
Malam ini
adalah terakhir kalinya bagi semua orang untuk tetap berada di tempat ini.
Sebagai bentuk perpisahan dengan Sekolah Mooneta, mereka akan membakar sebuah
dupa tepat di dalam kamarnya. Bukan hanya di kamar saja. Lebih tepatnya hampir
di setiap ruangan yang tersebar di sekolah ini. Mereka tidak akan
meninggalkannya dengan begitu saja. Setidaknya tempat tersebut akan tetap
bersih dari segala jenis energi negatif yang bisa memberikan kesan tidak baik
bagi sekitarnya. Asap dari sisa pembakaran dupa akan menetralisir atmosfir di
tempat ini. Sehingga, bangunan sekolah
tidak akan pernah menjadi sesuatu yang angker. Bahkan setelah ditinggalkan oleh
pemiliknya begitu saja.
Mereka baru
akan berangkat dari tempat ini sekitar tengah malam nanti. Masih ada waktu
selama beberapa jam lagi sebelum pergi. Tidak banyak memang. Tapi bisa
dimanfaatkan untuk melakukan berbagai macam hal yang belum sempat mereka
lakukan selama ini. Anggap saja sebagai salam perpisahan sekurang-kurangnya. Dengan
begitu, mereka tidak akan merasa menyesal nantinya. Meskipun harus meninggalkan
tempat ini juga pada akhirnya. Tidak ada yang bisa diubah di sini. Semuanya
telah berjalan sesuai dengan aturan semesta.
Sekarang
sudah jam sepuluh malam. Masih tersisa waktu sekitar dua jam lagi sebelum
mereka benar-benar pergi meninggalkan tempat ini. Rasanya masih tidak bisa
dipercaya. Sungguh tidak masuk akal. Ketika mereka harus merelakan nama sekolah
yang selama ini selalu menjadi sebuah kebanggan. Bahkan dalam waktu beberapa
jam lagi, nama itu akan segera enyah dari muka bumi ini.
Banyak orang
yang sedih dan merasa tak adil sekaligus kecewa. Tapi mereka lebih memilih
untuk tidak menangis. Kecuali dengan Vallery. Dia bukan seseorang yang bisa membohongi
dirinya sendiri. Vallery tak bisa menapikkan perasaannya sendiri. Ketika orang
lain sibuk untuk menutupi kesedihannya, hal yang berbeda terjadi kepada wanita
itu. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam ruang pemakaman.
Vallery
dubuk bersimpuh di depan foto kedua orang tua angkatnya, sementara orang lain
bersikap terlalu keras kepada dirinya masing-masing. Kali ini wanita itu hanya
sendirian datang ke sini. Ia bahkan tak memberitahu Wilson jika akan pergi
kemari untuk mengucapkan salam terakhir kepada Liora dan juga Royn. Yang tak
lain dan tidak bukan adalah kedua orang tuanya.
“Maafkan
aku…” lirihnya.
Wanita itu
__ADS_1
tampak tersedu-sedu. Ia tak kuasa saat harus menahan tangisnya. Dadanya terasa
begitu sesak. Seolah ada sesuatu tak kasat mata yang sedang berusaha untuk
menghimpitnya dari segala arah. Wajahnya sudah penuh dengan air mata yang membasahi pipinya. Mata wanita itu tampak
memerah. Penuh dengan sisa air mata yang tak kunjung berkesudahan.
Cairan tak
berwarna tersebut terus mengalir tanpa henti. Seolah tidak ada sebuah cara yang
bisa menghentikan tangisannya pada saat itu. Matanya sudah memanas sejak tadi.
Ia bahkan tak bisa melihat objek yang berada di sekitarnya dengan jelas lagi.
Pandangannya tampak kabur.
Tak bisa
dipungkiri jika ia memang sedang merasa sangat sedih saat ini. Lebih dari duka
seperti apa pun yang pernah ia alami sebelumnya. Menurutnya, yang satu ini jauh
lebih menyakitkan dari pada apa pun.
“Aku
benar-benar menyesal.”
“Aku minta
maaf kepada kalian berdua karena tidak bisa melaksanakan tanggung jawab
terakhir dari ayah dan ibu.”
