Mooneta High School

Mooneta High School
Training


__ADS_3

Tak lama kemudian, mendadak kedua netra Nhea berhasil


menangkap sebuah sosok yang perlahan berjalan mendekat ke arah mereka. Bisa


dipastikan jika yang ia lihat barusan adalah Jang Eunbi. Gadis itu baru datang


setelah beberapa menit latihan berlangsung. Sebenarnya kalau dipikir-pikir


kembali, ia belum terlalu terlambat. Mungkin Jang Eunbi hanya melewatkan lima


belas menit pertama di saat latihan. Bukan hal yang terlalu serius. Terlebih


pelatih mereka dikenal sebagai seseorang yang tidak ingint erlalu


memesar-besarkan hal kecil. Terlambat beberapa menit saja bukan lagi menjadi


sebuah masalah baginya. Lagipula ia sudah tahu sejak awal jika Jang Eunbi pasti


akan terlambat karena memiliki urusan mendadak untuk bertemu dengan Bibi Ga


Eun.


“Maafkan aku telah datang terlambat pada latihan pertamaku,”


ucap Jang Eunbi yang baru saja datang.


Dia tampak menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap mata


lawan bicaranya saat ini. Dia masih terlalu takut sekaligus merasa bersalah. Padahal


semua orang yakin jika kesalahannya masih bisa dimaklumi.


“Apa kau sudah menyelesaikan urusanmu dengan Nyonya kepala


sekolah?” tanya wanita itu.


“Sudah Bu!” balas Jang Eunbi tanpa memalingkan pandangannya


sama sekali. Perasaannya masih sama seperti yang sebelumnya.


“Kalau begitu bergabunglah bersama teman-temanmu yang lain,”


balasnya secara gamblang.


Mendapatkan jawaban semacam itu sungguh membuatnya terpelongo


tak percaya. Sungguh  tidak masuk akal.


Hal seperti ini sama sekali tidak ada pada skenario. Jang Eunbi sungguh tidak


pernah memprediksikan hal seperti ini adakan terjadi kepadanya.


Gadis itu mengangkat kepalanya. Matanya beralih menatap


kedua manik hitam yang berada di hadapannya saat ini. Mereka saling beradu


pandang satu sama lain untuk beberapa saat sebelum akhirnya Jang Eunbi kembali


mengerjap.


“Tunggu apa lagi?” tanya wanita itu sembari mengalihkan


topik pembicaraan.


Tak ingin buang-buang waktu lagi, Jang Eunbi langsung


mengangguk cepat. Sebelum akhirnya pergi menyingkir dari hadapan sang guru. Ia


akan langsung bergabung bersama yang lainnya ke arena latihan. Selama para


pegasus belum datang, maka ia masih sempat untuk melakukan pemanasan singkat dan


latihan membidik ringan.


Ia menjadi pusat perhatian. Sejak awal kedatangannya saja


berhasil menyita perhatian semua orang yang berada di sini. Termasuk Nhea.


Gadis itu bisa menemukan keberadaannya dengan cepat, bahkan dari kejauhan


sekali pun.


Kini semua orang terus menyoroti setiap langkahnya.


Menatapnya dengan lekat. Jang Eunbi tidak mungkin membalas tatapan mereka


secara satu-persatu. Akan sangat melelahkan pastinya. Lagipula ia sama sekali


tidak berniat untuk melakukan hal tersebut.


“Kelihatannya ia baru saja selesai dengan urusannya.”


“Aku juga yakin seperti itu.”


“Bagaimana bisa guru tidak memberikannya hukuman, padahal


sudah jelas-jelas jika ia terlambat tadi.”


Lagi-lagi ada banyak desas-desus yang sampai di telinganya.


Sejauh ini memang emosi Jang Eunbi cukup terpancing. Mereka berhasil


menggoyahkan serta menguji kesabarannya.


Ternyata kepindahannya ke departemen lain bukan sesuatu yang


baik. Tidak ada yang baik-baik saja di sini. Semua lari menjauh dari


ekspektasi. Tapi tidak apa. Ini bukan masalah serius. Dari awal Jang Eunbi


memang sudah yakin jika kepindahannya ini akan menuai pro dan kontra dari


berbagai pihak. Bukan masalah jika orang lain tidak setuju dengan keputusannya.


