Mooneta High School

Mooneta High School
Bukan Keputusan Final


__ADS_3

Chanwo menyandarkan tubuhnya pada salah satu sisi dinding


bangunan ini. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil sesekali


memperhatikan Hwang Ji Na dan juga Eun Ji Hae secara bergantian. Pria itu


berharap agar urusan mereka segera selesai. Ia sudah tidak betah untuk


berlama-lama di tempat seperti ini.


“Ck! Kenapa mereka lama sekali,” gerutunya sebal.


Sepertinya memang benar apa kata orang-orang. Jika dua orang


wanita sudah dipertemukan, topik pembahasan mereka pasti tidak akan pernah


habis. Selalu ada saja hal yang akan dibahas. Wanita adalah mahluk yang paling


suka bercerita. Entah bagaimana asal mulanya dulu.


***


“Aku telah menceritakan semuanya kepadamu. Sekarang waktunya


aku berpamitan pergi,” ujar Hwang Ji Na.


“Apa kau benar-benar yakin jika yang tadi itu telah


semuanya?” tanya Eun Ji Hae sekali lagi untuk memastikan.


Sosok yang menjadi lawan bicara gadis itu hanya bisa


mengangguk pasrah. Tidak ada jawaban lain. Hwang Ji Na memang hanya ingin


merceritakan hal itu saja. Sekarang sudah tidak ada lagi hal yang akan dibahas.


Mereka telah mengupas tuntas semuanya secara satu-persatu tadi.


Hwang Ji Na beranjak dari tempat duduknya. Ia akan


meninggalkan tempat ini lebih dulu. Tidak ada alasan untuk tetap tinggal di sini


lebih lama lagi. Chanwo sudah tampak mulai jenuh karena menunggu. Ia sudah


berdiri di ujung lorong sejak tadi. Kakinya pasti terasa lelah karena harus


menyokong tubuhnya.


Lagi pula Hwang Ji Na dan Chanwo sudah membuat suatu


kesepakatan sebelumnya. Mereka akan meninggalkan tempat ini begitu Hwang Ji Na


menyelesaikan segala urusannya. Dengan begitu, ia tidak akan memiliki alasan


untuk kembali ke tempat ini lagi di lain waktu.


“Aku harus pergi,” pamit gadis itu.


“Kau akan kembali ke gua itu?” tanya Eun Ji Hae.


Dia benar-benar tidak rela jika Hwang Ji Na harus pergi


meninggalkannya sendirian di tempat ini. Mereka baru saja bertemu, tapi Eun Ji


Hae sudah merasa cocok dengan gadis itu. Hwang Ji Na adalah satu-satunya orang


yang bisa ia percaya dengan sepenuhnya sampai saat ini.


Tapi, di sisi lain ia juga tidak bisa melarang Hwang Ji Na

__ADS_1


untuk pergi. Bagaimana pun juga itu adalah haknya. Eun Ji Hae sama sekali tidak


berhak untuk melarangnya. Untuk saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain


pasrah. Sudah terlalu terlambat untuk bertindak. Hwang Ji Na tetap akan pergi.


Chanwo sudah berubah pikiran. Ini adalah saat yang tepat bagi gadis itu untuk


membawa Chanwo kembali ke istana. Ia tidak perlu repot-repot untuk membujuknya


seperti kemarin. Karena keputusan yang kali ini adalah inisiatifnya sendiri.


“Aku akan mengantarkanmu sampai gerbang,” ucap Eun Ji Hae


dengan suara paraunya.


“Baiklah,” balas Hwang Ji Na.


Kedua gadis itu berjalan beriringan ke ujung lorong untuk


menghampiri Chanwo terlebih dahulu sebelum pada akhirnya benar-benar pergi. Ini


adalah kesempatan terakhir bagi Eun Ji Hae untuk bertemu dengan Hwang Ji Na.


Jadi, ia tak boleh sampai mengecewakan gadis itu. Jika sampai hal tersebut


terjadi, maka Eun Ji Hae pasti akan merutuki kebodohannya sendiri sepanjang


hari. Ia tak akan bisa tenang.


“Kau sudah selesai?” tanya Chanwo dengan datar.


Hwang Ji Na kembali mengangguk untuk yang kesekian kalinya.


