
Banyak peserta yang sedang melakukan evaluasi rutin hari
ini. Gunanya untuk mengukur sejauh mana kamampuan mereka. Lebih tepatnya
seberapa besar peningkatan yang telah terjadi selama latihan ini berlangsung. Hal
yang satu ini cukup penting dan tidak bisa terlewatkan.
Hari ini mereka akan melaksanakan evaluasi terakhir. Tepat
beberapa hari menjelang hari perlombaan. Masih ada waktu yang terisa meski
tidak banyak. Setidaknya bisa digunakan untuk melakukan perbaikan
kecil-kecilan. Bibi Ga Eun yakin jika mereka pasti tidak akan keberatan jika
diminta untuk melakukan hal tersebut.
Sama seperti cabang lomba yang lain, hari ini anak-anak
peserta panahan juga akan mengadakan evaluasi terakhir. Saat ini mereka tengah
mempersiaplan dirinya di pinggir lapangan. Satu-persatu dari mereka akan maju
secara bergantian. Sehingga pelatihnya bisa menilai progres mereka secara lebih
akurat.
Nhea berjalan lebih dulu ke arah tumpukan barang untuk
mengambil seluruh peralatan latihannya. Seperti busur panah dan juga busur. ia
sudah terbiasa untuk melakukan semuanya sendiri. Bukan sesuatu yang mengejutkan
lagi. Bukan hal baru untuk diketahui.
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, gadis itu kembali
merapatkan diri ke barisan. Memastikan sekali lagi jika semuanya sudah sesuai
dengan apa yang ia harapkan.
Mereka akan membentuk barisan panjang. Kemudian dipanggilkan
satu-persatu untuk naik ke atas pegasus. Para siswa diminta untuk membidik
sasaran dengan tepat. Memanah sambil terbang adalah tantangannya. Itu merupakan
poin pentingnya di sini.
Berbeda dengan cabang lomba lain yang berfokus pada
pertahanan internal, maka anak-anak panahan akan melakukan aksi nyata. Mereka
adalah orang yang memiliki peranan penting pada saat akademi mendapatkan
serangan mendadak. Dengan kemampuan yang telah dibekali sejak saat ini, di
harapkan para peserta lomba tidak hanya unggul dalam bidangnya saja. Tapi, juga
bisa memberikan dampak atau bahkan perubahan terhadap akademi mereka
masing-masing.
“Ini adalah evaluasi terakhir kita. Ku harap kita semua
melakukan yang terbaik,” uujar Jang Eunbi.
Suaranya terdengar cukup jelas di gendang telinga gadis ini.
Sebab, Nhea memang sudah berdiri di barisan sebelahnya sejak tadi. Ia hanya
menoleh sekilas ke arah Jang Eunbi tanpa berniat untuk membalas perkataannya
sama sekali. Menurutnya tidak ada yang perlu ditanggapi lebih lanjut di sini. Beberapa
detik kemudian, Nhea kembali mengalihkan pandangannya. Ia memfokuskan
__ADS_1
pandangannya kepada beberapa objek yang berjejer di depannya. Itu adalah papan
target yang harus mereka panah. Beberapa ada di bawah, selebihnya digantungkan
pada sisi-sisi bangunan.
Nhea dan Jang Eunbi jelas bukan dereatan orang pertama yang
akan maju lebih dulu untuk melaksanakan evaluasi terakhir. Sebab, mereka
sendiri tidak berada di barisan paling depan. Melainkan barisan nomer tiga
setelah barisan terakhir. Tidak ada alasan yang jelas kenapa mereka ingin
menempatkan dirinya di sana. Semua terjadi begitu saja. Nhea sendiri bahkan
tidak tahu kenapa hal tersebut sampai terjadi.
Bukan masalah yang serius. Berada di posisi paling awal juga
tidak terlalu bagus. Menurutnya, ini adalah posisi yang srategis. Keputusannya
sudah tepat. Nhea tidak pernah menyesal untuk berada di sini. Karena dengan
begitu ia bisa melihat beberapa orang yang maju lebih dulu. Hal tersebut berguna
untuk meminimamlisir kesalahan yang mungkin terjadi. Ia bisa belajar dari kesalahan
mereka secara tidak langsung.
“Baiklah, apa semua orang sudah berada di sini?” tanya
pelatih.
“Sudah Bu! Jawab seluruh siswa secara serentak.