“Aku bahkan
gagal untuk menjaga sekolah ini dan membuatnya tetap berdiri. Tak peduli
seberapa besar aku telah berusaha.”
Vallery
tidak hadir di sini sekarang. Hanya ada foto keduanya. Arwah mereka telah
tenang di atas saja. ia tidak bisa berubungan lagi dengan salah satu atau
bahkan keduanya.
Wanita itu
mengakui semua kegagalannya di hadapan keduanya. Vallery benar-benar merasa
seperti orang yang paling bodoh saat ini. Ia merutuki kebodohannya sendiri.
Istri dari
Wilson itu merasa menyesal karena harus membuat sekolah ini menghilang
selamanya dari peradaban akademi sihir yang pernah ada. Mulai hari ini tidak
akan ada lagi orang-orang yang mengetahui apa itu Mooneta. Nama tersebut telah
menghilang. Tenggelam di saat yang bersamaan dengan naiknya nama Reodal.
Vallery
terus menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian terbesar dalam sejarah Mooneta.
Mereka tidak pernah melangkah sampai sejauh ini. Padahal Vallery bukan
satu-satunya orang yang bersalah di sini. Ada banyak orang yang terlibat dalam
rapat kemarin malam. Bukan Vallery yang mengusulkan hal tersebut. Melainkan ini
adlaha keputusan bersama.
Tapi tetap
saja, wanita itu masih tetap merasa bersalah atas runtuhnya Mooneta. Sekolah ini
seharusnya masih tetap menjadi tanggung jawabnya sampai ia tiada nanti. Kemudian
__ADS_1
akan dilanjutkan oleh Nhea.
“Sejak awal
seharusnya kalian berdua tidak menunjukku untuk melakukan hal ini secara
khusus,”ujarnya.
“Aku telah
gagal.”
“Lalu
sekarang harus bagaimana?”
“Apa yang
harus ku lakukan? Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini selain meratapi
nasib,”
Vallery
bangkit dari posisinya saat ini. Ia mengakkan kepalanya meski terasa berat. Otaknya
menolak untuk meninggalkan tempat ini. Langkahnya terlalu berat. Tidak ada
seorang pun yang mau meninggalkan Mooneta. Jika bisa memilih, mungkin mereka akan
menolak hal tersebut secara mentah-mentah. Tapi sayangnya, untuk saat ini hanya
ada satu opsi. Tidak ada cara lain yang bisa mereka lakukan.
Dengan pergi
dari tempat ini, maka kemungkinan besar nyawa mereka akan selamat. Namun tidak
menutup peluang bagi kemungkinan-kemungkinan lainnya. Kegagalan bukan berarti tak
ada meski kata berhasil jauh lebih mendominasi di sini. Selalu saja ada peluang
bagi hal di luar dugaan. Seperti yang semua orang tahu jika tidak semua rencana
bisa berjalan dengan senormal mungkin. Pasti selalu ada saja rintangannya. Mungkin
itu pula kenapa kebanyakan orang selalau berkata jika realita tidak melulu
harus seperti apa yang kita harapkan. Terserah semesta akan seperti apa
nantinya.
Vallery
mengusap air mata yang membuat jejak di seluruh permukaan wajahnya. Matanya bengkak
karena menangis terlalu lama. Ia sungguh meluapkan seluruh emosinya kali ini. Sampai
tak ada lagi yang tersisa.
Pada akhirnya
wanita itu memutuskan untuk berhenti
menangis. Rasanya sudah cukup untuk hari ini. Ia tidak bisa menghabiskan
cadangan air di dalam tubuhnya. Sebab nanti malam mereka akan melakukan
perjalanan panjang. Lebih tepatnya ia harus menyimpan tenaganya. Menangis
dengan mengeluarkkan semua emosi seperti ini hanya akan membuang-buang
tenaganya secara sia-sia tanpa disadari sama sekali.
Mereka akan
membawa semua benda yang berada di tempat ini. Sehingga seluruh penjuru sekolah
akan kosong dan tidak tersisa apa pun. Termasuk foto kedua orang tuanya
tersebut. Ia akan tetap membawa benda yang satu ini kemana pun mereka pergi. Tidak
ada alasan apa-apa. Karena mereka sudah meninggal, tidak ada hal lain lagi yang
__ADS_1
bisa ia miliki selain foto keduanya.