Mooneta High School

Mooneta High School
Unbelieve


__ADS_3

 


 


Eun Ji Hae langsung bergegas untuk naik ke lantai tiga. Tempat


itu adalah tujuan terakhirnya. Jika Nhea tidak ada di sana juga, maka ia tidak


tahu harus berbuat apa lagi. lantai tiga merupakan satu-satunya harapan bagi


Eun Ji Hae. Dia harus bergerak dengan cepat. Selisih waktunya semakin sedikit. Tidak


sampai setengah jam lagi. Ia harus menemukan Nhea dengan segera.


Kalau sampai Eun Ji Hae keluar lebih dulu tanpa gadis itu,


maka dirinya lah yang akan disalahkan oleh semua orang. Bukan Nhea. Meskipun


sebenarnya gadis itu yang membuat ulah lebih dulu. Orang-orang hanya akan


melihat apa yang ingin mereka lihat. Selebihnya akan diacuhkan begitu saja. Tidak


peduli mau itu kebenaran atau bukan. Itu adalah sikap manusia yang paling


menjijikkan baginya. Dengan berkomentar seperti itu, bukan berarti Eun Ji Hae


sendiri tidak pernah melakukannya. Ia juga hanya manusia biasa sebelumnya. Hal


seperti itu sama sekali tidak bisa dihindari dalam kehidupan. Hidup artinya,


kita siap menerima segala hal yang akan datang. Baik itu berupa hal buruk


maupun sebaliknya.


“Dimana anak itu?” gerutu Eun Ji Hae yang mulai tampak


kesal. Kesabarannya hampir habis karena Nhea. Ia harus bertanggung jawab nanti


begitu bertemu dengan Eun Ji Hae.


Gadis itu sudah mengeluh sejak tadi karena tidak berhasil


menemukan Nhea juga. Sampai pada akhirnya, ia melihat seseorang yang baru saja


keluar dari kamar Vallery dan Wilson. Siapa lagi memangnya jika bukan Nhea. Eun


Ji Hae segera menghampiri gadis itu. Langkahnya dipercepat menjadi berkali-kali


lipat.


“Dari mana saja kau! Kenapa lama sekali!” cerca Eun Ji Hae. Ia


sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tetap bersabar lebih lama lagi.


Mendengar perkataan Eun Ji Hae barusan membuat gadis itu


berbalik badan dan mengalihkan pandangannya ke arah kakak angkatnya itu.


Tidak ada salahnya jika ia berkomentar seperti tadi. Lagi pula


Nhea tidak akan sakit hati hanya karena perkataan gadis itu. Dia bukan tipikal


orang yang akan mempersulit suatu masalah. Jika ada cara yang sederhana, kenapa


harus menyelesaikannya dengan cara yang jauh lebih sulit.


“Aku baru saja akan kembali ke aula setelah ini,” ungkap


Nhea.


Sepertinya gadis itu terlalu polos. Ia sama sekali tidak


tahu apa yang sedang terjadi di sini.

__ADS_1


“Kau sungguh lambat!” sarkas Eun Ji Hae.


“Semua orang telah keluar dari sini. Hanya tersisa kita


berdua,” lanjutnya.


Kini Nhea paham betul kenapa ekspresi seorang gadis yang


berada di hadapannya saat ini terlihat sangat tidak bersahabat meski ia


berusaha untuk tetap terlihat ramah.


“Ayo kita pergi dari sini!” ajak Eun Ji Hae sembari menarik


tangan gadis itu.


Nhea mengangguk untuk mengiyakan perkataannya.


Eun Ji Hae terpaksa harus memastikan jika Nhea selalu


bersamanya. Gadis itu bisa tertinggal lagi jika ia bergerak dengan sangat


lambat seperti ini. Waktu tidak akan menunggu mereka. Ia akan meninggalkan


siapa saja dibelakangnya. Karena waktu akan tetap berjalan meski kau tak


melakukan apa-apa.


Mereka berdua segera menuju ke salah satu jendela terdekat


dari tempat mereka berdiri saat ini. Pasalnya, tidak ada jalan keluar lain yang


bisa mereka akses untuk sekarang. Akan terlalu jauh serta memakan banyak waktu


jika mereka pergi kembali ke aula. Perjalanannya saja sudah menghabiskan  waktu sekitar lebih dari sepuluh menit. Dalam situasi


yang serba sulit


Eun Ji Hae bersiul dengan melengking untuk memanggil para


itu. Tidak perlu menunggu lama sampai mereka tiba. Para pegasus terkenal dengan


ketangkasan dan kecepatannya.


