Mooneta High School

Mooneta High School
The Class


__ADS_3

Tepat setelah makan malam, mereka langsung membubarkan


diri dari ruangan tersebut. Seperti biasanya. Kini hanya tersisa staff dapur


yang bertugas untuk membereskan semua kekacauan ini. Meski pada kenyatannya


tidak sekacau itu. Anak-anak di akademi ini tidak terbiasa untuk melakukan


suatu pekerjaan dengan cara yang berantakan. Jadi tenang saja. Tidak perlu


khawatir. Mereka tidak akan menambahi beban para staff yang sudah bekerja keras


sejak pagi.


Nhea dan Oliver langsung bergegas menuju ruangan


kelas. Sebab, pelajaran pertama akan segera dimulai dalam waktu kurang dari dua


puluh menit lagi. Sebenarnya, mereka tetap bisa sampai tepat waktu meski


berjalan santai. Tapi, sepertinya kedua gadis itu sedang tidak ingin bersantai


saat ini. Yang ada di dalam pikiran mereka saat ini hanyalah sampai di kelas


dengan tepat waktu. Bisa dipastikan jika Nhea dan Oliver adalah orang pertama


yang sampai di sana nanti. Keduanya bahkan meninggalkan teman-temannya yang


lain jauh di belakang sana.


Mendadak, Oliver menghentikan langkahnya saat mereka


tiba di lantai dua. Hanya tersisa beberapa langkah lagi untuk menuju ke ruang


kelas. Sebab, kelas mereka memang terletak di lantai dua bagunan ini.


“Ada apa?” tanya Nhea begitu menyadari jika ada


sesuatu yang aneh.


“Aku hampir melupakan sesuatu!” celetuk Oliver sembari


menepuk dahinya pelan.


Tampaknya gadis itu benar-benar merutuki dirinya


sendiri karena kecerobohan yang ia buat. Sementara itu, di sisi lain Nhea hanya


bisa tertegun sambil tetap memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Berusaha untuk


mencari tahu sebenarnya apa yang salah dengan gadis ini.


“Memangnya apa yang kau lupakan di saat terakhir


menjelang masuk kelas seperti ini?” tanya Nhea.


“Aku harus pergi ke perpustakaan lebih dulu untuk


mengambil sesuatu. Tidak perlu menungguku di sini. Masuklah ke kelas lebih


dulu,” jelas Oliver dengan panjang lebar.


Kemudian, tanpa menunggu balasan dari lawan bicaranya


sama sekali, gadis itu langsung beranjak dari sana. Meninggalkan Nhea jauh di


belakangnya dengan sorot mata aneh. Pasti sekarang ada begitu banyak pertanyaan


yang muncul di dalam kepalanya. Membuat gadis itu tidak bisa berpikir dengan


jernih.


Oliver berhutan penjelasan kepadanya. Bagaimana bisa

__ADS_1


gadis itu meninggalkan Nhea sendirian di sini tanpa ada penjelasan yang


benar-benar jelas.


Tak ingin ambil pusing perihal tersebut, Nhea


memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya kembali menuju kelas. Tanggung jika


ia kembali atau bahkan menyusul Oliver. Ia bahkan sama sekali tidak berniat


untuk menyusul gadis itu setelah mengetahui jika langkahnya ternyata tertinggal


jauh. Ringkasnya, Nhea sedang malas untuk bepergian ke sana kemari.


Nhea menghela napasnya dengan kasar. Untuk saat ini


hanya suara langkah kakinya saja yang terdengar menggema di sepanjang lorong. Tempat


ini benar-benar sedang sepi. Tidak ada siapa pun di sekitar sini.


Teman-temannya yang lain pasti masih berada di lantai bawah.


Suasananya tetap saja terasa mencekam. Padahal seluruh


lentera yang ada sudah dinyalakan. Hingga tidak ada lagi yang tersisa. Tapi,


ternyata hal tersebut tidak banyak berpengaruh. Bahkan nyaris tidak membantu


sama sekali.


