
Untuk kali ini tim pemanah dari akademi sihir Mooneta akan
bertanding di sesi kedua. Lebih tepatnya setelah jam makan siang. Oliver dan
Jongdae akan bertaanding lebih dulu. Sementara mereka berlima harus saling
berpisah dulu. Sebab, disibukkan oleh timnya masing-masing. Mereka harus
melakukan koordinasi singkat dengan pelatih dan juga anggota tim secara
keseluruhan.
Nhea pribadi sudah bersiap sejadk tadi. Sebagian besar dari
mereka bahkan sudah menngunakan seragam serta perlengkapan yang lainnya. Termasuk
Nhea. Ia bahkan sedah menggunakan pelindung tangan pemberian Eun Ji Hae
beberapa hari lalu. Tidak peduli dengan apa yang barusaja terjadi di antara
mereka berdua. Nhea akan tetap mementingkan dirinya sendiri.
“Pertandingan kita baru akan dimulai tepat setelah Oliver
menyelesaikan permainannya,” ujar salah satu anggota tim.
“Lantas, kenapa kita sudah repot-repot sekarang?” tanyanya
kemudian.
“Hei! Apa kau mau kita kerepotan di menit-menit terakhir
menjelang usainya pertandingan Oliver?!” sarkas temannya yang lain sambil
menepuk pundak gadis itu pelan.
Diam-diam Nhea memperhatikan semua itu dari kejauhan. Ia
sama sekali tidak berniat untuk bergabung bersama mereka meski berada di tim
yang sama. Baginya semua orang bisa saja saling berteman, tapi tidak sembarang
orang bisa dijadikan sebagai sahabat.
Menurutnya, setiap orang pasti memiliki ketertarikan yang
berbeda-beda. Mereka yang saling cocok antara satu sama lain disebut satu
frekuensi. Besar potensinya bagi orang-orang seperti itu untuk saling menjalin
hubungan secara spiritual.
“Kau adalah seorang pemimpin yang sebenarnya.”
Untuk yang kesekian kalinya, kalimat tersebut kembali
terlintas di dalam pikirannya. Masih pada hari yang sama. Sepertinya ia tidak
bisa menyingkirkan memori tentang mimpi tersebut dengan mudah. Tidak peduli
sekeras apa pun ia mencobanya, hasilnya tetap sama saja. Nihil.
“Kenapa aku bisa berteman dekat dengan para pemimpin?”
gumamnya.
Nhea merasa jika semua itu memiliki hubungan dalam kasus
tersendiri. Baik secara sadar, atau bahkan tidak sama sekali.
Menurut pendapatnya sendiri beberapa saat yang lalu, hanya
mereka yang berada dalam frekuensi yang sama yang bisa menjalin hubungan
tertentu. Paling tidak harus ada satu hal yang sama di antara mereka. Apa
__ADS_1
jangan-jangan, mereka berlima menjadi akrab karena memang memiliki aura pemimpin?
Atau bahkan memang sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin?
Bayangkan saja betapa kerennya lingkaran pertemanan mereka.
Bukan sembarang orang yang ada di dalamnya. Coba perhatikan baik-baik. Nyaris
seluruh anggotanya merupakan seorang pemimpin. Paling tidak mereka pernah
bertanggung jawab atas orang lain. Jongdae dan Oliver merupakan ketua asrama.
Jang Eunbi sendiri adalah ketua asrama putri. Ia menjabat tepat sebelum Oliver
menggantikannya. Bahkan sekarang Jongdae juga menjadi ketua kelas. Di sisi
lain, Chanwo juga memiliki hak untuk memimpin yang tidak banyak orang tahu. Pria
itu telah diangkat menjadi raja kaum kegelapan sejak beberapa tahun lalu. Dan
Nhea sendiri adalah satu-satunya pewaris dari silsilah keluarga mereka. Anak
dari generasi pertama adalah yang paling berhak atas segalanya.
Sungguh mengesankan. Bagaimana bisa Nhea baru menyadari hal
itu sekarang? Sungguh sulit untuk dipercaya. Tapi, hal ini benar adanya. Entah
hanya Nhea seorang yang menyadari hal tersebut, atau malah ada yang lainnya
pula. Sepertinya ini sudah menjadi rahasia umum.
“Wah, sepertinya perkumpulan ini hanya untuk para pemimpin,”
gumam Nhea sambil membungkam mulutnya.