“Lerry, suruh petugas penjaga kandang untuk melepaskan
pegasus dengan jumlah dua kali lebih banyak daripada biasanya!” titah wanita
itu.
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut lagi, Lerry segera
pergi ke arah kandang para hewan untuk menemui petugas penjaga kandang yang
dimaksud tadi. Sepertinya semua orang tahu kenaapa hari ini wanita itu meminta
penjaga untuk melepaskan pegasus dalam jumlah yang jauh lebih besar.
Kali ini mereka akan melakukan evaluasi per individu. Bukan
dalam bentuk tim lagi. Jadi, demi mendukung proses evaluasi kali ini, maka
pegasus yang terlibat juga akan bertambah jumlahnya. Tidak perlu waktu lama
bagi mereka untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Petugas penjaga kandang
langsung melaksanakan perintah pelatih tersebut. Lerry keluar bersama puluhan
pegasus yang suah berjalan dengan teratur sebelumnya.
“Berapa pegasus yang dilepaskan?” tanya pelatih.
“Petugas penjaga kandang memberikan kita empat puluh pegasus
untuk dipakai berlatih Bu!” balas Lerry sekaligus menjelaskan secara singkat.
Sementara di sisi lain, wanita tersebut hanya bisa
mengangguk untuk mengiyakan perkataan Lerry.
Setelah selesai melaksanakan tugasnya, pria bernama Lerry
itu langsung kembali masuk ke barisan bersama dengan yang lainnya. Sementara
pelatih sibuk menghitung ulang pegasus yang ada, demi memastikan
__ADS_1
kelengkapannya, para siswa sibuk memperiapkan dirinya.
Tidak bisa dipungkiri jika evaluasi individu ini cukup
menegangkan. Bahkan Nhea sendiri saja sampai merasa gugup. Sesekali ia berdeham
pelan untuk menetralisir atmosfir sekitar. Mungkin rasa gugupnya tidak langsung
hilang, tapi setidaknya bisa berkurang. Ternyata mengalihkan perhatian ke
tempat lain cukup membantunya dalam meredakan rasa gugup.
“Barisan pertama akan maju lebih dulu!” sahut pelatih dari
depan.
“Silahkan!” lanjutnya.
Entah kenapa ia tampak terus berusaha untuk mengumpulkan
perhatian semua orang. Padahal dari awal dia sudah menjadi pihak yang paling
menyita atensi mereka di sini. Dia juga tahu persis soal hal itu.
Setelah barisan pertama maju, mereka akan melakukan
instruksi pelatih. Pertama-tama, mereka perlu memanah sasaran yang telah di sediakan.
Tantangan pada tahap ini masih tergolong mudah. Pelatih yakin jika mereka bisa
mengatasi rintangan pertama yang bukan apa-apa. Tapi, jangan salah sangka dulu.
Tantangannya tidak selamanya mudah. Semakin naik level, maka akan semakin
bertambah pula tingkat kesukarannya. Memang begitu prinsip permainan mereka
kali ini. Jadi, mereka tidak boleh menganggap remeh.
‘SYUT!’
‘SYUT!’
‘SYUT!’
Beberapa anak panah yang dilancarkan tampak mengenai sasaran
dengan tepat. Tidak ada yang meleset sama sekali. Mereka semua jelas-jelas sudah
cukup handal dalam menguasai permainan tersebut. Tidak ada seorang pun yang
merasa kesulitan.
Pelatih memang tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia hanya
mengangguk pelan sambil mengelus-elus dagunya. Meski begitu, tapi tampak jelas
jika ia puas dengan hasil latihan mereka selama ini. Tidak ada yang
mengecewakan sama sekali sejauh ini. Para siswa berhasil menyerap ilmunya
dengan baik.
“Lanjutkan ke permainan berikutnya!” sahut pelatih sekali
lagi.
Sesi panahan kali ini tidak berlangsung secara serentak
seperti biasanya. Jika yang sebelumnya dilakukan secara bersamaan, maka panahan
kali ini hanya seorang diri. Masih dengan barisan yang sama seperti sebelumnya.
Orang pertama akan naik ke atas pegasus. Kemudian mulai melesatkan anak panah
kepada setiap sasaran yang terletak secara terpisah. Mereka akan terus
melakukan hal yang sama secara bergantian. Terus begitu sampai ke peserta yang
__ADS_1
terakhir.