Mooneta High School

Mooneta High School
Wake Up


__ADS_3

Hari menjadi semakin gelap, sebab matahari sudah tenggelam


di ujung barat. Seluruh kota sudah diselimuti oleh warna hitam. Benda-benda


langit bertaburan di atas sana menghiasi langit malam pada musim dingin. Namun


di balik semua keindahan itu, ada rasa takut yang tak kunjung hilang. Hal


tersebut terus menghantui seisi sekolah sepanjang hari. Memangnya apa lagi jika


bukan soal salju abadi. Ini adalah ketakutan terbesar mereka untuk saat ini dan


beberapa hari yang akan datang. Tidak bisa dipungkiri jika salju abadi


merupakan ancaman terbesar.


Di luar sana salju semakin menebal. Membuat akses keluar


masuk menjadi sulit untuk di dapatkan. Bahkan tumpukan serbuk es putih itu


telah memenuhi seluruh pelataran sekolah. Membuat tempat ini terasa sesak.


Mereka benar-benar terkurung di dalam sini tanpa memiliki akses keluar sama


sekali. Tapi untungnya, setiap bangunan yang berdiri di tempat ini saling


terhubung satu sama lain melalui sebuah koridor kecil.


Setidaknya dengan begitu mereka tetap bisa saling terhubung


satu sama lain. Mengingat jika komunikasi dan koordinasi itu sangat penting. Terutama


pada saat seperti ini. Mereka tidak boleh sampai kehilangan apa lagi putus


komunikasi. Justru pada saat seperti inilah mereka harus saling mendukung satu


sama lain. Bekerja sama adalah salah satu jalan keluarnya.


Di saat semua orang sedang panik-paniknya, hal tersebut sama


sekali tidak berlaku bagi Chanwo. Pria itu tetap bersikap tenang dalam situasi


seperti apa pun. Karena segala permasalahan memang harus dihadapi dengan kepala


dingin.


Sebenarnya ia bersikap tenang seperti ini bukan karena


apa-apa. Hanya saja, pria ini sebenarnya memang belum tahu apa yang sedang


terjadi di tempat ini. Ia berpikir jika semua orang masuk ke dalam asramanya


masing-masing dan menghindari aktivitas di luar ruangan karena badai salju. Chanwo


menganggap jika yang terjadi hari ini hanya fenomena alam biasa berupa badai


salju. Esok pasti akan reda. Ia sama sekali tidak bisa menemukan kejanggalan


yang terjadi di sini. Sehingga pria itu menganggap semuanya akan baik-baik


saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan.


Sampai tengah malam pun, ia masih merasakan hal yang sama.

__ADS_1


Pria itu sama sekali tidak merasa aneh, curiga atau apa pun itu. Lagi pula


memang tidak ada sesuatu yang pantas untuk dicurigainya. Semua terasa baik-baik


saja bagi pria ini. Hari yang berjalan normal seperti biasanya. Tidak ada yang


luar biasa kecuali badai salju yang kini diduga sebagai salju abadi itu.


Selama satu harian ini, Chanwo sama sekali tidak keluar dari


kandang para pegasus. Hanya di sana ia bisa tinggal dengan aman tanpa perlu


khawatir akan ketahuan. Tidak ada siapa pun yang datang ke sini sejak tadi


pagi. Eun Ji Hae juga hanya pergi ke kandang para griffin yang terletak di


sudut lain sekolah ini. Jadi, tidak ada yang menghampiri Chanwo hari ini. Setidaknya


untuk satu hari ia bisa tenang.


Pria itu tidak keluar sama sekali sejak tadi pagi. Meski awalnya


ia sempat berencana untuk berkeliling tempat ini. Sekolah Mooneta terlalu luas


baginya. Sehingga ia tidak bisa menjelajahinya dalam satu hari. Chanwo masih


perlu tahu beberapa tempat lagi di sini. Ada beberapa titik yang belum pernah


ia datangi sama sekali. Dan kini ia sungguh penasaran. Sepertinya, waktu pria


ini dihabiskan hanya untuk berkeliling dan mengamati seluruh penjeuru sekolah. Memangnya


apa lagi yang bisa ia lakukan.


pun yang berjalan sesuai dengan rencana pada awalnya. Semua ini akibat badai


salju yang terus turun dnegan lebat tanpa henti. Hal tersebut membuat suhu


udara semakin turun. Bisa-bisa Chanwo akan membeku dan mati kedinginan jika


keluar dari tempat persembunyiannya pada saat seperti ini.