Jang Eunbi bukan satu-satunya orang yang ikut ambil alih dalam membuat


keputusan tersebut di sini. Eun Ji Hae dan Bibi Ga Eun sendiri bahkan ikut


terlibat secara langsung dalam hal yang sama.


Jika ditanya saat ini Nhea berada dimana, maka sebenarnya ia


sedang tidak memaihak siapa-siapa saat ini. Gadis itu adalah tim netral. Lebih


tepatnya, Nhea memang tidak suka ikut campur dengan segala hal yang memiliki


hubungan atau tidak dengan kehidupannya. Gadis itu tahu sampai mana saja


batasan yang perlu ia pertahankan sejauh ini.


Memang dia sama sekali tidak ada melemparkan hujatan serta


ujaran kebencian kepada temannya. Jang Eunbi juga manusia. Dia pasti akan


merasa sakit hati. Mungkin ia memang pernah menyakiti hati Nhea. Tapi, sudah


dikatakan sejak awal jika Nhea bukan tipikal orang yang seperti itu. Dia tidak


akan balas dendam. Jadi, tidak perlu merasa cemas berlebih.


Jang Eunbi sendiri tidak tahu harus memberikan reaksi


bagaimana saat menerima hujatan tersebut. Tidak dapat dipungkiri jika lama

__ADS_1


kelamaan ia mulai merasa kesal. Orang-orang mulai bertindak dengan sesuka


hatinya. Menghakimi orang lain tanpa ingin melihat faktanya terlebih dahulu.


Otak mereka menolak untuk percaya. Bertindak seolah-olah Jang Eunbi adalah


satu-satunya pihak yang paling bersalah di sini.


Memangnya mereka siapa? Sampai berani menghakimi orang lain


seperti ini. Jang Eunbi bukan tipikal orang yang mampu bersabar seperti Nhea.


Namun, mau tak mau dia harus tetap menahan dirinya sedikit lebih lama lagi.


Setidaknya sampai latihan hari ini selesai. Tentu Jang Eunbi tidak ingin


membuat keributan di sini dan menyebabkan segalanya menjadi kacau. Mereka pasti


akan semakin menyudutkan dirinya. Dia tidak boleh sampai salah dalam mengambil


langkah selanjutnya untuk menangani masalah ini.


“Apakah mereka sungguh tidak bisa menggunakan mulutnya untuk


sesuatu yang lebih baik lagi?” batinnya dalam hati.


Jang Eunbi mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Rahangnya


mulai mengeras. Ia mendengus kesal. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan.


Menurutnya, yang tadi itu adalah bentuk penyaluran emosi yang paling positif


yang bisa ia lakukan sejauh ini. Tentunya tanpa ada resiko. Apalagi bahaya.


“Ini aanak panah dan busur milikmu,” ujar Nhea sambil


menyodorkan benda tersebut kepadanya.


“Hanya tersisa satu,” lanjutnya.


Jang Eunbi tidak langsung menjawab perkataan gadis itu


barusan. Dia hanya bisa melongo. Kembali merasa sibuk dengan pikirannya.


Sebelum pada akhirnya ia berdeham untuk menetralisir suasana.


“Baiklah, terima kasih banyak!” ucap Jang Eunbi tanpa


mengurangi rasa hormat.


Bagaimanapun juga, ia tetap harus hormat kepada Nhea. Jangan


salah sangka dulu. Dia bukan gadis biasa. Semua orang tahu jika ia adalah salah


satu dari anggota keluarga. Tapi, bukan di sana poin pentingnya. Ada satu hal


lagi yang patut untuk dijadikan sorotan utama. Nhea merupakan anggota keluarga


dari generasi pertama. Yang berarti, jika kedudukannya jauh lebih tinggi dari


pada Ify. Jelas Eun Ji Hae masih kalah jauh jika dibandingkan dengannya.


Mungkin saat ini Nhea belum tampak terlalu mengancam. Tapi,


yang pasti suatu saat ancaman itu akan terlihat nyata. Ketika Nhea sudah mampu


untuk menggunakan serta mengendalikan kekuatannya. Sekarang dia memang belum


menjadia apa-apa. Tapi, pada faktanya ada potensi besar yang berada pada dirinya.


“Lakukanlah beberapa pemanasam serta latihan ringan!” titah


Nhea.


beberapa menit lagi sebelum paa pegasus datang kemari untuk membawa kita


berlatih di arena yang sesungguhnya,” jelas gadis itu dengan panjang lebar yang


kemudian mendapatkan anggukan antusias dari Jang Eunbi.