“Hati-hati! Jangan sampai jatuh,” ujar Eun Ji Hae.


Bisa-bisa seluruh tulang mereka patah jika sampai terjatuh


dari ketinggian seperti ini. Meskipun di bawah ada tumpukan salju, tapi tetap


saja. jatuh dari ketinggian bukan sesuatu yang menyenangkan.


Belum sempat mereka menyelesaikan perjalanannya, tiba-tiba


saja salju sudah turun kembali. Padahal sekarang belum tepat tengah malam. Tapi


yang anehnya, baik Eun Ji Hae maupun Nhea sama sekali tidak merasakan ada


reaksi yang aneh terjadi pada tubuh mereka. Awalnya kedua gadis itu sempat


panik, karena mereka pikir akan membeku saat itu juga. Tapi ternyata tidak sama


sekali.


“Apa yang terjadi di sini?” tanya Eun Ji Hae.


Bukan hanya gadis itu saja satu-satunya orang yang merasa


kebingungan di sini. Tapi Nhea juga merasakan hal yang sama. Tunggu. Bukan hanya


sebatas mereka berdua saja. Melainkan semua orang yang berada di sana dan


menyaksikan kejadian langka tersebut dengan mata kepala mereka sendiri ikut

__ADS_1


merasa terkejut.


Otak mereka menolak untuk pecaya dengan apa yang baru saja


dilihatnya. Memang sulit dipercaya karena tidak ada satu hal pun yang terasa


masuk akal di sini. Tapi itu adalah fakta yang harus mereka terima. Tidak ada


sihir atau tipuan mata lainnya. Semua murni terjadi tanpa ada campur tangan


manusia.


“Apa-apaan ini?” gumam Bibi Ga Eun.


Wanita yang satu itu tampaknya tidak jauh berbeda dengan


yang lain.


“Cepat turun!” sahut Wilson dari bawah.


Eun Ji Hae mengangguk untuk mengiyakan perkataan ayahnya. Meskipun


tidak ada reaksi yang aneh, tetap saja mereka tidak boleh berlama-lama di bawah


salju seperti itu. Bisa saja reaksinya tidak langsung muncul. Melainkan akan


meuncul beberapa saat kemudian.


Apa pun ceritanya, salju abadi tetap saja harus dihindari


oleh siapa pun. Sebab bukan salju biasa. Ia terlalu berbahaya untuk mahluk


hidup. Terutama manusia.


“Apa kalian berdua tidak apa-apa?” tanya Wilson yang merasa


cemas.


Kemudian ia segera memeluk anak-anaknya teresebut. Ia tidak


bisa berkata-kata lebih banyak lagi. Jantung pria itu hampir copt rasanya


ketika melihat anak-anaknya berada di dalam bahaya. Tepat di depan mata


kepalanya. Ia menyaksikan semua itu sendiri. Dan yang lebih parahnya lagi,


Wilson tidak bisa berbuat apa-apa meski ia mau. Tapi untungnya Nhea dan Eun Ji


Hae baik-baik saja. Tidak ada hal buruk yang menimpa mereka malam ini, meski


bahaya sudah di depan mata.


Di sisi lain, banyak orang yang bertanya-tanya kenapa kedua


gadis itu bisa lolos dari kutukan salju abadi. Sungguh tidak bisa dijelaskan


sama sekali oleh akal sehat mereka. Beberapa orang mencoba untuk menebak-nebak


kemungkinan yang ada.


“Kenapa mereka bisa selamat?” tanya Hwang Ji Na kepada


Chanwo.


Saat ini mereka tengah berada di barisan paling belakang. Tidak


akan ada orang yang menguping pembicaraan mereka.


“Kau tau kalau salju abadi tidak akan memiliki reaksi yang


separah itu terhadap mahluk hidup lain selain manusia,” jelas Chanwo dengan


panjang lebar.

__ADS_1


“Maksudmu, mereka berdua bukan manusia?” tanya Hwang Ji Na.


__ADS_2