Mooneta High School

Mooneta High School
I'm not only human


__ADS_3

 


 


Gadis itu terdiam sejenak, sambil berusaha untuk mencerna kata-kata Chanwo barusan dengan tepat. Ia tak boleh sampai menyalah artikan kalimat barusan menjadi sesuatu yang terkesan tak masuk akal baginya. Ia akan sangat berhati-hati dalam menafsirkan hal ini. Karena bagaimanapun juga, ini menyangkut dirinya sendiri.


“Kau bukanlah manusia seutuhnya.” ujar Chanwo dengan berat hati.


“Apa maksudmu? Aku tak mengerti sama sekali, apa yang telah kau katakana dari tadi.” dalih gadis itu.


Chanwo mengacak-acak rambutnya dengan sebal. Ia tak tahu harus berbuat apa untuk meyakinkan gadis yang satu ini. Nhea terlalu mudah untuk dibuat mengaku, padahal ia tahu jelas. Chanwo tahu persis jika Nhea masih tak bisa menerima hal itu dengan mudah. Selama ini ia hidup dengan sebuah topeng yang tak pernah disadarinya sedikitpun.


“Ayolah, aku tahu jelas jika kau sebenarnya telah mengerti soal ini.” bujuk Chanwo seraya memohon kepada gadis itu.


“Kenapa kau terus bertindak seolah-olah kau begitu lugu?” tanya pria itu.


“Sampai kapan kau akan berpura-pura seperti ini?” lanjutnya.


“Sampai aku mati!” jawab Nhea dengan suara lantangnya.


“Selama ini aku selalu hidup dalam sebuah skenario yang tak pernah kusukai sedikipun. Dan sekarang kau datang dengan membawa skenario lainnya. Sepertinya masih ada satu drama lagi yang harus ku mainkan.” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


“Atau mungkin masih ada yang lain?” lanjutnya.


“Jika kau terus bertindak seperti ini, maka kau akan menjadi seperti orang asing bagi dirimu sendiri.” ucap Chanwo.

__ADS_1


“Aku tahu jika ini adalah kenyataan yang sulit untuk kau terima. Tapi, mau tak mau kau harus bisa dan terbiasa akan semua ini.” jelas pria itu.


“Kau terlalu mudah mengatakannya. Padahal aku tahu persis jika kau juga tahu kalau tak semua ucapan bisa terealisasikan dengan mudah!” serang balik Nhea.


Chanwo berdecak sebal karena tak mampu menaklukkan seorang gadis di hadapannya ini. Jika dipikir-pikir, hanya gadis ini lah yang paling keras kepala di antara semua anggota klan. Sungguh tak bisa dibayangkan akan bagaimana jadinya jika Nhea besar dan tinggak di hutan itu. Mungkin ia akan menjadi satu-satunya anggota klan yang membangkang terhadap peraturan


Padahal Chanwo baru memberitahunya soal ayahnya saja. Tapi, lihat saja sekarang sifatnya seperti apa. Benar-benar sebuah kepribadian yang bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan paras cantiknya. Sebenarnya masih banyak hal yang harus diketahui oleh Nhea dengan sesegera mungkin. Tapi rasanya akan mustahil bagi Chanwo untuk melakukannya. Rasanya mulutnya ini sudah menyerah dan memilih untuk berhenti berdebat.


“Dengarkan aku!” perintah Chanwo.


“Pertama, kau adalah keturunan langsung dari klan bayangan. Kedua, itu artinya di dalam dirimu tengah mengalir darah klan bayangan. Ketiga, kau bukan seorang manusia dan tidak pernah ditakdirkan untuk hal itu!” jelas Chanwo dengan emosi yang sudah meledak-ledak.


“Lalu jika aku bukan manusia, maka aku harus menyebut diriku sendiri dengan apa?” tanya Nhea dengan suara yang bergetar.


