Mooneta High School

Mooneta High School
Skakmat


__ADS_3

Entah rencana macam apa lagi yang ada di dalam kepalanya.


Yang jelas, Eun Ji Hae yakin jika gadis itu sedang merencanakan sesuatu yang


tidak baik. Meski ia sama sekali tidak bisa membaca isi pikiran Do Yen Sae.


Eun Ji Hae tahu jika setiap orang memiliki sifat serta


perilaku yang berbeda-beda. Oleh sebab itu mereka tidak bisa disama-ratakan.


Termasuk setiap orang yang berada di Reodal. Meski para penghuni Reodal


terkenal akan kelicikannya, bukan berarti jika tidak ada dari mereka yang


bersikap sebaliknya. Paling tidak sebagian kecil saja. Satu atau dua orang.


Tapi, sayangnya sikap Do Yen Sae sama sekali tidak termasuk kategori orang yang


hanya sebagian kecil itu. Sehingga ia tidak bisa disebut sebagai orang baik.


Sebagai manusia normal, seharusnya kita bisa membedakan mana


yang benar ada dan mana yang tidak ada. Termasuk orang yang benar bersikap baik


dan yang hanya berpura-pura baik. Setidaknya ada satu perbedaan di antara


mereka meski tidak terlalu mencolok.


Eun Ji Hae menghela napasnya. Dia mulai merasa bosan dengan


perbincangan mereka yang sama sekali tidak jelas arah dan tujuannya. Do Yen Sae


hanya membuang waktunya secara sia-sia.


“Jadi bagaimana?” tanya gadis itu tiba-tiba.


Eun Ji Hae terkesiap mendengar pertanyaan tersebut. Isi


pikirannya mendadak buyar seketika.


“Apa kau bisa mengulangi pertanyaanmu yang barusan?” tanya


Eun Ji Hae balik.


“Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas tadi. Sepertinya telingaku


sedang bermasalah tadi,” tambahnya.


“Bagaimana jika nama akademi sihir baru kita disebut dengan Petal?”


Do Yen Sae kembali mengulangi pertanyaan yang sama persis


untuk kedua kalinya. Jika bukan karena Eun Ji Hae yang memintanya, mana mungkin


ia melakukan hal tersebut. Sekali lagi, ia harus bersikap baik untuk


menciptakan kesan pertama yang baik pula. Setidaknya sampai Do Yen Sae berhasil


mendapatkan simpati warga Mooneta. Terutama anggota keluarga besar. Karena,


bagaimana pun anggota keluarga adalah penggerak utama akademi sihir itu. Semua


orang tampak hormat kepada mereka.


Jika ingin menguasai sesuatu yang besar, maka pengaruhi

__ADS_1


lebih dulu pemimpinnya. Nanti pemimpin itu sendiri yang akan mempengaruhi anak


buahnya. Mungkin seperti itu juga cara berpikir Do Yen Sae selama ini. Gadis


itu belum tahu saja betapa sulitnya mereka untuk ditaklukkan. Terlebih setelah


semua hal yang mereka alami selama ini, warga Mooneta diminta untuk selalu


bersikap hati-hati. Tetap waspada akan membuat mereka aman. Jangan harap jika


anggota keluarga Mooneta akan mudah terpengaruh dengan Reodal. Mereka bahkan


sampai saat ini sudah tidak memiliki rasa percaya lagi kepada Reodal.


Eun Ji Hae tidak langsung menjawab setelah Do Yen Sae


mengulang pertanyaannya sesuai dengan permintaan gadis itu. Ia perlu berpikir


terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu. Apa lagi jika yang harus diambil


adalah sebuah keputusan besar. Ia tidak boleh bertindak dengan gegabah.


Semuanya harus dipikirkan matang-matang. Termasuk presentase kegagalan dan


keberhasilannya. Tidak lupa menimbang resiko yang akan diikutsertakan juga.


Eun Ji Hae tampak sibuk dengan pikirannya sendiri untuk


beberapa saat. Do Yen Sae paham betul jika ia sedang mempertimbangkan sesuatu


di dalam sana. Jadi, gadis itu tidak ingin mengganggu. Ia memilih untuk


memberikan ruang dan waktu kepada Eun Ji Hae.


