
Chanwo menyandarkan tubuhnya pada salah satu sisi dinding
bangunan ini. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil sesekali
memperhatikan Hwang Ji Na dan juga Eun Ji Hae secara bergantian. Pria itu
berharap agar urusan mereka segera selesai. Ia sudah tidak betah untuk
berlama-lama di tempat seperti ini.
“Ck! Kenapa mereka lama sekali,” gerutunya sebal.
Sepertinya memang benar apa kata orang-orang. Jika dua orang
wanita sudah dipertemukan, topik pembahasan mereka pasti tidak akan pernah
habis. Selalu ada saja hal yang akan dibahas. Wanita adalah mahluk yang paling
suka bercerita. Entah bagaimana asal mulanya dulu.
***
“Aku telah menceritakan semuanya kepadamu. Sekarang waktunya
aku berpamitan pergi,” ujar Hwang Ji Na.
“Apa kau benar-benar yakin jika yang tadi itu telah
semuanya?” tanya Eun Ji Hae sekali lagi untuk memastikan.
Sosok yang menjadi lawan bicara gadis itu hanya bisa
mengangguk pasrah. Tidak ada jawaban lain. Hwang Ji Na memang hanya ingin
merceritakan hal itu saja. Sekarang sudah tidak ada lagi hal yang akan dibahas.
Mereka telah mengupas tuntas semuanya secara satu-persatu tadi.
Hwang Ji Na beranjak dari tempat duduknya. Ia akan
meninggalkan tempat ini lebih dulu. Tidak ada alasan untuk tetap tinggal di sini
lebih lama lagi. Chanwo sudah tampak mulai jenuh karena menunggu. Ia sudah
berdiri di ujung lorong sejak tadi. Kakinya pasti terasa lelah karena harus
menyokong tubuhnya.
Lagi pula Hwang Ji Na dan Chanwo sudah membuat suatu
kesepakatan sebelumnya. Mereka akan meninggalkan tempat ini begitu Hwang Ji Na
menyelesaikan segala urusannya. Dengan begitu, ia tidak akan memiliki alasan
untuk kembali ke tempat ini lagi di lain waktu.
“Aku harus pergi,” pamit gadis itu.
“Kau akan kembali ke gua itu?” tanya Eun Ji Hae.
Dia benar-benar tidak rela jika Hwang Ji Na harus pergi
meninggalkannya sendirian di tempat ini. Mereka baru saja bertemu, tapi Eun Ji
Hae sudah merasa cocok dengan gadis itu. Hwang Ji Na adalah satu-satunya orang
yang bisa ia percaya dengan sepenuhnya sampai saat ini.
Tapi, di sisi lain ia juga tidak bisa melarang Hwang Ji Na
__ADS_1
untuk pergi. Bagaimana pun juga itu adalah haknya. Eun Ji Hae sama sekali tidak
berhak untuk melarangnya. Untuk saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain
pasrah. Sudah terlalu terlambat untuk bertindak. Hwang Ji Na tetap akan pergi.
Chanwo sudah berubah pikiran. Ini adalah saat yang tepat bagi gadis itu untuk
membawa Chanwo kembali ke istana. Ia tidak perlu repot-repot untuk membujuknya
seperti kemarin. Karena keputusan yang kali ini adalah inisiatifnya sendiri.
“Aku akan mengantarkanmu sampai gerbang,” ucap Eun Ji Hae
dengan suara paraunya.
“Baiklah,” balas Hwang Ji Na.
Kedua gadis itu berjalan beriringan ke ujung lorong untuk
menghampiri Chanwo terlebih dahulu sebelum pada akhirnya benar-benar pergi. Ini
adalah kesempatan terakhir bagi Eun Ji Hae untuk bertemu dengan Hwang Ji Na.
Jadi, ia tak boleh sampai mengecewakan gadis itu. Jika sampai hal tersebut
terjadi, maka Eun Ji Hae pasti akan merutuki kebodohannya sendiri sepanjang
hari. Ia tak akan bisa tenang.
“Kau sudah selesai?” tanya Chanwo dengan datar.
Hwang Ji Na kembali mengangguk untuk yang kesekian kalinya.
