
‘BRUK!!!’
Baru menuruni tiga anak tangga, tiba-tiba tubuh Choi Ara
rubuh. Ia mendadak kehilangan keseimbangan dan membuat dirinya terjatuh sebelum
sempat menyelesaikan barisan anak tangga tersebut. Choi Ara menggelinding
dengan cepat ke lantai dasar. Beberapa kali sempat terdengar suara debaman yang
ditimbulkan akibat badannya menghantam dinding dan juga anak tangga yang
terbuat dari kayu tersebut.
Tanpa pikir panjang, Eun Ji Hae segera berlari menyusulnya
ke bawah. Untuk memastikan apakah gadis malang itu baik-baik saja atau tidak. Eun
Ji Hae bahkan sampai merasa ngilu begitu mendengar bunyi debaman tersebut.
Seolah ia yang berada pada posisi itu.
“Hey!” sahut Eun Ji Hae.
Dia meletakkan kepala Choi Ara di atas pangkuannya.
Menepuk-nepuk pipinya pelan. Setidaknya gadis itu harus tetap sadar, meski
dalam keadaan sekarat sekalipun. Tidak boleh sampai terjadi sesuatu yang buruk
kepada Choi Ara. Atau tidak Eun Ji Hae akan disalahkan atas semua tuduhan palsu
yang mungkin bisa timbul sewaktu-waktu dan menyerangnya. Bagaimanapun juga ini
adalah kesalahannya sejak awal. Dia memerintahkan gadis itu untuk berjaga di
sekitar sini dan mengawasi segala pergerakan Nhea.
“Huh! Merepotkan saja!” gerutunya sebal.
Mau tak mau, Eun Ji Hae harus membawa gadis ini ke kamarnya
dan mengobati lukanya. Dia harus sembuh dengan segera. Hanya itu satu-satunya
cara yang bisa di lakukan agar tidak ada seorangpun yang merasa curiga.
Eun Ji Hae memapah tubuh ringkih gadis itu melewati setiap
lorong dan anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Tapi ia harus berhati-hati
saat membawa gadis ini ke sana. Pastikan ia bertindak dengan hati-hati dan
tidak gegabah. Satu kesalahan saja bisa menghancurkan seluruh rencananya.
Kamar Eun Ji Hae berada di lantai atas, satu koridor dengan
kamar para petinggi sekolah lainnya. Tempat itu hanya dikhususkan bagi para
keluarga besar yang sekaligus menjabat sebagai petinggi sekolah. Kecuali Nhea.
Gadis itu lebih memilik untuk tinggal di kamar asrama daripada kamar khusus
yang telah disediakan.
Kamar Euj Ji Hae berada tepat di depan kamar kedua orang tua
angkatnya itu. Suasana di sini akan benar-benar sepi ketika malam hari tiba.
Semua orang sedang terlelap. Itu lah sebabnya kenapa ia tidak boleh berisik sama
sekali. Jika tidak, mungkin Bibi Ga Eun akan terjaga dari tidurnya. Wanita itu
terkenal memiliki indera yang cukup sensitif. Ia akan langsung terbangun jika
mendengar suara berisik sedikit saja. Bibi Ga Eun adalah salah satu orang yang
harus ia waspadai. Sementara yang lainnya, mereka akan tetap terjaga sampai
fajar menyingsing. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Sejauh ini masih aman-aman saja. Mereka sudah berada di
gedung utama yang menjadi pusat dari sekolah ini sekaligus tempat tinggal para
petinggi. Tidak sembarang orang bisa memasuki tempat yang satu ini. Hanya
mereka dengan hak istimewa yang bisa menapakkan kakinya di lantai bangunan ini.
Tidak ada yang perlu ditakuti di sini. Tidak ada satupun
penjaga yang ditempatkan di sekitar bagunan, meski tempati ini terbilang
lumayan penting. Semua orang bisa menjaga dirinya dengan baik. Itu sebabnya
kenapa tidak ada penjaga yang ditugaskan untuk berjaga di sekitar tempat ini.