Do Yen Sae melipat kedua tangannya di depan dada.


jawaban dari gadis itu. Tak lama kemudian Eun Ji Hae menegakkan kepalanya. Pertanda


ia sudah selesai berpikir dan sudah mendapatkan keputusan. Sebentar lagi Eun Ji


Hae akan segera menyampaikan jawaban dari hasil perundingannya dengan otaknya


sendiri.


“Bagaimana?” tanya Do Yen Sae.


Gadis yang satu itu tampaknya sudah tidak sabar untuk


menunggu. Do Yen Sae adalah orang yang paling antusias dengan jawaban Eun Ji


Hae. Ia berharap agar gadis itu segera mengungkapkan jawabannya. Tentu saja


jangan sampai mengecewakan Do Yen Sae. Ia sudah cukup sabar untuk menunggunya


selama ini.


Sorot mata Do Yen Sae seolah mengatakan cepat beritahu aku apa keputusanmu! Air muka gadis itu telah


menggambarkan semuanya dengan cukup jelas. Do Yen Sae tidak bisa menutupi rasa


yang tengah bergejolak di dalam dirinya.


Sementara Eun Ji Hae sendiri memang sengaja mengulur waktu


untuk melihat bagaimana reaksi gadis itu. Terutama saat ia telah menjawab

__ADS_1


pertanyaannya tadi. Do Yen Sae pasti cukup terkejut. Siapa bilang jika Eun Ji


Hae tidak mengawasinya. Ia telah melakukan hal tersebut sejak pertama kali ia


masuk ke dalam ruangan ini.


Mereka sudah sama-sama tidak sabaran. Baik Eun Ji Hae mau


pun Do Yen Sae. Namun, Eun Ji Hae masih bisa menahan dirinya. Berbeda dengan


seorang gadis yang tengah duduk tepat di depannya saat ini. Sepertinya sekarang


adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan segalanya.


"Sebaiknya kita juga meminta pendapat para petinggi


lainnya juga,” ujar Eun Ji Hae secara gamblang.


“Mereka juga berhak untuk menyampaikan opininya,” lanjut


gadis itu.


“Kita tidak bisa membuat keputusan secara sepihak ini.


Mengingat jika hal ini menyangkut semua orang juga. Kita harus memikirkannya


secara matang-matang,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.


Mendengar jawaban dari gadis itu barusan berhasil membuat Do


Yen Sae merasa kesal. Ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Bahkan apa yang


dikatakan oleh Eun Ji Hae barusan sudah sangat jauh berbeda dengan apa yang ia


harapkan selama ini. Eun Ji Hae adalah orang pertama yang berhasil mematahkan


pendapat orang-orang jika Do Yen Sae bisa mendapatkan semua yang ia mau. Pada


faktanya, semesta tak selalu harus bekerja sesuai dengan keinginannya. Ia bukan


pusat dari alam semesta.


Do Yen Sae membalas kalimat tersebut dengan seulas senyum


tipis. Bisa dipastikan jika ia terlalu memaksakan untuk tersenyum.


“Benar, kita juga harus menanyai pendapat mereka bukan?”


ucap Do Yen Sae. Ia harus pura-pura sependapat dengan Eun Ji Hae demi


kelancaran misinya.


Eun Ji Haae mengangguk,


mengiyakan perkataan gadis itu barusan. Kali ini EUn Ji Hae yang memimpin


permainannya. Posisi gadis itu telah jauh lebih unggul dari pada Do Yen Sae


untuk sementara waktu. Tapi, meski begitu ia tidak boleh merasa puas terlebih


dahulu. Do Yen Sae bisa saja merencanakan hal yang lebih buruk dari semua ini. Gadis


itu tidak terduga. Sekali lagi perlu diingatkan jika ia akan melakukan segala


cara untuk mendapatkan keinginannya. Tidak ada yang bisa menghalangi langkah

__ADS_1


gadis itu. Eun Ji Hae sedang melakukan hal itu sekarang. Do Yen Sae hampir


terjatuh karenanya. Namun, gadis itu hanya terseok sedikit saja.


__ADS_2