya pasti akan tering jika tetap
dibiarkan dalam kondisi tersebut. Dia perlu pasokan air. Oleh sebab itu,
Vallery sudah menyiapkannya sejak awal. Seolah tahu apa yang akan terjadi di
arena nanti.
Sebenarnya Nhea sama
sekali tidak menyalahkan tindakan wanita itu tadi pagi. Ia hanya merasa aneh
__ADS_1
saja. Sebab, sudah lama ia tidak mendapatkan perlakuan seperti ini. Nhea enggan
untuk mengemis perhatian. Padahal ia sangat membutuhkannya. Selama ini gadis
itu tidak pernah mendapatkan hal serupa.
Baik dari Bibi Ga Eun atau pun kedua orang tuanya. Mereka
hanya tampak manis di awal saja. Kemudian sama-sama berakhir mengacuhkan. Andai
saja Bibi Ga Eun juga tetap menaruh rasa perhatian kepadanya, pasti Nhea sudah
merasa nyaman berada di dekatnya. Tidak menutup kemungkinan bagi Nhea untuk
menjadi lebih akrab dengan wanita itu ketimbang kedua orang tuanya sendiri.
Tapi, sayangnya tidak satu pun dari mereka berhasil membuat Nhea merasa nyaman.
Keduanya sama saja. Tidak lebih dari seseorang tanpa perasaan yang menjaga hal
berharga.
Selama ini Nhea tidak terbiasa untuk diperhatikan oleh orang
lain. Termasuk keluarganya sendiri. Saat pertama kali ia menginjakkan kaki di
sini, Nhea juga menolak untuk diperlakukan seperti anggota keluarga lainnya.
Dari awal dia sudah menolak untuk diperhatikan. Ia tak memerlukan itu lagi.
Karena Nhea tahu jika pada akhirnya ia tetap bisa menjalani hidup meski tanpa
hal tersebut. Bukan pekara yang mudah memang. Tapi, dia berhasil melewati
semuanya hingga berdiri di titik ini.
Sinar matahari semakin terasa kian menyengat. Terlebih saat
ini Nhea dan teman-temannya diharuskan untuk berbaris dengan rapih pada tempat
yang sudah di tentukan. Benar, manusia-manusia itu terususun rapih pada
hamparan sebuah tanah lapan luas. Demi mengikuti jalannya acara pembukaan dari
awal hingga akhir.
Mereka ingin sekali pergi dari sini kalau bisa. Sengatan
sinar matahari sudah seperti membakar kulit mereka. Tapi, sayangnya hal
tersebut tidak bisa dilakukan. Vallery benar-benar hebat. Seolah ia telah tahu
apa yang akan terjadi di tempat itu nanti. Ia memberikan bekal air putih kepada
Nhea untuk diminum nanti. Entah dia hanya sekedar menerka, atau memang sudah
tahu sejak awal jika cuaca hari ini tidak akan bersahabat dengan siapa pun.
Ternyata ada banyak susunan acara yang telah mereka siapkan
sebelumnya. Nhea sama sekali tidak pernah menyangka jika upacara pembukaan saja
akan berlangsung selama ini. Sungguh berada di luar prediksinya. Namun, berbeda
halnya dengan Oliver. Sepertinya semua orang merasa cukup paham dengan situasi
seperti ini, karena mereka pernah mengalami hal yang serupa sebelumnya.
mungkin, Nhea adalah satu-satunya orang yang masih belum terbiasa.
__ADS_1
“Kapan upacaranya akan selesai?” tanya Nhea kepada Oliver
dengan suara sedikit berbisik. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Suaranya
bisa didengar dengan jelas dalam suasana hening dan khidmat seperti ini.
“Tidak lama lagi,” balas Oliver secara singkat.
Semoga apa yang
dikatakan ooleh gadis itu tadi benar adanya. Bukan hanya sekedar omong kosong
yang digunakan untuk menenangkan orang seperti Nhea. Seperti yang ia tahu jika
Nhea belum cukup terbiasa dengan situasi seperti ini. Nhea tak bisa menunggu
lebih lama lagi. Rasanya ia ingin berlari keluar dari barisan pada saat ini
juga. Itu pun kalau ia diizinkan untuk melakukannya.
Selain merasa kelelahan dan kepanasan, Nhea juga mendadak
jadi teringat soal kenangan masa lalunya. Ketika ia masih berada di sekolah
yang lama. Jauh sebelum kepindahannya kemari. Dari awal dia memang tidak setuju
jika harus pindah kemari. Perasaannya mengatakan jangan. Dia sudah punya
firasat tidak enak. Tapi, pada akhirnya dia tetap harus pergi meninggalkan kota
itu untuk selama-lamanya.
“Aku dipindah tugaskan
ke sekolah yang baru. Jika kau tetap berada di sini, maka itu sama saja dengan
aku mengingkari janji kepada ayah dan ibumu untuk menjaga anak semata
wayangnya.”
“Jadi, kau harus ikut
pindah denganku agar tetap aman. Bagaimana?”
Itu adalah penawaran terakhir yang sempat ia buat dengan
Bibi Ga Eun sebelum berakhir untuk menyetujuinya. Tidak ada pilihan lain. Wanita
itu bahkan sengaja untuk tidak memberikan opsi lain kepada Nhea, hanya agar dia
menyetujui permintaannya.
Padahal, waktu itu Bibi Ga Eun hanya ingin membawa Nhea
kembali ke tempat yang seharusnya. Tempat yang paling aman menurutnya dan
keluarga yang lain. Dimana ia akan bertemu dengan dua orang terkasih yang
selama ini ia rindukan.
Wanita itu mengira jika selama
ini Nhea akan sangat menginginkan hal tersebut lebih dari apa pun. Tapi,
ekspektasinya tak sesuai dengan apa yang selama ini ia harapkan. Nhea sama
sekali tidak merindukan semua hal itu. Dari awal dia sudah merelakan semuanya. Belajar
ikhlas adalah hal tersulit baginya.
__ADS_1