Mooneta High School

Mooneta High School
Jiwa Mati


__ADS_3

Buku Sofia Von Riera mungkin bisa dikategorikan sebagai buku


perjalanan hidup. Ada berbagai genre di dalamnya. Sehingga sulit untuk


disimpulkan, sebenarnya jenis buku apa ini. Penulisnya menuangkan berbagai macam


rasa di dalamnya.


Gadis bernama Sofia Von Riera itu ternyata adalah orang yang


sama dengan yang ia temui tadi malam di atap. Tunggu, sepertinya ada yang perlu


dikoreksi di sini. Sofia bukan orang, melainkan jiwa yang sudah mati. Sebenarnya


akan lebih tepat jika kita menyebutnya dengan hantu Sofia. Tapi, bukankah hal


itu terlalu kasar? Dia pasti tidak akan suka jika dipanggil dengan sebutan yang


satu itu.


Pada faktanya, Sofia diurus oleh akademi sihir Mooneta sejak


hari pertamanya diterlantarkan. Mereka memperlakukannya sama seperti puluhan


anak lainnya yang juga mengalami nasib serupa. Setidaknya, ia tidak perlu


bersedih sendirian di sini. Karena bukan hanya dirinya saja yang bernasib


malang.


Sofia bahkan disebutkan juga pernah menjadi ketua asrama


putri. Gadis itu memiliki peran yang cukup penting di sini. Untuk sekarang,


mari umpamakan posisinya seperti Eun Ji Hae. Pada waktu itu, ia juga menjadi


orang kepercayaan Vallery. Jauh sebelum Nhea lahir. Ia bahkan belum menikah


dengan Wilson pada waktu itu.


Karena telah dibesarkan di akademi sihir Mooneta, mau tidak


mau ia juga harus bersekolah di sana. Anggap saja sebagai bentuk balas budi.


Walaupun sebenarnya tidak ada yang memaksa. Pada saat itu, Sofia bisa saja


pergi ke kota untuk bersekolah di sekolah formal. Bukan akademi sihir. Vallery


bahkan bisa membawanya ke dimensi yang dulu sempat ditinggal oleh Nhea dan


keluarganya.


Namun karena ia sudah menghabiskan sebagian besar waktunya


di sini, Sofia enggan beranjak keluar. Hubungannya dengan Vallery pada saat itu


sudah lumayan dekat. Wanita itu bahkan sudah mengangganya seperti anak sendiri.


Nyaris tidak ada batasan di antara mereka. Keduanya sungguh seperti ibu dan


anak.


Sofia sendiri bahkan sampai tinggal satu kamar dengan


Vallery. Tentu dengan alasan tertentu. Semua itu atas permintaan Vallery


sendiri. Meeski sudah dekat, Sofia tentu sadar jika mereka masih memiliki


batasan-batasan tertentu. Tidak bisa sembarangan. Yang paling penting adalah,


ia harus tetap menghormati Vallery.


Gadis itu berhutang banyak kepada Vallery. Ada begitu banyak

__ADS_1


hal baik yang dilakukannya, sehingga Sofia tidak bisa menyebutkannya secara


satu-persatu. Sangking banyaknya, ia sampai tidak tahu harus mulai membalasnya


dari mana.


Sampai pada hari pernikahan Vallery dengan Wilson, ia tetap


menjadi orang kepercayaan wanita itu. Bahkan, Sofia masuk kepada salah satu


anggota pengiring pengantin menuju altar. Ia berdiri tepat di samping Vallery.


Tidak hanya sampai di situ saja. Sofia juga memasangkan mahkota kepada wanita


itu.


Hubungan mereka masih tetap membaik hingga beberapa bulan


setelahnya. Tepat setelah pernikahan tersebut, Sofia kembali ke asramanya dan


menjadi penghuni tetap asrama. Bibi Ga Eun memberikannya kepercayaan untuk


menjaga ruang penyimpanan di gedung utama.


Menyadari jika dirinya tidak bisa berada di sana selama dua


puluh empat jam penuh, gadis itu menugaskan dua ekor griffin untuk berjaga di pintu


masuk selama dirinya pergi. Sofia sering mengunjungi tempat tersebut ketika


pagi dan malam hari. Tepat sebelum acara jamuan makan dan sesudah kelas


selesai. Tidak banyak yang ia lakukan di dalam sana. Sofia hanya perlu


memastikan jika setiap barang berada di tempatnya masing-masing. Ringkasnya,


tidak ada yang hilang. Sebab, semua hal yang terjadi di dalam sana sudah


“Jadi, ternyata selama ini kau yang terus mengusik jiwaku?” gumam


Nhea sambil melemparkan pandangannya ke luar jendela.


