
Tak lama kemudian, mendadak kedua netra Nhea berhasil
menangkap sebuah sosok yang perlahan berjalan mendekat ke arah mereka. Bisa
dipastikan jika yang ia lihat barusan adalah Jang Eunbi. Gadis itu baru datang
setelah beberapa menit latihan berlangsung. Sebenarnya kalau dipikir-pikir
kembali, ia belum terlalu terlambat. Mungkin Jang Eunbi hanya melewatkan lima
belas menit pertama di saat latihan. Bukan hal yang terlalu serius. Terlebih
pelatih mereka dikenal sebagai seseorang yang tidak ingint erlalu
memesar-besarkan hal kecil. Terlambat beberapa menit saja bukan lagi menjadi
sebuah masalah baginya. Lagipula ia sudah tahu sejak awal jika Jang Eunbi pasti
akan terlambat karena memiliki urusan mendadak untuk bertemu dengan Bibi Ga
Eun.
“Maafkan aku telah datang terlambat pada latihan pertamaku,”
ucap Jang Eunbi yang baru saja datang.
Dia tampak menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap mata
lawan bicaranya saat ini. Dia masih terlalu takut sekaligus merasa bersalah. Padahal
semua orang yakin jika kesalahannya masih bisa dimaklumi.
“Apa kau sudah menyelesaikan urusanmu dengan Nyonya kepala
sekolah?” tanya wanita itu.
“Sudah Bu!” balas Jang Eunbi tanpa memalingkan pandangannya
sama sekali. Perasaannya masih sama seperti yang sebelumnya.
“Kalau begitu bergabunglah bersama teman-temanmu yang lain,”
balasnya secara gamblang.
Mendapatkan jawaban semacam itu sungguh membuatnya terpelongo
tak percaya. Sungguh tidak masuk akal.
Hal seperti ini sama sekali tidak ada pada skenario. Jang Eunbi sungguh tidak
pernah memprediksikan hal seperti ini adakan terjadi kepadanya.
Gadis itu mengangkat kepalanya. Matanya beralih menatap
kedua manik hitam yang berada di hadapannya saat ini. Mereka saling beradu
pandang satu sama lain untuk beberapa saat sebelum akhirnya Jang Eunbi kembali
mengerjap.
“Tunggu apa lagi?” tanya wanita itu sembari mengalihkan
topik pembicaraan.
Tak ingin buang-buang waktu lagi, Jang Eunbi langsung
mengangguk cepat. Sebelum akhirnya pergi menyingkir dari hadapan sang guru. Ia
akan langsung bergabung bersama yang lainnya ke arena latihan. Selama para
pegasus belum datang, maka ia masih sempat untuk melakukan pemanasan singkat dan
latihan membidik ringan.
Ia menjadi pusat perhatian. Sejak awal kedatangannya saja
berhasil menyita perhatian semua orang yang berada di sini. Termasuk Nhea.
Gadis itu bisa menemukan keberadaannya dengan cepat, bahkan dari kejauhan
sekali pun.
Kini semua orang terus menyoroti setiap langkahnya.
Menatapnya dengan lekat. Jang Eunbi tidak mungkin membalas tatapan mereka
secara satu-persatu. Akan sangat melelahkan pastinya. Lagipula ia sama sekali
tidak berniat untuk melakukan hal tersebut.
“Kelihatannya ia baru saja selesai dengan urusannya.”
“Aku juga yakin seperti itu.”
“Bagaimana bisa guru tidak memberikannya hukuman, padahal
sudah jelas-jelas jika ia terlambat tadi.”
Lagi-lagi ada banyak desas-desus yang sampai di telinganya.
Sejauh ini memang emosi Jang Eunbi cukup terpancing. Mereka berhasil
menggoyahkan serta menguji kesabarannya.
Ternyata kepindahannya ke departemen lain bukan sesuatu yang
baik. Tidak ada yang baik-baik saja di sini. Semua lari menjauh dari
ekspektasi. Tapi tidak apa. Ini bukan masalah serius. Dari awal Jang Eunbi
memang sudah yakin jika kepindahannya ini akan menuai pro dan kontra dari
berbagai pihak. Bukan masalah jika orang lain tidak setuju dengan keputusannya.