Tak ingin buang-buang waktu lagi, pria itu segera menarik


tangan Hwang Ji Na. Langkahnya dipercepat, agar sampai di tempat tujuan dengan


keduanya.


Hwang Ji Na sengaja menghentikan langkahnya tepat di altar


menuju pintu gerbang. Salju masih tetap turun. Namun, jumlahnya sudah jauh


lebih sedikit dari pada sebelumnya. Ia berbalik menghadap Eun Ji Hae untuk


mengucapkan salah perpisahan.


“Selamat tinggal!” ucap Hwang Ji Na.


Eun Ji Hae tidak membalasnya dengan kata-kata. Ia hanya


tersenyum tipis. Bahkan, untuk menarik kedua sudut bibirnya saja terasa berat


bagi gadis ini. Ia belum siap untuk kehilangan Hwang Ji Na. Menurutnya, gadis


itu jauh lebih baik dari pada siapa pun.


Hwang Ji Na sengaja memilih kalimat selamat tinggal untuk


ucapan salam perpisahannya. Selamat tinggal, berarti mereka tidak akan pernah


bertemu lagi. Sungguh susunan kata yang begitu tepat untuk mendeskripsikan


segalanya.


“Kalian bisa pergi sekarang,” ungkap Eun Ji Hae.


Baru saja keduanya berbalik badan, tiba-tiba saja sebuah

__ADS_1


suara muncul dengan lantang untuk menghentikan langkah mereka. Bahkan Hwang Ji


Na dan Chanwo sama sekali belum sempat beranjak dari tempat mereka berdiri saat


ini.


“Sepertinya suara ini tidak asing lagi di telingaku,” gumam


Chanwo.


“Apa kau yakin?” tanya Hwang Ji Na.


Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan yakin. Kali


ini intuisinya pasti benar. Pasalnya, ia tak pernah salah sebelumnya. Oleh


sebab itu  Chanwo selalu mengandalkan intuisinya


yang jelas-jelas jauh lebih tajam dari pada indera lainnya. Tanpa pikir


panjang, pria itu langsung membalikkan badannya untuk mencari tahu darimana


sumber suara tadi berasal. Pasti tidak jauh dari sini letaknya.


“Sial!” umpat Chanwo begitu mendapati Wilson yang tengah


berdiri di seberang sana.


Wilson berjalan mendekat untuk menghampiri mereka bertiga.


Sementara Chanwo sendiri sama sekali tak kepikiran untuk langsung melarikan


diri pada saat itu. Entah sudah sejak kapan Wilson berdiri di sana. Tapi,


kelihatannya pria itu sudah mengawasi mereka sejak tadi. Tidak menutup


kemungkinan juga jika Wilson bahkan sampai mendengar semua percakapan Hwang Ji


Na dan Eun Ji Hae.


“Siapa dia?” tanya Hwang Ji Na.


Sepertinya gadis itu adalah satu-satunya orang yang tidak


tahu apa pun di sini. Wajar saja, Hwang Ji Na baru sampai beberapa hari yang


lalu. Tidak mudah baginya untuk mengingat setiap orang yang muncul di


pandangannya pada saat itu.


Chanwo sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan


dari gadis itu. Dia terlalu fokus kepada Wilson. Sepertinya mereka akan


terjebak dalam masalah lagi kali ini. Dan tentu saja bisa dipastikan jika


Wilson yang akan memulai semuanya. Kemudian memutar balikkan keadaan, sehingga


Chanwo dan Hwang Ji Na seolah menjadi pihak yang salah di sini. Pria itu cukup


manipulatif. Sebaiknya berhati-hati jika berada di sekitarnya. Jangan pernah


coba-coba untuk cari masalah dengannya. Karena itu artinya, kau telah menjebak


dirimu sendiri dalam masalah seumur hidup.


Jarak dari tempat Wilson berdiri hingga ke ambang pintu


gerbang tidak terlalu jauh. Hanya sekitar tiga meter mungkin. Jadi, bukan hal

__ADS_1


yang mengejutkan lagi jika tiba-tiba ia sudah berada di hadapan pria ini. Chanwo


berdecak sebal karena harus berurusan dengan Wilson lagi.


__ADS_2