Kelihatannya gadis itu akan kembali membiarkan air matanya terbuang dengan sia-sia lagi sekarang. Kini dadanya terasa begitu sesak, kedua bola matanya juga mulalli memanas. Ia tak tahu apa yang salah dengan dirinya. Tapi setiap kali kalimat yang sama keluar dari mulut pria ini, rasanya begitu menyakitkan. Seoerti sebuah tamparan keras yang membuatnya terpukul mundur. Mentalnya benar-benar sudah kacau hari ini.


Nhea tak tahu harus berbuat apa sekarang. Pikirannya sudah benar-benar kacau. Entah kenapa Chanwo harus memberitahu tentang semua hal itu sekarang. Apakah ia sama sekali tak bisa mengerti keadaan dirinya saat ini? Semua kebenaran yang ia ungkapkan barusan, semakin membuatnya menjadi begitu rapuh dan nyaris saja hancur. Kebencian Nhea dengan ayahnya sudah cukup besar dan selama ini ia hanya memendamnya, karena tak tahu harus melampiaskannya kepada siapa.


Sekarang Chanwo datang dengan membawa hal-hal baru yang jauh lebih menyakitkan. Nhea tak bisa hidup selayaknya manusia biasa pada umumnya, karena ia adalah keturunan dari klan bayangan. Meskipun ibunya  adalah seorang manusia biasa, tetap saja ada satu atau dua hal sifat genetic dari klan bayangan yang melekat pada dirinya. Kini rasa bencinya terhadap Wilson semakin besar dan tak terukur lagi. Tak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa ia gunakan untuk mendeskripsikan seperti apa perasaannya saat ini.


“Aku tak bermaksud untuk membuatmu bersedih, tapi kau harus tahu jika aku hanya ingin kau pulih  lebih cepat.” ujar Chanwo yang berusaha menenangkan gadis ini.


“Jika kau tahu lebih cepat soal ini, maka kau akan punya lebih banyak waktu untuk mengobati lukamu.” jelasnya.


“Kau akan punya lebih banyak waktu untuk bersiap, sebelum hari itu tiba.” lanjutnya.

__ADS_1


“Hari soal apa yang kau maksud? Apa itu soal kematian? Jangan membuatku penasaran!” balas Nhea sambil terisak.


“Kenapa kau selalu membahas soal kematian, ha?! Apa kau sungguh ingin mati?!” balas Chanwo yang mulai tersulut kembali emosinya.


“Kau benar….” lirih gadis itu.


Chanwo menggeleng-gelengkn kepalanya, tak habis pikir dengan gadis yang satu ini. Sebaiknya kewarasannya harus segera diperiksakan kepada ahlinya. Mungkin ia sudah tertekan dan depresi dengan kehidupannya sendiri, yang tak pernah bisa menjadi baik-baik saja.


“Aku tak akan memberitahumu soal apa hari itu.” ujar Chanwo dengan nada bicara yang jauh lebih santai daripada sebelumnya.


“Berhenti untuk membuatku terus menjadi penasaran seperti ini!” bentak Nhea kesal.


“Beritahu aku sekarang!” tegasnya.


“Kau tak akan pernah tahu sampai harinya tiba.” balas Chanwo dengan apa adanya.


“Kenapa kau begitu menyebalkan!” teriak Nhea geram dengan kelakuan pria itu.


“Lihat keadaanmu sekarang! Kau sudah seperti ini karena aku memberitahumu soal ayahmu. Dan sekarang kau memintaku untuk menambah rasa sakit itu lagi?” ujar pria itu.


“Jangan terus- menerus memaksaku untuk melakukan hal yang tak ingin ku lakukan sama sekali. Jangan paksa aku untuk terus menyakitimu secara tidak langsung. Meskipun aku bukan manusia, tapi aku masih memiliki rasa perikemanusiaan.” jelasnya dengan panjang lebar.


Sedetik kemudian, Chanwo meletakkan salah satu tangannya di pinggul gadis itu. Kemudian menariknya secara perlahan untuk masuk ke dalam dekapan maut pria ini. Nyaris sama sekali tak ada penolakan sedikitpun dari gadis ini.


 

__ADS_1


 


__ADS_2