Jang Eunbi bukan satu-satunya orang yang ikut ambil alih dalam membuat
keputusan tersebut di sini. Eun Ji Hae dan Bibi Ga Eun sendiri bahkan ikut
terlibat secara langsung dalam hal yang sama.
Jika ditanya saat ini Nhea berada dimana, maka sebenarnya ia
sedang tidak memaihak siapa-siapa saat ini. Gadis itu adalah tim netral. Lebih
tepatnya, Nhea memang tidak suka ikut campur dengan segala hal yang memiliki
hubungan atau tidak dengan kehidupannya. Gadis itu tahu sampai mana saja
batasan yang perlu ia pertahankan sejauh ini.
Memang dia sama sekali tidak ada melemparkan hujatan serta
ujaran kebencian kepada temannya. Jang Eunbi juga manusia. Dia pasti akan
merasa sakit hati. Mungkin ia memang pernah menyakiti hati Nhea. Tapi, sudah
dikatakan sejak awal jika Nhea bukan tipikal orang yang seperti itu. Dia tidak
akan balas dendam. Jadi, tidak perlu merasa cemas berlebih.
Jang Eunbi sendiri tidak tahu harus memberikan reaksi
bagaimana saat menerima hujatan tersebut. Tidak dapat dipungkiri jika lama
__ADS_1
kelamaan ia mulai merasa kesal. Orang-orang mulai bertindak dengan sesuka
hatinya. Menghakimi orang lain tanpa ingin melihat faktanya terlebih dahulu.
Otak mereka menolak untuk percaya. Bertindak seolah-olah Jang Eunbi adalah
satu-satunya pihak yang paling bersalah di sini.
Memangnya mereka siapa? Sampai berani menghakimi orang lain
seperti ini. Jang Eunbi bukan tipikal orang yang mampu bersabar seperti Nhea.
Namun, mau tak mau dia harus tetap menahan dirinya sedikit lebih lama lagi.
Setidaknya sampai latihan hari ini selesai. Tentu Jang Eunbi tidak ingin
membuat keributan di sini dan menyebabkan segalanya menjadi kacau. Mereka pasti
akan semakin menyudutkan dirinya. Dia tidak boleh sampai salah dalam mengambil
langkah selanjutnya untuk menangani masalah ini.
“Apakah mereka sungguh tidak bisa menggunakan mulutnya untuk
sesuatu yang lebih baik lagi?” batinnya dalam hati.
Jang Eunbi mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Rahangnya
mulai mengeras. Ia mendengus kesal. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan.
Menurutnya, yang tadi itu adalah bentuk penyaluran emosi yang paling positif
yang bisa ia lakukan sejauh ini. Tentunya tanpa ada resiko. Apalagi bahaya.
“Ini aanak panah dan busur milikmu,” ujar Nhea sambil
menyodorkan benda tersebut kepadanya.
“Hanya tersisa satu,” lanjutnya.
Jang Eunbi tidak langsung menjawab perkataan gadis itu
barusan. Dia hanya bisa melongo. Kembali merasa sibuk dengan pikirannya.
Sebelum pada akhirnya ia berdeham untuk menetralisir suasana.
“Baiklah, terima kasih banyak!” ucap Jang Eunbi tanpa
mengurangi rasa hormat.
Bagaimanapun juga, ia tetap harus hormat kepada Nhea. Jangan
salah sangka dulu. Dia bukan gadis biasa. Semua orang tahu jika ia adalah salah
satu dari anggota keluarga. Tapi, bukan di sana poin pentingnya. Ada satu hal
lagi yang patut untuk dijadikan sorotan utama. Nhea merupakan anggota keluarga
dari generasi pertama. Yang berarti, jika kedudukannya jauh lebih tinggi dari
pada Ify. Jelas Eun Ji Hae masih kalah jauh jika dibandingkan dengannya.
Mungkin saat ini Nhea belum tampak terlalu mengancam. Tapi,
yang pasti suatu saat ancaman itu akan terlihat nyata. Ketika Nhea sudah mampu
untuk menggunakan serta mengendalikan kekuatannya. Sekarang dia memang belum
menjadia apa-apa. Tapi, pada faktanya ada potensi besar yang berada pada dirinya.
“Lakukanlah beberapa pemanasam serta latihan ringan!” titah
Nhea.
beberapa menit lagi sebelum paa pegasus datang kemari untuk membawa kita
berlatih di arena yang sesungguhnya,” jelas gadis itu dengan panjang lebar yang
kemudian mendapatkan anggukan antusias dari Jang Eunbi.
