Mooneta High School

Mooneta High School
Magician


__ADS_3

‘BRUK!!!’


Baru menuruni tiga anak tangga, tiba-tiba tubuh Choi Ara


rubuh. Ia mendadak kehilangan keseimbangan dan membuat dirinya terjatuh sebelum


sempat menyelesaikan barisan anak tangga tersebut. Choi Ara menggelinding


dengan cepat ke lantai dasar. Beberapa kali sempat terdengar suara debaman yang


ditimbulkan akibat badannya menghantam dinding dan juga anak tangga yang


terbuat dari kayu tersebut.


Tanpa pikir panjang, Eun Ji Hae segera berlari menyusulnya


ke bawah. Untuk memastikan apakah gadis malang itu baik-baik saja atau tidak. Eun


Ji Hae bahkan sampai merasa ngilu begitu mendengar bunyi debaman tersebut.


Seolah ia yang berada pada posisi itu.


“Hey!” sahut Eun Ji Hae.


Dia meletakkan kepala Choi Ara di atas pangkuannya.


Menepuk-nepuk pipinya pelan. Setidaknya gadis itu harus tetap sadar, meski


dalam keadaan sekarat sekalipun. Tidak boleh sampai terjadi sesuatu yang buruk


kepada Choi Ara. Atau tidak Eun Ji Hae akan disalahkan atas semua tuduhan palsu


yang mungkin bisa timbul sewaktu-waktu dan menyerangnya. Bagaimanapun juga ini


adalah kesalahannya sejak awal. Dia memerintahkan gadis itu untuk berjaga di


sekitar sini dan mengawasi segala pergerakan Nhea.


“Huh! Merepotkan saja!” gerutunya sebal.


Mau tak mau, Eun Ji Hae harus membawa gadis ini ke kamarnya


dan mengobati lukanya. Dia harus sembuh dengan segera. Hanya itu satu-satunya


cara yang bisa di lakukan agar tidak ada seorangpun yang merasa curiga.


Eun Ji Hae memapah tubuh ringkih gadis itu melewati setiap


lorong dan anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Tapi ia harus berhati-hati


saat membawa gadis ini ke sana. Pastikan ia bertindak dengan hati-hati dan


tidak gegabah. Satu kesalahan saja bisa menghancurkan seluruh rencananya.


Kamar Eun Ji Hae berada di lantai atas, satu koridor dengan


kamar para petinggi sekolah lainnya. Tempat itu hanya dikhususkan bagi para


keluarga besar yang sekaligus menjabat sebagai petinggi sekolah. Kecuali Nhea.


Gadis itu lebih memilik untuk tinggal di kamar asrama daripada kamar khusus


yang telah disediakan.


Kamar Euj Ji Hae berada tepat di depan kamar kedua orang tua


angkatnya itu. Suasana di sini akan benar-benar sepi ketika malam hari tiba.


Semua orang sedang terlelap. Itu lah sebabnya kenapa ia tidak boleh berisik sama


sekali. Jika tidak, mungkin Bibi Ga Eun akan terjaga dari tidurnya. Wanita itu


terkenal memiliki indera yang cukup sensitif. Ia akan langsung terbangun jika


mendengar suara berisik sedikit saja. Bibi Ga Eun adalah salah satu orang yang


harus ia waspadai. Sementara yang lainnya, mereka akan tetap terjaga sampai


fajar menyingsing. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.


Sejauh ini masih aman-aman saja. Mereka sudah berada di


gedung utama yang menjadi pusat dari sekolah ini sekaligus tempat tinggal para


petinggi. Tidak sembarang orang bisa memasuki tempat yang satu ini. Hanya


mereka dengan hak istimewa yang bisa menapakkan kakinya di lantai bangunan ini.


Tidak ada yang perlu ditakuti di sini. Tidak ada satupun


penjaga yang ditempatkan di sekitar bagunan, meski tempati ini terbilang


lumayan penting. Semua orang bisa menjaga dirinya dengan baik. Itu sebabnya


kenapa tidak ada penjaga yang ditugaskan untuk berjaga di sekitar tempat ini.


