Mooneta High School

Mooneta High School
Renungan


__ADS_3

Beberapa saat awal, Nhea sama sekali tidak tahu harus


berbuat apa. Untuk pertama kalinya ia merasa linglung seperti ini. Otaknya


tidak bisa diajak bekerja sama sedikit pun. Sungguh menyebalkan. Padahal dia


perlu sebuah jalan keluar di sini. Paling tidak ia harus melakukan sesuatu.


“Benar-benar payah!” cecarnya.


Bisa-bisanya Nhea merutuki dirinya sendiri. Sebab, ia tidak


pernah tahu bagaimana carnaya bisa sampai ke tempat ini. Bahkan tidak ada


secuil pun memori di dalam kepalanya yang tertinggal. Tidak ada yang bisa ia


andalkan di sini. Untuk yang kesekian kalinya Nhea merasa kecewa terhadap


dirinya sendiri. Sebab, ia tidak pernah bisa mengandalkan dirinya sendiri.


Sampai saat ini Nhea masih duduk termenung di atas bukit. Sementara


fajar sudah menyingsing dari ujung timur. Langit perlahan berubah warna menjadi


jingga terang.


Meski saat ini ia terlihat tenang, dirinya tidak pernah


benar-benar merasakan hal yang serupa. Diam-diam di dalam kepalanya terasa


begitu berisik. Tidak ada ketenangan yang ia rasakan sama sekali. Gadis itu


terlalu lelah untuk memikirkan semuanya sendiri.

__ADS_1


Nhea sama sekali tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri.


Kepala dengan hatinya memiliki usulan yang berbeda. Meski mereka berada di


dalam satu tubuh yang sama, tapi sepertinya keduanya berada di tim yang berbeda.


Tidak ada yang berjalan dengan sinkron sama sekali. Nhea


mulai merasa pusing. Tidak ada yang bisa ia mengerti di sini. Entah kenapa


rasanya masih terlalu rumit.


Nhea berakhir dengan mengacak-acak rambutnya yang sejak awal


memang sudah terlihat berantakan. Kini, ia persis seperti orang yang baru


bangun tidur. Padahal, sudah beberapa menit yang lalu ia bangun.


Kali ini Nhea sudah berubah pasrah. Ia tak berharap lebih. Apa


pun yang terjadi ke depannya nanti, Nhea sama sekali tidak peduli. Bukankah dia


terlalu muda untuk menghadapi semua ini? Semesta sering kli berlaku tak adil


kepadanya. Padahal bukan ia satu-satunya orang yang bersalah


Bukannya gadis itu ingin berburuk sangka kepada semesta. Namun,


ketidakberuntungannya selama ini sama sekali tidak bisa membuatnya tenang.


Secara tidak langsung ia dibuat curiga dengan takdirnya sendiri.


Nhea menghela napas dengan kasar. Merasa tidak mendapatkan

__ADS_1


hasil apa pun, Nhea langsung buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Ia berdiri


di tempat. Matanya memandang jauh ke batas cakrawala. Entah apa yang bisa ia


temui di sana. Matahari yang baru muncul dari balik pegunungan tentunya.


Sampai sekarang Nhea masih belum menemukan jawabannya. Kira-kira


dimana saat ini ia berada. Sepertinya tidak di sekitar daerah akademi sihir


Mooneta. Sebab, dari atas sini Nhea sama sekali tidak bisa meliht bangunan


dalam bentuk apa pun. Sungguh tidak ada. Hanya ada hamparan hijau sampai sejauh


mata memandang.


“Akankah aku bisa kembali?”


“Atau mungkin akan terjebak di sini untuk selamanya?”


Sungguh tidak masuk akal jika Nhea akan mampu bertahan hidup


sampai beberapa hari ke depan di tempat seperti ini. Apalagi tanpa persiapan


sama sekali. Nhea sungguh masih tidak habis pikir. Bisa-bisanya ia kembali


menjadi korban atas kejahilan orang lain. Kali ini bisa dipastikan jika


perbuatan tersebut sama sekali tidak jahil. Ia memang sengaja ingin mencelakai


Nhea secara tidak langsung. Semua taktiknya sudah terbaca. Sebab, ini bukan


pertama kalinya Nhea mengalami hal serupa.

__ADS_1


__ADS_2