Alasan kedua yang juga tidka kalah masuk akal adalah,
sekolah ini sama sekali tidak memiliki pasukan penjaga lain. Hanya ada Griffin
yang umumnya ditugaskan di sekitar pintu masuk. Lagi pula ini adalah
sekolah. Bukan kerajaan. Sehingga tidak
dibutuhkan pengawalan seketat itu. Semuanya akan baik-baik saja, mengingat jika
seluruh orang yang berada di sini memiliki kemampuan sihir di atas rata-rata.
Hal tersebut cukup untuk melindungi diri mereka sendiri. Untuk berjaga-jaga
jika sewaktu-waktu ada serangan mendadak yang tidak diharapkan dan mengancam
kelangsungan hidup mereka.
Mereka dalah kumpulan orang-orang terlatih yang ditempatkan
secara khusus. Menghimpun penyihir dalam skala banyak seperti ini adalah salah
satu cara untuk mengumpulkan kekuatan. Mereka akan di didik secara khusus dalam
ilmu sihir selama berada di sini. Mungkin orang-orang akan bertanya, kemana
mereka akan pergi setelah menyelesaikan studinya di tempat ini. Pilihannya
hanya ada dua dan mereka berhak untuk memilih salah satunya. Yang pertama
adalah kembali ke keluarganya masing-masing dan menjalani kehidupan normal seperti
manusia pada umumnya. Sedangkan untuk peilihan keduanya, mereka dipersilahkan
untuk menjadi bagian abadi dari sekolah ini. Yaitu dengan cara mengabdi untuk
sekolah. Mereka yang memilih opsi kedua akan disumpah secara bersamaan dan
menghabiskan sisa hidupnya di tempat ini. Mereka tidak boleh bepergian keluar
__ADS_1
tanpa izin.
Kebanyakan orang pasti memilih opsi pertama, yaitu kembali
ke keluarga mereka masing-masing dan menjalani kehidupan normal. Tapi jangan
salah sangka. Tidak kalah banyak juga para siswa yang memilih opsi kedua.
Mereka rela menghabiskan seluruh sisa hidupnya di tempat ini. Dari total
keseluruh siswa yang lulus setiap tahunnya, setidaknya ada sua puluh persen
siswa yang ingin mengabdi pada sekolah ini.
Ada banyak faktor yang mungkin bisa menjadi penyebabnya
kenapa hal tersebut terjadi. Tapi kebanyakan adalah karena masalah pada
keluarga mereka. Ada yang dibuang dari rumah dan snegaja diletakkan di depan
pintu gerbang sekolah, sehingga tidak ada tempat bagi mereka untuk pulang
setelah selesai belajar. Seperti Eun Ji Hae contohnya. Ia dibesarkan di tempat
ini dan akan mati di sini juga.
***
Eun Ji Hae berhasil melancarkan aksinya dengan mulus. Semua
berjalan sesuai dengan harapannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi
untuk saat ini. Begitu sampai di dalam kamar, gadis itu segera membaringkan
tubuh Choi Ara di atas ranjang miliknya. Kemudian tak lupa untuk menutup pintu
kamarnya, agar tidak ada seorangpun yang bisa masuk tanpa seizinnya dan berbuat
lancang kepadaku. Ia tak peduli meski itu adalah keluarganya sendiri.
Eun Ji Hae berdiri di ujung tempat tidur, sambil
memperhatikan gadis itu dengan seksama. Ia tidak tahu harus melakukan apa
kepadanya. Rasanya, kemampuannya selama ini mendadak tidak berguna saat
menghadapi situasi pelik seperti ini. Eun Ji Hae tidak tahu harus berbuat
apa-apa. Bahkan untuk membuatnya sadar saja tidak bisa.
Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada, sementara
otaknya tengah bekerja kerass untuk mencari jalan keluar dari permalasahan yang
satu ini. Sesekali ia juga memijat bagian pelipisnya.
“Ayo, beritahu aku harus apa!” ucapnya pada dirinya sendiri.
Ia berharap agar sebuah jawaban muncul secara tiba-tiba.
Padahal ia sendiri saja tidak tahu apa jawabannya. Hanya ada ia sendiri di
sini, bersama Choi Ara yang sedang tidak sadarkan diri itu. Tidak ada yang bisa
membantunya saat ini. Jadi, ia akan benar-benar mengandalkan dirinya sendiri.