Sekarang sudah jauh lebih baik. Ini hampir tengah malam. Badai


sudah mulai mereda. Tidak seburuk tadi.


“Kenapa aku tidak membawa baju hangat milikku saat pergi. Padahal


aku tahu persis jika sebentar lagi akan memasuki musim dingin,” gerutu pria


itu.


“Aku juga tidak pernah menduga jika akan berakhir di tempat


seperti ini!”


“Lagi pula kenapa aku bisa melangkah sampai sejauh ini.”


Pria itu terus saja mendumal sejak tadi. Ia menggeram kesal.


Chanwo merutuki kebodohannya sendiri. Tapi hanya satu hal yang tidak ia lakukan


pada saat kesal. Yaitu mengumpat atau bersumpah. Menurutnya hal itu sangat

__ADS_1


tidak sopan. Ia tetap tidak pantas untuk mengatakannya. Tidak peduli seberapa


emosi dirinya pada saat itu. Jika sekali dilarang, tetap saja tidak boleh


dilanggar untuk selamanya. Itu adalah prinsip mereka.


Chanwo masih tak habis pikir, bagaimana bisa ia melewatkan


hal sepenting itu. Sekarang, dimana ia bisa mendapatkan baju hangat. Dirinya tidak


akan bisa bertahan tanpa benda yang satu itu. Ia benar-benar membutuhkannya


sekarang. Terlahir sebagai seorang vampir, bukan berarti ia menjadi kebal akan


segalanya. Chanwo tetap saja merasa kedinginan jika musim dingin telah tiba. Bukan


hanya pria ini saja. Semua anggota kaum kegelapan juga selalu seperti itu saat


salju turun. Dan hal itu benar-benar normal bagi mereka. Tidak ada yang perlu


dipertanyakan lagi.


Pria itu tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama jika


hanya mengandalkan kehangatan dari tumpukan jerami itu saja. Semua itu tidak


akan cukup untuk menghalau hawa dingin agar tidak merasuki tubuhnya. Dia perlu


menemukan sesuatu yang lebih tepat untuk menggantikan tumpukan jerami yang


bahkan sudah bau itu.


Malam ini ia sudah memutuskan untuk kembali keluar dari


kandang dan berkeliaran di gedung sekolah. Dia akan menemukan baju hangat yang


cocok untuknya. Harus malam ini juga. Chanwo tidak akan bisa bertahan lebih


lama lagi. Saat ini saja tubuhnya sudah menggigil.


Ia tidak tahu apakah perbuatan yang satu ini termasuk ke


dalam kebaikan atau malah sebaliknya. Mungkin caranya terkesan memaksa, sampai


harus merebut barang orang lain tanpa izin sama sekali. Namun di sisi lain ia


juga sangat membutuhkannya untuk kelangsungan hidupnya. Ia sama sekali belum


siap jika harus meregang nyawa sekarang. Usianya masih terlalu muda untuk mati.


Jika ia bisa hidup abadi, kenapa tidak.


Padahal kemarin ia baru saja berbuat satu kebaikan yang


telah membantunya untuk membuat jantung mungil itu kembali berdetak. Organ yang


satu itu telah lama mati. Bahkan sejak ia lahir, jantungnya tidak pernah


berfungsi sama sekali. Namun ia tetap bisa hidup dengan normal. Karena hidup


kaum kegelapan tidak bergantung kepada cara kerja jantungnya. Bukan masalah


besar jika organ yang satu itu tidak berfungsi dengan baik. Berbanding terbalik

__ADS_1


dengan cara manusia menjalani hidupnya.


__ADS_2