Mooneta High School

Mooneta High School
Lovely


__ADS_3

Terlepas dari semua permasalahan itu, yang namanya masa lalu


sudah tidak pantas untuk diingat lagi. bahkan Nhea saja tidak ingin


mengenangnya sama sekali. Sudah tidak ada lagi ruang di dalam hati dan


pikirannya untuk hal seperti itu. Selama hal tersebut tidak menentukan


kehidupannya di masa depan, maka Nhea tidak akan mau memusingkan hal tersebut


lebih dari lima menit. Hanya segitu batas waktu yang bisa ia lakukan.


Untuk saat ini dia sudah bisa berdamai dengan dirinya


sendiri. Tidak perlu mengingat soal kejadian kelam beberapa tahun lalu. Yang


jelas, bisa tetap hidup sampai saat ini saja adalah sebuah keberuntungan yang


tidak bisa didapatkan semua orang dengan mudah. Apalagi untuk anak seperti


dirinya. Semua ini berkat rencana Wilson pada malam itu.


Meski ia tidak pernah tahu apa alasan Vallery dan Wilson


meninggalkannya malam itu, Nhea tetap bungkam. Ia tak ingin menciptakan masalah


baru di antara sekian banyak masalah yang ada. Meski sebenarnya hal sebesar ini


patut untuk dipermasalahkan. Mereka berhutang penjelasan kepada gadis ini.


Setelah menghilang bertahun-tahun lamanya bak di telan bumi, kini mendadak


muncul di depan mata.


Tapi, Nhea sudah terlalu malas untuk mengungkit kisah lama


itu. Sudah sepatutnya memang untuk tetap terkubur. Tidak perlu diangkat lagi ke


permukaan. Dia sudah tenang dengan luka lamanya.


“Kau harus banyak


minum air putih agar tetap fokus nanti.”


Kalimat itu kembali terngiang di dalam kepalanya.


Mengingatkan Nhea kepada kejadian yang baru saja terjadi tadi pagi. Masih segar


di ingatannya.


Vallery sempat memberikan sebotol air putih kepada Nhea


untuk dibawa ke arena perlombaan. Karena ia tahu jika di sana nanti  pasti akan terasa panas. Matahari bahkan


sudah terasa menyengat sejak masih pagi. Ditambah dengan banyaknya kerumunan


orang. Tentu akan semakin mempersempit ruang gerak. Nhea akan mudah merasa


lelah pada saat seperti itu. Tenggorokannya pasti akan tering jika tetap


dibiarkan dalam kondisi tersebut. Dia perlu pasokan air. Oleh sebab itu,


Vallery sudah menyiapkannya sejak awal. Seolah tahu apa yang akan terjadi di


arena nanti.


Sebenarnya Nhea  sama


sekali tidak menyalahkan tindakan wanita itu tadi pagi. Ia hanya merasa aneh

__ADS_1


saja. Sebab, sudah lama ia tidak mendapatkan perlakuan seperti ini. Nhea enggan


untuk mengemis perhatian. Padahal ia sangat membutuhkannya. Selama ini gadis


itu tidak pernah mendapatkan hal serupa.


Baik dari Bibi Ga Eun atau pun kedua orang tuanya. Mereka


hanya tampak manis di awal saja. Kemudian sama-sama berakhir mengacuhkan. Andai


saja Bibi Ga Eun juga tetap menaruh rasa perhatian kepadanya, pasti Nhea sudah


merasa nyaman berada di dekatnya. Tidak menutup kemungkinan bagi Nhea untuk


menjadi lebih akrab dengan wanita itu ketimbang kedua orang tuanya sendiri.


Tapi, sayangnya tidak satu pun dari mereka berhasil membuat Nhea merasa nyaman.


Keduanya sama saja. Tidak lebih dari seseorang tanpa perasaan yang menjaga hal


berharga.


Selama ini Nhea tidak terbiasa untuk diperhatikan oleh orang


lain. Termasuk keluarganya sendiri. Saat pertama kali ia menginjakkan kaki di


sini, Nhea juga menolak untuk diperlakukan seperti anggota keluarga lainnya.


Dari awal dia sudah menolak untuk diperhatikan. Ia tak memerlukan itu lagi.