Tidak bisa dipungkiri jika ia juga merasa takjub. Baginya,
hal tersebut begitu mengesankan. Ia sama sekali tidak habis pikir. Bagaimana bisa
orang seperti dirinya berada di tengah-tengah para pemimpin. Meski telah
merasa jika dirinya memiliki aura pemimpin sedikit pun.
Rasanya tidak pantas jika Nhea berada di sana. Ia bahkan
tidak memiliki satu hal pun yang bisa dipamerkan. Tidak ada yang bisa
dibanggakan dari dirinya.
“Nhea!” sahut Jang Eunbi dari kejauhan.
Sontak perhatiannya langsung teralihkan. Kedua bola matanya
tertuju ke arah sumber suara. Ia mendapati Jang Eunbi yang sedang berdiri di
ambang pintu keluar sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah gadis itu.
Menyadari jika dirinya telah berhasil menyita perhatian Nhea
seutuhnya, gadis itu buru-buru memanggil Nhea untuk segera menyusul kemari.
Sepertinya ada beberapa hal penting yang perlu mereka bicarakan di sana. Tanpa
pikir panjang lagi, Nhea segera bangkit dari tempat duduknya untuk segera
menghampiri Jang Eunbi. Ia tidak ingin membuat gadis itu menunggu dirinya
terlalu lama.
“Ada apa?” tanya Nhea sesaat setelah sampai di hadapan gadis
itu.
“Ayo, ikut denganku!” ajaknya.
__ADS_1
“Kemana?” tanya Nhea.
Gadis itu masih mempertahankan posisinya. Ia bahkan tidak ingin
bergerak dari sana sama sekali. Tidak sebelum Jang Eunbi menjawab pertanyaannya
yang barusan. Akan jauh lebih baik lagi jika ia menjelaskan seluruh tujuannya.
Bukannya menjawab pertanyaan Nhea yang barusan, gadis itu
malah melepaskan genggaman tangannya dari Nhea. Kemudian ia menghela napas
dengan kasar.
“Bagaimana bisa kau melupakan hal penting yang satu itu?!”
celetuk Jang Eunbi dengan nada bicara yang sedikit lebih tinggi dari pada
biasanya.
Bisa dipastikan jika gadis itu sedang terpancing emosi.
Mengatur pola pernapasan dengan sedemikian rupa adalah satu-satunya jalan untuk
meningkatkan level kesabaran di dalam dirinya. Mengingat mereka harus pandai-pandai
dalam mengatur emosinya. Tidak boleh sampai berlebihan. Karena sebentar lagi
pertandingan untuk tim mereka akan segera digelar.
“Dasar bodoh!” sarkas Jang Eunbi sambil menoyor kepala Nhea.
Tapi, sepertinya ia sama sekali tidak keberatan. Meski pada
dasarnya Nhea pantas untuk disebut sebagai korban.
“Kita harus pergi ke arena sekarang!” tegas gadis itu sekali
lagi.
“Apa pertandingan untuk tim kita akan segera dimulai?” tanya
Nhea dengan polosnya.
Tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan tersebut, Jang Eunbi
segera menarik tangan gadis itu untuk ikut bersamanya. Untung saja sekarang
mereka sudah berteman lagi. Jadi, Jang Eunbi tidak perlu merasa canggung
terhadap gadis itu. Berbeda dengan yang kemarin. Jika sekarang situasinya masih
sama seperti beberapa hari yang lalu, mungkin akibatnya akan menjadi semakin
parah. Jang Eunbi bukan tipikal orang yang seperti itu. Ia tidak ingin
memperburuk suasana hanya dengan mencari masalah baru.
Nhea hanya bisa menurut saja saat dibawa Jang Eunbi ke dekat
pintu masuk menuju arena. Ternyata perkataan gadis itu sebelumnya benar.
Saluruh anggota tim sudah berbaris di sana. Bukan hanya itu saja. Nhea bahkan
berpapasan dengan Oliver. Sepertinya mereka memang baru saja selesai
bertanding.
“Kenapa waktu begitu cepat berlalu?” gerutunya pelan.
Sekarang ia sudah harus
bertanding. Ini adalah babak penentuan. Satu kesalahan kecil saja bisa
mengacaukan semuanya. Oleh sebab itu, mereka harus berhati-hati. Eun Ji Hae
__ADS_1
mungkin tidak akan bisa mentoleransi kesalahan dalam bentuk apa pun. Yang
mereka inginkan hanyalah permainan sempurna.