
Beberapa saat awal, Nhea sama sekali tidak tahu harus
berbuat apa. Untuk pertama kalinya ia merasa linglung seperti ini. Otaknya
tidak bisa diajak bekerja sama sedikit pun. Sungguh menyebalkan. Padahal dia
perlu sebuah jalan keluar di sini. Paling tidak ia harus melakukan sesuatu.
“Benar-benar payah!” cecarnya.
Bisa-bisanya Nhea merutuki dirinya sendiri. Sebab, ia tidak
pernah tahu bagaimana carnaya bisa sampai ke tempat ini. Bahkan tidak ada
secuil pun memori di dalam kepalanya yang tertinggal. Tidak ada yang bisa ia
andalkan di sini. Untuk yang kesekian kalinya Nhea merasa kecewa terhadap
dirinya sendiri. Sebab, ia tidak pernah bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Sampai saat ini Nhea masih duduk termenung di atas bukit. Sementara
fajar sudah menyingsing dari ujung timur. Langit perlahan berubah warna menjadi
jingga terang.
Meski saat ini ia terlihat tenang, dirinya tidak pernah
benar-benar merasakan hal yang serupa. Diam-diam di dalam kepalanya terasa
begitu berisik. Tidak ada ketenangan yang ia rasakan sama sekali. Gadis itu
terlalu lelah untuk memikirkan semuanya sendiri.
__ADS_1
Nhea sama sekali tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Kepala dengan hatinya memiliki usulan yang berbeda. Meski mereka berada di
dalam satu tubuh yang sama, tapi sepertinya keduanya berada di tim yang berbeda.
Tidak ada yang berjalan dengan sinkron sama sekali. Nhea
mulai merasa pusing. Tidak ada yang bisa ia mengerti di sini. Entah kenapa
rasanya masih terlalu rumit.
Nhea berakhir dengan mengacak-acak rambutnya yang sejak awal
memang sudah terlihat berantakan. Kini, ia persis seperti orang yang baru
bangun tidur. Padahal, sudah beberapa menit yang lalu ia bangun.
Kali ini Nhea sudah berubah pasrah. Ia tak berharap lebih. Apa
pun yang terjadi ke depannya nanti, Nhea sama sekali tidak peduli. Bukankah dia
terlalu muda untuk menghadapi semua ini? Semesta sering kli berlaku tak adil
kepadanya. Padahal bukan ia satu-satunya orang yang bersalah
Bukannya gadis itu ingin berburuk sangka kepada semesta. Namun,
ketidakberuntungannya selama ini sama sekali tidak bisa membuatnya tenang.
Secara tidak langsung ia dibuat curiga dengan takdirnya sendiri.
Nhea menghela napas dengan kasar. Merasa tidak mendapatkan
__ADS_1
hasil apa pun, Nhea langsung buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Ia berdiri
di tempat. Matanya memandang jauh ke batas cakrawala. Entah apa yang bisa ia
temui di sana. Matahari yang baru muncul dari balik pegunungan tentunya.
Sampai sekarang Nhea masih belum menemukan jawabannya. Kira-kira
dimana saat ini ia berada. Sepertinya tidak di sekitar daerah akademi sihir
Mooneta. Sebab, dari atas sini Nhea sama sekali tidak bisa meliht bangunan
dalam bentuk apa pun. Sungguh tidak ada. Hanya ada hamparan hijau sampai sejauh
mata memandang.
“Akankah aku bisa kembali?”
“Atau mungkin akan terjebak di sini untuk selamanya?”
Sungguh tidak masuk akal jika Nhea akan mampu bertahan hidup
sampai beberapa hari ke depan di tempat seperti ini. Apalagi tanpa persiapan
sama sekali. Nhea sungguh masih tidak habis pikir. Bisa-bisanya ia kembali
menjadi korban atas kejahilan orang lain. Kali ini bisa dipastikan jika
perbuatan tersebut sama sekali tidak jahil. Ia memang sengaja ingin mencelakai
Nhea secara tidak langsung. Semua taktiknya sudah terbaca. Sebab, ini bukan
pertama kalinya Nhea mengalami hal serupa.
__ADS_1