Ada beberapa hal yang mengindikasikan eksistensi Sofia Von


Riera di tempat ini. Dan Nhea berhasil mengetahui semua itu dari bukunya. Pantas


saja buku ini disembunyikan. Ternyata ada begitu banyak sejarah gelap di


dalamnya. Termasuk perilaku kasar akademi sihir Mooneta terhadap gadis tak


bersalah itu.


Seorang siswa yang iri telah menuduhnya mencuri mahkota. Padahal


tidak sama sekali. Akibatnya, ia diasingkan di ruang penyimpanan hingga akhir


hanyatnya. Sekarang, arwah gadis itu diduga masih berkeliaran di sekitar sini


untuk menjaga ruang penyimpanan.


Sampai sekarang, ruang penyimpanan sama sekali tidak dijaga


dengan alasan tersebut. Sudah ada penjaga yang menetap di sana untuk selamanya.


Mereka tidak perlu merasa takut kehilangan lagi.  Selama ini terbukti aman meski tanpa


penjagaan yang ketat.


Hal tersebut sekaligus menjadi penghormatan terakhir bagi


arwah Sofia. Keluarga inti akademi sihir Mooneta mengaku menyesal. Mereka merasa


bersalah karena tidak memastikan kembali faktanya. Mereka bisa saja diebut

__ADS_1


sebagai pembunuh. Karena, secara tidak langsung telah menghilangkah satu nyawa.


Sungguh miris.


Namun anehnya, meski sudah mengetahui fakta yang sebenarnya,


Nhea sama sekali tidak merasa takut. Gadis itu hanya berdigik ngeri sebentar


saja ketika membaca. Kemudian kembali bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi


apa-apa. Padahal tidak menutup kemungkinan sama sekali jika saat ini arwah


Sofia sedang memantaunya. Namun, Nhea sama sekali tidak memikirkan hal


tersebut.


Alih-alih memusingkan arwah Sofia, gadis itu malah


memikirkan dirinya sendiri. Sejak tadi siang ia belum ada makan apa pun.


Sekarang sudah lewat dari tengah malam. Jadi, wajar saja jika ia merasa lapar.


Nhea berencana untuk menyelinap masuk ke dalam dapur dan


mencari sesuatu yang bisa ia makan. Paling tidak roti atau buah-buahan. Seharusnya


sekarang sudah tidak ada siapa-siapa di sana. Mereka semua sudah kembali ke


kamarnya masing-masing. Bunga-bunga tidur cukup untuk membuat mereka terbuai.


Dengan kondisi yang serba menguntungkan tersebut, seharusnya


tidak sulit bagi Nhea untuk menjalankan aksinya. Mengingat jika dirinya cukup


ahli jika soal mengendap-endap. Jadi, tidak ada yang perlu dicemaskan lagi


sekarang.


“Apa mereka masih memiliki sisa makanan yang bisa kuambil di


sini?” gumam Nhea sambil berkeliling dapur.


Pandangannya menyisir setiap sisi ruangan. Dengan jeli ia


memperhatikan segalanya. Bagaimana bisa pandangannya menjadi dua kali lebih


tajam pada malam hari daripada siang. Benar-benar seperti kucing saja.


Sesuai dugaannya, tidak ada siapa-siapa di sini.  Sejauh ini ia masih bisa mengendalikan


situasinya. Entah dengan beberapa menit ke depan. Mungkin situasinya akan


berubah drastis. Tidak ada yang bisa memastikannya. Nhea hanya perlu waspada


agar tetap aman.


Ia berhenti tepat di depan salah satu lemari penyimpanan. Kemudian


membukanya secara hati-hati. Engsel pintunya bisa saja berderit kencang. Sebab,


mereka jarang merawatnya. Sehingga kebanyakan engsel yang berada di tempat ini


pasti sudah terlihat berkarat.


Kebetulan sekali Nhea menemukan


beberapa potong roti di dalam sana. Ada juga buah-buahan seperti apel dan berry


kering. Mereka bahkan juga menyimpan sekaleng besar susu murni dari hasil


peternakan. Sepertinya semua ini sudah lebih dari cukup untuk persediaan selama


beberapa hari ke depan.

__ADS_1


__ADS_2