Alasan kedua yang juga tidka kalah masuk akal adalah,


sekolah ini sama sekali tidak memiliki pasukan penjaga lain. Hanya ada Griffin


yang umumnya ditugaskan di sekitar pintu masuk. Lagi pula ini adalah


sekolah.  Bukan kerajaan. Sehingga tidak


dibutuhkan pengawalan seketat itu. Semuanya akan baik-baik saja, mengingat jika


seluruh orang yang berada di sini memiliki kemampuan sihir di atas rata-rata.


Hal tersebut cukup untuk melindungi diri mereka sendiri. Untuk berjaga-jaga


jika sewaktu-waktu ada serangan mendadak yang tidak diharapkan dan mengancam


kelangsungan hidup mereka.


Mereka dalah kumpulan orang-orang terlatih yang ditempatkan


secara khusus. Menghimpun penyihir dalam skala banyak seperti ini adalah salah


satu cara untuk mengumpulkan kekuatan. Mereka akan di didik secara khusus dalam


ilmu sihir selama berada di sini. Mungkin orang-orang akan bertanya, kemana


mereka akan pergi setelah menyelesaikan studinya di tempat ini. Pilihannya


hanya ada dua dan mereka berhak untuk memilih salah satunya. Yang pertama


adalah kembali ke keluarganya masing-masing dan menjalani kehidupan normal seperti


manusia pada umumnya. Sedangkan untuk peilihan keduanya, mereka dipersilahkan


untuk menjadi bagian abadi dari sekolah ini. Yaitu dengan cara mengabdi untuk


sekolah. Mereka yang memilih opsi kedua akan disumpah secara bersamaan dan


menghabiskan sisa hidupnya di tempat ini. Mereka tidak boleh bepergian keluar

__ADS_1


tanpa izin.


Kebanyakan orang pasti memilih opsi pertama, yaitu kembali


ke keluarga mereka masing-masing dan menjalani kehidupan normal. Tapi jangan


salah sangka. Tidak kalah banyak juga para siswa yang memilih opsi kedua.


Mereka rela menghabiskan seluruh sisa hidupnya di tempat ini. Dari total


keseluruh siswa yang lulus setiap tahunnya, setidaknya ada sua puluh persen


siswa yang ingin mengabdi pada sekolah ini.


Ada banyak faktor yang mungkin bisa menjadi penyebabnya


kenapa hal tersebut terjadi. Tapi kebanyakan adalah karena masalah pada


keluarga mereka. Ada yang dibuang dari rumah dan snegaja diletakkan di depan


pintu gerbang sekolah, sehingga tidak ada tempat bagi mereka untuk pulang


setelah selesai belajar. Seperti Eun Ji Hae contohnya. Ia dibesarkan di tempat


ini dan akan mati di sini juga.


***


Eun Ji Hae berhasil melancarkan aksinya dengan mulus. Semua


berjalan sesuai dengan harapannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi


untuk saat ini. Begitu sampai di dalam kamar, gadis itu segera membaringkan


tubuh Choi Ara di atas ranjang miliknya. Kemudian tak lupa untuk menutup pintu


kamarnya, agar tidak ada seorangpun yang bisa masuk tanpa seizinnya dan berbuat


lancang kepadaku. Ia tak peduli meski itu adalah keluarganya sendiri.


Eun Ji Hae berdiri di ujung tempat tidur, sambil


memperhatikan gadis itu dengan seksama. Ia tidak tahu harus melakukan apa


kepadanya. Rasanya, kemampuannya selama ini mendadak tidak berguna saat


menghadapi situasi pelik seperti ini. Eun Ji Hae tidak tahu harus berbuat


apa-apa. Bahkan untuk membuatnya sadar saja tidak bisa.


Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada, sementara


otaknya tengah bekerja kerass untuk mencari jalan keluar dari permalasahan yang


satu ini. Sesekali ia juga memijat bagian pelipisnya.


“Ayo, beritahu aku harus apa!” ucapnya pada dirinya sendiri.


Ia berharap agar sebuah jawaban muncul secara tiba-tiba.


Padahal ia sendiri saja tidak tahu apa jawabannya. Hanya ada ia sendiri di


sini, bersama Choi Ara yang sedang tidak sadarkan diri itu. Tidak ada yang bisa


membantunya saat ini. Jadi, ia akan benar-benar mengandalkan dirinya sendiri.


