
Untungnya kali ini perkataan gadis itu bisa dipercaya.
Upacara pembukaan benar-benar selesai tak lama setelah Oliver menyatakan hal
serupa. Sungguh melelahkan meski ia tidak melakukan apa-apa. Tampaknya bukan hanya
Nhea saja yang merasakan hal serupa. Tapi, hampir semua orang juga kelelahan.
Anak-anak itu menepi ke tempat yang jauh lebih teduh dan
sejuk. Tentu saja untuk mengindari cahaya matahari. Dari tadi mereka sudah
terbakar di bawah sana.
“Ku pikir pertandingannya akan benar-benar dilaksanakan hari
ini juga,” ungkap Nhea sambil menatap lurus ke depan.
“Tidak, hari ini hanya acara pembukaan festival saja.
Kemudian mereka akan mengadakan perayaan sambil berkeliling kota untuk
memberitahu seluruh masyarakat penghuni kota,” jelas Oliver dengan panjang
lebar.
“Padahal semua orag sudah tahu jika hari ini ada festival,”
cicitnya kemudian.
“Bahkan kurasa mereka telah tahu beberapa bulan sebelumnya,”
tukasnya.
Nhea hanya bisa terkiki pelan mendengar gerutuan temannya
yang satu itu. ia yakin jika Oliver tidak benar-benar kesal hanya karena pihak
penyelenggara festival melakukan parade keliling saja. Bisa dipastikan jika
gadis itu juga merassa kesal karena dijemur di bawah panas matahari sejak tadi.
Emosinya memang mudah terpancing belakangan ini. Mungkin dia sedang berada
dalam masa period-nya.
“Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini?” tanya Nhea
sekali lagi.
“Bagaimana kalau kita pergi ke pasar?” usul Oliver dengan
antusias.
“Lagi?!” pekik Nhea tak percaya.
Jika Nhea tidak salah, sepertinya baru kemarin mereka pergi
ke pasar. Memangnya untuk apa lagi selain mencari sepatu baru bagi Oliver.
Setelah mereka tahu jika gadis itu kehilangan sepatunya, Oliver dan Nhea
memutuskan untuk mencari yang baru saja. Lagipula tidak ada salahnya.
Kemarin mereka baru saja berkunjung ke salah satu toko dan
pemiliknya cukup familiar. Paman Johnson, alumni angkatan pertama kademi sihir
Mooneta. Lulusan terbaik di masanya. Jangan bilang jika Oliver mengajak Nhea
untuk kembali ke pasar hanya karena ingin menemui Paman Johnson. Pria itu
memang tidak tampak hadir dalam upacara pembukaan kali ini. Entah memang benar
tidak datang, atau hanya mereka berdua saja yang tidak melihat batang
hidungnya. Sulit untu kmenemukan satu orang tertentu di antara sekian banyak
__ADS_1
orang yang sedang berkerumun dalam satu tempat.
“Untuk apa lagi kita ke pasar? Bukannya kemarin kita baru
saja dari sana?” tanya Nhea lagi.
Kali ini tampaknya ia sengaja memperjelas pertanyaannya agar
tidak terjadi salah paham antara mereka berdua. Terlebih saat ini emosi Oliver
sedang tidak stabil. Nhea harus pandai dalam memilah kata-kata yang akan ia
gunakan.
“Kita bukan staff dapur yang harus selalu pergi ke pasar,”
ujar Nhea.
“Bahkan staff dapur saja tidak pergi ke pasar setiap hari.
Mereka akan berbelanja bahan makanan dalam jumlah besar untuk persediaan selama
beberapa minggu ke depan,” jelas Nhea dengan panjang lebar tidak lupa
menyelipkan rasa sebal di dalamnya.
Oliver yang mendengar pernyataan seperti itu hanya bisa berdecak
sebal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Apakah salah jika aku ingin bertemu dengan Paman Johnson?”
tanya Oliver.
“Untuk apa?” tanya Nhea balik.
Lagi-lagi ia mendengus sebal. Gadis itu membuang
pandangannya ke sembarang arah.
Tampanya ia tidak hadir di sini sekarang,” jelas Oliver.
