Mooneta High School

Mooneta High School
Leader Circle


__ADS_3

Untuk kali ini tim pemanah dari akademi sihir Mooneta akan


bertanding di sesi kedua. Lebih tepatnya setelah jam makan siang. Oliver dan


Jongdae akan bertaanding lebih dulu. Sementara mereka berlima harus saling


berpisah dulu. Sebab, disibukkan oleh timnya masing-masing. Mereka harus


melakukan koordinasi singkat dengan pelatih dan juga anggota tim secara


keseluruhan.


Nhea pribadi sudah bersiap sejadk tadi. Sebagian besar dari


mereka bahkan sudah menngunakan seragam serta perlengkapan yang lainnya. Termasuk


Nhea. Ia bahkan sedah menggunakan pelindung tangan pemberian Eun Ji Hae


beberapa hari lalu. Tidak peduli dengan apa yang barusaja terjadi di antara


mereka berdua. Nhea akan tetap mementingkan dirinya sendiri.


“Pertandingan kita baru akan dimulai tepat setelah Oliver


menyelesaikan permainannya,” ujar salah satu anggota tim.


“Lantas, kenapa kita sudah repot-repot sekarang?” tanyanya


kemudian.


“Hei! Apa kau mau kita kerepotan di menit-menit terakhir


menjelang usainya pertandingan Oliver?!” sarkas temannya yang lain sambil


menepuk pundak gadis itu pelan.


Diam-diam Nhea memperhatikan semua itu dari kejauhan. Ia


sama sekali tidak berniat untuk bergabung bersama mereka meski berada di tim


yang sama. Baginya semua orang bisa saja saling berteman, tapi tidak sembarang


orang bisa dijadikan sebagai sahabat.


Menurutnya, setiap orang pasti memiliki ketertarikan yang


berbeda-beda. Mereka yang saling cocok antara satu sama lain disebut satu


frekuensi. Besar potensinya bagi orang-orang seperti itu untuk saling menjalin


hubungan secara spiritual.


“Kau adalah seorang pemimpin yang sebenarnya.”


Untuk yang kesekian kalinya, kalimat tersebut kembali


terlintas di dalam pikirannya. Masih pada hari yang sama. Sepertinya ia tidak


bisa menyingkirkan memori tentang mimpi tersebut dengan mudah. Tidak peduli


sekeras apa pun ia mencobanya, hasilnya tetap sama saja. Nihil.


“Kenapa aku bisa berteman dekat dengan para pemimpin?”


gumamnya.


Nhea merasa jika semua itu memiliki hubungan dalam kasus


tersendiri. Baik secara sadar, atau bahkan tidak sama sekali.


Menurut pendapatnya sendiri beberapa saat yang lalu, hanya


mereka yang berada dalam frekuensi yang sama yang bisa menjalin hubungan


tertentu. Paling tidak harus ada satu hal yang sama di antara mereka. Apa

__ADS_1


jangan-jangan, mereka berlima menjadi akrab karena memang memiliki aura pemimpin?


Atau bahkan memang sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin?


Bayangkan saja betapa kerennya lingkaran pertemanan mereka.


Bukan sembarang orang yang ada di dalamnya. Coba perhatikan baik-baik. Nyaris


seluruh anggotanya merupakan seorang pemimpin. Paling tidak mereka pernah


bertanggung jawab atas orang lain. Jongdae dan Oliver merupakan ketua asrama.


Jang Eunbi sendiri adalah ketua asrama putri. Ia menjabat tepat sebelum Oliver


menggantikannya. Bahkan sekarang Jongdae juga menjadi ketua kelas. Di sisi


lain, Chanwo juga memiliki hak untuk memimpin yang tidak banyak orang tahu. Pria


itu telah diangkat menjadi raja kaum kegelapan sejak beberapa tahun lalu. Dan


Nhea sendiri adalah satu-satunya pewaris dari silsilah keluarga mereka. Anak


dari generasi pertama adalah yang paling berhak atas segalanya.


Sungguh mengesankan. Bagaimana bisa Nhea baru menyadari hal


itu sekarang? Sungguh sulit untuk dipercaya. Tapi, hal ini benar adanya. Entah


hanya Nhea seorang yang menyadari hal tersebut, atau malah ada yang lainnya


pula. Sepertinya ini sudah menjadi rahasia umum.


“Wah, sepertinya perkumpulan ini hanya untuk para pemimpin,”


gumam Nhea sambil membungkam mulutnya.