Eun Ji Hae bergerak dari satu titik, ke titik lain. Sudah


beberapa kali ia terlihat mondar- mandir seperti ini. Masih dengan pikiran yang


tidak bermanfaat seperti itu. Keadaan Choi Ara semakin melemah, tapi ia malah


membuang-buang waktunya dengan percuma. Sampai pada akhirnya, langkah Eun Ji


Hae berhenti. Kedua tangannya ia turunkan. Sekarang ia tahu harus apa. Entah


kenapa tidak dari tadi hal ini terlintas di pikirannya.


Tanpa pikir panjang lagi, Eun Ji Hae segera pergi ke arah


nakasnya untuk mencari sesuatu yang tersimpan di sana. Sudah bertahun-tahun


lamanya ia tidak menempati kamar ini lagi. Jadi wajar saja jika Eun Ji Hae


merasa tidak terlalu yakin dengan letak barang-barangnya sendiri. Tapi


seingatnya, terakhir kali ia menaruh benda itu di laci nakas ini. Eun Ji Hae


yakin jika barang tersebut akan tetap di kamar ini, kalaupun bukan berada di


nakas. Selama tidak ada orang yang berani masuk ke sini, seharusnya tidak ada


yang hilang.


“Ini dia!” serunya kegirangan.


Eun Ji Hae berhasil mendapatkan apa yang ia mau. Ternyata


ingatannya masih cukup kuat. Ini adalah buku mantra miliknya yang sudah ia


simpan sejak pertama kali bersekolah. Ada banyak catatan yang ia tulis di sini.


Tak ingin membuang lebih banyak waktu lagi, Eun Ji Hae segera membuka buku


tersebut untuk menuju ke halaman tertentu.


“Kalau enggaks alah, seharusnya ada di halaman dua ratus


lima puluhan gitu,” gumamnya.


Eun Ji Hae sedang terlihat serius. Matanya dengan tajam


membaca cepat setiap tulisan yang tertera di sana. Memastikan jika sesuatu yang


ia cari tidak terlewatakan begitu saja. Tangannya bergerak dengan lihai untuk


membalik setiap lembar halaman buku, sementara matanya melirik jeli. Kedua


organ tersebut berhasil menciptakan koordinasi yang sempurna satu sama lain.


“Ketemu!” serunya.


Tanpa pikir panjang lagi, Eun Ji Hae langsung bersiap saat


itu juga untuk membacakan mantranya. Berhadap jika ini akan berhasil. Sudah


lama ia tidak melakukan sihir seperti ini dengan mengucapkan mantra. Jadi wajar


saja jia ia gugup. Ini adalah pertama kalinya bagi Eun Ji Hae kembali melakukan


sihir setelah sekian lama tidak pernah melakukan hal tersebut sama sekali.


“Omnes naturae vires


absorbendo, virginem hanc strenue imple.”

__ADS_1


Eun Ji Hae mengucapkan mantra tersebut sembari menutup kedua


kelopak matanya erat-erat. Ia tidak tahu apakah percobaan kali ini akan


berhasil atau tidak. Tapi sepertinya semua itu tidak seperti apa yang ia


harapkan. Tidak ada reaksi yang terjadi di sini.


“Kok enggak bisa sih?!”bingungnya.


Eun Ji Hae mengecek kembali tulisan yang tertera pada buku


tua itu. Memastikan jika ucapannya tadi tidak salah sama sekali. Seharusnya


sihir itu akan bekerja.


“Salah dimana?” gumamnya.


Eun Ji Hae menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.


Ia mulai merasa frustrasi, karena melakukan sihir untuk pertama kalinya ternyata


tidak semudah itu. Berbeda dengan mereka yang memang sudah memiliki bakat


istimewa sejak awal. Ini bukan masalah sama sekali bagi orang-orang seperti


itu. Sedangkan Eun Ji Hae hanya seorang manusia biasa yang terpaksa mempelajari


ilmu sihir, karena ia telah dibesarkan oleh keluarga ahli sihir.


Mendalami ilmu sihir bukanlah sesuatu yang mudah baginya.


Terlebih di awal ia sama sekali tidak mengetahui pengetahuan apapun soal sihir.


