Mooneta High School

Mooneta High School
1st Evaluation


__ADS_3

Banyak peserta yang sedang melakukan evaluasi rutin hari


ini. Gunanya untuk mengukur sejauh mana kamampuan mereka. Lebih tepatnya


seberapa besar peningkatan yang telah terjadi selama latihan ini berlangsung. Hal


yang satu ini cukup penting dan tidak bisa terlewatkan.


Hari ini mereka akan melaksanakan evaluasi terakhir. Tepat


beberapa hari menjelang hari perlombaan. Masih ada waktu yang terisa meski


tidak banyak. Setidaknya bisa digunakan untuk melakukan perbaikan


kecil-kecilan. Bibi Ga Eun yakin jika mereka pasti tidak akan keberatan jika


diminta untuk melakukan hal tersebut.


Sama seperti cabang lomba yang lain, hari ini anak-anak


peserta panahan juga akan mengadakan evaluasi terakhir. Saat ini mereka tengah


mempersiaplan dirinya di pinggir lapangan. Satu-persatu dari mereka akan maju


secara bergantian. Sehingga pelatihnya bisa menilai progres mereka secara lebih


akurat.


Nhea berjalan lebih dulu ke arah tumpukan barang untuk


mengambil seluruh peralatan latihannya. Seperti busur panah dan juga busur. ia


sudah terbiasa untuk melakukan semuanya sendiri. Bukan sesuatu yang mengejutkan


lagi. Bukan hal baru untuk diketahui.


Setelah mendapatkan apa yang ia mau, gadis itu kembali


merapatkan diri ke barisan. Memastikan sekali lagi jika semuanya sudah sesuai


dengan apa yang ia harapkan.


Mereka akan membentuk barisan panjang. Kemudian dipanggilkan


satu-persatu untuk naik ke atas pegasus. Para siswa diminta untuk membidik


sasaran dengan tepat. Memanah sambil terbang adalah tantangannya. Itu merupakan


poin pentingnya di sini.


Berbeda dengan cabang lomba lain yang berfokus pada


pertahanan internal, maka anak-anak panahan akan melakukan aksi nyata. Mereka


adalah orang yang memiliki peranan penting pada saat akademi mendapatkan


serangan mendadak. Dengan kemampuan yang telah dibekali sejak saat ini, di


harapkan para peserta lomba tidak hanya unggul dalam bidangnya saja. Tapi, juga


bisa memberikan dampak atau bahkan perubahan terhadap akademi mereka


masing-masing.


“Ini adalah evaluasi terakhir kita. Ku harap kita semua


melakukan yang terbaik,” uujar Jang Eunbi.


Suaranya terdengar cukup jelas di gendang telinga gadis ini.


Sebab, Nhea memang sudah berdiri di barisan sebelahnya sejak tadi. Ia hanya


menoleh sekilas ke arah Jang Eunbi tanpa berniat untuk membalas perkataannya


sama sekali. Menurutnya tidak ada yang perlu ditanggapi lebih lanjut di sini. Beberapa


detik kemudian, Nhea kembali mengalihkan pandangannya. Ia memfokuskan

__ADS_1


pandangannya kepada beberapa objek yang berjejer di depannya. Itu adalah papan


target yang harus mereka panah. Beberapa ada di bawah, selebihnya digantungkan


pada sisi-sisi bangunan.


Nhea dan Jang Eunbi jelas bukan dereatan orang pertama yang


akan maju lebih dulu untuk melaksanakan evaluasi terakhir. Sebab, mereka


sendiri tidak berada di barisan paling depan. Melainkan barisan nomer tiga


setelah barisan terakhir. Tidak ada alasan yang jelas kenapa mereka ingin


menempatkan dirinya di sana. Semua terjadi begitu saja. Nhea sendiri bahkan


tidak tahu kenapa hal tersebut sampai terjadi.


Bukan masalah yang serius. Berada di posisi paling awal juga


tidak terlalu bagus. Menurutnya, ini adalah posisi yang srategis. Keputusannya


sudah tepat. Nhea tidak pernah menyesal untuk berada di sini. Karena dengan


begitu ia bisa melihat beberapa orang yang maju lebih dulu. Hal tersebut berguna


untuk meminimamlisir kesalahan yang mungkin terjadi. Ia bisa belajar dari kesalahan


mereka secara tidak langsung.


“Baiklah, apa semua orang sudah berada di sini?” tanya


pelatih.


“Sudah Bu! Jawab seluruh siswa secara serentak.


