Mooneta High School

Mooneta High School
Take a Rest


__ADS_3

Untungnya kali ini perkataan gadis itu bisa dipercaya.


Upacara pembukaan benar-benar selesai tak lama setelah Oliver menyatakan hal


serupa. Sungguh melelahkan meski ia tidak melakukan apa-apa. Tampaknya bukan hanya


Nhea saja yang merasakan hal serupa. Tapi, hampir semua orang juga kelelahan.


Anak-anak itu menepi ke tempat yang jauh lebih teduh dan


sejuk. Tentu saja untuk mengindari cahaya matahari. Dari tadi mereka sudah


terbakar di bawah sana.


“Ku pikir pertandingannya akan benar-benar dilaksanakan hari


ini juga,” ungkap Nhea sambil menatap lurus ke depan.


“Tidak, hari ini hanya acara pembukaan festival saja.


Kemudian mereka akan mengadakan perayaan sambil berkeliling kota untuk


memberitahu seluruh masyarakat penghuni kota,” jelas Oliver dengan panjang


lebar.


“Padahal semua orag sudah tahu jika hari ini ada festival,”


cicitnya kemudian.


“Bahkan kurasa mereka telah tahu beberapa bulan sebelumnya,”


tukasnya.


Nhea hanya bisa terkiki pelan mendengar gerutuan temannya


yang satu itu. ia yakin jika Oliver tidak benar-benar kesal hanya karena pihak


penyelenggara festival melakukan parade keliling saja. Bisa dipastikan jika


gadis itu juga merassa kesal karena dijemur di bawah panas matahari sejak tadi.


Emosinya memang mudah terpancing belakangan ini. Mungkin dia sedang berada


dalam masa period-nya.


“Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini?” tanya Nhea


sekali lagi.


“Bagaimana kalau kita pergi ke pasar?” usul Oliver dengan


antusias.


“Lagi?!” pekik Nhea tak percaya.


Jika Nhea tidak salah, sepertinya baru kemarin mereka pergi


ke pasar. Memangnya untuk apa lagi selain mencari sepatu baru bagi Oliver.


Setelah mereka tahu jika gadis itu kehilangan sepatunya, Oliver dan Nhea


memutuskan untuk mencari yang baru saja. Lagipula tidak ada salahnya.


Kemarin mereka baru saja berkunjung ke salah satu toko dan


pemiliknya cukup familiar. Paman Johnson, alumni angkatan pertama kademi sihir


Mooneta. Lulusan terbaik di masanya. Jangan bilang jika Oliver mengajak Nhea


untuk kembali ke pasar hanya karena ingin menemui Paman Johnson. Pria itu


memang tidak tampak hadir dalam upacara pembukaan kali ini. Entah memang benar


tidak datang, atau hanya mereka berdua saja yang tidak melihat batang


hidungnya. Sulit untu kmenemukan satu orang tertentu di antara sekian banyak

__ADS_1


orang yang sedang berkerumun dalam satu tempat.


“Untuk apa lagi kita ke pasar? Bukannya kemarin kita baru


saja dari sana?” tanya Nhea lagi.


Kali ini tampaknya ia sengaja memperjelas pertanyaannya agar


tidak terjadi salah paham antara mereka berdua. Terlebih saat ini emosi Oliver


sedang tidak stabil. Nhea harus pandai dalam memilah kata-kata yang akan ia


gunakan.


“Kita bukan staff dapur yang harus selalu pergi ke pasar,”


ujar Nhea.


“Bahkan staff dapur saja tidak pergi ke pasar setiap hari.


Mereka akan berbelanja bahan makanan dalam jumlah besar untuk persediaan selama


beberapa minggu ke depan,” jelas Nhea dengan panjang lebar tidak lupa


menyelipkan rasa sebal di dalamnya.


Oliver yang mendengar pernyataan seperti itu hanya bisa berdecak


sebal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


“Apakah salah jika aku ingin bertemu dengan Paman Johnson?”


tanya Oliver.


“Untuk apa?” tanya Nhea balik.


Lagi-lagi ia mendengus sebal. Gadis itu membuang


pandangannya ke sembarang arah.


Tampanya ia tidak hadir di sini sekarang,” jelas Oliver.