Karena Nhea tahu jika pada akhirnya ia tetap bisa menjalani hidup meski tanpa


hal tersebut. Bukan pekara yang mudah memang. Tapi, dia berhasil melewati


semuanya hingga berdiri di titik ini.


Sinar matahari semakin terasa kian menyengat. Terlebih saat


ini Nhea dan teman-temannya diharuskan untuk berbaris dengan rapih pada tempat


yang sudah di tentukan. Benar, manusia-manusia itu terususun rapih pada


hamparan sebuah tanah lapan luas. Demi mengikuti jalannya acara pembukaan dari


awal hingga akhir.


Mereka ingin sekali pergi dari sini kalau bisa. Sengatan


sinar matahari sudah seperti membakar kulit mereka. Tapi, sayangnya hal


tersebut tidak bisa dilakukan. Vallery benar-benar hebat. Seolah ia telah tahu


apa yang akan terjadi di tempat itu nanti. Ia memberikan bekal air putih kepada


Nhea untuk diminum nanti. Entah dia hanya sekedar menerka, atau memang sudah


tahu sejak awal jika cuaca hari ini tidak akan bersahabat dengan siapa pun.


Ternyata ada banyak susunan acara yang telah mereka siapkan


sebelumnya. Nhea sama sekali tidak pernah menyangka jika upacara pembukaan saja


akan berlangsung selama ini. Sungguh berada di luar prediksinya. Namun, berbeda


halnya dengan Oliver. Sepertinya semua orang merasa cukup paham dengan situasi


seperti ini, karena mereka pernah mengalami hal yang serupa sebelumnya.


mungkin, Nhea adalah satu-satunya orang yang masih belum terbiasa.

__ADS_1


“Kapan upacaranya akan selesai?” tanya Nhea kepada Oliver


dengan suara sedikit berbisik. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Suaranya


bisa didengar dengan jelas dalam suasana hening dan khidmat seperti ini.


“Tidak lama lagi,” balas Oliver secara singkat.


 Semoga apa yang


dikatakan ooleh gadis itu tadi benar adanya. Bukan hanya sekedar omong kosong


yang digunakan untuk menenangkan orang seperti Nhea. Seperti yang ia tahu jika


Nhea belum cukup terbiasa dengan situasi seperti ini. Nhea tak bisa menunggu


lebih lama lagi. Rasanya ia ingin berlari keluar dari barisan pada saat ini


juga. Itu pun kalau ia diizinkan untuk melakukannya.


Selain merasa kelelahan dan kepanasan, Nhea juga mendadak


jadi teringat soal kenangan masa lalunya. Ketika ia masih berada di sekolah


yang lama. Jauh sebelum kepindahannya kemari. Dari awal dia memang tidak setuju


jika harus pindah kemari. Perasaannya mengatakan jangan. Dia sudah punya


firasat tidak enak. Tapi, pada akhirnya dia tetap harus pergi meninggalkan kota


itu untuk selama-lamanya.


“Aku dipindah tugaskan


ke sekolah yang baru. Jika kau tetap berada di sini, maka itu sama saja dengan


aku mengingkari janji kepada ayah dan ibumu untuk menjaga anak semata


wayangnya.”


“Jadi, kau harus ikut


pindah denganku agar tetap aman. Bagaimana?”


Itu adalah penawaran terakhir yang sempat ia buat dengan


Bibi Ga Eun sebelum berakhir untuk menyetujuinya. Tidak ada pilihan lain. Wanita


itu bahkan sengaja untuk tidak memberikan opsi lain kepada Nhea, hanya agar dia


menyetujui permintaannya.


Padahal, waktu itu Bibi Ga Eun hanya ingin membawa Nhea


kembali ke tempat yang seharusnya. Tempat yang paling aman menurutnya dan


keluarga yang lain. Dimana ia akan bertemu dengan dua orang terkasih yang


selama ini ia rindukan.


Wanita itu mengira jika selama


ini Nhea akan sangat menginginkan hal tersebut lebih dari apa pun. Tapi,


ekspektasinya tak sesuai dengan apa yang selama ini ia harapkan. Nhea sama


sekali tidak merindukan semua hal itu. Dari awal dia sudah merelakan semuanya. Belajar


ikhlas adalah hal tersulit baginya.

__ADS_1


__ADS_2