“Lerry, suruh petugas penjaga kandang untuk melepaskan


pegasus dengan jumlah dua kali lebih banyak daripada biasanya!” titah wanita


itu.


Tanpa menunggu perintah lebih lanjut lagi, Lerry segera


pergi ke arah kandang para hewan untuk menemui petugas penjaga kandang yang


dimaksud tadi. Sepertinya semua orang tahu kenaapa hari ini wanita itu meminta


penjaga untuk melepaskan pegasus dalam jumlah yang jauh lebih besar.


Kali ini mereka akan melakukan evaluasi per individu. Bukan


dalam bentuk tim lagi. Jadi, demi mendukung proses evaluasi kali ini, maka


pegasus yang terlibat juga akan bertambah jumlahnya. Tidak perlu waktu lama


bagi mereka untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Petugas penjaga kandang


langsung melaksanakan perintah pelatih tersebut. Lerry keluar bersama puluhan


pegasus yang suah berjalan dengan teratur sebelumnya.


“Berapa pegasus yang dilepaskan?” tanya pelatih.


“Petugas penjaga kandang memberikan kita empat puluh pegasus


untuk dipakai berlatih Bu!” balas Lerry sekaligus menjelaskan secara singkat.


Sementara di sisi lain, wanita tersebut hanya bisa


mengangguk untuk mengiyakan perkataan Lerry.


Setelah selesai melaksanakan tugasnya, pria bernama Lerry


itu langsung kembali masuk ke barisan bersama dengan yang lainnya. Sementara


pelatih sibuk menghitung ulang pegasus yang ada, demi memastikan

__ADS_1


kelengkapannya, para siswa sibuk memperiapkan dirinya.


Tidak bisa dipungkiri jika evaluasi individu ini cukup


menegangkan. Bahkan Nhea sendiri saja sampai merasa gugup. Sesekali ia berdeham


pelan untuk menetralisir atmosfir sekitar. Mungkin rasa gugupnya tidak langsung


hilang, tapi setidaknya bisa berkurang. Ternyata mengalihkan perhatian ke


tempat lain cukup membantunya dalam meredakan rasa gugup.


“Barisan pertama akan maju lebih dulu!” sahut pelatih dari


depan.


“Silahkan!” lanjutnya.


Entah kenapa ia tampak terus berusaha untuk mengumpulkan


perhatian semua orang. Padahal dari awal dia sudah menjadi pihak yang paling


menyita atensi mereka di sini. Dia juga tahu persis soal hal itu.


Setelah barisan pertama maju, mereka akan melakukan


instruksi pelatih. Pertama-tama, mereka perlu memanah sasaran yang telah di sediakan.


Tantangan pada tahap ini masih tergolong mudah. Pelatih yakin jika mereka bisa


mengatasi rintangan pertama yang bukan apa-apa. Tapi, jangan salah sangka dulu.


Tantangannya tidak selamanya mudah. Semakin naik level, maka akan semakin


bertambah pula tingkat kesukarannya. Memang begitu prinsip permainan mereka


kali ini. Jadi, mereka tidak boleh menganggap remeh.


‘SYUT!’


‘SYUT!’


‘SYUT!’


Beberapa anak panah yang dilancarkan tampak mengenai sasaran


dengan tepat. Tidak ada yang meleset sama sekali. Mereka semua jelas-jelas sudah


cukup handal dalam menguasai permainan tersebut. Tidak ada seorang pun yang


merasa kesulitan.


Pelatih memang tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia hanya


mengangguk pelan sambil mengelus-elus dagunya. Meski begitu, tapi tampak jelas


jika ia puas dengan hasil latihan mereka selama ini. Tidak ada yang


mengecewakan sama sekali sejauh ini. Para siswa berhasil menyerap ilmunya


dengan baik.


“Lanjutkan ke permainan berikutnya!” sahut pelatih sekali


lagi.


Sesi panahan kali ini tidak berlangsung secara serentak


seperti biasanya. Jika yang sebelumnya dilakukan secara bersamaan, maka panahan


kali ini hanya seorang diri. Masih dengan barisan yang sama seperti sebelumnya.


Orang pertama akan naik ke atas pegasus. Kemudian mulai melesatkan anak panah


kepada setiap sasaran yang terletak secara terpisah. Mereka akan terus


melakukan hal yang sama secara bergantian. Terus begitu sampai ke peserta yang

__ADS_1


terakhir.


__ADS_2