
Badai masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Suasana kala itu benar benar mencekam dan membuat semua orang ketakutan. Tak terkecuali dengan Nhea yang tak kunjung keluar dari tempat persembunyiannya itu. Sejak badai semakin memburuk, gadis itu berlindung di dalam dekapan ibunya, yang menjadi satu dengan uluran tangan dari ayahnya. keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat ketika semua ini terjadi. Mungkin ini adalah badai terhebat yang pernah ia rasakan. Entah sampai kapan mereka harus bertahan dalam situasi seperti ini.
Tapi untungnya, gadis itu segera terlelap karena tak mampu melawan rasa kantuknya sendiri. Awal yang cukup bagus untuk sebuah misi pelarian diri. Malam itu ketika alam bawah sadarnya sedang membuatnya tidur seperti sihir, banyak hal yang sudah ia lewatkan. Sesuatu yang tak pernah ia saksikan sendiri bagaimana kejadiannya, hingga menyisakan pertanyaan dari sebuha misteri yang tak pernah terjawab selama bertahun-tahun lamanya.
Selalu ada alasan bagi manusia untuk datang dan pergi. Meski terkadang kita tak pernah tau alasan macam apa di balik itu semua. Selalu ada yang namanya kebetulan di setiap detik dengan kejutan yang tak pernah kita duga sebelumnya. Ada banyak hal tak masuk akal yang tak pernah ingin manusia ketahui.
Dan malam itu, semuanya terjadi. Awal dari sebuah rasa benci dan marah yang berkepanjangan. Sebuah dendan yang tak pernah bisa disudahi dengan berjalannya waktu.
***
Pagi ini cuaca di Kota Seoul menjadi sepuluh dderajat lebih hangat setelah badai kemarin usai. Beruntung bencana alam itu tak memakan korban jiwa, hanya beberapa kekacauan keicl yang tak berarti sama sekali. Hal itu tak sampai membuat kota ini menjadi lumpuh seketika. Warga masih melanjutkan aktivitasnya seperti biasanya.
__ADS_1
Namun, ada satu hal yang membuat semua orang kembali bertanya-tanya. Bagaimana bisa badai sebesar itu tidak menghancurkan kota. Sangat tidak logis untuk ukuran kepala manusia yang selalu berdasarkan kepada fakta. Keajaiban macam apa ini, apa mungkin kota ini tengah diberkati oleh keberuntungan?
“Anak-anak itu sangat antusias sekali untuk menjemput mereka, sampai-sampai menciptakan badai sedahsyat ini,” gumam Ga Eun yang baru saja tiba di rumah kakaknya itu.
Ga Eun diminta untuk datang ke rumah Nhea pagi-pagi sekali sebelum gadis itu bangun. Siapa lagi, jika bukan Vallery yang memerintahkannya. Wanita paruh baya itu langsung masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan satu hal pun. Tak ada orang di rumah ini, kecuali gadis kecil itu. Ia pasti tak akan menyangka jika akan seperti ini kejadiannya.
“Ternyata mereka cukup ahli dalam mengkonsep sebuah hunian,” ujar Ga Eun sambil berdecak kagum melihat benda-benda yang tertata rapih di sekitarnya.
Ketika Ga Eun sibuk menjelajahi rumah kakaknya itu, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki dari lantai atas. Ga Eun dapat menebak dengan tepat siapa pemilik suara itu, pasti keponakannya. Ayolah, hanya mereka berdua yang ada di rumah ini. Semudah itu bukan untuk menebaknya?
Ini baru pertama kalinya Ga Eun mengunjungi rumah kakaknya yang di Seoul. Pasangan suami isteri itu tak pernah menetap di suatu tempat. Hampir seluruh kota di Korea Selatan sudah pernah mereka tinggali bersama.
__ADS_1
“Bibi Ga Eun?” sahut seoranag anak kecil yang mengintip dari lantai atas.
Sedetik setelahnya, ia berlari dengan begitu semangat menuju arah Ga Eun. Sepertinya Nhea sudah sangat rindu dengan bibinya yang satu ini.
“Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Nhea antusias.
“Ceritanya panjang, nanti akan ku ceritakan,” jawab Ga Eun apa adanya.
__ADS_1