
Buku Sofia Von Riera mungkin bisa dikategorikan sebagai buku
perjalanan hidup. Ada berbagai genre di dalamnya. Sehingga sulit untuk
disimpulkan, sebenarnya jenis buku apa ini. Penulisnya menuangkan berbagai macam
rasa di dalamnya.
Gadis bernama Sofia Von Riera itu ternyata adalah orang yang
sama dengan yang ia temui tadi malam di atap. Tunggu, sepertinya ada yang perlu
dikoreksi di sini. Sofia bukan orang, melainkan jiwa yang sudah mati. Sebenarnya
akan lebih tepat jika kita menyebutnya dengan hantu Sofia. Tapi, bukankah hal
itu terlalu kasar? Dia pasti tidak akan suka jika dipanggil dengan sebutan yang
satu itu.
Pada faktanya, Sofia diurus oleh akademi sihir Mooneta sejak
hari pertamanya diterlantarkan. Mereka memperlakukannya sama seperti puluhan
anak lainnya yang juga mengalami nasib serupa. Setidaknya, ia tidak perlu
bersedih sendirian di sini. Karena bukan hanya dirinya saja yang bernasib
malang.
Sofia bahkan disebutkan juga pernah menjadi ketua asrama
putri. Gadis itu memiliki peran yang cukup penting di sini. Untuk sekarang,
mari umpamakan posisinya seperti Eun Ji Hae. Pada waktu itu, ia juga menjadi
orang kepercayaan Vallery. Jauh sebelum Nhea lahir. Ia bahkan belum menikah
dengan Wilson pada waktu itu.
Karena telah dibesarkan di akademi sihir Mooneta, mau tidak
mau ia juga harus bersekolah di sana. Anggap saja sebagai bentuk balas budi.
Walaupun sebenarnya tidak ada yang memaksa. Pada saat itu, Sofia bisa saja
pergi ke kota untuk bersekolah di sekolah formal. Bukan akademi sihir. Vallery
bahkan bisa membawanya ke dimensi yang dulu sempat ditinggal oleh Nhea dan
keluarganya.
Namun karena ia sudah menghabiskan sebagian besar waktunya
di sini, Sofia enggan beranjak keluar. Hubungannya dengan Vallery pada saat itu
sudah lumayan dekat. Wanita itu bahkan sudah mengangganya seperti anak sendiri.
Nyaris tidak ada batasan di antara mereka. Keduanya sungguh seperti ibu dan
anak.
Sofia sendiri bahkan sampai tinggal satu kamar dengan
Vallery. Tentu dengan alasan tertentu. Semua itu atas permintaan Vallery
sendiri. Meeski sudah dekat, Sofia tentu sadar jika mereka masih memiliki
batasan-batasan tertentu. Tidak bisa sembarangan. Yang paling penting adalah,
ia harus tetap menghormati Vallery.
Gadis itu berhutang banyak kepada Vallery. Ada begitu banyak
__ADS_1
hal baik yang dilakukannya, sehingga Sofia tidak bisa menyebutkannya secara
satu-persatu. Sangking banyaknya, ia sampai tidak tahu harus mulai membalasnya
dari mana.
Sampai pada hari pernikahan Vallery dengan Wilson, ia tetap
menjadi orang kepercayaan wanita itu. Bahkan, Sofia masuk kepada salah satu
anggota pengiring pengantin menuju altar. Ia berdiri tepat di samping Vallery.
Tidak hanya sampai di situ saja. Sofia juga memasangkan mahkota kepada wanita
itu.
Hubungan mereka masih tetap membaik hingga beberapa bulan
setelahnya. Tepat setelah pernikahan tersebut, Sofia kembali ke asramanya dan
menjadi penghuni tetap asrama. Bibi Ga Eun memberikannya kepercayaan untuk
menjaga ruang penyimpanan di gedung utama.
Menyadari jika dirinya tidak bisa berada di sana selama dua
puluh empat jam penuh, gadis itu menugaskan dua ekor griffin untuk berjaga di pintu
masuk selama dirinya pergi. Sofia sering mengunjungi tempat tersebut ketika
pagi dan malam hari. Tepat sebelum acara jamuan makan dan sesudah kelas
selesai. Tidak banyak yang ia lakukan di dalam sana. Sofia hanya perlu
memastikan jika setiap barang berada di tempatnya masing-masing. Ringkasnya,
tidak ada yang hilang. Sebab, semua hal yang terjadi di dalam sana sudah
“Jadi, ternyata selama ini kau yang terus mengusik jiwaku?” gumam
Nhea sambil melemparkan pandangannya ke luar jendela.
