
Situasi di dalam aula semakin tak terkendali setelah mereka mengetahui jika ada pasukan dengan kekuatan luar biasa yang sedang menunggu mereka di luar sana. Dari segi jumlah, anak-anak sekolah ini juga jelas kalah jauh. Benar kata Nhea tadi jika mereka tak bisa terus-terusan bersembunyi di balik tembok beton ini. Mungkin saja saat ini mereka menganggap jika ini aman, namun orang-orang tak pernah tahu kapan hal terburuknya akan datang.
Vallery sedang berusaha mencari jalan keluar atas masalah ini. Wanita itu kelihatan sibuk mondar-mandir ke segala arah sambil menggigit kukunya dengan perasaan cemas. Berbeda dengan Wilson yang kelihatan jauh lebih tenang.
“Dengar semuanya!” ujar Vallery yang akhirnya nulai buka suara.
“Kita akan keluar dan melawan mereka semua dengan mengandalkan seluruh kemampuan terbaik mereka. Kita tidak boleh menjadi pengecut di kandang kita sendiri. Ingat, mereka kini telah mengintimidasi kita secara tidak langsung,” jelasnya dengan panjang lebar.
“Bagaimana jika kali ini korbannya jauh lebih banyak?” balas seorang murid dari tengah-tengah kerumunan.
“Untuk menggapai segala sesuatu yang kita inginkan, memang harus ada pengorbanan,” jawab Vallery dengan pasrah.
__ADS_1
“Tapi pengorbanan kita pada musim-musim sebelumnya tak pernah sesuai dengan ekspektasi kita,” lanjut yang lainnya.
“Kenyataannya memang terlalu menyakitkan dan beresiko.”
“Takdir tak pernah bersikap adil pada kita.”
“Dewi fortuna tak pernah memberkati kita semua.”
Begitu keluh anak-anak sekolah sihir ini. Mereka semua merasa pesimis dan terlalu takut untuk mencoba. Bahkan sebelum mereka sempat memulai itu semua. Andai Ify tak pernah ada, pasti sekarang semuanya tak akan menjadi serumit ini. Terkutuklah gadis licik yang satu itu.
“Nhea, bersiaplah di atas sana. Kami semua akan keluar dan menyerang mereka,” ucap seseorang yang tiba-tiba terdengar begitu aja.
__ADS_1
Jika dilihat dari suaranya, itu terdengar seperti suara seorang wanita. Tapi gadis ini sangat yakin jika suara yang ia dengar barusan bukanlah milik Oliver yang menjadi satu-satunya wanita yang sedang bersamanya. Pasti ini adalah suara dari seseorang yang mencoba melakukan telepati dengannya.
Pasti itu seseorang yang berasal dari dalam sana. Sekarang mereka akan bersiap untuk menyerang dan Nhea telah diperingatkan atas hal itu. Di sisi lain, gadis ini harus ikut bersiap juga.
“Berikan aku busur panah kalian!” ujar Nhea.
“Tapi untuk apa?” tanya Oliver.
“Sudah berikan saja,” balas Nhea kemudian merebut busur beserta anak panahnya dari tangan Oliver secara paksa.
Nhea merunduk dan menyembunyikan sebagian besar tubuhnya di balik tembok pertahanan ini. Ia berusaha fokus kepada sasarannya, sambil menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan anak panah ini. Gadis ini menelan salivanya dengan susah payah, sambil berharap semas semoga bidikannya tidak meleset. Dulu ia pernah ikut kelas memanah saat masih duduk di sekolah dasar, tapi itu sudah lama sekali. Entah ia masih menguasai kemampuan itu atau tidak.
__ADS_1
Jongdae dan Oliver mulai tak yakin dengan apa kan yakan dilakukan oleh gadis ini. Sepertinya ia salah sasaran. Yang seharusnya ia panah sedang berada di angkasa, sedangkan ia mengarahkan busurnya ke bawah. Sama sekali tak ada yang mengerti apa yang akan dilakukan olehnya. Jangan sampai Nhea melakukan sesuatu yang dapat membahayakan orang lain, apalagi dirinya sendiri.