Sekarang sudah sekitar satu minggu menjelang perlombaaan.


Semua persiapan sudah cukup matang. Tidak ada yang kurang sedikit pun. Akademi


sihir Mooneta telah melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari. Mereka sudah


bekerja keras. Hingga sekarang bisa dibilang jika persiapannya hampir mencapai


tahap sempurna.


Sudah selama seminggu pula Jang Eunbi menghabiskan waktunya


untuk latihan di sini. Bersama seluruh calon peserta cabang lomba panahan.


Meskipun masih ada beberapa orang yang menyimpan rasa buruk kepadanya, namun


tidak sedikit pula yang mulai berdamai. Sebagian besar dari mereka mulai


menerima kehadiran Jang Eunbi dalam tim ini. Jika dipikir-pikir, Bibi Ga Eun


pasti memiliki alasan tersendiri kenapa haru menempatkan gadis itu ke


department lain.


Nhea sendiri sama sekali tidak masalah dengan keputusan yang


telah ditetapkan. Selama Jang Eunbi tidak membuat masalah serius dengannya,


maka bagi Nhea itu bukanlah sesuatu yang berhak untuk di permasalahkan. Tidak


semua masalah harus dibesar-besarkan. Padahal hidup itu sederhana. Tidak rumit


seperti apa yang kita bayangkan selama ini. Manusia adalah salah satu mahluk


yang membuat kehidupan terasa lebih berat dan menyulitkan dari apa yang pernah


kita jalani.


Eun Ji Hae dan beberapa pihak dari akademi sihir Mooneta


sudah sepakat untuk memadatkan jadwal latihan rutin. Hal tersebut berguna untuk


memaksimalkan potensi mereka. Sepertinya semua orang pasti akan berusaha lebih


keras saat menyadari jika waktunya sudah dekat. Semua itu wajar. Sangat wajar.


“Setelah sarapan nanti, sepertinya aku tidak akan pergi ke


asrama,” ujar Nhea kepada temannya. Siapa lagi jika bukan Oliver. Sejak


kejadian hari itu, hanya Oliver yang tersisa.


“Kenapa?” tanya gadis itu secara spontan.


“Padahal jika dihitung kembali, aku yakin kalau kau masih


memiliki waktu yang cukup untuk bersiap terlebih dahulu,” jelasnya kemudian.


Oliver berusaha untuk meyakinkan gadis itu. Mereka tidak


dituntut untuk cepat sampai ke arena latihan. Tidak sama sekali. Selama tidak


terlambat dan datang tepat waktu, selebihnya tidak akan menjadi masalah.

__ADS_1


Terlebih pelatih cabang lomba panahan bukan seseorang yang keras. Dia pasti


akan memaklumi bahkan jika kau terlambat sekalipun. Selama kau masih datang


dalam sesi latihan pertama dan tidak melewatkan lima belas menit akhir sebelum


masuk ke sesi kedua. Dan yang terpenting adalah, alasan kalian juga harus masuk


akal.


Mereka juga manusia biasa. Pada dasarnya, mereka semua


adalah manusia biasa. Tidak ada yang sempurna. Kecuali dengan beberapa orang di


dalamnya. Mereka bukan manusia biasa. Seperti Eun Ji Hae, Nhea, Wilson dan juga


Chanwo. Kalian salah besar jika masih menganggap mereka sebagai manusia. Bahkan


bisa dikatakan jika yang sampai saat ini sudah terkonfirmasi masih memiliki


darah manusia di dalam tubuhnya adalah Nhea. ia memang sedikit berbeda dengan


yang lainnya.


Asal-usul gadis itu cukup menjadi perdebatan dimana-mana.


Bagaimana bisa dua kaum yang telah dilarang keras untuk menjalin hubungan malah


menikah. Nhea adalah bukti cinta mereka. Kutukan klan? Wilson berani bertaruh


jika semua itu palsu. Buktinya saja tidak ada hal buruk yang terjadi dengan


dampak berarti kepada mereka selama ini. Terutama kepada keluarga kecil itu.


