
Tepat setelah makan malam, mereka langsung membubarkan
diri dari ruangan tersebut. Seperti biasanya. Kini hanya tersisa staff dapur
yang bertugas untuk membereskan semua kekacauan ini. Meski pada kenyatannya
tidak sekacau itu. Anak-anak di akademi ini tidak terbiasa untuk melakukan
suatu pekerjaan dengan cara yang berantakan. Jadi tenang saja. Tidak perlu
khawatir. Mereka tidak akan menambahi beban para staff yang sudah bekerja keras
sejak pagi.
Nhea dan Oliver langsung bergegas menuju ruangan
kelas. Sebab, pelajaran pertama akan segera dimulai dalam waktu kurang dari dua
puluh menit lagi. Sebenarnya, mereka tetap bisa sampai tepat waktu meski
berjalan santai. Tapi, sepertinya kedua gadis itu sedang tidak ingin bersantai
saat ini. Yang ada di dalam pikiran mereka saat ini hanyalah sampai di kelas
dengan tepat waktu. Bisa dipastikan jika Nhea dan Oliver adalah orang pertama
yang sampai di sana nanti. Keduanya bahkan meninggalkan teman-temannya yang
lain jauh di belakang sana.
Mendadak, Oliver menghentikan langkahnya saat mereka
tiba di lantai dua. Hanya tersisa beberapa langkah lagi untuk menuju ke ruang
kelas. Sebab, kelas mereka memang terletak di lantai dua bagunan ini.
“Ada apa?” tanya Nhea begitu menyadari jika ada
sesuatu yang aneh.
“Aku hampir melupakan sesuatu!” celetuk Oliver sembari
menepuk dahinya pelan.
Tampaknya gadis itu benar-benar merutuki dirinya
sendiri karena kecerobohan yang ia buat. Sementara itu, di sisi lain Nhea hanya
bisa tertegun sambil tetap memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Berusaha untuk
mencari tahu sebenarnya apa yang salah dengan gadis ini.
“Memangnya apa yang kau lupakan di saat terakhir
menjelang masuk kelas seperti ini?” tanya Nhea.
“Aku harus pergi ke perpustakaan lebih dulu untuk
mengambil sesuatu. Tidak perlu menungguku di sini. Masuklah ke kelas lebih
dulu,” jelas Oliver dengan panjang lebar.
Kemudian, tanpa menunggu balasan dari lawan bicaranya
sama sekali, gadis itu langsung beranjak dari sana. Meninggalkan Nhea jauh di
belakangnya dengan sorot mata aneh. Pasti sekarang ada begitu banyak pertanyaan
yang muncul di dalam kepalanya. Membuat gadis itu tidak bisa berpikir dengan
jernih.
Oliver berhutan penjelasan kepadanya. Bagaimana bisa
__ADS_1
gadis itu meninggalkan Nhea sendirian di sini tanpa ada penjelasan yang
benar-benar jelas.
Tak ingin ambil pusing perihal tersebut, Nhea
memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya kembali menuju kelas. Tanggung jika
ia kembali atau bahkan menyusul Oliver. Ia bahkan sama sekali tidak berniat
untuk menyusul gadis itu setelah mengetahui jika langkahnya ternyata tertinggal
jauh. Ringkasnya, Nhea sedang malas untuk bepergian ke sana kemari.
Nhea menghela napasnya dengan kasar. Untuk saat ini
hanya suara langkah kakinya saja yang terdengar menggema di sepanjang lorong. Tempat
ini benar-benar sedang sepi. Tidak ada siapa pun di sekitar sini.
Teman-temannya yang lain pasti masih berada di lantai bawah.
Suasananya tetap saja terasa mencekam. Padahal seluruh
lentera yang ada sudah dinyalakan. Hingga tidak ada lagi yang tersisa. Tapi,
ternyata hal tersebut tidak banyak berpengaruh. Bahkan nyaris tidak membantu
sama sekali.