Sekarang sudah sekitar satu minggu menjelang perlombaaan.
Semua persiapan sudah cukup matang. Tidak ada yang kurang sedikit pun. Akademi
sihir Mooneta telah melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari. Mereka sudah
bekerja keras. Hingga sekarang bisa dibilang jika persiapannya hampir mencapai
tahap sempurna.
Sudah selama seminggu pula Jang Eunbi menghabiskan waktunya
untuk latihan di sini. Bersama seluruh calon peserta cabang lomba panahan.
Meskipun masih ada beberapa orang yang menyimpan rasa buruk kepadanya, namun
tidak sedikit pula yang mulai berdamai. Sebagian besar dari mereka mulai
menerima kehadiran Jang Eunbi dalam tim ini. Jika dipikir-pikir, Bibi Ga Eun
pasti memiliki alasan tersendiri kenapa haru menempatkan gadis itu ke
department lain.
Nhea sendiri sama sekali tidak masalah dengan keputusan yang
telah ditetapkan. Selama Jang Eunbi tidak membuat masalah serius dengannya,
maka bagi Nhea itu bukanlah sesuatu yang berhak untuk di permasalahkan. Tidak
semua masalah harus dibesar-besarkan. Padahal hidup itu sederhana. Tidak rumit
seperti apa yang kita bayangkan selama ini. Manusia adalah salah satu mahluk
yang membuat kehidupan terasa lebih berat dan menyulitkan dari apa yang pernah
kita jalani.
Eun Ji Hae dan beberapa pihak dari akademi sihir Mooneta
sudah sepakat untuk memadatkan jadwal latihan rutin. Hal tersebut berguna untuk
memaksimalkan potensi mereka. Sepertinya semua orang pasti akan berusaha lebih
keras saat menyadari jika waktunya sudah dekat. Semua itu wajar. Sangat wajar.
“Setelah sarapan nanti, sepertinya aku tidak akan pergi ke
asrama,” ujar Nhea kepada temannya. Siapa lagi jika bukan Oliver. Sejak
kejadian hari itu, hanya Oliver yang tersisa.
“Kenapa?” tanya gadis itu secara spontan.
“Padahal jika dihitung kembali, aku yakin kalau kau masih
memiliki waktu yang cukup untuk bersiap terlebih dahulu,” jelasnya kemudian.
Oliver berusaha untuk meyakinkan gadis itu. Mereka tidak
dituntut untuk cepat sampai ke arena latihan. Tidak sama sekali. Selama tidak
terlambat dan datang tepat waktu, selebihnya tidak akan menjadi masalah.
__ADS_1
Terlebih pelatih cabang lomba panahan bukan seseorang yang keras. Dia pasti
akan memaklumi bahkan jika kau terlambat sekalipun. Selama kau masih datang
dalam sesi latihan pertama dan tidak melewatkan lima belas menit akhir sebelum
masuk ke sesi kedua. Dan yang terpenting adalah, alasan kalian juga harus masuk
akal.
Mereka juga manusia biasa. Pada dasarnya, mereka semua
adalah manusia biasa. Tidak ada yang sempurna. Kecuali dengan beberapa orang di
dalamnya. Mereka bukan manusia biasa. Seperti Eun Ji Hae, Nhea, Wilson dan juga
Chanwo. Kalian salah besar jika masih menganggap mereka sebagai manusia. Bahkan
bisa dikatakan jika yang sampai saat ini sudah terkonfirmasi masih memiliki
darah manusia di dalam tubuhnya adalah Nhea. ia memang sedikit berbeda dengan
yang lainnya.
Asal-usul gadis itu cukup menjadi perdebatan dimana-mana.
Bagaimana bisa dua kaum yang telah dilarang keras untuk menjalin hubungan malah
menikah. Nhea adalah bukti cinta mereka. Kutukan klan? Wilson berani bertaruh
jika semua itu palsu. Buktinya saja tidak ada hal buruk yang terjadi dengan
dampak berarti kepada mereka selama ini. Terutama kepada keluarga kecil itu.