Dia masih terlalu awam saat itu. Bahkan saat ini juga. Setelah lama membatu,


ilmu yang ia kuasai selama ini mendadak lenyap begitu saja.


Tidak berhenti di sana. Eun Ji Hae berinisiatif untuk


melakukan percobaan kedua. Entah sampai berapa kali ia harus mengulanginya.


Yang jelas, sampai sihirnya bekerja dengan baik. Pasalnya, tidak ada mantra


lain yang bisa membantu. Hanya itu yang dapat ia gunakan sejauh ini.


Dengan harap-harap cemas, ia segera melafalkan mantra


tersebut untuk yang kedua kalinya. Jika percobaan kali ini gagal juga, maka ia


akan tetap terus mencobanya sampai berhasil. Tidak ada akta menyerah apalagi


putus asa di dalam kamusnya. Eun Ji Hae terkenal sebagai orang yang ambisius


dan kompetitif di sekolah ini. Tidak mudah untuk menyainginya.


Eun Ji Hae menarik napasnya dalam-dalam, berussaha untuk


menenangkan dirinya sendiri. Karena jika ia dalam keadaaan panik, sihir itu


tetap tidak akan bekerja bagaimanapun caranya. Sebelum mengendalikan orang


lain, pertama-tama ia harus bisa mengendalikan dirinya sendiri terlebih dahulu.


Meskipun terdengar sepele, namun hal yang satu itu sangat penting.


“Omnes naturae vires


absorbendo, virginem hanc strenue imple.”


Kali ini matra itu juga masih tidak bekerja. Tidak ada


reaksi sama sekali.


“Omnes naturae vires


absorbendo, virginem hanc strenue imple.”


Eun Ji Hae kembali melakukannya untuk yang ketiga kalinya.


Dirinya mulai merasa lelah, tapi ia tidak boleh menyerah begitu saja. Jika


tidak nyawa Choi Ara yang akan menjadi taruhannya. Cukup Ify saja yang


dimakamkan pda musim dingin kali ini. Jangan sampai Choi Ara juga. Sudah


terlalu banyak orang yang gugur setiap musim. Membuat seluruh sekolah merasa


ketakutan tiap kali musin dingin datang. Karena selama ini musim dingin selalu


identik dengan kematian di mata mereka. Penyihir tidak bisa hidup abadi. Mereka


juga akan mati, sama seperti manusia lainnya.


Eun Ji Hae terperanjat kaget begitu melihat sihirnya


bereaksi. Bahkan ia sempat mundur beberapa langkah karena sangking kagetnya. Eun


Ji Hae masih belum bisa mempercayai apa yang sedang terjadi di depan matanya.


Perasaannya saat ini sedang campur aduk. Tapi lebih di dominasi oleh rasa


antusiasme. Akhirnya ia berhasil melakukan hal ini lagi setelah sekian lama


tidak pernah mengasah kemampuannya.


Gadis itu terpelongo melihat kekuatan gaib tersebut bekerja.


Tidak ada yang perlu ditakutkan di sini. Semua akan berjalan sesuai dengan


rencana pada awalnya. Eun Ji Hae hanya perlu mempercayakan kekuatan kepada


mantra tersebut. Kemudian sihirnya akan bekerja dengan caranya sendiri dan


menyembuhkan Choi Ara. Sebentar lagi gadis itu akan segera sadar. Kepanikan Eun


Ji Hae selama ini juga akan sirna di saat yang bersamaan dengan terbukanya


kelopak mata gadis itu.


Butuh waktu yang tidak sebentar bagi sihir ini untuk


bekerja. Karena pada dasarnya, sesuatu yang menjadi objek kerja mereka juga


bukan main-main. Ada banyak energi yang akan terkuras dalam proses kali ini.


Sebanding dengan waktunya yang lama.


Meski hasilnya belum tampak secara nyata, setidaknya Eun Ji


Hae bisa bernapas dengan lega kali ini. Jauh lebih merasa lega daripada


sebelumnya. Ia sampai tidak tahu harus bereaksi bagaimana lagi sangking


senangnya. Syukurlah Choi Ara tidak kenapa-kenapa dan semuanya berjalan sesuai

__ADS_1


dengan rencana.


__ADS_2