Eun Ji Hae bergerak dari satu titik, ke titik lain. Sudah
beberapa kali ia terlihat mondar- mandir seperti ini. Masih dengan pikiran yang
tidak bermanfaat seperti itu. Keadaan Choi Ara semakin melemah, tapi ia malah
membuang-buang waktunya dengan percuma. Sampai pada akhirnya, langkah Eun Ji
Hae berhenti. Kedua tangannya ia turunkan. Sekarang ia tahu harus apa. Entah
kenapa tidak dari tadi hal ini terlintas di pikirannya.
Tanpa pikir panjang lagi, Eun Ji Hae segera pergi ke arah
nakasnya untuk mencari sesuatu yang tersimpan di sana. Sudah bertahun-tahun
lamanya ia tidak menempati kamar ini lagi. Jadi wajar saja jika Eun Ji Hae
merasa tidak terlalu yakin dengan letak barang-barangnya sendiri. Tapi
seingatnya, terakhir kali ia menaruh benda itu di laci nakas ini. Eun Ji Hae
yakin jika barang tersebut akan tetap di kamar ini, kalaupun bukan berada di
nakas. Selama tidak ada orang yang berani masuk ke sini, seharusnya tidak ada
yang hilang.
“Ini dia!” serunya kegirangan.
Eun Ji Hae berhasil mendapatkan apa yang ia mau. Ternyata
ingatannya masih cukup kuat. Ini adalah buku mantra miliknya yang sudah ia
simpan sejak pertama kali bersekolah. Ada banyak catatan yang ia tulis di sini.
Tak ingin membuang lebih banyak waktu lagi, Eun Ji Hae segera membuka buku
tersebut untuk menuju ke halaman tertentu.
“Kalau enggaks alah, seharusnya ada di halaman dua ratus
lima puluhan gitu,” gumamnya.
Eun Ji Hae sedang terlihat serius. Matanya dengan tajam
membaca cepat setiap tulisan yang tertera di sana. Memastikan jika sesuatu yang
ia cari tidak terlewatakan begitu saja. Tangannya bergerak dengan lihai untuk
membalik setiap lembar halaman buku, sementara matanya melirik jeli. Kedua
organ tersebut berhasil menciptakan koordinasi yang sempurna satu sama lain.
“Ketemu!” serunya.
Tanpa pikir panjang lagi, Eun Ji Hae langsung bersiap saat
itu juga untuk membacakan mantranya. Berhadap jika ini akan berhasil. Sudah
lama ia tidak melakukan sihir seperti ini dengan mengucapkan mantra. Jadi wajar
saja jia ia gugup. Ini adalah pertama kalinya bagi Eun Ji Hae kembali melakukan
sihir setelah sekian lama tidak pernah melakukan hal tersebut sama sekali.
“Omnes naturae vires
absorbendo, virginem hanc strenue imple.”
__ADS_1
Eun Ji Hae mengucapkan mantra tersebut sembari menutup kedua
kelopak matanya erat-erat. Ia tidak tahu apakah percobaan kali ini akan
berhasil atau tidak. Tapi sepertinya semua itu tidak seperti apa yang ia
harapkan. Tidak ada reaksi yang terjadi di sini.
“Kok enggak bisa sih?!”bingungnya.
Eun Ji Hae mengecek kembali tulisan yang tertera pada buku
tua itu. Memastikan jika ucapannya tadi tidak salah sama sekali. Seharusnya
sihir itu akan bekerja.
“Salah dimana?” gumamnya.
Eun Ji Hae menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
Ia mulai merasa frustrasi, karena melakukan sihir untuk pertama kalinya ternyata
tidak semudah itu. Berbeda dengan mereka yang memang sudah memiliki bakat
istimewa sejak awal. Ini bukan masalah sama sekali bagi orang-orang seperti
itu. Sedangkan Eun Ji Hae hanya seorang manusia biasa yang terpaksa mempelajari
ilmu sihir, karena ia telah dibesarkan oleh keluarga ahli sihir.
Mendalami ilmu sihir bukanlah sesuatu yang mudah baginya.
Terlebih di awal ia sama sekali tidak mengetahui pengetahuan apapun soal sihir.
