
Nhea sudah telat beberapa menit karena pria yang ia anggap penyusup itu, mengejutkannya secara tiba-tiba. Ia tak merasa terganggu atau semacamnya, meski saat itu ia tahu pasti jika orang asing sedang bersembunyi di dalam bilik kamarnya. Tapi sepertinya memang tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan hal itu. Seperti yang sudah ia katakana tadi, jika di tempat ini sama sekali tak memiliki barang berharga sedikitpun. Tempat ini tak lebih dari sekedar bangunan tua yang dibangga-banggakan seisi sekolah.
“Apa Bu Ryeong Ge belum masuk?” tanya Nhea setelah tiba di kelas.
“Belum, seperti yang kau lihat,” balasnya.
Gadis itu segera mengambil tempat posisi tepat di sebelah Oliver. Suasana kelas juga mulai terllihat ramai. Wajar saja, semua orang di sini berperilaku layaknya kelelawar. Mereka hanya akan beraktivitas secara intens saat matahari mulai tenggelam. Walaupun sebenarnya tak akan ada sesuatu yang terjadi jika mereka beraktivitas di siang hari.
“Hai, bagaimana kabarmu?” tanya seseorang yang duduk tepat di depannya, lebih tepatnya lagi itu adalah Jongdae.
“Baik, aku merasa sangat baik,” balas gadis itu dengan senang hati.
“Apa saja yang kau rasakan selamam tidur panjangmu itu?” tanya Jongdae penasaran.
__ADS_1
“Sepertinya tak ada. Aku sama sekali tak merasakan apapun dan hanya terlelap begitu saja, sama seperti yang kurasakan saat tidur biasa,” jelas Nhea secara gamblang.
“Ckckck!” Jongdae berdecak kagum, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak habis pikir.
“Biasanya mereka yang mengalami tidur panjang seperti itu rohnya akan berkeliaran. Jika sampai roh mereka tersesat, maka bisa jadi ia akan tertidur untuk selamanya,” tuturnya.
“Itu sebabnya kami menaruh beberapa benda yang dipercaya bisa mencegah hal itu,” ucap Oliver yang ikut menimpali.
“Selain itu, benda-benda itu juga bisa menangkal roh jahat yang bisa saja menculik rohmu,” sambung Jongdae.
“Baiklah, mari kita mulai materi hari ini. Buka buku kalian halaman 66!” perintah wanita paruh baya tersebut.
“Kau tahu, aku paling benci pelajaran ini,” bisik Oliver pelan.
__ADS_1
“Ku pikir hanya aku yang merasakan hal itu,” balas Nhea.
“Kenapa wanita itu harus datang ke sini malam ini? Kalian tahu, aku lebih baik menghapal mantra seharian daripada harus belajar mata pelajaran ini,” ketus Jongdae yang tiba-tiba ikut berpendapat meski tak ada yang memintanya.
Sepertinya bukan hanya mereka bertiga saja yang tampak tak bersemangat. Kelihatannya memang tak ada satu orangpun yang merasa antusias dengan mata pelajaran yang satu ini.
“Mari kita mulai topik kali ini, yaitu sejarah rubi delima,” ucap Bu Ryeong Ge sebagai pembuka.
“Rubi delima?” gumam Nhea pelan.
Sepertinya gadis itu tak bisa menafikkan dirinya sedikitpun untuk kali ini. Kelihatannya ia mulai tertarik dengan topik yang akan dibahas malam hari ini.
“Rubi delima berasal dari dataran tinggi bersalju di daerah utara yang dikuasai oleh seekor serigala alpha. Bentuknya sama seperti batu rubi pada umumnya dan tentusaja berwarna merah. Kawanan serigala itu kabarnya tengah kehilangan salah satu dari pecahan rubi mereka yang hilang dan tertarik ke dalam hutan kegelapan,” jelasnya.
__ADS_1
“Jika kalian tahu, sekecil apapun pecahan rubi itu, ia pasti bisa membantu kita dalam mengusir Ify. Batu rubi itu mempunyai elemen api yang digunakan para serigala untuk menghangatkan tubuh mereka saat cuaca sudah terlalu dingin.”
“Tapi sayangnya batu itu kabarnya telah menghilang di tangan seorang vampir yang menetap di sana.”