Tanpa menghiraukan hal tersebut, Nhea tetap melangkah
maju untuk kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruang kelas. Sementara
Oliver memutar balik haluannya. Dia perlu menyelesaikan beberapa urusan di
perpustakaan. Kemudian akan segera kembali setelah semuanya selesai.
menyelesaikan hal tersebut. Tapi, kembali lagi. Nhea tidak bisa menentukan apa
pun. Semua akan terjadi sesuai dengan peraturan yang sudah ditetapkan sejak
awal.
Mau tidak mau, Nhea memang harus pergi lebih dulu ke
kelas. Hal tersebut jauh lebih baik dari pada menunggu Oliver kembali. Dengan begitu,
setidaknya Nhea tidak perlu menunggu di koridor tanpa tahu kapan Oliver
kembali. Salah satu hal yang paling menguntungkannya saat ini adalah,
kemungkinan dirinya untuk terlambat masih sangat kecil. Mustahil jika Nhea akan
terlambat.
Yang benar saja, begitu ia sampai di ambang pintu
matanya langsung mengamati setiap hal yang ada di ruangan tersebut. Sesuai
dengan dugaannya. Gadis itu sama sekali tidak menemukan siapa pun di sini.
Sepertinya memang Nhea dan Oliver yang terlalu bersemangat tadi. Sehingga mereka
berhasil sampai di kelas lebih awal daripada siapa pun.
“Kenapa masih berdiri di sini saja?” sahut sebuah
suara yang tiba-tiba saja muncul.
Sontak hal tersebut berhasil membuat Nhea terlonjak
kaget. Jantungnya sedang tidak bisa diajak bekerja sama. Nyaris saja ia pingsan
__ADS_1
tadi. Beruntung dirinya masih mau bertahan hingga saat ini.
Gadis itu membungkukkan tubuhnya sedikit sambil
memegangi dadanya. Napas Nhea terasa memburu. Ia sibuk mengatur dirinya sendiri
yang sedang tidak karuan saat ini.
“Tidak bisakan lain kali jangan membuat orang lain
merasa dirugikan seperti ini!” celoteh gadis itu dengan geram.
Tidak bisa dipungkiri jika saat ini ia memang
benar-beanr sedang kesal. Masih dengan orang yang sama. Memangnya siapa lagi
jika bukan Chanwo. Beberapa hari belakangan ini, ia memang selalu menjadi
satu-satunya orang yang paling sering mencari masalah dengannya.
Tidak perlu melihatnya secara langsung untuk
memastikan dugaannya benar atau tidak. Hanya dari warna suaranya saja Nhea
sudah bisa menebak. Gadis itu sungguh yakin jika yang berada di hadapannya saat
ini benar adalah Chanwo. Untuk sekarang sama sekali tidak ada keraguan di dalam
hatinya.
“Memangnya aku merugikanmu?” tanya pria itu secara
gamblang.
Sudah jelas-jelas jika Nhea nyaris kehilangan nyawa
karenanya. Bagaimana bisa Chanwo melontarkan pertanyaan tidak masuk akal
seperti itu. Bayangkan saja jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi kepada
Nhea. Belum tentu ia akan bertanggung jawab nantinya.
“Terserahmu saja!” balas Nhea acuh tak acuh.
Gadis itu memutuskan untuk langsung meninggalkan
Chanwo begitu saja. Ia mendengus sebal sambil sesekali menghentak-hentakkan
kakinya ke permukaan lantai. Nhea sungguh tidak habis pikir.
“Kenapa kami harus bertemu lagi?!” sebalnya dalam
hati.
Nhea tidak berani mengumpat di hadapan pria itu. Bukan
mengumpat namanya jika ia mengatakan semuanya secara terang-terangan di hadapan
Chanwo. Alih-alih mengumpat, hal tersebut jauh lebih pantas untuk dikatakan
sebagai celotehan.
Di sisi lain, Chanwo hanya bisa menggeleng-gelengkan
kepalanya. Tidak habis pikir dengan perubahan sikap gadis itu yang terbilang
cepat. Tak lama kemudian, ia segera menyusul langkah gadis itu untuk masuk ke
dalam. Mereka duduk tidak saling berjauhan. Bahkan Chanwo masih bisa menjangkau
gadis itu dalam radius kurang dari satu meter. Anggap saja jika Nhea masih
berada di dalam jangkauannya sekarang.
__ADS_1