Tidak bisa dipungkiri jika ia juga merasa takjub. Baginya,


hal tersebut begitu mengesankan. Ia sama sekali tidak habis pikir. Bagaimana bisa


orang seperti dirinya berada di tengah-tengah para pemimpin. Meski telah


merasa jika dirinya memiliki aura pemimpin sedikit pun.


Rasanya tidak pantas jika Nhea berada di sana. Ia bahkan


tidak memiliki satu hal pun yang bisa dipamerkan. Tidak ada yang bisa


dibanggakan dari dirinya.


“Nhea!” sahut Jang Eunbi dari kejauhan.


Sontak perhatiannya langsung teralihkan. Kedua bola matanya


tertuju ke arah sumber suara. Ia mendapati Jang Eunbi yang sedang berdiri di


ambang pintu keluar sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah gadis itu.


Menyadari jika dirinya telah berhasil menyita perhatian Nhea


seutuhnya, gadis itu buru-buru memanggil Nhea untuk segera menyusul kemari.


Sepertinya ada beberapa hal penting yang perlu mereka bicarakan di sana. Tanpa


pikir panjang lagi, Nhea segera bangkit dari tempat duduknya untuk segera


menghampiri Jang Eunbi. Ia tidak ingin membuat gadis itu menunggu dirinya


terlalu lama.


“Ada apa?” tanya Nhea sesaat setelah sampai di hadapan gadis


itu.


“Ayo, ikut denganku!” ajaknya.

__ADS_1


“Kemana?” tanya Nhea.


Gadis itu masih mempertahankan posisinya. Ia bahkan tidak ingin


bergerak dari sana sama sekali. Tidak sebelum Jang Eunbi menjawab pertanyaannya


yang barusan. Akan jauh lebih baik lagi jika ia menjelaskan seluruh tujuannya.


Bukannya menjawab pertanyaan Nhea yang barusan, gadis itu


malah melepaskan genggaman tangannya dari Nhea. Kemudian ia menghela napas


dengan kasar.


“Bagaimana bisa kau melupakan hal penting yang satu itu?!”


celetuk Jang Eunbi dengan nada bicara yang sedikit lebih tinggi dari pada


biasanya.


Bisa dipastikan jika gadis itu sedang terpancing emosi.


Mengatur pola pernapasan dengan sedemikian rupa adalah satu-satunya jalan untuk


meningkatkan level kesabaran di dalam dirinya. Mengingat mereka harus pandai-pandai


dalam mengatur emosinya. Tidak boleh sampai berlebihan. Karena sebentar lagi


pertandingan untuk tim mereka akan segera digelar.


“Dasar bodoh!” sarkas Jang Eunbi sambil menoyor kepala Nhea.


Tapi, sepertinya ia sama sekali tidak keberatan. Meski pada


dasarnya Nhea pantas untuk disebut sebagai korban.


“Kita harus pergi ke arena sekarang!” tegas gadis itu sekali


lagi.


“Apa pertandingan untuk tim kita akan segera dimulai?” tanya


Nhea dengan polosnya.


Tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan tersebut, Jang Eunbi


segera menarik tangan gadis itu untuk ikut bersamanya. Untung saja sekarang


mereka sudah berteman lagi. Jadi, Jang Eunbi tidak perlu merasa canggung


terhadap gadis itu. Berbeda dengan yang kemarin. Jika sekarang situasinya masih


sama seperti beberapa hari yang lalu, mungkin akibatnya akan menjadi semakin


parah. Jang Eunbi bukan tipikal orang yang seperti itu. Ia tidak ingin


memperburuk suasana hanya dengan mencari masalah baru.


Nhea hanya bisa menurut saja saat dibawa Jang Eunbi ke dekat


pintu masuk menuju arena. Ternyata perkataan gadis itu sebelumnya benar.


Saluruh anggota tim sudah berbaris di sana. Bukan hanya itu saja. Nhea bahkan


berpapasan dengan Oliver. Sepertinya mereka memang baru saja selesai


bertanding.


“Kenapa waktu begitu cepat berlalu?” gerutunya pelan.


Sekarang ia sudah harus


bertanding. Ini adalah babak penentuan. Satu kesalahan kecil saja bisa


mengacaukan semuanya. Oleh sebab itu, mereka harus berhati-hati. Eun Ji Hae

__ADS_1


mungkin tidak akan bisa mentoleransi kesalahan dalam bentuk apa pun. Yang


mereka inginkan hanyalah permainan sempurna.


__ADS_2