
Nhea bukan tipikal orang yang pendendam. Jadi, kali ini ia tidak akan melakukan balas dendam kepada Oliver, Jongdae dan juga Jang Eunbi. Padahal jika dipikir-pikir, mereka berhak untuk menerima hukuman dari Eun Ji Hae karena telah berani membicarakan dirinya secara diam-diam di belakang. Terlepas dari siapa pun yang pertama kali menyebarkan rumor tersebut.
Untuk yang kesekian kalinya, Eun Ji Hae kembali menghela napas. Menyisakan embun tebal di sekitar nya. Gadis itu kembali memperbaiki posisi duduknya. Kali ini dia menghadap ke Nhea. Sorot matanya berubah tajam. Rahangnya ikut mengeras. Seolah ia tengah menahan amarah yang luar biasa di dalam dirinya dan bisa meledak kapan saja. hal itu bisa dilihat dari pembuluh darahnya yang tampak menonjol beberapa.
Nhea sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. dengan suah payah ia meneguk salivanya sendiri. Nhea tidak tahu apakah Eun Ji Hae memang memiliki bentuk wajah yang tegas seperti ini, atau tidak. Mungkin dia memang hanya ingin tampak lebih serius saja. Makanya ekspresinya ikut berubah.
“Bagaimana kakak tahu soal rumor tersebut?” tanya Nhea dengan hati-hati.
“Kau tidak perlu tahu,” ungkapnya.
Kali ini nada bicara Eun Ji Hae terdenga lebih santai daripada sebelumnya. Biasanya ia selalu terlihat ketus di hadapan orang lain. Termasuk pada anggota keluarga yang sudah memaklumi sikapnya yang satu itu.
Mendapati jawaban yang seperti itu, lantas mengurungkan niat Nhea untuk bertanya lebih jauh lagi soal rumor tersebut. Aneh saja rasanya. Bagaimana bisa sampai Eun Ji Hae tahu. Pasti ada seseorang yang memberitahunya secara diam-diam. Dia membocorkan rahasia anak-anak akademi sihir itu kepada Eun Ji Hae.
Pasalnya, mereka hanya membicarakannya saat berada di ruang kelas atau kamar asrama. Sungguh hanya kedua tempat itu saja. Mereka tidak pernah membicarakannya di tempat lain. Apa lagi pada saat jamuan makan. Tentu tidak mungkin. Mereka bahkan sangat jarang berbicara di sana. Kalau bisa tidak usah berbicara sedikit pun.
Semua orang begitu menghormati anggota keluarga. Termasuk Nhea. Mana berani mereka membicarakan Eun Ji Hae secara terang-terangan di hadapan semua orang. Apalagi tepat di depan orangnya langsung. Bisa habis mereka dibuat Eun Ji Hae.
Lantas, dari mana Eun Ji Hae tahu soal rumor tersebut jika tidak ada yang memberi tahu kepadanya. Gadis itu terbilang cukup jarang singgah ke gedung sekolah. Jadi, tidak mungkin jika ia mendengar gosip itu secara langsung.
“Tapi, tadi dia bertemu denganmu di ujung koridor gedung sekolah. Bisa saja ia telah mendengar percakapan siswa lain yang tengah membicarakan soal dirinya pada saat itu.”
“Jika benar begitu, seharusnya ia menarik anak itu bersamanya. Kenapa harus dirimu?”
__ADS_1
Dua tim di dalam kepala Nhea seolah sedang memperdebatkan sesuatu. Salah satu dari mereka berusaha untuk membuktikan sesuatu dengan penjelasannya sendiri. Namun, di sisi lain malah menepis semua pernyataan tersebut. Jujur, semakin ke sini Nhea semakin pusing rasanya. Bukan karena Eun Ji Hae. Melainkan karena sesuatu yang berada di dalam otaknya saat ini.
“Omong-omong, apa kau tahu siapa yang pertama kali menyebarkan rumor tidak jelas ini?” tanya Eun Ji Hae.
Nhea hanya bisa menggeleng pasrah. Dia sungguh tidak tahu siapa pelakunya. Saat ini gadis itu juga sedang sibuk mencari tahu.
