
Semua orang terkesiap. Mereka kini mulai waspada. Bahkan
bukan hanya para tetua yang sedang terjebak di atas bongkahan es saja. Tapi, Eun
Ji Hae dan yang lainnya juga melakukan hal serupa. Mereka harus lebih ekstra
berhati-hati pada situasi seperti ini. Tidak ada yang tahu apa masalahnya,
kenapa mendadak retakan tersebut kembali melebar. Seolah-olah ada sesuatu yang
sedang bergerak di bawahnya dan mengganggu kestabilan permukaan es.
Dan yang benar saja. Secara mengejutkan, tiba-tiba seekor naga
menunjukkan eksistensinya. Tampak dari kejauhan jika kepala naga menyembul
keluar dari dalam air, kemudian diikuti dengan tubuh panjangnya yang bersisik.
Tidak pernah ada yang tahu jika ternyata ada seekor naga yang berjaga di sini.
Bahkan mungkin lebih. Pasalnya, tidak ada satupun legenda yang menceritakan
sesuatu soal danau ini. Selama berabad-abad sejak kehidupan manusia dimulai,
hal tersebut berhassil dirahasiakan dan menjadi misteri. Tapi kini, ia telah
mengungkap jati dirinya sendiri.
Kemunculan naga dengan ukuran yang tak main-main itu sukses
membuat bulu kuduk mereka meremang. Refleks mereka melangkah mundur. Berusaha
untuk menjaga jarak dengan mahluk itu. Bibi Ga Eun dan yang lainnya tetap
tenang meski nasibnya tengah dipertaruhkan saat ini.
Retakan semakin melebar dan menjalar hingga kemana-mana. Air
yang berada di danau tampak berombak seolah tengah berada di tengah laut.
Gelombang tersebut mengakibatkan lapisan es yang tengah berada di sekitarnya
menjadi ikut terombang-ambing. Semua orang tengah berusaha sekuat tenaga untuk
menjaga keseimbangannya agar tidak tergelincir dari permukaan es yang licin
ini. Tidak ada yang tahu apa jadinya jika sampai ada yang jatuh ke dalam danau.
Kemungkinan besar, ia tak akan mampu bertahan lama karena suhu yang berada di
bawah rata-rata.
“Apa itu seekor naga?” tanya Hwang Ji Na tanpa mengalihkan
pandangannya dari sosok tersebut.
Chanwo sama sekali tidak berniat untuk menanggapi perkataan
gadis itu barusan. Dengan susah payah ia menelan salivanya sendiri. Untuk pertama
kalinya Chanwo melihat naga dengan mata kepalanya sendiri. Begitu pula dengan
Hwang Ji Na. Ternyata sosok mahluk mitologi itu benar nyata adanya. Bukan hanya
sekedar omong kosong belaka.
__ADS_1
Hwang Ji Na sama sekali tidak menyangka jika naga akan sebesar
dan semenakutkan ini. Ia sungguh tak habis pikir. Nyali gadis itu berhasil ciut
seketika. Begitu pula dengan Chanwo yang tampak merasakan hal serupa. Tinggal
di dalam hutan selama hampir seumur hidup, membuat mereka tidak mengetahui apa
pun soal dunia luar. Mereka terlalu mengisolasi diri.
‘PIWIT!!!’
Tanpa pikir panjang lagi, Eun Ji Hae segera bersiul dengan
lantang untuk memanggil para griffin dan juga pegasus. Mereka harus
menyelamatkan nyawa para tetua terlebih dahulu dengan membawanya ke tepian dan bergabung
bersama yang lainnya. Menghadapi mahluk itu adalah urusan belakangan. Mereka
bisa menyelesaikannya kapan saja asal bersama. Dengan begitu, semua orang bisa
menghimpun kekuatan dalam jumlah yang cukup besar untuk membiasakan mahluk
tersebut.
Beruntungnya para hewan cerdas itu tahu harus melakukan apa
di saat seperti ini. Semua orang seperti sedang terkoneksi satu sama lain.
Mereka tahu harus melakukan apa. Ini yang dinamakan dengan kerja sama.
Untuk mempermudah proses evakuasi yang dilakukan oleh para
griffin dari tengah perairan, Eun Ji Hae berusaha untuk mengalihkan perhatian
sang naga. Gadis itu berubah menjadi seekor phoenix dan melayang bebas di
Padahal belum tentu.