“Mau sampai berapa kali kau mengatakan terima kasih


kepadanya?” tanya Nhea.


***


Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, pada akhirnya


Oliver yang menang. Mau tak mau Nhea terpaksa menuruti setiap permintaan gadis


ini. Gadis itu sudah menyerah sejak awal. Lebih tepatnya ia enggan mencari


masalah. Nhea adalah satu-satunya orang yang paling pasrah di sini. Entah


kenapa, tidak seperti biasanya. Nhea sama sekali tidak berambisi untuk menang.


"Kita bisa pergi nanti begitu parade keliling kota


dimulai," ujar Oliver.


Ternyata diam-diam gadis ini telah memikirkan semuanya.


Setiap rencana yang ia susun sudah diperkirakan dengan sedemikian rupa. Bahkan


Nhea sudah bisa membayangkan akan seperti apa jadinya renacana mereka nanti.


Kemungkinan besar pasti sukses. Tapi, tidak menutup kemungkinan untuk gagal


juga. Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi kepada mereka dalam


kurun waktu beberapa menit ke depan.


Setelah upacara pembukaan selesai, semua orang akan


diberikan jeda terlebih dahulu. Benar, tidak ada perlombaan yang dilaksanakan

__ADS_1


pada hari pertama. Tapi, bukan berarti rangkaian acara mereka hanya berakhir


pada saat upacara pembukaan selesai saja. Masih ada satu hal lagi yang perlu


mereka selesaikan di sini. Biasanya kegiatan di hari pertama tidak terlalu banyak,


tapi cukup melelahkan. Terlalu menguras energi untuk orang seperti mereka.


Biasanya semua orang pasti akan ikut serta dalam meramaikan


parade keliling ini. Terutama para peserta. Parade adalah sebuah opsi bagi


penduduk kota. Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk mengikutinya. Namun, akan


lebih baik jika mereka juga ikut serta dalam meramaikan acara kali ini. Memang


kebanyakan dari mereka juga ikut serta dalam parade dengan turun ke jalanan.


"Kita akan pergi menyelinap keluar dari barisan saat


melewati pasar. Kemudian segera bergegas menuju toko Paman Johnson. Hanya ada


waktu dua menit bagi kita untum berbicara dengannya. Setelah itu, kita harus


kembali lagi ke barisan," jelasnya dengan panjang lebar.


Oliver memaparkan setiap detail dari rencananya secara rinci


kali ini. Bisa dipastikan jika tidak ada yang terlewat sedikit pun. Karena


kemungkinan berhasil dan gagalnya sama besar, jadi mereka harus memandaatkan


semua potensi yang ada dengan semaksimal mungkin.


"Bagaimana jika ternyata Paman Johnson tidak ada di


sana?" tanya Nhea secara tiba-tiba.


"Maka, kita harus menemukannya lain kali," jawab


Oliver secara gamblang.


"Aku hanya ingin memastikan agar dia datang di saat


kita bertanding dan menyaksikan adik-adiknya ini di arena," lanjutnya.


Nhea menghela napas kesal mendengar jawaban dari gadis itu.


Ia memutar bola matanya malas.


"Sepertinya kau sangat ingin bertemu dengannya lebih


lama lagi," cicit Nhea dengan nada sedikit menyindir. Tapi, tampaknya


Oliver sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.


“Entahlah, ku rasa sepertinya mulai sekarang kita harus


lebih sering berbicara dengannya,” balas Oliver secara gamblang.


“Kepribadiannya sejauh ini cukup baik. Aku yakin jika orang


sepertinya bisa membantu kita kapan saja,” lanjutnya.


“Kau tidak bisa terus bergantung kepada manusia. Omongan


orang dewasa kadang terlalu sulit untuk dipercaya,” jelas Nhea dengan panjang


lebar.


Pada dasarnya, usia tidak menjadi tolak ukur kedewasaanmu


secara internal. Bahkan, sopan santuk sendiri tidak ditentukan oleh apa pun. Mereka


yang lebih tua bahkan belum bisa berpikir secara lebih dewasa. Tapi, jauh lebih


sering menggunakan perkataan sarkas.

__ADS_1


__ADS_2