“Aku mendengarnya baru saja saat akan masuk ke kelas,” ungkap Nhea.
“Mereka benar-benar menguji kesabaranku!” geram Eun Ji Hae sembari mengepal salah satu tangannya.
“Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Siapa yang sudah berani mencari masalah denganku?” gumamnya.
Nhea tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Dia hanya bisa mematung di tempat. Nhea tetap bergeming sambil sesekali mengerjap. Suasana menjadi hening seketika saat keduanya tak lagi bicara. Atmosfirnya berubah seketika.
Dengan cepat Nhea langsung menepis asumsi tersebut. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimanapun juga, ia tetap harus melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Karena Nhea memang tidak bersalah. Dia tidak bisa disalahkan begitu saja.
“Mana mungkin aku melakukan hal tersebut!” tepis Nhea.
“Siapa tahu kau ingin menyingkirkan aku, agar kau menjadi satu-satunya orang yang berkuasa di sini,” cicit Eun Ji Hae.
“Ketahuilah jika aku bukan orang seperti itu,” jelasnya.
Nhea akan melakukan apa saja untuk membersihkan nama baiknya di depan Eun Ji Hae. Ia berani bersumpah jika sungguh dirinya tidak melakukan hal tersebut.
__ADS_1
“Kau adalah anggota keluarga. Sedikit banyaknya, kau pasti tahu soal rahasia di dalam keluargamu sendiri,” ujar Eun Ji Hae sambil menautkan jarinya satu sama lain. Badannya sedikit condong ke arah Nhea. Mendesak gadis itu untuk segera bicara. Ia perlu penjelasan lebih lanjut.
“Memang. Aku memang anggota keluarga. Tapi, banyak yang tidak kuketahui soal keluarga ini,” ungkap Nhea secara gamblang. Kali ini ia berkata jujur.
“Hidupku dihabiskan di sisi dunia yang berbeda dengan yang kutinggali saat ini. Jangankan soal rahasia besar keluarga, Bibi Ga Eun sendiri bahkan tidak pernah memberitahuku keberadaan Ayah dan Ibu selama bertahun-tahun,” jelasnya dengan panjang lebar.
Eun Ji Hae hanya mengangguk pelan, mengiyakan perkataan gadis itu. Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan dari Nhea. Dia tidak terlihat sedang berusaha untuk menyembunyikan sesuatu atau semacamnya. Penjelasan darinya juga cukup masuk akal. Kali ini Nhea berhasil meyakinkan Eun Ji Hae dengan semua ucapannya.
“Aku pegang kata-katamu,” ucap Eun Ji Hae dengan penekanan.
Lagi-lagi rasa gugup itu menyerang. Entah kenapa mendadak ia menjadi seperti ini. Padahal Nhea tahu jika jelas-jelas dirinya tak bersalah di sini. Eun Ji Hae tidak bisa asal menyimpulkan seperti itu saja. pertama-tama, ia harus mencari kebenarannya terlebih dahulu.
Nhea tahu jika Eun Ji Hae tidak main-main dengan ucapannya barusan. Semua orang tahu jika Eun Ji Hae bukan orang yang seperti itu.
“Terserah mau percaya atau tidak, tapi yang jelas aku tidak pernah menyebarkan informasi yang tidak benar tersebut,” jelas Nhea dengan panjang lebar.
Gadis itu bahkan masih memberikan pembelaan kepada dirinya sendiri sampai di detik terakhir. Ia tidak memberikan kesempata bagi Eun Ji Hae untuk menyerangnya balik.
“Baiklah, aku tahu jika kau tidak akan melakukan hal sekejam ini kepada kakakmu sendiri,” ujar Eun Ji Hae.
Dia sudah mulai tidak tertarik lagi dengan topik pembicaraan mereka saat ini. Lebih tepatnya, karena dia sudah mengantuk. Matanya tidak bisa diajak untuk berkompromi. Padahal ia masih ingin membahas beberapa hal lagi dengan Nhea.
“Sepertinya Nhea masih belum tahu jika aku bukan kakak kandungnya,” batin gadis itu di dalam hati.
__ADS_1