“Mau sampai berapa kali kau mengatakan terima kasih
kepadanya?” tanya Nhea.
***
Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, pada akhirnya
Oliver yang menang. Mau tak mau Nhea terpaksa menuruti setiap permintaan gadis
ini. Gadis itu sudah menyerah sejak awal. Lebih tepatnya ia enggan mencari
masalah. Nhea adalah satu-satunya orang yang paling pasrah di sini. Entah
kenapa, tidak seperti biasanya. Nhea sama sekali tidak berambisi untuk menang.
"Kita bisa pergi nanti begitu parade keliling kota
dimulai," ujar Oliver.
Ternyata diam-diam gadis ini telah memikirkan semuanya.
Setiap rencana yang ia susun sudah diperkirakan dengan sedemikian rupa. Bahkan
Nhea sudah bisa membayangkan akan seperti apa jadinya renacana mereka nanti.
Kemungkinan besar pasti sukses. Tapi, tidak menutup kemungkinan untuk gagal
juga. Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi kepada mereka dalam
kurun waktu beberapa menit ke depan.
Setelah upacara pembukaan selesai, semua orang akan
diberikan jeda terlebih dahulu. Benar, tidak ada perlombaan yang dilaksanakan
__ADS_1
pada hari pertama. Tapi, bukan berarti rangkaian acara mereka hanya berakhir
pada saat upacara pembukaan selesai saja. Masih ada satu hal lagi yang perlu
mereka selesaikan di sini. Biasanya kegiatan di hari pertama tidak terlalu banyak,
tapi cukup melelahkan. Terlalu menguras energi untuk orang seperti mereka.
Biasanya semua orang pasti akan ikut serta dalam meramaikan
parade keliling ini. Terutama para peserta. Parade adalah sebuah opsi bagi
penduduk kota. Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk mengikutinya. Namun, akan
lebih baik jika mereka juga ikut serta dalam meramaikan acara kali ini. Memang
kebanyakan dari mereka juga ikut serta dalam parade dengan turun ke jalanan.
"Kita akan pergi menyelinap keluar dari barisan saat
melewati pasar. Kemudian segera bergegas menuju toko Paman Johnson. Hanya ada
waktu dua menit bagi kita untum berbicara dengannya. Setelah itu, kita harus
kembali lagi ke barisan," jelasnya dengan panjang lebar.
Oliver memaparkan setiap detail dari rencananya secara rinci
kali ini. Bisa dipastikan jika tidak ada yang terlewat sedikit pun. Karena
kemungkinan berhasil dan gagalnya sama besar, jadi mereka harus memandaatkan
semua potensi yang ada dengan semaksimal mungkin.
"Bagaimana jika ternyata Paman Johnson tidak ada di
sana?" tanya Nhea secara tiba-tiba.
"Maka, kita harus menemukannya lain kali," jawab
Oliver secara gamblang.
"Aku hanya ingin memastikan agar dia datang di saat
kita bertanding dan menyaksikan adik-adiknya ini di arena," lanjutnya.
Nhea menghela napas kesal mendengar jawaban dari gadis itu.
Ia memutar bola matanya malas.
"Sepertinya kau sangat ingin bertemu dengannya lebih
lama lagi," cicit Nhea dengan nada sedikit menyindir. Tapi, tampaknya
Oliver sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.
“Entahlah, ku rasa sepertinya mulai sekarang kita harus
lebih sering berbicara dengannya,” balas Oliver secara gamblang.
“Kepribadiannya sejauh ini cukup baik. Aku yakin jika orang
sepertinya bisa membantu kita kapan saja,” lanjutnya.
“Kau tidak bisa terus bergantung kepada manusia. Omongan
orang dewasa kadang terlalu sulit untuk dipercaya,” jelas Nhea dengan panjang
lebar.
Pada dasarnya, usia tidak menjadi tolak ukur kedewasaanmu
secara internal. Bahkan, sopan santuk sendiri tidak ditentukan oleh apa pun. Mereka
yang lebih tua bahkan belum bisa berpikir secara lebih dewasa. Tapi, jauh lebih
sering menggunakan perkataan sarkas.
__ADS_1