
Eun Ji Hae langsung bergegas untuk naik ke lantai tiga. Tempat
itu adalah tujuan terakhirnya. Jika Nhea tidak ada di sana juga, maka ia tidak
tahu harus berbuat apa lagi. lantai tiga merupakan satu-satunya harapan bagi
Eun Ji Hae. Dia harus bergerak dengan cepat. Selisih waktunya semakin sedikit. Tidak
sampai setengah jam lagi. Ia harus menemukan Nhea dengan segera.
Kalau sampai Eun Ji Hae keluar lebih dulu tanpa gadis itu,
maka dirinya lah yang akan disalahkan oleh semua orang. Bukan Nhea. Meskipun
sebenarnya gadis itu yang membuat ulah lebih dulu. Orang-orang hanya akan
melihat apa yang ingin mereka lihat. Selebihnya akan diacuhkan begitu saja. Tidak
peduli mau itu kebenaran atau bukan. Itu adalah sikap manusia yang paling
menjijikkan baginya. Dengan berkomentar seperti itu, bukan berarti Eun Ji Hae
sendiri tidak pernah melakukannya. Ia juga hanya manusia biasa sebelumnya. Hal
seperti itu sama sekali tidak bisa dihindari dalam kehidupan. Hidup artinya,
kita siap menerima segala hal yang akan datang. Baik itu berupa hal buruk
maupun sebaliknya.
“Dimana anak itu?” gerutu Eun Ji Hae yang mulai tampak
kesal. Kesabarannya hampir habis karena Nhea. Ia harus bertanggung jawab nanti
begitu bertemu dengan Eun Ji Hae.
Gadis itu sudah mengeluh sejak tadi karena tidak berhasil
menemukan Nhea juga. Sampai pada akhirnya, ia melihat seseorang yang baru saja
keluar dari kamar Vallery dan Wilson. Siapa lagi memangnya jika bukan Nhea. Eun
Ji Hae segera menghampiri gadis itu. Langkahnya dipercepat menjadi berkali-kali
lipat.
“Dari mana saja kau! Kenapa lama sekali!” cerca Eun Ji Hae. Ia
sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tetap bersabar lebih lama lagi.
Mendengar perkataan Eun Ji Hae barusan membuat gadis itu
berbalik badan dan mengalihkan pandangannya ke arah kakak angkatnya itu.
Tidak ada salahnya jika ia berkomentar seperti tadi. Lagi pula
Nhea tidak akan sakit hati hanya karena perkataan gadis itu. Dia bukan tipikal
orang yang akan mempersulit suatu masalah. Jika ada cara yang sederhana, kenapa
harus menyelesaikannya dengan cara yang jauh lebih sulit.
“Aku baru saja akan kembali ke aula setelah ini,” ungkap
Nhea.
Sepertinya gadis itu terlalu polos. Ia sama sekali tidak
tahu apa yang sedang terjadi di sini.
__ADS_1
“Kau sungguh lambat!” sarkas Eun Ji Hae.
“Semua orang telah keluar dari sini. Hanya tersisa kita
berdua,” lanjutnya.
Kini Nhea paham betul kenapa ekspresi seorang gadis yang
berada di hadapannya saat ini terlihat sangat tidak bersahabat meski ia
berusaha untuk tetap terlihat ramah.
“Ayo kita pergi dari sini!” ajak Eun Ji Hae sembari menarik
tangan gadis itu.
Nhea mengangguk untuk mengiyakan perkataannya.
Eun Ji Hae terpaksa harus memastikan jika Nhea selalu
bersamanya. Gadis itu bisa tertinggal lagi jika ia bergerak dengan sangat
lambat seperti ini. Waktu tidak akan menunggu mereka. Ia akan meninggalkan
siapa saja dibelakangnya. Karena waktu akan tetap berjalan meski kau tak
melakukan apa-apa.
Mereka berdua segera menuju ke salah satu jendela terdekat
dari tempat mereka berdiri saat ini. Pasalnya, tidak ada jalan keluar lain yang
bisa mereka akses untuk sekarang. Akan terlalu jauh serta memakan banyak waktu
jika mereka pergi kembali ke aula. Perjalanannya saja sudah menghabiskan waktu sekitar lebih dari sepuluh menit. Dalam situasi
yang serba sulit
Eun Ji Hae bersiul dengan melengking untuk memanggil para
itu. Tidak perlu menunggu lama sampai mereka tiba. Para pegasus terkenal dengan
ketangkasan dan kecepatannya.