Pria itu berasumsi jika larangan yang selama ini cukup


terkenal di kalangan kaumnya adalah sebuah alibi. Tetua mereka berhasil


mempengaruhi anak cucunya dengan sebuah taktik. Tidak ada yang tahu apa


tujuannya. Tapi, yang jelas mereka pasti tidak mungkin merancang semua itu


begitu saja tanpa alasan tertentu. Sampai saat ini semuanya masih menjadi


misteri. Tidak ada yang bisa mengungkap kebenarannya.


Banyak yang tidak tahu soal kebenaran yang mereka


sembunyikan. Terutama soal keluarga besar pemimpin akademi sihir Mooneta itu.


Ternyata mereka memang bukan sembarang orang. Pantas saja tidak ada yang bisa


menyingkirkan satu pun dari tahta kekuasaan yang telah mereka raih selama ini. Anggota


keluarga pemimpin akademi sihir ini memang terkenal sulit untuk ditaklukkan.


Tidak ada yang tahu kenapa. Bahkan anggota terlemah seperti Nhea saja masih


menjadi ancaman bagi orang lain.


Keluarga mereka tidak hanya berpengaruh di Mooneta saja.


Bahkan sampai ke tempat lain juga. Akademi sihir Mooneta dikenal sebaga pelopor


akademi sihir lainnya juga. Mereka adalah akademi pertama yang masih bertahan


hingga saat ini. Tidak ada yang pernah berubah sejak dulu. Bahkan kualitasnya


ikut bertambah seiring waktu.


Sejauh ini memang belum ada akademi sihir lain yang mempu


menandingi akademi Mooneta. Baik dari segi sistem hingga kualitas. Mereka


selalu lebih baik dalam hal apa pun itu ketimbang akademi sihir lainnya. Tidak


salah lagi jika Mooneta sering digadang-gadang sebagai akademi sihir terbaik


sejauh ini.


“Kita tidak perlu berlatih terlalu keras seperti ini.


Mooneta tetap akan menjadi yang nomer satu,” ujar salah satu siswa peserta


latihan memanah secara gamblang.


“Tetap saja kau tidak boleh menganggap remeh akademi lain,”


balas yang lainnya.


“Mereka bisa berbalik menyerang kapan saja. Tidak ada yang


tahu. Bahkan termasuk saat kita lengah sekali pun. Itu adalah sebuah kesempatan


emas bagi mereka,” jelasnya dengan panjang lebar.


Nhea memang sengaja tidak ikut menimbrung pada obrolan kala


itu. Dia jauh lebih suka untuk menyimak sesuatu daripada memberikan tanggapan. Kebiasaannya


memang sedikit berbeda dari yang lain. Dia adalah tipikal orang yang pemikir.


Setiap kata yang meluncur keluar dari mulutnya adalah buah pikiran. Nhea bukan


orang yang asal bicara tanpa memikirkan segala resikonya terlebih dahulu. bukan


hanya sebatas bicara. Tapi, bahkan juga bertindak.


“Perlombaan akan diselenggarakan dalam waktu beberapa hari


lagi. Aku bahkan sudah mulai merasa gugup sekarang,” ungkap salah satu teman


yang berada di samping Nhea pada saat itu.


“Tidak perlu khawatir,” ucap Nhea untuk menenangkannya.


Gadis itu meraih tangan temannya. Mengusap-usap punggung


tangannya dengan lembut. Berusaha untuk menenangkan orang itu. Tidak bisa


dipungkiri memang. Rasa gugup pasti ada saja. meskipun sejauh ini akademi sihir


Mooneta masih menjadi yang pertama. Tapi, mereka juga tidak bisa menyepelekan


akademi sihir lainnya. Mereka semua pasti sudah mempersiapkan yang terbaik.


Tidak kalah jauh dengan Mooneta yang sejauh ini telah melakukan persiapan


terbaiknya.


Meski beberapa tahun belakangan


ini akademi sihir Mooneta selalu menjadi yang pertama dalam ajang perlombaan


tersebut, tapi tidak menutup kemungkinan bagi akademi sihir lain untuk menang


juga. Mereka tidak akan selamanya berada di ambang kejayaan. Prinsip roda


semesta pasti akan selalu berputar. Memang begitu caranya bekerja. hidup harus


seimbang. Tidak boleh selalu sama. Memang begitu prinsip dari siklus kehidupan.


Ada saatnya kau berada di puncak dan begitu pula sebaliknya. Dengan pengaturan

__ADS_1


semesta yang demikian, maka semuanya akan terasa lebih adil.


__ADS_2