Dia masih terlalu awam saat itu. Bahkan saat ini juga. Setelah lama membatu,
ilmu yang ia kuasai selama ini mendadak lenyap begitu saja.
Tidak berhenti di sana. Eun Ji Hae berinisiatif untuk
melakukan percobaan kedua. Entah sampai berapa kali ia harus mengulanginya.
Yang jelas, sampai sihirnya bekerja dengan baik. Pasalnya, tidak ada mantra
lain yang bisa membantu. Hanya itu yang dapat ia gunakan sejauh ini.
Dengan harap-harap cemas, ia segera melafalkan mantra
tersebut untuk yang kedua kalinya. Jika percobaan kali ini gagal juga, maka ia
akan tetap terus mencobanya sampai berhasil. Tidak ada akta menyerah apalagi
putus asa di dalam kamusnya. Eun Ji Hae terkenal sebagai orang yang ambisius
dan kompetitif di sekolah ini. Tidak mudah untuk menyainginya.
Eun Ji Hae menarik napasnya dalam-dalam, berussaha untuk
menenangkan dirinya sendiri. Karena jika ia dalam keadaaan panik, sihir itu
tetap tidak akan bekerja bagaimanapun caranya. Sebelum mengendalikan orang
lain, pertama-tama ia harus bisa mengendalikan dirinya sendiri terlebih dahulu.
Meskipun terdengar sepele, namun hal yang satu itu sangat penting.
“Omnes naturae vires
absorbendo, virginem hanc strenue imple.”
Kali ini matra itu juga masih tidak bekerja. Tidak ada
reaksi sama sekali.
“Omnes naturae vires
absorbendo, virginem hanc strenue imple.”
Eun Ji Hae kembali melakukannya untuk yang ketiga kalinya.
Dirinya mulai merasa lelah, tapi ia tidak boleh menyerah begitu saja. Jika
tidak nyawa Choi Ara yang akan menjadi taruhannya. Cukup Ify saja yang
dimakamkan pda musim dingin kali ini. Jangan sampai Choi Ara juga. Sudah
terlalu banyak orang yang gugur setiap musim. Membuat seluruh sekolah merasa
ketakutan tiap kali musin dingin datang. Karena selama ini musim dingin selalu
identik dengan kematian di mata mereka. Penyihir tidak bisa hidup abadi. Mereka
juga akan mati, sama seperti manusia lainnya.
Eun Ji Hae terperanjat kaget begitu melihat sihirnya
bereaksi. Bahkan ia sempat mundur beberapa langkah karena sangking kagetnya. Eun
Ji Hae masih belum bisa mempercayai apa yang sedang terjadi di depan matanya.
Perasaannya saat ini sedang campur aduk. Tapi lebih di dominasi oleh rasa
antusiasme. Akhirnya ia berhasil melakukan hal ini lagi setelah sekian lama
tidak pernah mengasah kemampuannya.
Gadis itu terpelongo melihat kekuatan gaib tersebut bekerja.
Tidak ada yang perlu ditakutkan di sini. Semua akan berjalan sesuai dengan
rencana pada awalnya. Eun Ji Hae hanya perlu mempercayakan kekuatan kepada
mantra tersebut. Kemudian sihirnya akan bekerja dengan caranya sendiri dan
menyembuhkan Choi Ara. Sebentar lagi gadis itu akan segera sadar. Kepanikan Eun
Ji Hae selama ini juga akan sirna di saat yang bersamaan dengan terbukanya
kelopak mata gadis itu.
Butuh waktu yang tidak sebentar bagi sihir ini untuk
bekerja. Karena pada dasarnya, sesuatu yang menjadi objek kerja mereka juga
bukan main-main. Ada banyak energi yang akan terkuras dalam proses kali ini.
Sebanding dengan waktunya yang lama.
Meski hasilnya belum tampak secara nyata, setidaknya Eun Ji
Hae bisa bernapas dengan lega kali ini. Jauh lebih merasa lega daripada
sebelumnya. Ia sampai tidak tahu harus bereaksi bagaimana lagi sangking
senangnya. Syukurlah Choi Ara tidak kenapa-kenapa dan semuanya berjalan sesuai
__ADS_1
dengan rencana.