Mooneta High School

Mooneta High School
Salam Perpisahan


__ADS_3

 


 


Malam ini


adalah terakhir kalinya bagi semua orang untuk tetap berada di tempat ini.


Sebagai bentuk perpisahan dengan Sekolah Mooneta, mereka akan membakar sebuah


dupa tepat di dalam kamarnya. Bukan hanya di kamar saja. Lebih tepatnya hampir


di setiap ruangan yang tersebar di sekolah ini. Mereka tidak akan


meninggalkannya dengan begitu saja. Setidaknya tempat tersebut akan tetap


bersih dari segala jenis energi negatif yang bisa memberikan kesan tidak baik


bagi sekitarnya. Asap dari sisa pembakaran dupa akan menetralisir atmosfir di


tempat ini. Sehingga, bangunan  sekolah


tidak akan pernah menjadi sesuatu yang angker. Bahkan setelah ditinggalkan oleh


pemiliknya begitu saja.


Mereka baru


akan berangkat dari tempat ini sekitar tengah malam nanti. Masih ada waktu


selama beberapa jam lagi sebelum pergi. Tidak banyak memang. Tapi bisa


dimanfaatkan untuk melakukan berbagai macam hal yang belum sempat mereka


lakukan selama ini. Anggap saja sebagai salam perpisahan sekurang-kurangnya. Dengan


begitu, mereka tidak akan merasa menyesal nantinya. Meskipun harus meninggalkan


tempat ini juga pada akhirnya. Tidak ada yang bisa diubah di sini. Semuanya


telah berjalan sesuai dengan aturan semesta.


Sekarang


sudah jam sepuluh malam. Masih tersisa waktu sekitar dua jam lagi sebelum


mereka benar-benar pergi meninggalkan tempat ini. Rasanya masih tidak bisa


dipercaya. Sungguh tidak masuk akal. Ketika mereka harus merelakan nama sekolah


yang selama ini selalu menjadi sebuah kebanggan. Bahkan dalam waktu beberapa


jam lagi, nama itu akan segera enyah dari muka bumi ini.


Banyak orang


yang sedih dan merasa tak adil sekaligus kecewa. Tapi mereka lebih memilih


untuk tidak menangis. Kecuali dengan Vallery. Dia bukan seseorang yang bisa membohongi


dirinya sendiri. Vallery tak bisa menapikkan perasaannya sendiri. Ketika orang


lain sibuk untuk menutupi kesedihannya, hal yang berbeda terjadi kepada wanita


itu. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam ruang pemakaman.


Vallery


dubuk bersimpuh di depan foto kedua orang tua angkatnya, sementara orang lain


bersikap terlalu keras kepada dirinya masing-masing. Kali ini wanita itu hanya


sendirian datang ke sini. Ia bahkan tak memberitahu Wilson jika akan pergi


kemari untuk mengucapkan salam terakhir kepada Liora dan juga Royn. Yang tak


lain dan tidak bukan adalah kedua orang tuanya.


“Maafkan


aku…” lirihnya.


Wanita itu

__ADS_1


tampak tersedu-sedu. Ia tak kuasa saat harus menahan tangisnya. Dadanya terasa


begitu sesak. Seolah ada sesuatu tak kasat mata yang sedang berusaha untuk


menghimpitnya dari segala arah. Wajahnya sudah penuh dengan air mata yang  membasahi pipinya. Mata wanita itu tampak


memerah. Penuh dengan sisa air mata yang tak kunjung berkesudahan.


Cairan tak


berwarna tersebut terus mengalir tanpa henti. Seolah tidak ada sebuah cara yang


bisa menghentikan tangisannya pada saat itu. Matanya sudah memanas sejak tadi.


Ia bahkan tak bisa melihat objek yang berada di sekitarnya dengan jelas lagi.


Pandangannya tampak kabur.


Tak bisa


dipungkiri jika ia memang sedang merasa sangat sedih saat ini. Lebih dari duka


seperti apa pun yang pernah ia alami sebelumnya. Menurutnya, yang satu ini jauh


lebih menyakitkan dari pada apa pun.


“Aku


benar-benar menyesal.”


“Aku minta


maaf kepada kalian berdua karena tidak bisa melaksanakan tanggung jawab


terakhir dari ayah dan ibu.”