Tak ingin buang-buang waktu lagi, pria itu segera menarik
tangan Hwang Ji Na. Langkahnya dipercepat, agar sampai di tempat tujuan dengan
keduanya.
Hwang Ji Na sengaja menghentikan langkahnya tepat di altar
menuju pintu gerbang. Salju masih tetap turun. Namun, jumlahnya sudah jauh
lebih sedikit dari pada sebelumnya. Ia berbalik menghadap Eun Ji Hae untuk
mengucapkan salah perpisahan.
“Selamat tinggal!” ucap Hwang Ji Na.
Eun Ji Hae tidak membalasnya dengan kata-kata. Ia hanya
tersenyum tipis. Bahkan, untuk menarik kedua sudut bibirnya saja terasa berat
bagi gadis ini. Ia belum siap untuk kehilangan Hwang Ji Na. Menurutnya, gadis
itu jauh lebih baik dari pada siapa pun.
Hwang Ji Na sengaja memilih kalimat selamat tinggal untuk
ucapan salam perpisahannya. Selamat tinggal, berarti mereka tidak akan pernah
bertemu lagi. Sungguh susunan kata yang begitu tepat untuk mendeskripsikan
segalanya.
“Kalian bisa pergi sekarang,” ungkap Eun Ji Hae.
Baru saja keduanya berbalik badan, tiba-tiba saja sebuah
__ADS_1
suara muncul dengan lantang untuk menghentikan langkah mereka. Bahkan Hwang Ji
Na dan Chanwo sama sekali belum sempat beranjak dari tempat mereka berdiri saat
ini.
“Sepertinya suara ini tidak asing lagi di telingaku,” gumam
Chanwo.
“Apa kau yakin?” tanya Hwang Ji Na.
Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan yakin. Kali
ini intuisinya pasti benar. Pasalnya, ia tak pernah salah sebelumnya. Oleh
sebab itu Chanwo selalu mengandalkan intuisinya
yang jelas-jelas jauh lebih tajam dari pada indera lainnya. Tanpa pikir
panjang, pria itu langsung membalikkan badannya untuk mencari tahu darimana
sumber suara tadi berasal. Pasti tidak jauh dari sini letaknya.
“Sial!” umpat Chanwo begitu mendapati Wilson yang tengah
berdiri di seberang sana.
Wilson berjalan mendekat untuk menghampiri mereka bertiga.
Sementara Chanwo sendiri sama sekali tak kepikiran untuk langsung melarikan
diri pada saat itu. Entah sudah sejak kapan Wilson berdiri di sana. Tapi,
kelihatannya pria itu sudah mengawasi mereka sejak tadi. Tidak menutup
kemungkinan juga jika Wilson bahkan sampai mendengar semua percakapan Hwang Ji
Na dan Eun Ji Hae.
“Siapa dia?” tanya Hwang Ji Na.
Sepertinya gadis itu adalah satu-satunya orang yang tidak
tahu apa pun di sini. Wajar saja, Hwang Ji Na baru sampai beberapa hari yang
lalu. Tidak mudah baginya untuk mengingat setiap orang yang muncul di
pandangannya pada saat itu.
Chanwo sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan
dari gadis itu. Dia terlalu fokus kepada Wilson. Sepertinya mereka akan
terjebak dalam masalah lagi kali ini. Dan tentu saja bisa dipastikan jika
Wilson yang akan memulai semuanya. Kemudian memutar balikkan keadaan, sehingga
Chanwo dan Hwang Ji Na seolah menjadi pihak yang salah di sini. Pria itu cukup
manipulatif. Sebaiknya berhati-hati jika berada di sekitarnya. Jangan pernah
coba-coba untuk cari masalah dengannya. Karena itu artinya, kau telah menjebak
dirimu sendiri dalam masalah seumur hidup.
Jarak dari tempat Wilson berdiri hingga ke ambang pintu
gerbang tidak terlalu jauh. Hanya sekitar tiga meter mungkin. Jadi, bukan hal
__ADS_1
yang mengejutkan lagi jika tiba-tiba ia sudah berada di hadapan pria ini. Chanwo
berdecak sebal karena harus berurusan dengan Wilson lagi.