Tanpa menghiraukan hal tersebut, Nhea tetap melangkah


maju untuk kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruang kelas. Sementara


Oliver memutar balik haluannya. Dia perlu menyelesaikan beberapa urusan di


perpustakaan. Kemudian akan segera kembali setelah semuanya selesai.


menyelesaikan hal tersebut. Tapi, kembali lagi. Nhea tidak bisa menentukan apa


pun. Semua akan terjadi sesuai dengan peraturan yang sudah ditetapkan sejak


awal.


Mau tidak mau, Nhea memang harus pergi lebih dulu ke


kelas. Hal tersebut jauh lebih baik dari pada menunggu Oliver kembali. Dengan begitu,


setidaknya Nhea tidak perlu menunggu di koridor tanpa tahu kapan Oliver


kembali. Salah satu hal yang paling menguntungkannya saat ini adalah,


kemungkinan dirinya untuk terlambat masih sangat kecil. Mustahil jika Nhea akan


terlambat.


Yang benar saja, begitu ia sampai di ambang pintu


matanya langsung mengamati setiap hal yang ada di ruangan tersebut. Sesuai


dengan dugaannya. Gadis itu sama sekali tidak menemukan siapa pun di sini.


Sepertinya memang Nhea dan Oliver yang terlalu bersemangat tadi. Sehingga mereka


berhasil sampai di kelas lebih awal daripada siapa pun.


“Kenapa masih berdiri di sini saja?” sahut sebuah


suara yang tiba-tiba saja muncul.


Sontak hal tersebut berhasil membuat Nhea terlonjak


kaget. Jantungnya sedang tidak bisa diajak bekerja sama. Nyaris saja ia pingsan

__ADS_1


tadi. Beruntung dirinya masih mau bertahan hingga saat ini.


Gadis itu membungkukkan tubuhnya sedikit sambil


memegangi dadanya. Napas Nhea terasa memburu. Ia sibuk mengatur dirinya sendiri


yang sedang tidak karuan saat ini.


“Tidak bisakan lain kali jangan membuat orang lain


merasa dirugikan seperti ini!” celoteh gadis itu dengan geram.


Tidak bisa dipungkiri jika saat ini ia memang


benar-beanr sedang kesal. Masih dengan orang yang sama. Memangnya siapa lagi


jika bukan Chanwo. Beberapa hari belakangan ini, ia memang selalu menjadi


satu-satunya orang yang paling sering mencari masalah dengannya.


Tidak perlu melihatnya secara langsung untuk


memastikan dugaannya benar atau tidak. Hanya dari warna suaranya saja Nhea


sudah bisa menebak. Gadis itu sungguh yakin jika yang berada di hadapannya saat


ini benar adalah Chanwo. Untuk sekarang sama sekali tidak ada keraguan di dalam


hatinya.


“Memangnya aku merugikanmu?” tanya pria itu secara


gamblang.


Sudah jelas-jelas jika Nhea nyaris kehilangan nyawa


karenanya. Bagaimana bisa Chanwo melontarkan pertanyaan tidak masuk akal


seperti itu. Bayangkan saja jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi kepada


Nhea. Belum tentu ia akan bertanggung jawab nantinya.


“Terserahmu saja!” balas Nhea acuh tak acuh.


Gadis itu memutuskan untuk langsung meninggalkan


Chanwo begitu saja. Ia mendengus sebal sambil sesekali menghentak-hentakkan


kakinya ke permukaan lantai. Nhea sungguh tidak habis pikir.


“Kenapa kami harus bertemu lagi?!” sebalnya dalam


hati.


Nhea tidak berani mengumpat di hadapan pria itu. Bukan


mengumpat namanya jika ia mengatakan semuanya secara terang-terangan di hadapan


Chanwo. Alih-alih mengumpat, hal tersebut jauh lebih pantas untuk dikatakan


sebagai celotehan.


Di sisi lain, Chanwo hanya bisa menggeleng-gelengkan


kepalanya. Tidak habis pikir dengan perubahan sikap gadis itu yang terbilang


cepat. Tak lama kemudian, ia segera menyusul langkah gadis itu untuk masuk ke


dalam. Mereka duduk tidak saling berjauhan. Bahkan Chanwo masih bisa menjangkau


gadis itu dalam radius kurang dari satu meter. Anggap saja jika Nhea masih


berada di dalam jangkauannya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2