Kekuatan mereka berasal dari satu sumber yang sama, yaitu
unsur api. Akan sulit untuk menentukan siapa yang akan menang kali ini. Lagi
pula, Eun Ji Hae sama sekali tidak berniat untuk menyerangnya habis-habisan. Ia
hanya akan memainkan beberapa permainan yang bersifat manipulatif untuk
mengelabui lawan.
“Kita harus melakukan apa?” tanya Nhea.
Jang Eunbi hanya bisa menggeleng pasrah. Ia sendiri tidak
tahu harus berbuat apa. Bagaimana lagi dengan Nhea.
Gadis itu mulai tampak panik. Hal tersebut tergambar dengan
jelas melalui ekspresi wajahnya. Tak bisa dipungkiri jika memang keadaan saat
ini sungguh menegangkan. Di sisi lain, ia juga tengah dalam kondisi yang tidak
baik-baik saja. Nhea tak bisa berbuat banyak dalam situasi seperti ini. Ia tak
bisa terlalu diharapkan untuk mengatasi semuanya.
Di tengah keriuhan suasana yang terjadi. Hwang Ji Na
berhasil mendapatkan kembali ketenangannya. Meskipun yang lain tampak panik, ia
__ADS_1
tidak akan pernah membiarkan dirinya kalah oleh emosinya sendiri. Hwang Ji Na
tak pernah lepas kendali. Dia cukup handal dalam melakukan hal tersebut.
Hwang Ji Na tengah berusaha untuk memutar otak agar
mendapatkan solusi yang tepat. Tapi sayangnya hasilnya tetap saja nihil.
Otaknya tak bisa bekerja dengan baik, seolah tengah membeku. Meskipun bukan
salah satu bagian dari Mooneta, ia tetap harus membantu orang lain jika sedang
dalam kesulitan. Sama halnya ketika ia membantu Eun Ji Hae untuk pertama
kalinya.
“Sial!” umpat Hwang Ji Na sebal.
“Apa yang terjadi?” tanya Chanwo sembari mengerutkan
dahinya. Selain panik, ia juga tampak bingung.
“Lakukan sesuatu untuk membantu mereka!” perintah Hwang Ji
Na.
“Apakah seorang pemimpin hanya akan diam seperti
pecundang?!” sarkasnya.
Untuk beberapa detik pertama, Chanwo memang sempat
terpancing emosi. Bagaimana bisa Hwang Ji Na berkomentar kasar seperti itu
terhadap Chanwo. Ia mungkin bisa saja habis di tangan pria itu jika mamang
kelakuannya sudah kelewatan batas. Tapi, beberapa detik kemudian ia segera
tersadar. Apa yang dikatakan oleh Hwang Ji Na barusan ada benarnya juga. Ia
hanya akan tampak seperti seorang pengecut jika tetap diam seperti ini. Tentu
hal tersebut akan jauh lebih menodai harga dirinya sebagai seorang raja.
“Jika aku tahu harus melakukan sesuatu, maka aku akan
melakukannya!” seru Chanwo.
“Tapi, pikiranku benar-benar sudah buntu! Aku sudah tidak
bisa berpikir lebih jauh lagi kali ini!” ucapnya dengan penuh penekanan.
Hwang Ji Na hanya bisa berdecak sebal karena tidak mendapati
hal yang sesuai dengan keinginannya. Ia kira Chanwo akan memberikan solusi. Tapi
ternyata tidak sama sekali. Ia malah hanya akan mempersullit keadaan. Pria itu
sungguh tidak bisa dimanfaatkan pada saat genting seperti ini.
Kini semua orang telah berada di tempat yang aman dan
seharusnya. Tapi, tidak dengan Eun Ji Hae. Gadis itu masih berada di angkasa. Urusannya
dengan sang naga belum juga selesai. Berniat untuk mengalihkan perhatian, ia
malah menjadi sasaran empuk bagi sang naga untuk melampiaskan amarahnya. Hal tersebut
tidak bisa dihindari sama sekali. Ini termasuk kepada salah satu resiko tak
__ADS_1
terduga yang bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa pernah disadari atau diprediksi
sebelumnya.