“Aku bahkan


gagal untuk menjaga sekolah ini dan membuatnya tetap berdiri. Tak peduli


seberapa besar aku telah berusaha.”


Vallery


tidak hadir di sini sekarang. Hanya ada foto keduanya. Arwah mereka telah


tenang di atas saja. ia tidak bisa berubungan lagi dengan salah satu atau


bahkan keduanya.


Wanita itu


mengakui semua kegagalannya di hadapan keduanya. Vallery benar-benar merasa


seperti orang yang paling bodoh saat ini. Ia merutuki kebodohannya sendiri.


Istri dari


Wilson itu merasa menyesal karena harus membuat sekolah ini menghilang


selamanya dari peradaban akademi sihir yang pernah ada. Mulai hari ini tidak


akan ada lagi orang-orang yang mengetahui apa itu Mooneta. Nama tersebut telah


menghilang. Tenggelam di saat yang bersamaan dengan naiknya nama Reodal.


Vallery


terus menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian terbesar dalam sejarah Mooneta.


Mereka tidak pernah melangkah sampai sejauh ini. Padahal Vallery bukan


satu-satunya orang yang bersalah di sini. Ada banyak orang yang terlibat dalam


rapat kemarin malam. Bukan Vallery yang mengusulkan hal tersebut. Melainkan ini


adlaha keputusan bersama.


Tapi tetap


saja, wanita itu masih tetap merasa bersalah atas runtuhnya Mooneta. Sekolah ini


seharusnya masih tetap menjadi tanggung jawabnya sampai ia tiada nanti. Kemudian

__ADS_1


akan dilanjutkan oleh Nhea.


“Sejak awal


seharusnya kalian berdua tidak menunjukku untuk melakukan hal ini secara


khusus,”ujarnya.


“Aku telah


gagal.”


“Lalu


sekarang harus bagaimana?”


“Apa yang


harus ku lakukan? Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini selain meratapi


nasib,”


Vallery


bangkit dari posisinya saat ini. Ia mengakkan kepalanya meski terasa berat. Otaknya


menolak untuk meninggalkan tempat ini. Langkahnya terlalu berat. Tidak ada


seorang pun yang mau meninggalkan Mooneta. Jika bisa memilih, mungkin mereka akan


menolak hal tersebut secara mentah-mentah. Tapi sayangnya, untuk saat ini hanya


ada satu opsi. Tidak ada cara lain yang bisa mereka lakukan.


Dengan pergi


dari tempat ini, maka kemungkinan besar nyawa mereka akan selamat. Namun tidak


menutup peluang bagi kemungkinan-kemungkinan lainnya. Kegagalan bukan berarti tak


ada meski kata berhasil jauh lebih mendominasi di sini. Selalu saja ada peluang


bagi hal di luar dugaan. Seperti yang semua orang tahu jika tidak semua rencana


bisa berjalan dengan senormal mungkin. Pasti selalu ada saja rintangannya. Mungkin


itu pula kenapa kebanyakan orang selalau berkata jika realita tidak melulu


harus seperti apa yang kita harapkan. Terserah semesta akan seperti apa


nantinya.


Vallery


mengusap air mata yang membuat jejak di seluruh permukaan wajahnya. Matanya bengkak


karena menangis terlalu lama. Ia sungguh meluapkan seluruh emosinya kali ini. Sampai


tak ada lagi yang tersisa.


Pada akhirnya


wanita itu memutuskan  untuk berhenti


menangis. Rasanya sudah cukup untuk hari ini. Ia tidak bisa menghabiskan


cadangan air di dalam tubuhnya. Sebab nanti malam mereka akan melakukan


perjalanan panjang. Lebih tepatnya ia harus menyimpan tenaganya. Menangis


dengan mengeluarkkan semua emosi seperti ini hanya akan membuang-buang


tenaganya secara sia-sia tanpa disadari sama sekali.


Mereka akan


membawa semua benda yang berada di tempat ini. Sehingga seluruh penjuru sekolah


akan kosong dan tidak tersisa apa pun. Termasuk foto kedua orang tuanya


tersebut. Ia akan tetap membawa benda yang satu ini kemana pun mereka pergi. Tidak


ada alasan apa-apa. Karena mereka sudah meninggal, tidak ada hal lain lagi yang

__ADS_1


bisa ia miliki selain foto keduanya.


__ADS_2