“Hati-hati! Jangan sampai jatuh,” ujar Eun Ji Hae.
Bisa-bisa seluruh tulang mereka patah jika sampai terjatuh
dari ketinggian seperti ini. Meskipun di bawah ada tumpukan salju, tapi tetap
saja. jatuh dari ketinggian bukan sesuatu yang menyenangkan.
Belum sempat mereka menyelesaikan perjalanannya, tiba-tiba
saja salju sudah turun kembali. Padahal sekarang belum tepat tengah malam. Tapi
yang anehnya, baik Eun Ji Hae maupun Nhea sama sekali tidak merasakan ada
reaksi yang aneh terjadi pada tubuh mereka. Awalnya kedua gadis itu sempat
panik, karena mereka pikir akan membeku saat itu juga. Tapi ternyata tidak sama
sekali.
“Apa yang terjadi di sini?” tanya Eun Ji Hae.
Bukan hanya gadis itu saja satu-satunya orang yang merasa
kebingungan di sini. Tapi Nhea juga merasakan hal yang sama. Tunggu. Bukan hanya
sebatas mereka berdua saja. Melainkan semua orang yang berada di sana dan
menyaksikan kejadian langka tersebut dengan mata kepala mereka sendiri ikut
__ADS_1
merasa terkejut.
Otak mereka menolak untuk pecaya dengan apa yang baru saja
dilihatnya. Memang sulit dipercaya karena tidak ada satu hal pun yang terasa
masuk akal di sini. Tapi itu adalah fakta yang harus mereka terima. Tidak ada
sihir atau tipuan mata lainnya. Semua murni terjadi tanpa ada campur tangan
manusia.
“Apa-apaan ini?” gumam Bibi Ga Eun.
Wanita yang satu itu tampaknya tidak jauh berbeda dengan
yang lain.
“Cepat turun!” sahut Wilson dari bawah.
Eun Ji Hae mengangguk untuk mengiyakan perkataan ayahnya. Meskipun
tidak ada reaksi yang aneh, tetap saja mereka tidak boleh berlama-lama di bawah
salju seperti itu. Bisa saja reaksinya tidak langsung muncul. Melainkan akan
meuncul beberapa saat kemudian.
Apa pun ceritanya, salju abadi tetap saja harus dihindari
oleh siapa pun. Sebab bukan salju biasa. Ia terlalu berbahaya untuk mahluk
hidup. Terutama manusia.
“Apa kalian berdua tidak apa-apa?” tanya Wilson yang merasa
cemas.
Kemudian ia segera memeluk anak-anaknya teresebut. Ia tidak
bisa berkata-kata lebih banyak lagi. Jantung pria itu hampir copt rasanya
ketika melihat anak-anaknya berada di dalam bahaya. Tepat di depan mata
kepalanya. Ia menyaksikan semua itu sendiri. Dan yang lebih parahnya lagi,
Wilson tidak bisa berbuat apa-apa meski ia mau. Tapi untungnya Nhea dan Eun Ji
Hae baik-baik saja. Tidak ada hal buruk yang menimpa mereka malam ini, meski
bahaya sudah di depan mata.
Di sisi lain, banyak orang yang bertanya-tanya kenapa kedua
gadis itu bisa lolos dari kutukan salju abadi. Sungguh tidak bisa dijelaskan
sama sekali oleh akal sehat mereka. Beberapa orang mencoba untuk menebak-nebak
kemungkinan yang ada.
“Kenapa mereka bisa selamat?” tanya Hwang Ji Na kepada
Chanwo.
Saat ini mereka tengah berada di barisan paling belakang. Tidak
akan ada orang yang menguping pembicaraan mereka.
“Kau tau kalau salju abadi tidak akan memiliki reaksi yang
separah itu terhadap mahluk hidup lain selain manusia,” jelas Chanwo dengan
panjang lebar.
__ADS_1
“Maksudmu, mereka berdua bukan manusia?” tanya Hwang Ji Na.