Pria itu berasumsi jika larangan yang selama ini cukup
terkenal di kalangan kaumnya adalah sebuah alibi. Tetua mereka berhasil
mempengaruhi anak cucunya dengan sebuah taktik. Tidak ada yang tahu apa
tujuannya. Tapi, yang jelas mereka pasti tidak mungkin merancang semua itu
begitu saja tanpa alasan tertentu. Sampai saat ini semuanya masih menjadi
misteri. Tidak ada yang bisa mengungkap kebenarannya.
Banyak yang tidak tahu soal kebenaran yang mereka
sembunyikan. Terutama soal keluarga besar pemimpin akademi sihir Mooneta itu.
Ternyata mereka memang bukan sembarang orang. Pantas saja tidak ada yang bisa
menyingkirkan satu pun dari tahta kekuasaan yang telah mereka raih selama ini. Anggota
keluarga pemimpin akademi sihir ini memang terkenal sulit untuk ditaklukkan.
Tidak ada yang tahu kenapa. Bahkan anggota terlemah seperti Nhea saja masih
menjadi ancaman bagi orang lain.
Keluarga mereka tidak hanya berpengaruh di Mooneta saja.
Bahkan sampai ke tempat lain juga. Akademi sihir Mooneta dikenal sebaga pelopor
akademi sihir lainnya juga. Mereka adalah akademi pertama yang masih bertahan
hingga saat ini. Tidak ada yang pernah berubah sejak dulu. Bahkan kualitasnya
ikut bertambah seiring waktu.
Sejauh ini memang belum ada akademi sihir lain yang mempu
menandingi akademi Mooneta. Baik dari segi sistem hingga kualitas. Mereka
selalu lebih baik dalam hal apa pun itu ketimbang akademi sihir lainnya. Tidak
salah lagi jika Mooneta sering digadang-gadang sebagai akademi sihir terbaik
sejauh ini.
“Kita tidak perlu berlatih terlalu keras seperti ini.
Mooneta tetap akan menjadi yang nomer satu,” ujar salah satu siswa peserta
latihan memanah secara gamblang.
“Tetap saja kau tidak boleh menganggap remeh akademi lain,”
balas yang lainnya.
“Mereka bisa berbalik menyerang kapan saja. Tidak ada yang
tahu. Bahkan termasuk saat kita lengah sekali pun. Itu adalah sebuah kesempatan
emas bagi mereka,” jelasnya dengan panjang lebar.
Nhea memang sengaja tidak ikut menimbrung pada obrolan kala
itu. Dia jauh lebih suka untuk menyimak sesuatu daripada memberikan tanggapan. Kebiasaannya
memang sedikit berbeda dari yang lain. Dia adalah tipikal orang yang pemikir.
Setiap kata yang meluncur keluar dari mulutnya adalah buah pikiran. Nhea bukan
orang yang asal bicara tanpa memikirkan segala resikonya terlebih dahulu. bukan
hanya sebatas bicara. Tapi, bahkan juga bertindak.
“Perlombaan akan diselenggarakan dalam waktu beberapa hari
lagi. Aku bahkan sudah mulai merasa gugup sekarang,” ungkap salah satu teman
yang berada di samping Nhea pada saat itu.
“Tidak perlu khawatir,” ucap Nhea untuk menenangkannya.
Gadis itu meraih tangan temannya. Mengusap-usap punggung
tangannya dengan lembut. Berusaha untuk menenangkan orang itu. Tidak bisa
dipungkiri memang. Rasa gugup pasti ada saja. meskipun sejauh ini akademi sihir
Mooneta masih menjadi yang pertama. Tapi, mereka juga tidak bisa menyepelekan
akademi sihir lainnya. Mereka semua pasti sudah mempersiapkan yang terbaik.
Tidak kalah jauh dengan Mooneta yang sejauh ini telah melakukan persiapan
terbaiknya.
Meski beberapa tahun belakangan
ini akademi sihir Mooneta selalu menjadi yang pertama dalam ajang perlombaan
tersebut, tapi tidak menutup kemungkinan bagi akademi sihir lain untuk menang
juga. Mereka tidak akan selamanya berada di ambang kejayaan. Prinsip roda
semesta pasti akan selalu berputar. Memang begitu caranya bekerja. hidup harus
seimbang. Tidak boleh selalu sama. Memang begitu prinsip dari siklus kehidupan.
Ada saatnya kau berada di puncak dan begitu pula sebaliknya. Dengan pengaturan
__ADS_1
semesta yang demikian, maka semuanya akan terasa lebih adil.