Ada beberapa hal yang mengindikasikan eksistensi Sofia Von
Riera di tempat ini. Dan Nhea berhasil mengetahui semua itu dari bukunya. Pantas
saja buku ini disembunyikan. Ternyata ada begitu banyak sejarah gelap di
dalamnya. Termasuk perilaku kasar akademi sihir Mooneta terhadap gadis tak
bersalah itu.
Seorang siswa yang iri telah menuduhnya mencuri mahkota. Padahal
tidak sama sekali. Akibatnya, ia diasingkan di ruang penyimpanan hingga akhir
hanyatnya. Sekarang, arwah gadis itu diduga masih berkeliaran di sekitar sini
untuk menjaga ruang penyimpanan.
Sampai sekarang, ruang penyimpanan sama sekali tidak dijaga
dengan alasan tersebut. Sudah ada penjaga yang menetap di sana untuk selamanya.
Mereka tidak perlu merasa takut kehilangan lagi. Selama ini terbukti aman meski tanpa
penjagaan yang ketat.
Hal tersebut sekaligus menjadi penghormatan terakhir bagi
arwah Sofia. Keluarga inti akademi sihir Mooneta mengaku menyesal. Mereka merasa
bersalah karena tidak memastikan kembali faktanya. Mereka bisa saja diebut
__ADS_1
sebagai pembunuh. Karena, secara tidak langsung telah menghilangkah satu nyawa.
Sungguh miris.
Namun anehnya, meski sudah mengetahui fakta yang sebenarnya,
Nhea sama sekali tidak merasa takut. Gadis itu hanya berdigik ngeri sebentar
saja ketika membaca. Kemudian kembali bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi
apa-apa. Padahal tidak menutup kemungkinan sama sekali jika saat ini arwah
Sofia sedang memantaunya. Namun, Nhea sama sekali tidak memikirkan hal
tersebut.
Alih-alih memusingkan arwah Sofia, gadis itu malah
memikirkan dirinya sendiri. Sejak tadi siang ia belum ada makan apa pun.
Sekarang sudah lewat dari tengah malam. Jadi, wajar saja jika ia merasa lapar.
Nhea berencana untuk menyelinap masuk ke dalam dapur dan
mencari sesuatu yang bisa ia makan. Paling tidak roti atau buah-buahan. Seharusnya
sekarang sudah tidak ada siapa-siapa di sana. Mereka semua sudah kembali ke
kamarnya masing-masing. Bunga-bunga tidur cukup untuk membuat mereka terbuai.
Dengan kondisi yang serba menguntungkan tersebut, seharusnya
tidak sulit bagi Nhea untuk menjalankan aksinya. Mengingat jika dirinya cukup
ahli jika soal mengendap-endap. Jadi, tidak ada yang perlu dicemaskan lagi
sekarang.
“Apa mereka masih memiliki sisa makanan yang bisa kuambil di
sini?” gumam Nhea sambil berkeliling dapur.
Pandangannya menyisir setiap sisi ruangan. Dengan jeli ia
memperhatikan segalanya. Bagaimana bisa pandangannya menjadi dua kali lebih
tajam pada malam hari daripada siang. Benar-benar seperti kucing saja.
Sesuai dugaannya, tidak ada siapa-siapa di sini. Sejauh ini ia masih bisa mengendalikan
situasinya. Entah dengan beberapa menit ke depan. Mungkin situasinya akan
berubah drastis. Tidak ada yang bisa memastikannya. Nhea hanya perlu waspada
agar tetap aman.
Ia berhenti tepat di depan salah satu lemari penyimpanan. Kemudian
membukanya secara hati-hati. Engsel pintunya bisa saja berderit kencang. Sebab,
mereka jarang merawatnya. Sehingga kebanyakan engsel yang berada di tempat ini
pasti sudah terlihat berkarat.
Kebetulan sekali Nhea menemukan
beberapa potong roti di dalam sana. Ada juga buah-buahan seperti apel dan berry
kering. Mereka bahkan juga menyimpan sekaleng besar susu murni dari hasil
peternakan. Sepertinya semua ini sudah lebih dari cukup untuk persediaan selama
beberapa hari ke depan.
__ADS_1